
Dokter berjalan keluar dari ruang IGD, wajah penuh harap bermunculan Elena yang sedari tadi menemani Agus seketika berdiri dan menghampiri dokter.
" Bagaimana keadaan putri saya Dok?" Elena sangat cemas dan terlihat gurat kesedihan di wajahnya. Agus menghampiri Mamanya dan juga dokter yang memberikan keterangan terkait keadaan pasien.
" Tenang ibu, Pasien dalam keadaan yang stabil saat ini. Tetapi benturan keras di kepalanya membuatnya koma. Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Dan untuk kakinya, kami sudah menjahit lukanya dan mengembalikannya ke posisi semula. Tetapi untuk perkembangan selanjutnya, kita tetap harus menunggu kesadaran pasien."
" Doakan saja yang terbaik ya Bu." Kata dokter dengan wajah yang sendu.
" Sebentar lagi, pasien akan di pindahkan ke ruang ICU . Kalian bisa memantau ya dari luar ruangan. Iya, satu lagi, jangan berisik. Pasien membutuhkan ketenangan untuk segera pulih." Pesan dokter sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang IGD.
Mama Elena berdiri mematung dan terdiam sampai akhirnya Agus merangkulnya dan mengajaknya kembali duduk di kursi tunggu pasien. Luna yang menggunakan tongkat berjalan dengan susahnya membawa beberapa botol air mineral. Bentuk perhatian Luna memanglah sepele hanya berupa sebotol air yang di berikannya kepada Mama Elena.
" Minum dulu Tante." Kata Luna menyodorkan sebotol air.
" Makasih, kamu siapa?" Mama Elena menerima sebotol air dari Luna dan menatap sendu wajah Luna. Elena dengan wajah sembabnya kembali menitikan air mata ketika melihat wajah Luna dengan seksama.
"Aku Luna Tante, Aku..." Luna berhenti bicara dan melihat kearah Agus lalu menunduk dan tidak berani menatap wajah Elena.
" Dia Pacarku Ma." Jawab Agus memperkenalkan Luna.
" Pantas saja Rosa tadi bersikeras berada di pihakmu Nak, ternyata memang Rosa tidak salah menilai. Aku yakin dia adalah seorang wanita baik-baik." Mama Elena memuji wanita pilihan Agus.
" Dan dia?" Tanya Mama Elena dengan melihat ke arah Levan yang sedari tadi menunduk lesu dan memeluk lututnya menangisi keadaan Rosa.
" Dia Adik saya tante." Ucap Rosa mendahului Agus yang baru saja hendak membuka mulutnya.
Datanglah beberapa polisi berseragam lengkap mendatangi Levan dan Luna.
" Permisi Pak, Bu, Maaf kami mengganggu waktu anda. Apakah disini adalah keluarga dari pihak saudari Rosa?" Tanya salah seorang polisi.
" Iya, saya Mamanya." Jawab Elena dengan terbata bata.
"Ini tas korban, dan juga apakah ada saudara yang bernama Bapak Agus dermawan disini?"
"Iya, saya sendiri." Jawab Agus dengan lugas.
" Kami membutuhkan rekaman CCTV dari rumah anda yang mengarah pada area belakang dan jalanan, sebagai bukti kejadian perkara karena pelaku penyebab kecelakaan telah dinyatakan meninggal di tempat. Jadi rekaman gambar CCTV itu bisa menjelaskan kronologis lengkap terjadinya kecelakaan." Ungkap polisi sedetail mungkin.
" Baiklah, saya akan pulang dan menyerahkannya langsung ke pada anda. Mari ikut saya." Agus mengajak para polisi untuk pulang ke rumahnya.
__ADS_1
" Ayo, kamu pulang. dan beristirahat di rumah. Sebaiknya kita saling bergantian untuk menjaga Rosa. Untuk sekarang, biarkan Mama dan levan yang ada di sini." Kata Agus mengajak Luna dengan sopan.
" Van, ini Kakak ada sedikit uang. Kamu jangan lupa makan ya, Kakak pulang dulu. Adik Kakak tidak boleh cengeng."Luna mendekati Levan dan memberikan beberapa lembar uang 50.000 an.
Terlihat sekali jika Luna sangat menyayangi adiknya. Terbersit rasa iri di hati Agus melihat kedekatan kakak beradik ini. Agus sama sekali tidak pernah bersikap lembut seperti itu kepada Rosa meskipun Rosa selalu memperlakukannya dengan baik dan bergelayut manja.
" Tante, saya permisi dulu." Luna menjabat tangan elena dan kemudian mencium punggung tangannya.
Elena menyambutnya dan tersenyum khas dan kemudian memeluk erat Luna dengan tangis yang kembali pecah. Luna dan Agus sama sama terdiam dan tidak mengerti akan tindakan Mama Elena.
Wulan, dia adalah anakmu? Aku yakin sekali dia adalah putri kecilmu dulu. Wajahnya san senyumnya sama denganmu Wulan. Kebaikan hatinya pun sama denganmu. Batin Elena sembari memeluk dan mengusap hangat punggung Luna.
Elena sangat senang bisa bertemu dengan Luna. Pencariannya selama ini akhirnya terhenti justru dengan bantuan putranya sendiri meski tanpa sengaja.
" Ayo, Na. polisi sudah menunggu kita di depan." Agus merangkul lengan Luna dan keduanya berjalan dengan bergandengan tangan meninggalakan Elena.
Levan hanya bisa terdiam melihat semua yang terjadi hingga kemudian Elena mengajaknya untuk duduk di kursi tunggu. Sudah berjam-jam Levan terduduk di atas ubin yang dingin.
