
Malam hari di Korea.
" Apa Ma?" Teriak Rosa yang terkejut seketika kala mendengar berita dari Mama Elena.
" Iya Ma, hari ini juga Rosa akan pulang." Jawab Rosa cepat.
Selesai berbicara dengan Mama Elena, Rosa langsung mengemas semua pakaiannya kedalam koper. Rosa mempersiapkan semuanya. Kini tanpa pikir panjang, Rosa masuk kedalam kamar Levan tanpa mengetuk pintu.
" Van, bangun sayang. Bangun...!" Rosa menepuk-nepuk pundak Levan.
" eungh..!" Lengkuh levan dengan malasnya.
" Sayang, bangun cepatlah, kita harus pulang sekarang. Pagi ini kita harus pulang" Ucap Rosa yang tanpa di sadarinya memanggil levan dengan sebutan SAYANG.
" Apa?" Tanya Levan yang baru sadar kalau Rosa memanggilnya Sayang.
" Kita harus pulang sekarang." Jawab Rosa yang berkemas dan melipat baju baju levan kedalam koper.
" Bukan tadi, kamu panggil aku apa?"
" Van, kan nama kamu Levan sudah jangan banyak tanya ayo kita harus segera pulang." Jawab Rosa yang terlihat sangat panik terus melipat baju tanpa melihat levan yang kini sudah berdiri di belakangnya dan memeluknya.
" Lepaskan, jangan seperti ini. Aku akan semakin lama mengemas bajumu." Keluh Rosa yang kesal karena Levan memeluknya erat.
" Tidak, tadi sepertinya ku memanggilku dengan sebutan yang lain. Coba katakan lagi." Rayu levan dengan suara lembutnya. Bibir levan tak henti-hentinya menciumi leher Rosa.
Jika biasanya Rosa menolak dan akan marah marah bahkan sampai menepis dan memukul bibir Levan, maka tidak kali ini. Kali ini Rosa menerima semua sikap manja Levan. Levan bertanya tanya dalam hatinya apakah Rosa sudah mengingat semuanya? Atau ada hal lain yang di sembunyikan oleh Rosa?
" Levan sayang, sudah jangan seperti ini. Kita harus pulang, Kakakku sedang tertimpa musibah." Ucap Rosa yang segera melepas pelukan Levan.
Dan levan seketika melepas pelukannya dan menatap tajam Rosa.
" Kau memanggilku sayang? Apa kau sudah mengingat semuanya?" Tanya Levan penuh curiga.
" Em... kemarilah." Rosa menarik lembut tangan Levan dan mendudukkannya di tepi ranjang sedangkan Rosa bersimpuh di lutut Levan, meraih kedua tangan levan lalu menciumnya.
" Sayang, dengarkan aku." Ucap Rosa dengan jantung yang berdebar. Dia tahu jika suaminya akan marah besar.
__ADS_1
Sehari sebelumnya.
Rosa menggali semua informasi dari Mama Elena dan juga Papa Pandu. Mereka telah menjelaskan status pernikahan Levan dan Rosa. Rosa tersenyum bahagia kala mendengar kebenarannya. Tapi, Rosa masih ingin terus menguji dan mengerjai Suaminya sendiri dengan dalih ingin tau seberapa dalam cinta Levan padanya.
" Maafkan aku, aku sebenarnya sudah tau tentang status pernikahan kita." Ucap Rosa jujur.
Levan diam dengan raut wajahnya yang sulit di artikan.
" Aku, hanya masih tidak percaya dengan perasaanmu. Aku takut jika saat kamu menikahiku hanyalah karena rasa kasihan. Tapi, Mama meyakinkanku jika kamu tulus." Ucap Luna terpotong kala Levan.
" Sejak kapan kamu mulai mengingatku?" Tanya Levan memenadam amarah.
" Tapi kalau aku jujur kamu jangan marah." Ucap Rosa mengajukan permohonan.
" Kita lihat saja nanti." Jawab Levan yang sangat marah karena di tipu oleh Rosa.
" Levan, dengarkan aku. Bukan apa-apa aku melakukan ini, aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri atas hubungan kita." Ucap Rosa dengan lembut.
" Meyakinkan diri sendiri? lantas kamu berhak memainkan perasaan suamimu sendiri?" Levan melepaskan tangan Rosa yang menggenggam tangannya.
