
Satu Minggu sudah Rosa menjalani prosedur operasi plastik. Kini yang bisa di lakukannya adalah hanya berdiam diri di dalam sebuah rumah yang telah di sewanya untuk 6 bulan ke depan. Aneh memang kenapa Mama Elena sampai menyewakan rumah untuk anaknya padahal setelah dua bulan Rosa sudah bisa pulang ke Indonesia. Tetapi Mama Elena justru menyuruhnya untuk tetap tinggal di Korea sampai wajah Rosa benar benar pulih maksimal tanpa harus bolak balik melakukan pemeriksaan ulang.
Dan sekarang kebosanan itu sudah melanda Rosa. Pribadinya yang aktif dan tidak supa sendirian membuatnya kali ini merasa sangat jenuh. Hari sudah siang dan Levan tengah sibuk menjemur baju di atas atap. Sementara Rosa, wajahnya masih belum boleh terpapar matahari. Jangankan matahari, wajahnya kini saja masih berbalut perban.
Levan masuk kedalam rumah dengan membawa ember kosong seusai menjemur pakaian mereka dan Rosa sudah berdiri menunggunya di depan pintu dengan tangan yang melipat ke dada, Bibirnya mengerucut kesal. Separuh dari wajahnya mendapatkan tindakan operasi yaitu dari bagian pipi ke atas sampai ke dahi. Sementara bibirnya masih dengan bebas bisa berbicara tanpa jeda.
" Pak supir, bisa antarkan aku jalan jalan memutari kota ini? Aku bosan selalu berada di dalam rumah." Kata Rosa.
" Rosa,berhenti memanggilku seperti itu. Aku ini adik dari istri Kakakmu. Tidak bisakah kamu menyebut namaku saja? Apa terlalu menjijikkan bagimu untuk memanggil namaku?" Ketus Levan yang sudah sangat kesal menahan rasa geramnya terhadap wanita yang sudah di nikahinya tetapi masih belum mengingatnya.
" Eh, kenapa kamu marah? Kamu memang supir kan? Orang yang bekerja di manapun itu mereka di panggil sesuai dengan pekerjaannya. Lalu apa masalahmu?" Celetuk Rosa membalas perkataan Levan.
Masalah bagiku karena aku tidak suka istriku memanggilku dengan panggilan yang jelek seperti itu.
" Sudahlah, tidak ada guna meladeni manusia yang sombong sepertimu ini." Ketus levan lalu pergi begitu saja tanpa menatap wajah Rosa.
" Berhenti! Memang benar kamu adalah adik dari kakak ipar ku. Tapi pekerjaan mu sekarang adalah sebagai supirku. Jadi kamu harus menurut dan patuh apa kataku." Kata Rosa.
Geram dengan ucapan Rosa, Levan menjatuhkan ember yang di bawanya begitu saja. Dia memutar balik langkahnya dan kini semakin mendekati Rosa. Matanya sangat tajam, menyiratkan amarah yang nyata. Rosa hanya menelan ludah kasar melihat perubahan ekspresi wajah Levan. Memang sedari mendapat tindakan operasi baru kali ini Rosa mau mengajak levan berbicara, itupun karena dirinya merasa bosan dan jenuh terus berada di dalam rumah.
" Ja, jangan mendekat!" Pekik Rosa yang gugup dengan tindakan Levan.
" Kenapa? Kamu takut? Apa yang kamu takuti? bukankah aku hanya seorang supir? bisa berbuat apa supir melawan majikan yang arogan sepertimu?" Ucap levan dengan menyeringai lebar, tatapan matanya tak teralihkan dari Rosa hingga netra mereka bertemu dan semakin lekat.
" Kenapa kamu takut? Bisa apa aku huh?" Levan semakin mendekat, hingga kini tubuh mereka berdiri degan berhadapan rapat tanpa jarak. Rosa memejamkan matanya, dia sangat ketakutan jikalau bisa saja Levan melakukan hal buruk kepadanya.