" kemarilah Nak, duduk di sebelah tante. Di sana terlalu dingin, nanti kamu sakit." Ucap elena dengan lembut meski suaranya masih bergetar menahan sedih.
Levan kemudian beranjak dan duduk di sebelah Elena tatapannya masih kosong menyesali apa yang selama ini pernah dia lakukan kepada Rosa. Dirinya yang cuek, acuh, bahkan terkadang sering menyakiti Luna dengan ucapannya. Keduanya terdiam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
*****
Jika rasa bersalah dan kecewa itu nampak kasat mata, maka mungkin saat ini Agus tidak lagi mampu berdiri karena tertindih rasa penyesalan di hatinya.
Bukti rekaman telah di serahkan copy-nya dimana terlihat jelas dalam rekaman gambar, jika Luna sendiri yang berlari dan mendorong tubuh Levan agar terhindar dari hantaman mobil yang hilang kendali.
Agus meratapi nasib adiknya yang terbaring tak sadarkan diri menunggu mukjizat yang datang. Luna menyiapkan makanan dan memanggil Agus yang masih terduduk di ruang pengawasan lantai bawah tempat biasa satpam mengawasi dari CCTV.
" Tuan ada pak?" Tanya Luna perlahan.
" Iya, tadi tuan bilang ingin sendiri Mbak. Tapi Saya agak khawatir, sedari tadi tidak ada bunyi gerak atau suara dari dalam." Jawab pak pono selaku satpam di kediaman Agus.
" Iya pak, biarkan saya lihat. Bapak boleh pergi." Luna mengambil nafas panjang sebelum mulai memasuki ruang monitor.
Luna khawatir karena sejak pagi hingga malam, Agus sama sekali belum mengisi perutnya. Agus hanya banyak terdiam dan melamun.
" Pak, " Seru Luna tanpa ada jawaban hanya terlihat siluet hitam dari punggung Agus yang duduk menghadap ke monitor.
__ADS_1
" Eng!" Jawab Agus dengan suara pelan.
" Kita makan dulu ya. Sedari tadi pagi anda belum makan." Bujuk Luna dengan lembut.
" Aku tidak berselera makan. Tinggalkan aku sendiri." Kata Agus datar.
" Tapi, nanti anda bisa sakit." Luna masih berusaha meski kini mata Agus sudah menyala dan terlihat ingin menerkam Luna.
" Aku ingin sendiri! Keluar kataku, KELUAR!!!!" Agus berteriak membanting laptop yang sedang di pegangnya.
Agus menangis histeris dan menjambak rambutnya sambil menjambak rambutnya sendiri. Kesediaan yang bercampur penyesalan membuatnya membenci dirinya sendiri saat ini. Agus sangat benci dirinya sendiri yang selalu menyia-nyiakan waktu bersama adiknya.
Bukannya keluar dan pergi menjauh, Luna malah semakin merasa iba kepada Agus. Luna paham betul bagaimana rasanya mendapati orang terdekat kita mengalami hal buruk. Luna merengkuh dan mendekap Agus dengan erat kedalam dadanya. Luna tidak perduli lagi akan mendapat penolakan atau bahkan pukulan dari Agus.
" Luapkanlah semuanya. Menangis lah jika ingin menangis." Luna merengkuh dan mengusap hangat punggung Agus dan mencoba memberi kehangatan.
"Aku bodoh Na, aku bodoh!" Agus memaki dirinya sendiri berkali-kali.
" Tidak, sudah. Semuanya sudah terjadi dan itu bukan atas kesalahanmu. Semua sudah takdir Pak." Luna membesarkan hati Agus untuk mampu menerima keadaan.
" Aku bodoh! harusnya selama ada waktu aku bersikap baik pada adikku sendiri." Kata Agus menyesali perbuatannya.
" Hey, masih ada kesempatan Oke. Masih ada, aku yakin rosa gadis yang kuat dan dia akan sembuh." Luna ikut terjatuh dalam kubangan kesedihan dan menangis pilu bersama Agus.
" Kamu Kakak yang baik, kamu menyayangi dan mencintai dia dengan caramu." Kata Luna dengan mata yang basah karena air mata.
" Hua....! a..... a......! Aku menyesal Na. Aku menyesal." Kata Agus yang masih histeris dalam tangis.
ini kali pertama Agus melepaskan semua keluh kesahnya tanpa gengsi. Selama ini Agus hanya menyimpan semuanya sendiri. Bahkan dengan sahabat sahabatnya saja dia selalu menjaga privasi. Tapi dengan Luna, semua seolah ditelanjangi begitu saja. Agus begitu nyaman mencurahkan isi hatinya dan membuatnya tak sadar Diana sekarang wajahnya berada.
Wajah Agus masih membenam di dada sintal kenyal milik Luna. Dan tangan Luna pun masih membelai lembut rambut Agus dan mengusap perlahan tengkuk Agus. Keduanya masih belum tersadar akan apa yang di lakukannya di dalam ruang monitor, kesedihan masih menenggelamkan mereka dan berada jauh dari kesadaran yang nyata.
...~ Bersambung ~...
**Bagi like,
komentar,
dan vote ya.
__ADS_1
Sumpah menulis dan menyusun kata itu bukan hal mudah Sayang. Bakar semangatku dengan dukungan kalian, Oke**!!!!
Yang ga kasih like, kalian ga asik. Suka baca doang tapi ga mau dukung itu seperti makan nasi goreng tanpa kerupuk. Sumpah ga enak ga ada yang kriuk kriuk.