
Hampir satu Minggu Agus masih berada di pelosok desa untuk menyelesaikan proyeknya. Tak biasnya Agus terjun langsung ke lapangan untuk menyelesaikan proyeknya.
" Mbak, sudah selesai." Kata Evi yang sudah selesai merapikan bangku bangku resto.
" Oh, iya. Kalian boleh pulang." Jawab Tania yang tersadar dari lamunannya.
" Kenapa Mbak, dari tadi melamun terus?" Tanya Evi yang memperhatikan Luna yang sedari tadi terlihat murung.
" Tidak, aku hanya lelah saja. Kamu segeralah pulang. Besok datang pagi-pagi, untuk persiapan cafe kita yang sudah di pesan untuk acara ulang tahun." Kata Luna berpesan.
" Iya Mbak. Saya duluan ya." Ucap Evi sambil tersenyum dan berlalu.
" Kamu kemana sih Mas, nomormu kenapa tidak bisa di hubungi? Juga, kamu tidak mengirimiku pesan. Apa kamu ada yang lain?" Gumam Luna yang terduduk sambil menatap layar ponselnya.
" Ah, apasih aku ini. Suami kerja malah pikirannya ga jelas kemana mana. Semoga tidak terjadi apa-apa." Desis Luna menepuk perlahan kepalanya sendiri untuk membuang keraguan dalam hatinya.
Luna berjalan menyusuri jalan menuju ke rumah Agus setelah dia turun dari taksi. Agus mang meninggalkan dua mobilnya untuk di pakai Luna, tetapi Luna memilih untuk tidak memakainya karena baginya jika dia masuk dan duduk di dalamnya, seperti dia berada di dekat suaminya. Dan seperti malam ini, kerinduannya sudah termat dalam.
Luna yang baru pulang lantas menyeduh mi instan cup, membawa bantal guling yang di pakaikan baju Agus yang belum di cucinya ya tentu saja aroma tubuh suaminya masih melekat di sana. Luna masuk kedalam mobil dan menyalakan Ac-nya. Dia menikmati lagu dari ponselnya dengan menyantap mi instan berharap suaminya segera menghubunginya.
Mi instan habis, dan mata Luna juga sudah mulai lengket. Kini Luna terlelap sambil memeluk guling kesayangannya dan membenamkan kepalanya di sana.
*
*
*
Pagi harinya,
" Luna, Sayang, buka pintunya nak." Seru Mama Elena sembari mengetuk kaca mobil Luna yang masih menyala.
Mendengar bising bising di telinga perlahan Luna mulai membuka matanya, menyesuaikan sirat warna cahaya yang masuk.
__ADS_1
" Ada apa Ma? Mama pagi pagi sekali kesini? Apa Mas Agus yang menyuruh Mama?" Tanya Luna dengan heran.
" Bukalah dulu, biarkan Mama masuk." Terlihat raut kecemasan di wajah Mama Elena. Bibirnya bergetar dan juga pelupuk matanya yang susah payah membendung air mata.
" Ada apa Ma, katakanlah."Ucap Luna yang ikut keluar dari mobil setelah mematikan mobilnya.
" Kamu belum melihat berita?"
"...." Luna menggeleng cepat.
" Ada apa Ma?" Tanya Luna dengan firasatnya yang mulai merasa tidak enak.
" Agus,. Agus,, Dia.."
" Dia kenapa Ma, jangan buat Luna takut."
" Semalam, Mama mendapat berita jika Di tempat Agus bekerja terjadi gempa Nak. Dan, Desa di tempat Agus bekerja mendapatkan dampak yang paling besar. Terjadi juga liquifaksi di desa itu. Belum tau berapa jumlah korbannya, tetapi...." Mama Elena terhenti karena tangisnya yang sudah pecah dan memeluk Luna erat.
" Tapi apa Ma?" Luna berusaha tenang untuk mendengar semua cerita Mama Elena. Meskipun saat ini kaki Luna sudah lemas dan jantungnya sudah tak beraturan.
" Apa Ma?! Mas...." Seru Luna memanggil nama Agus dan tak berapa lama Luna jatuh pingsan.
" Luna, Luna!!" Seru Mama Elena bertambah panik dan takut terjadi sesuatu kepada menantunya.
" Pak, bantu aku membawa menantuku ke rumah sakit." Titah Mama Elena kepada pak sopir yang sedari tadi setia menunggunya di samping mobilnya.
Luna masih terkulai Lemas di atas ranjang rumah sakit. Dan Mama Elena bertambah khawatir. Sedangkan Papa pandu sudah melesat dan berada di desa tempat terjadinya gempa. Dengan membawa tim SAR dan juga bantuan logistik.