Orang gila ini mau apa dia. Awas saja jika dia melakukan sesuatu akan ku tendang burungnya. Sial sekarangpun aku sudah terjepit begini, aku tidak bisa bergerak sembarangan. Itu akan mempengaruhi hasil operasi ini. Apa aku lebih baik sedikit saja bersikap lembut padanya. Tapi entah mengapa aku menyimpan banyak kekesalan terhadap Levan. Salah apa dia padaku? Batin Rosa hingga dia tidak sadar jika satu tangan levan sudah meraih pinggangnya. Dan satu tangannya lagi mencabut kunci pintu.
" Kenapa melamun? Terpesona dengan wajah tampanku?" Celetuk Levan sambil meniup mata Rosa.
" Cih, masih banyak laki-laki tampan selain kamu ya!" Sahut Rosa tanpa sadar akan ucapannya.
" Selain aku? itu berarti benar jika di matamu aku ini mang tampan." Desis Levan yang kini meniup leher Rosa.
__ADS_1
Aku sangat jengkel pada dia. Tapi kenapa tubuhku seperti mendambakan sentuhannya? Ada apa ini? Apakah aku tergolong manusia munafik? Mulutku mencaci tapi tubuhku merindui? Batin Rosa yang kini justru diam tak bergeming dan hanya mematung seolah telah berubah menjadi manekin.
" Aw... awas! Jangan macam macam kamu!" Seru Rosa memperingati Levan.
" Tunggu 4 hari lagi setelah perbanmu di buka dan Aku akan membawamu berkeliling di sekitar sini." Kata Levan mengalihkan pembicaraan dan sekektika pergi dari hadapan Rosa.
Fiuh!!! Jantungku seperti akan meledak di buatnya. Pesonanya seakan selalu bertambah setiap hari. Mataku ini, kenapa kamu suka sekali melihat bibir mungilnya? Aku tidak yakin selama 6 bulan bersama bisa menahan hasratku terhadap istriku sendiri. Argghh!!
Gila! ini Gila! Pekik levan dalam hatinya.
Rosa diam tertegun selepas kepergian Levan. Seperti masih hangat terasa sentuhan levan di pinggangnya.
Aku akui, dia memanglah tipeku. Tapi mengapa aku menyimpan rasa benci. Membencinya, tapi untuk apa? Batin Rosa yang masih menatap kepergian levan dengan punggung yang menghilang di balik pintu dapur.
*
*
*
*
" By! Dasiku dimana?" Teriak Agus dari dalam kamarnya memanggil Luna yang tengah memasak di dapur.
" Astaga, kenapa lagi dia? Dasi saja Samapi segitu rewelnya. Apa dia sudah gegar otak? Sampai tidak tahu dimana menyimpan Dasinya sendiri." Gumam Luna dengan kesal. Tangannya masih sibuk menata kopi dan juga menu sarapan kesukaan Suaminya. Nasi goreng spesial.
" Dasiku By!!" Lagi teriak Agus dari dalam kamarnya.
" Huh!! Sabar, harus sabar menghadapi pria manja itu." Gumam Luna sambil menarik nafas dan mengelus dadanya.
" Iya By. Sebentar." Sahut Luna dengan malasnya.
Sikap manja Agus Dermawan yang di tampilkan di hadapan Luna sangatlah terbalik jika sudah berada di tengah publik atau lingkungan kerjanya. Jika di rumah dia akan sangat manis dan manja, maka di lingkungan kerjanya dia akan kembali menjadi Boss yang di segani seluruh karyawannya. Garang, tegas dan disiplin. Salah sedikit pecat atau potong gaji.
__ADS_1
Tentu saja pernikahan Agus dan Luna menjadi angin segar bagi Desta asisten sekaligus sekretaris Agus. Pasalnya saat ini Desta tak lagi berwara-wiri menjadi pesuruh Agus lagi. Agus lebih mandiri dalam hal jadwal makan. Karena dia akan sangat bersemangat ketika jam makan siang tiba. Dia yang menunggu di kantor atau istrinya yang akan menghantarkan makanan kedalam kantor.