" Sebegitu tidak berharganya aku di matamu sampai kamu tega mempermainkan perasaanku seperti ini. Inilah yang aku takuti selama ini. Dari dulu aku mencintaimu Rosa, Dari dulu. Dari semenjak kita pertama bertemu. Tapi aku sadar diri aku ini siapa. Aku hanyalah anak broken home yang tidak punya apa-apa. Hanya Kakakku yang aku punya. Aku merasa tidak pantas untuk bersanding dengan kamu anak pengusaha kaya. Dan ternyata aku benar, katulusanku tidak nampak dimatamu karena aku orang tidak mampu." Ucap Levan menggebu. Amarah dan kecewa kepada diri sendiri kini seolah membelit Levan dalam keadaan yang pahit.
" Levan, jangan benci aku karena hal ini. Aku tidak berniat merendahkan atau meremehkanmu. Aku sangat mencintaimu Suamiku." Ucap Rosa dengan bibir yang bergetar.
" Kenapa nangis nangis begitu? Tanya Levan ketus.
" Punya otak, di pakai mikir dong!"
" Mikir ga kamu?"
" Huh, mikir Ga?!" Bentak Levan ketus.
" Mikir ga kamu tuh, kalau aku sayang banget sama kamu?" Ucap Levan yang tiba-tiba memeluk erat Rosa dan menciumi pucuk kepala Rosa.
" Kamu marah marah tadi ngerjain aku? Hiks hiks" Rosa menengadah menatap wajah Levan.
" Hehehehe, abisnya aku sebel kamu udah ngerjain aku. Berarti waktu si bagus kesini kamu sengaja? Iya?" Desak Levan mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
" Ma... maaf.." Kata Rosa terbata bata dan menunduk tak berani menatap wajah Levan.
Levan meraih tengkuk Rosa dan melu**t bibir Rosa dengan rakusnya. Hasrat yang lama terpendam kini mulai merayap menguasai jiwanya.
" Eungh...!" Rosa mendesah kala levan melahap ujung ****** yang masih berwarna pink milik Rosa.
" Stop sayang stop!!!" Teriak Rosa berusaha mengendalikan dirinya. Bagaimanapun saat ini dia masih khawatir akan keadaan Kakaknya dan harus segera kembali ke tanah air.
" Ah...., kamu harus di hukum." Levan melemparkan tubuh Rosa keatas ranjang dan langsung melepas penutup segitiga dan kemudian menyesap manis rasa yang tersimpan di sana.
Rosa kini satu otaknya harus memikirkan dua hal berbeda dalam sekali waktu.
Lanjutkan atau tunda? Tapi ini nikmat sekali... Ah...
" Ah....!" Desah Rosa yang semakin membuat Levan bersemangat.
" Stop sayang, jangan sekarang." Tolak Luna menjambak rambut levan yang sudah berada diantara se*******nya.
" What? " Levan mulai kembali ******* bibir Rosa dengan rakusnya dan melepaskan celananya meski dengan kakinya yang masih sakit.
hingga.
DUGH!!
" Aduh...! Au...., Au....., au... sakit sayang." Levan meringis kesakitan saat kakinya terantuk tepian ranjang.
"Stop, jangan sekarang. Kapan kapan saja kalau kakimu sudah sembuh."Ucap Rosa yang kemudian pergi dan merapikan bajunya.
" Shit!!" Umpat Levan kesal dan melempar bantal ke arah Rosa yang malah cekikikan meninggalkan Levan yang tersiksa dengan benda yang mengeras diantara kedua pahanya.
" Tahan Sayang, sekarang kita harus cepat pulang. Kak Agus dia hilang."
" Hilang? Maksudmu?" Tanya Levan tidak mengerti.
Rosa menjelaskan semuanya bahkan juga tentang kabar kehamilan Luna. Mendengar itu Levan spontan kehilangan nafsu bercintanya yang tadinya menggebu. Kini otot yang mengeras itu kembali layu.
" Kenapa tidak bilang dari tadi?" Tanya Levan setelah mendengar cerita Rosa.
__ADS_1
"Habisnya, aku bingung mau mulai cerita yang mana dulu. Semuanya penting bagiku." Jawab Rosa yang juga kini terduduk lesu di tepi ranjang memikirkan keadaan Kakaknya.