
Jengah dengan keadaan yang semakin menyesakkan dada sehingga mempersempit ruang geraknya, Luna memutuskan untuk berlibur ke pantai. Tempat yang biasa di kunjungi ya ketika sedih atau putus dengan pacarnya.
Luna tiba di pantai, dan menginap di sebuah penginapan kecil milik sepasang pasutri paruh baya. Sudah sangat akrab sebab Luna sering sekali mengunjungi pantai hampir setiap bulan.
" Neng Luna?"Sapa bibi Lilis dengan ramah.
" Iya Bu Lis. Apa kabar?" Tanya Luna.
" Baik Neng. Neng malem malem kesini sendirian?" Bibi Lilis melongok mencari keberadaan dua sahabat Luna yang tidak terlihat turut serta.
" Iya Bi sendiri. Abdi teh males riweuh ngajakin mereka. Lagi pengen tenang saorangan wae bik." Jawab Luna dengan bahasa campuran berlogat Sunda.
Malas mengajak teman karena ingin tenang sendirian. Begitu kita kita terjemahannya.
" Oh, Ayuk saya antarkan ke kamar." Bibi Lilis menunjukkan jalan ke bilik penginapan yang akan di tempati oleh Luna.
Luna menikmati aroma laut yang sering di rindukannya ketika berada di kota. Deburan ombak pantai yang menenangkan berpadu dengan aroma khas air laut yang menyejukkan. Momen seperti ini yang selalu hadir di dalam mimpinya, tentunya tanpa ada bau dan rasa semuanya hampa dan hanya menyisakan ketenangan di jiwa. Tetapi saat terbangun, semuanya sirna.
Luna berdiri bersandar pada tiang di teras bilik. Matanya menatap sebuah kalung dengan benang hitam dan bandul antik berbentuk setengah lingkaran. Luna tersenyum mengusap kalung itu, kalung yang di pakainya dan selalu menemaninya kemanapun.
" Kata Bunda, aku akan menemukan jodohku dengan kalung ini." Gumam Luna dengan menitikan air mata.
" Bunda, Maafkan aku jika akhirnya aku akan menikah dengan laki laki lain. Sepertinya hanya aku yang mencari pasangan dari separuh lingkaran ini." Luna mulai berputus asa.
Jika orang lain berdoa dan meminta sesuatu ketika bintang jatuh, maka tidak dengan Luna. Luna akan berdoa ketika mampu melihat bias bulan pada air laut yang menghitam di tengah malam.
Malam mulai larut, Luna yang sengaja memasang alarm terbangun dan mulai berjalan menyusuri pantai. Luna berdiri di tepian pantai dengan rambut yang panjang tergerai, selimut berwarna krem membebat tubuhnya yang kedinginan di terpa angin pantai.
Samar samar dari jauh, Luna lebih mirip seperti hantu penjaga pantai. Agus yang juga sedang berada di pantai yang sama tengah berada di lantai atas dari resortnya. Pesta pernikahan yang sedang dalam proses malam ini sudah rampung satu season dan masih ada satu malam lagi yang hanya khusus untuk kerabat terdekat.
Agus menyipitkan matanya dan mulai fokus memandang pada satu titik putih di tepian pantai. Sosok itu seperti hantu di matanya karena kaki yang tang menginjak bumi. Agus yang terkenal galak itupun lari terbirit-birit setelah melihat sosok itu.
Tubuhnya gemetaran dan meringkuk di dalam selimut sampai sampai membuat Desta yang sedang menikmati anggur merah di gelasnya ikut panik dan lari tunggang langgang. Desta hanya ikut saja tanpa tau sebab kenapa Bossnya bisa setakut itu.
" Ku.... kunti!" Gumam Agus dengan suara yang bergetar ketakutan.
__ADS_1
" Mana Pak?" Desta bingung di buatnya dan mencari cari ke arah yang di tunjuk oleh Agus.
" Itu, di sudut pantai yang dekat pohon kelapa." Telunjuk Agus keluar dari selimut dan menunjuk arah yang salah.
"Mana ada di sana pohon kelapa? yang disana itu hanya pohon Ketapang." Desta menggeleng dan merendahkan ucapan Agus, serta kembali lagi berdiri di tempatnya semula.
Luna berjalan perlahan kembali kedalam bilik penginapan, dengan masker bengkoang yang di kenakannya Luna menoleh ke resort yang berdiri megah di samping bangunan penginapan tua yang di tempatinya.
Memang penerangan di penginapan milik Bi LiLis sedang dalam perbaikan, sehingga suasananya menjadi gelap mencekam. Desta yang kali ini melihat sosok Luna yang tengah berjalan sontak menjerit dan menggigil ketakutan. Desta lari tidak tentu arah hingga menabrak jendela kaca yang dikiranya pintu.