" By!" Seru Luna sambil mengetuk pintu memastikan jika Suaminya masih berada di dalam kamar.
" Iya, By cepat tolong Carikan dasiku. Aku ada rapat sebentar lagi." Kata Agus yang dengan segera membukakan pintu untuk Luna.
Dengan nampan yang berisi sarapan di tangannya Luna masuk kedalam kamar yang sudah tertata bersih dan rapi. Hanya saja si pemilik kamar yang masih berantakan dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
" Kenapa dari tadi ga pakai baju sih?" Ketus Luna sedikit kesal melihat suaminya yang justru hanya sibuk berjalan kesana kemari dengan handuk yang melilit di pinggang.
" Nungguin kamulah By. Cepat Carikan dasiku, yang sesuai dengan baju ini." Agus mengangkat setelan jas kerja berwarna hitam.
" Alasan, aku tahu kamu hanya mau pamer seuatu kan? Soal dasi, kamu tidak lihat itu sayang? Dasinya sudah ku siapkan di atas meja rias." Jawab Luna dengan menunjuk sebuah dasi yang tergulung rapi di atas meja rias.
" Hehehehe!" Agus terkekeh melihat dasi yang di carinya sedari tadi sudah tersedia di atas nakas. Dirinya saja yang teledor dan sedari tadi hanya berdiri dan mengaca di depan cermin. Menekuk-nekuk lengannya seolah mencari tonjolan otot.
" Sudah ngacanya? Ayo cepat pakai baju." Kata Luna seperti meladeni anak kecil.
" Eh, By. Aku sedang memperhatikan tumbuh kembang otot-otot lenganku ini. Lihat aku berotot kan?" Kata Agus memamerkan lengan yang terkesan lurus tanpa ada tonjolan otot.
" Bwahahahaha! By.., By. Itu otot? Ku kira tetelan." Jawab Luna asal sambil tertawa terbahak-bahak dan menggelengkan kepalanya. Dia tak percaya yang membuat Suaminya lama melakukan sesuatu hanyalah memperhatikan otot di lengan.
Tak penting bagi Luna mau suaminya berotot atau tidak. Mau Agus Chubby dengan perut buncit sekalipun, itu tidak akan merubah perasaannya.
" Cih, gitu amat By. Aku juga bisa berotot kali, ga cuma si polisi itu." Ketus Agus kesal dan berlalu pergi dengan wajah kesal.
Eh, dia marah? Rupanya dia merasa insecure dengan tubuhnya. Apalagi ini, aku tidak pernah memuji Romy. Bagiku suamiku yang terseksi, dia yang paling menggemaskan. Aku suka apa yang ada di dalam dirinya. Walaupun dia terkesan dingin, tapi di dalam hatinya sangat hangat, dan itu hanya untukku.
Apa dia masih menyimpan rasa cemburu meski aku dan Romy sudah jarang bertemu?
" Sayang, By. Otot di lengan itu tidak penting. Yang penting otot di...."Kata Luna sengaja menggoda Agus untuk mengembalikan moodnya.
" Di mana? Katakan"Desak Agus yang kini berbalik badan dengan Hanya mengenakan bokser hitam.
__ADS_1
" Kamu pasti tahu. Suamiku kan cerdas. Aku tidak terpengaruh dengan otot-otot tubuh lelaki lain. Karena yang aku cintai ada di dalam sini dan hanya milik laki-laki yang manja ini. Oke?" Rayu Luna dengan suara lembutnya yang juga sekaligus memuji kecerdasan sang suami yang sangat di cintainya.
" Hem..😏" Balas Agus menyeringai kecil menunjukkan jika dia sedang berbangga hati akan pujian dan ungkapan dari mulut istrinya. Lelaki mana yangang tak suka di puji apalagi pujian yang berasal dari wanita yang di cintainya?