Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Kematian Rima


__ADS_3

" Bu, ibu semakin parah akhir-akhir ini. Sebaiknya kita ke rumah sakit ya." Heru khawatir dan memijat pelipis Rima yang mengeluhkan pusing.


" Tidak Yah, mungkin ini hanya karena pengaruh kehamilan saja. Aku tidak apa-apa Yah." Kata Rima dalam keadaan lemah.


Dert....!


Dert.....!


Ponsel Rima bergetar di balik selimutnya, Seseorang Sadang mengkhawatirkan dirinya saat ini.


" Bagaimana? Dia angkat?" Tanya Jasmine yang mengkhawatirkan bayi yang ada di dalam perut selingkuhan suaminya.


" Tidak. Mungkin Heru sedang bersamanya." Kata Adrian menebak.


" Aku cemas akan bayi kita Sayang." Jasmine memainkan bibirnya gelisah.


" Sudah tenanglah, aku akan kesana dengan alasan akan memeriksa pak Heru." Adrian memikirkan cara untuk menemui Rima yang terbaring lemah.


Adrian dan Jasmine mempunyai rencana untuk mengambil anak Rima setelah bayi itu lahir. Beberapa bulan sebelumnya lagi lagi Jasmine mengalami keguguran karena kandungannya yang lemah. Dengan cara seperti inilah Jasmine bisa memiliki anak tanpa susah payah mengandung dan melahirkan.


*


*


*


Adrian datang berkunjung setelah sebelumnya menghubungi Heru dengan alasan ingin memeriksa kesehatan Heru secara rutin. Heru mengiyakan bahkan menyuruh Adrian untuk memeriksa keadaan istrinya meskipun berbeda jalur. Adrian notabene adalah seorang dokter umum bukan dokter spesialis kandungan. Tentu saja Adrian hanya mengatahui secara umum saja perihal kehamilan. Tidak se-spesifik seperti dokter yang memang ahli dalam bidang kandungan.


" Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Heru memegang tangan Rima di hadapan Adrian.


Ekspresi Adrian hanya datar dan biasa-biasa saja tanpa ada reaksi yang berarti. Rima yang melihat itu merasa di acuhkan dan kecewa, paling tidak Adrian seharusnya menunjukkan mimik wajah tidak suka melihat tangannya di genggam oleh Heru.


" Mungkin hanya kelelahan saja Pak, biasa kan kalau lagi hamil. Pengaruh hormon dan perubahan titik berat tubuh mudah membuat ibunya lelah. Jadi bapak jangan khawatir ya." Kata Adrian setelah memeriksa Rima dan menyimpan stetoskop di dalam tasnya.


" Ibu, istirahat yang cukup ya. Juga makannya di jaga. Jangan terlalu banyak pikiran juga." Kata Adrian memberikan senyum termanisnya dan mengedipkan satu matanya sebagai kode jika dia tulus mengatakan itu dari hatinya.


" Iya Dok, saya akan menjaga bayi ini sebaik mungkin." Kata Rima membalas senyum Adrian dan mengusap perutnya yang masih sedikit membuncit.


" Saya permisi dulu Pak. Semoga bapak dan ibu lekas sehat ya." Kata Adrian yang pandai bermain manis kata.


Andai saja Heru tahu jika yang membuat istrinya ( Rima ) Hamil sampai dua kali. Mungkin saat ini Heru sudah mencincang tubuh Adrian. Tapi tidak, Heru justru seperti kerbau yang di colok hidungnya dan menuruti dan tidak mencurigai hubungan Rima dan Adrian.

__ADS_1


Malam Harinya.


" Aku akan membongkar semuanya malam ini. Setidaknya akan hilang satu beban di hatiku jika hal ini selesai." Gumam seseorang yang memakai burqa hitam dan kemudian melemparkan surat kaleng dengan melempar sebuah batu yang berbalut kertas dan sebuah flashdisk rekaman gambar CCTV.


Pyar....!


Pukul 01 dini hari, terdengar suara pecahan kaca di kediaman keluarga Heru. Heru yang terbangun dengan segera memeriksanya. Surat kaleng itu berada di lantai, ya meski tidak dengan kaleng, melainkan dengan sebongkah batu harusnya di panggil surat batu bukan surat kaleng.


Perlahan Heru membuka surat itu, Heru masih ketakutan dan memeriksa keadaan sekitar. Dia takut-takut kalau masih ada orang dan akan merampok rumahnya. Heru langsung menuju ke ruang kerjanya dan mulai menyaksikan rekaman CCTV seperti sedang menonton film seru.


Heru menunduk dan mengepalkan tangannya, Heru sangat marah giginya gemertak dan memukul mukul handle kursi rodanya. Terlihat kekecewaan yang mendalam dan rasa frustasinya teramat besar sampai sampai Heru menggigit tangannya untuk menahan mulutnya berteriak.


Rekaman CCTV itu menunjukkan bagaimana selama ini tingkah polah Rima terhadapnya. Rekaman CCTV yang di hasilkan memiliki kualitas gambar dan suara yang super jernih. Sampai-sampai Heru bisa mendengar dengan jelas suara desahan Rima saat Adrian menungginya di pantry rumahnya.


Juga dimana saat malam hari, Adrian dengan mudahnya masuk dan meniduri Rima bahkan di sebelah Heru. Bagaimana bisa?


Tentu sangat mudah bagi Rima melakukannya karena setiap malam Rima selalu memberikan obat tidur untuk Heru. Jangankan hanya suara kulit sang saling bergesekan keluar masuk dan maju mundur, bahkan jika saat itu ada bunyi bom pun, Heru tidak akan mendengarnya.