Mama Elena terus saja memantau berita perkembangan dari bencana yang terjadi. Seorang dokter datang menemui Mama Elena di kamarnya dengan membawa sebuah amplop putih di tangannya.
" Nyonya Elena, selamat!" Ucap sang dokter yang mengulurkan tangannya kepada Mama Elena dengan senyum yang mengembang.
" Selamat? Untuk apa Dok?" Mama Elena kebingungan. Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk mengucapkan selamat. Dimana anak dan menantunya sedang terpuruk.
__ADS_1
" Iya, selamat. Menantu Nyonya sedang hamil muda. Itu sebabnya tubuhnya sedikit melemah." Ucap Dokter.
" Apa? Hamil?" Mama Elena jatuh dan bersimpuh di lantai. Dia tidak tau akan tersenyum atau menangis saat ini. Putranya sedang berada dalam bahaya dan kini cucunya hadir.
" Nyonya, harusnya anda berbahagia. Tapi kenapa anda malah menangis histeris seperti ini?" Tanya dokter yang tidak mengerti akan situasi yang di alami oleh si pemilik rumah sakit tempatnya bekerja ini.
" Dokter, anda melihat berita tadi pagi? Gempa dan liquifaksi? Mas Agus ada di sana. Dia sedang mengerjakan proyek pembangunan di sana. Dan sampai sekarang belum ada kejelasan akan putraku. Aku tidak tau harus tersenyum atau menangis saat ini." Ucap Mama Elena yang mengusap air matanya dan menatap sendu menantunya.
" Nyonya, Maafkan saya. Saya tidak berniat untuk menambah duka anda. Saya berharap dan berdoa semoga Mas Agus lekas di temukan." Ucap Dokter Rian.
" Terimakasih, atas perhatiannya dok, juga untuk doanya." Mama Elena masih menangis haru dan kini di bantu oleh dokter Rian untuk duduk di sofa.
" Tenangkan diri anda nyonya. Maaf saya tidak bisa berlama lama karena harus mengunjungi pasien yang lain." Pamit dokter Rian yang kemudian berlalu.
Mama Elena menghubungi Papa pandu. Namun belum ada hasil juga. Mama Elena hanya bisa pasrah dan berdiam diri seraya memunajatkan doa agar putranya segera diketemukan.
" Ma" Lengkuh Luna pertama kali saat dia membuka mata.
" Iya sayang, kamu sudah bangun?" Mama Elena menghampiri dan mengusap lembut pucuk rambut anak dari sahabat terbaiknya itu.
" Ma, apa ada kabar dari Mas Agus?" Tanya Luna dengan suaranya yang lemah.
" Belum Sayang, tapi Mama yakin jika putra Mama adalah Ayah yang kuat. Dia pasti akan selamat untuk kembali pada kalian." Ucap Mama Elena dengan mata yang berkaca-kaca.
" Ayah, kalian? Apa maksud Mama?" Tanya Luna yang tidak paham akan maksud ucapan Mama mertuanya.
" Iya, Ayah. Agus akan menjadi Ayah sayang. Kamu hamil Nak. Ini bacalah." Ucap Mama Elena memberikan surat keterangan dari dokter yang menyatakan jika Luna tengah mengandung.
Tangan Luna bergetar menerima surat yang di berikan oleh Mama Elena. Luna menahan tangisnya dia tidak tau harus apa. Seharusnya momen bahagia ini dirayakanya berdua dengan sang suami. Namun takdir berkata lain.
" Aku hamil Ma? Sudah dua bulan? Ma, aku tidak tau harus sedih atau bahagia." Lirih Luna menitikan air mata dan mengusap perutnya.
" Sayang, bantu Mama berdoa ya. Doakan semoga Papamu cepat kembali dan berkumpul bersama kita. Hiks hiks hiks..." Luna menangis tersedu dengan Mama Elena yang memeluknya.
__ADS_1
" Pulanglah Mas, pulanglah, Kau ingin anak kan? Kau ingin bayi. Pulanglah Mas, lihat sikecil ada di perutku, pulanglah Mas.. Hiks hiks hiks!"
" Kamu harus kuat sayang, kamu harus kuat untuk cucu Mama. Putra Mama pasti kembali." Mama Elena mencoba untuk tegar dan mengusap lembut pucuk kepala Luna. Mencoba menguatkan menantunya sedangkan sesungguhnya dia sendiri sedang hancur dan remuk. Ibu mana yang kuat mendengar musibah yang melanda buah hatinya. Belum lagi kabar yang simpang siur yang selalu mampu membuat hatinya terombang-ambing.