Brag! Desta terjatuh dan kembali berlari masuk kedalam kamar Agus. Agus semakin ketakutan dan enggan untuk membuka selimut.
" Pak bagi selimutnya pak." Ucap Desta yang menggigil ketakutan.
" Tidak! Cari yang lain." Agus enggan untuk berbagi.
Tidak ada selimut double dalam kamar yang di tempati Agus. Dengan terpaksa Desta menarik seprai dan bersembunyi di dalam seprai.
Luna hanya menggeleng heran, mengapa laki laki yang di lihatnya berlari ketakutan sambil berteriak histeris.
*****
Tanpa ada sepatah kata dan gangguan yang berarti, Luna memeluk lelaki yang selalu hadir di dalam mimpinya. Kali ini di dalam mimpi, Luna tidak mengijinkan prianya pergi.
Laki laki itu hanya tersenyum dan mengusap lembut punggung Luna. Terasa kehangatan dan rasa cinta yang mendalam hadir di setiap sentuhan yang mereka ciptakan.
Agus tersenyum senang, sambil mengusap lembut guling yang sedang di rangkulnya. Namun semua itu bubar berantakan ketika Desta membangunkannya.
" Pak, pak!" Desta mengguncang perlahan pundak Agus.
"Hem?" Agus bergumam.
" Pak, bangun. Ini sudah siang, Makanan pesanan kita sudah siap untuk di periksa di bawah." Desta berbisik membangunkan Agus.
"Apa? jam berapa ini?" Tanya Agus kaget.
__ADS_1
" Jam 11 siang." Jawab Desta dengan ragu karena takut Agus akan memarahinya.
"Keluar, keluar kamu! Sepuluh menit lagi aku siap " Ucap Agus yang kelabakan membuka selimut yang masih membebat tubuhnya.
Secepat kilat Agus bersiap siap dan menuju ke tempat acara pesta pernikahan adik sahabatnya yaitu Leo Anggara. Seorang teman baik dan karib semenjak bangku SMA. Persahabatan mereka terjalin dengan baik meski jarang bersua.
"Sayang, kenalkan ini Agus. Dia sahabtku." Ucap Leo memperkenalkan Agus kepada sang istri.
Eh, ada juga kisah Leo dan jelita yang di kemas rapi dalam cerita dengan judul CINTA YANG BERHARGA. Jangan lupa kepoin ya!
" Agus Dermawan Raharsya kan? Wah, senang berjumpa anda. Saya sering melihat anda di beberapa iklan makanan. Selamat ya, kapan tanggalnya?" Jelita istri Leo yang antusias bertemu dengan Agus yang ternyata terkenal di kalangan ibu ibu muda.
" Oh iya, kenalkan. Aku Jelita, istri Bapak Leo Anggara." Ucap Jelita memperkenalkan diri.
" Tuh, tau kan elu pesona gue?" Agus membanggakan dirinya setelah Jelita secara tidak sadar memujinya.
"Heleh, gaya elu gus!" Leo menampik kenyataan akan kharisma Agus di mata sang istri.
"Eh tadi tanggal maksudnya tanggal apa ya?" Leo menggernyitkan dahinya tidak mengerti akan maksud Jelita.
" Tanggal nikah lah Pa. Tadi Mama baca berita, ga sengaja tuh. Rame banget loh berita ini." Jelita membuka kembali beranda internet dan mencari berita yang baru saja di bacanya.
"Ma, gimana mau menikah. Dia ini pacar saja tidak punya. Dia ini dari dulu sampai sekarang, jatuh cinta dengan bayi." Celetuk Leo yang terkesan memandang remeh Agus.
" Enak aja! Udah gadis juga lah sekarang itu anak." Timpal Agus dengan wajah kesalnya.
" Hahaha, aneh. Jatuh cinta sama bayi. Kita SMA aja itu anak pasti masih TK, masih ingusan kemana mana Gus. Sadar woy!" Leo mengejek sahabatnya.
" Ma, pokoknya jangan bolehin Adine buat ketemu sama om om satu ini. Bisa gawat, bisa bisa dia suka sama Adine Ma." Leo dengan wajah bahagia terus mengejek Agus.
" Terus aja Le, asal elu bahagia deh." Agus terdengar pasrah akan hinaan Leo.
" Jadi berita ini tidak benar?" Jelita kembali membahas topik yang sama.
" Benar." Jawab Agus singkat seraya menengguk anggur merah di gelasnya.
__ADS_1
Leo seketika melongo tidak percaya dan berhenti dari tawanya. Agus menyeringai membalas tawa Leo yang memiliki berjuta makna.
~ Bersambung ~