Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Sendiri.


__ADS_3

Setelah hari dimana Agus dengan terang-terangan menanyakan perasaan Romy kepada Luna. Sikap Agus terkesan berubah. Agus sering pergi dari rumah dengan alasan bisnis keluar kota.


Luna mengijinkannya tentu saja setelah perdebatan panjang. Entah mengapa Agus menjadi mudah marah dan tersinggung setelah hari itu.


Apapun yang Luna lakukan tidak ada benarnya di mata Agus. Sikap Agus berubah menjadi sangat dingin.


" Maafkan Daddy nak. Daddy tidak sekuat yang kamu inginkan." Kata Agus dengan pelan, suaranya bergetar menahan kesedihan setelah berbicara dengan gambar hasil USG calon bayinya.


" Kak, pulanglah. Kamu tidak kasihan dengan Kak Luna? Dia hamil dan kamu malah sengaja mengabaikannya."Ucap Rosa yang duduk di sebelah Agus.


"Akan lebih baik jika dia tanpaku Sa. Aku hanya lelaki cacat. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk istriku. Bahkan ketika aku di sampingnya saja aku hanya bisa melihat dia melakukan ini itu sendiri." Agus menitikkan air matanya.


Rasa sedih dan kecewa yang bercampur menjadi satu membuat Agus memutuskan untuk menjauh. Toh, percuma juga baginya bersanding tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Agus memang melakukan pengobatan rutin berupa terapi. Tetapi sampai beberapa bulan berlalu Agus belum juga merasakan ada perubahan. Untuk menggeser kan kakinya saja butuh bantuan dari kedua tangannya.


Rusaknya jaringan otot yang di alami Agus lumayan parah. Kakinya memang bisa menggerakkan jari jemarinya tapi untuk melangkah, tidak sama sekali. Kaki Agus tertekuk dan menggantung. Hanya satu kakinya yang berfungsi dengan normal.


Untuk di geser atau di gerakkan pun saat terapi, Agus masih merasakan sakit yang amat sangat.


Untuk terapi, selalu saja Rosa yang menemaninya. Agus tak mau membuat orang tuanya khawatir. Juga Luna Agus tidak mau merepotkan istrinya yang kini hanya sekedar berjalan dan bernafas saja sudah terengah-engah.


" Kapan suamimu pulang?" Tanya Agus.


" Hari ini. Makanya Kakak pulang ya. Kasihan kak Luna Kak dia butuh Kakak." Rosa membujuk Kakaknya yang sedang galau tak menentu.


" Hhhh, kenapa harus pulang sekarang sih?" Agus mendengus kesal atas rencana kepulangan Levan.


" Ih, aneh ya pulang lah kan ini rumah dia juga. Kakak yang aneh, masa iya suamiku ga boleh pulang." Celetuk Rosa yang kesal dengan sikap Agus


Jika di pikir-pikir benar juga. ^qng aneh disini adalah Agus. Apa yang dia takutkan amatlah sangat berlebihan. Takut tidak lagi bisa membantu apapun membuat Agus menarik diri dan menjauh dari keluarganya sendiri.


Agus minder, belum lagi yang setiap hari dia mendapat cibiran dari lingkungan sekitar. Terpaut usia yang lumayan jauh, juga kondisi fisik yang saat ini terlihat tidak sempurna Agus semakin tertekan.

__ADS_1


*


*


*


Malam hari Agus pulang dengan berjalan perlahan-lahan. Agus tidak ingin menganggu ketenangan Luna. Ruangan sudah gelap karena lampu sudah di matikan. Tangan Agus meraba saklar, tetapi belum sempat Agus menghidupkan lampu kamarnya, Lampu sudah menyala.


" Kenapa pulang segala?" Ketus Luna yang marah.


" Eh, By." Agus menyahuti dengan gugup dan meringis menunjukkan barisan giginya yang putih.


" Kok gitu? Suami pulang kok malah di marahin? Ga mau nih Aku pulang?" Kata Agus yang mencoba merayu Luna yang nampak garang dengan perut besarnya, rambut yang berantakan tanpa disisir dan pipinya yang semakin chubby.


" Ya ngapain pulang? Alasan pergi urusan kerja padahal kamu cuman ke tempat Rosa kan?" Kata Luna yang meminta kejujuran dari Agus.


" Apa salahnya sih By aku ketempat Rosa? dia adikku sendiri. Kamu udah deh ga usah cari masalah malem-malem gini." Sahut Agus yang menjadi kesal karena teguran Luna yang terdengar kasar dengan nada membentak.


" Jelas salah lah. Istri lagi hamil bukannya di jagain malah pergi main entah kemana." Ketus Luna.


" Aku tidak ada masalah apapun dengan Rosa. Masalahnya di kamu Bu. Kamu akhir-akhir ini selalu cuek sama aku ya. Kamu juga sengaja pulang larut biar ga ketemu aku. Berangkat pagi-pagi biar ga pamit sama aku. Kamu anggap aku sebagai apa sih By?"