Emosinya benar benar memuncak dan tanpa di duga, Heru mengambil sebuah softgun yang berada di laci kerjanya. Heru kemudian meminta Adrian kembali datang dengan ada keadaan darurat yang menimpanya. Tanpa banyak bertanya, tentu saja Adrian langsung datang karena mengkhawatirkan keadaan Rima.


Heru sudah di kuasai sisi iblis saat ini. Keinginan terbesarnya adalah ingin melenyapkan semua yang telah menyakitinya. Heru kecewa dengan dirinya sendiri yang termakan oleh hasutan hasutan Rima dan memutus hubungan dengan Luna anak kandungnya.


Tok!


Tok!


Tok!


Heru tersenyum sinis dan kemudian menuju ke kamar Rima. Dikamar, Rima sedang terlelap. Heru mencium bibir Rima dan membuat Rima terbangun membuka matanya.


" Terimakasih atas penghianatan yang kau berikan istriku!" Seru Heru dan menarik pelatuk pistol yang mengarah di kepala Rima.


Door!


Rima kembali menutup matanya dan kali ini untuk selamanya. Selesai melenyapkan dua nyawa, Heru menangis sedih di kamarnya menyesali keputusan bodohnya selama ini. Tubuh Rima semakin kaku dan mendingin dan Heru menatap kosong kedua tangannya. Tekanan keadaan yang kuat membuat Heru hilang akal.


****


" Shit! Damn! Kenapa justru ayah yang menjadi pelaku utama?" Gumam Levan sambil mengawasi video di layar ponselnya yang memantau pergerakan Heru.


Tidak mau ikut terjerat dan terseret kasus pembunuhan, levan kemudian menyelinap masuk dengan sangat hati-hati. Masih terus memantau dari layar ponselnya Heru menangis di kamarnya dan terduduk di atas kursi roda.

__ADS_1


Levan menyelinap dan melepas semua peralatan kamera pengintainya. Levan semaksimal mungkin berusaha untuk tidak meninggalkan jejak. Termasuk flashdisk yang masih menancap di laptop Heru pun beserta batu yang di gunakan untuk melempar kaca rumahnya juga di bersihkannya.


Levan seperti mata mata yang ahli melakukan perkejaan menghilangkan barang bukti. Terlihat dari ponselnya, Heru tertidur karena pengaruh obat tidur yang di berikan oleh Rima di malam ini.


Levan dengan ketakutan terus berusaha dengan teliti menghilangkan jejaknya. Sarung tangan yang di pakai levan pun sampai berlapis tiga. Juga kaki yang di samarkannya memakai sepatu wanita dan memakai burqa. Sungguh semua sudah di rencanakannya secara matang.


Levan terdiam ketika berfikir untuk mengakali kaca yang pecah. Levan berjongkok cukup lama di depan kaca yang pecah dan kemudian ide cemerlang itupun datang. Levan menggenggam kan sebuah batu di tangan mayat Adrian yang berada di depan pintu. Dengan begitu, Adrian akan menjadi orang yang menyebabkan keributan dan membuat ayahnya naik pitam.


Levan memegang kan batu di tangan Adrian dan kemudian menaruhnya di tempat yang di perkirakannya. Jantung Levan sangat berantakan iramanya. Selesai dengan sempurna, levan kemudian meninggalkan rumahnya.


Rumah dalam keadaan sepi karena Sisil sedang ikut studi tour. Seperti semua keberuntungan berpihak kepada Levan. Tanpa harus cuci tangan, Namanya sudah bersih dari kasus pembunuhan.


Levan sengaja memilih hari ini karena tidak tega dengan Sisil yang akan menyaksikan keributan kedua orang tuanya. Tidak ada bukti CCTV, karena Heru tidak suka jika privasinya akan terekspos jika ada CCTV. Levan mengecek untuk kedua kalinya untuk mencari keberadaan CCTV dan semua sudah bersih tidak ada bukti.


*


*


*


" Darimana saja kamu nak malam malam begini?" Tanya Elena dengan wajah cemas melihat kedatangan Levan yang terlihat tidak baik baik saja.


" Cari angin Ma." Jawab levan dengan senyum piasnya.


" Ma, boleh aku peluk Mama?" Tanya levan tiba tiba.


Elena mengagngguk dan membuka tangannya lebar lebar. Dalam hatinya sangat senang karena sekarang janjinya dengan sahabat baiknya sudah dapat di penuhinya.


" Anggap aku sebagai Mama kandungmu ya. Aku tidak ingin membedakan kalian. Kalian semua adalah anakku." Kata elena mengusap lembut rambut Levan.


" Iya Ma." Jawab levan dengan suara yang bergetar.


ini sangat berat buatmu nak. Diaman kamu menikahi putriku justru dalam penampilan terburuknya. Tapi aku harap perlahan cinta kalian akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Batin Elena yang mengira jika kegelisahan levan malam ini adalah karena melihat Rosa yang belum menunjukkan kemajuan.


Aku harap semoga papa tidak melakukan hal bodoh. Aku harap Papa tetap hidup dengan baik setelah ini. Batin levan sambil menangis.


Di waktu yang sama, di ruang berbeda.


" Aku tidak pantas lagi untuk hidup. Aku sudah menelantarkan anak anak kita Wulan. Aku sudah tertipu akal jahat mereka selama ini. Aku hanya beban dan sampah, juga separuh tubuhku tidak berfungsi. Untuk apa aku hidup? Malam ini juga aku akan menyusul mu Wulan." Kata Heru setelah selesai menulis wasiat untuk Luna dan Levan.


" Door!"

__ADS_1


Satu peluru mengakhiri tekanannya malam ini.


__ADS_2