" Ada salah apa aku sama kamu By? Kamu udah ga sayang sama aku? Sudah ada yang lain?" Ketus Luna yang termakan emosi.


Tak tega hati Agus mendengar Luna berbicara menuduhnya yang tidak tidak sebenarnya sudah membuat hati Agus melunak tetapi, Seperti ada yang membelenggu perasaannya untuk selalu dekat dengan istrinya karena rasa tidak percaya dirinya Agus justru semakin menjauh.


" Kamu ga salah. Aku yang salah. Aku!" Agus berteriak kencang dan menjambak rambutnya dengan frustasi.


" Aku yang salah, tidak seharusnya kamu masih bersamaku pria yang cacat ini. Kamu masih muda By, kamu masih bisa mencari suami yang sempurna secara fisik." Ungkap Agus yang emosional dan kemudian terduduk di tepi ranjang.


" Kamu tau berapa kali kita membahas hal ini? Sudah aku katakan rasa cintaku tetap sama By. Aku tetap mencintaimu apapun keadaanmu. Tapi kenapa kamu seolah tidak mempercayaiku, apa aku serendah itu di matamu yang hanya mencintai sesuatu berdasarkan kesempurnaan fisik?"


" Katakan padaku By!" Ucap Luna yang emosional sambil menangis sedih berdiri di hadapan Agus.

__ADS_1


" Bukan aku tidak percaya kamu By. Aku meragukan diriku sendiri." Jawab Agus tertunduk lesu.


" Aku rasa itu hanya alasanmu untuk membuangku karena kamu sudah bosan kepadaku."


" Bukan itu By!" Agus menyangkal perkataan Luna.


" Harusnya dari waktu itu aku sadar. Harusnya aku lebih peka. Mungkin dengan fisikku yang tak lagi sama seperti dulu, kamu merasa bosan. Aku sudah tak cantik lagi, aku sudah menjadi wanita gendut, aku paham jika kamu punya yang lebih di luaran sana sampai kamu tidak mau pulang ke rumah." Celetuk Luna Sabil menangis meluapkan segala keluh kesahnya, segala keraguan yang tersimpan dalam benaknya.


" Tidak By, bukan itu!" Kata Agus meyakinkan Luna yang sudah kehilangan pola pikir sehatnya.


Kini dalam posisi ini, Luna mengalami krisis kepercayaan diri karena kehamilannya. Karena pengaruh hormon dan juga sikap Agus yang menjauh membuat Luna membangun asumsinya sendiri tanpa ada kejelasan dan bukti.


" Sudahlah, apapun di luaran sana yang membuatmu senang lakukanlah. Aku merasa aku tidak punya hak lagi atas dirimu. Bukan fisikmu yang membuatku mengurangi rasaku, tapi sikap acuhmu yang membuatku ragu." Kata Luna dan kemudian berbalik badan dengan tubuh yang bergetar menangis terisak pilu.


" By...!" Panggil Agus dengan lembut dan kemudian memeluk tubuh wanita yang sedang menangis sedih.


PYUK....!


" Auh.....!" Luna tiba-tiba melengkuh menahan skait sambil menggigit bibir bawahnya dan tangannya mencengkeram Tangan Agus yang masih melingkar di pinggangnya.


" Kamu kenapa By...?" Tanya Agus yang bingung karena tubuh Luna seketika melemas dan hampir saja ambruk kalau tidak ada dia yang menopangnya.


" Huf.... Huf... Huf.. Sakit By....!" Luna berbicara tersengal-sengal Sabil menarik nafas dan membuangnya melalui mulutnya. Satu tangannya memegang perutnya yang mengeras.


" Sa... sakit? By, kamu ngompol?" Seru Agus yang terbelalak saat melihat ada cairan keluar dari sela kaki Luna.


" Bodoh! ini ketuban!" Umpat Luna yang meluapkan kekesalannya pada lelaki yang senang sekali melarikan diri dari keadaan. Luna menjambak kuat rambut Agus saat kontraksi mulai datang.


" Aduh....! Sakit By!" Teriak Agus kesakitan saat Luna menjambaknya dengan kekuatan penuh.


" Kapok kamu kan biar tau rasa. Biar kamu tau aku juga sakit!!" Ketus Luna yang semakin menguatkan jambankanya sampai kepala Agus terhuyung kesana kemari.


" Ampun By! Ampun!" Agus tak kuat lagi menahan sensasi pedas di kepalanya sampai-sampai beberapa rambutnya rontok.

__ADS_1


" Rumah sakit, antarkan aku kerumah sakit!" Teriak Luna lagi sambil menjambaknya.


" Iya... tapi lepas dulu rambutku. Aku tidak bisa berjalan kalau begini." Kata Agus yang teraniaya karena Luna menjambaknya kuat-kuat sampai Agus menunduk mengikuti arah rambutnya di tarik.


__ADS_2