Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Ini musibah, bukan Dejavu


__ADS_3

" Rosa!" Melengking suara teriakan seorang laki laki memanggil nama Rosa.


Agus seketika berlari mendengar nama adiknya di panggil. Jiwanya meronta seperti tahu akan terjadi sesuatu dengan satu teriakan melengking yang memekakkan telinga itu.


Ada apa ini? Apakah ada hal buruk? Batin Luna yang susah payah berjalan terpincang-pincang mendekati ke sumber kerumunan.


Banyak orang-orang yang sudah berkerumun melihat musibah kecelakaan tunggal yang terjadi di depan mata mereka tanpa memberikan ataupun tanpa melakukan pertolongan yang berarti.


Rosa sudah tergeletak bersimbah darah dengan kaki yang terpelintir dari posisi yang semestinya. Rosa masih bisa membuka matanya walau tidak penuh, setengah matanya terbuka dan mulutnya terus saja menrintih menyebutkan nama seseorang.


" Levan" Rintih Rosa dengan air mata yang berlinang di sudut matanya.


" Iya Sa. Aku disini. Kamu yang kuat ya. Sebentar lagi ambulans datang Sa." Levan menguatkan Rosa dalam masa kritisnya.


" Akhirnya aku bisa sedekat ini denganmu, meski dengan cara yang menyedihkan Van." Ucap Rosa lirih dengan tangannya yang lemas mengusap pipi Levan.


Levan menangis sedih, rasa sesak di hatinya membuatnya teringat di saat mereka berada berdua di bangku taman dimana Rosa pernah berkata jika levan tidak akan pernah menangisi Rosa sekalipun itu kematian yang menjemputnya.


" Van, bukannya kamu pernah bilang sama aku. Kamu tidak akan pernah menangisi kematian ku?" Ucap Rosa yang tiba-tiba terbatuk dengan darah yang menyembur dari mulutnya.


" Sa, maafkan aku. Aku berbohong waktu itu. Aku tidak mau kehilangan kamu Sa. Kamu sahabat terbaikku selama ini." Ucap Levan dengan kejujuran dari hatinya.


Agus hanya bisa berdiri dengan air mata yang terjun bebas begitu saja. Tulang tulangnya terasa seperti tercabut dari tubuhnya dan membuatnya lemas tak bertenaga. Lidah Agus Kelu melihat adik yang selama ini di anggapnya sebagai biang rusuh harus terkapar di tengah jalan dengan bersimbah darah.


Agus menyesali banyak hal yang pernah terlewatkan ataupun hal yang mungkin tidak sengaja membuat sakit hati adik manisnya itu. Kilasan kilasan kebersamaan mereka sedari kecil kini berdatangan silih berganti memenuhi kepala Agus.


Luna yang akhirnya bisa mendekat, seketika kehilangan energinya dan bersimpuh di samping Agus sambil merangkul pundak Agus dan mengusapnya perlahan seperti memberi kekuatan tanpa kata kata.


" Hubungi ambulan! Aku mohon", teriak Agus dengan histeris dan tangis yang nyaring melengking.

__ADS_1


" Bolehkan aku menjadi lebih dari sahabat di detik terakhir dalam hidupku Van?" Rosa semakin pucat karena banyak darah yang mengalir.


" Iya, kamu pacarku Sa. Kamu kekasihku. Aku mencintaimu Sa. Bertahanlah sayang, bertahanlah."


" Bertahanlah, aku masih ingin mengajakmu melihat negri di atas awan, dan menikmati indah pantai. Bertahan Sa. Aku mohon!" Levan menangis haru merengkuh tubuh lemas Rosa yang sudah tidak berdaya bahkan tangan Rosa kini sudah terkulai lemas, bibirnya mulai bergetar seperti menggigil kedinginan dan matanya sayu sayu mulai tertutup.


" Dingin Van, dingin, peluk aku Van. Aku bahagia bisa menjadi kekasihmu." Rintih Rosa dibalik rasa sakit yang luar biasa.


Levan masih saja menangis histeris dan terus saja mengusap usap lembut lengan dan pipi Rosa sesekali. Dilihatnya tangannya kini sudah basah dengan warna merah yang pekat. Ya, darah juga rupanya mengucur dari kepala bagian belakang Rosa.


" Kamu Bisa Sa, kamu pasti bisa bertahan. Kita akan menikah, itukan yang selalu kamu bilang. Kamu selalu yakin akan pernikahan kita? hum? Penuhi janjimu Sa." Levan terus meracau mengulas masa lalu dan berusaha selalu membuat Rosa tersadar dan membuka matanya. Levan tahu benar jika sekali saja Rosa menutup matanya tanpa ada pantauan medis, maka kemungkinan besar adalah meninggal.


" Dingin...., Dingin.... Van." Rosa mengeluh dingin dengan sangat lirih dengan bibir yang sudah tidak mampu bergerak sempurna.


" Jangan lakukan ini padaku Sa. Jangan! bertahanlah Sayang!" Levan mencium bibir Rosa sekilas.


" Hey! di saat seperti ini kamu malah mencium adikku. Kamu sengaja memanfaatkan situasi huh!" teriak Agus yang geram dengan tindakan Levan, nyaris saja Agus menghadiahi Levan dengan tinjuan.


" Rosa!" Teriak Levan semakin histeris.


****


Flashback on ( Sebelum musibah )


Dengan memakai baju yang berwarna ungu, Rosa dengan riangnya berjalan sambil berdendang keluar dari kediaman Agus. Rosa sudah menyebrang jalan dan dilihatnya levan yang berjalan menuju ke rumah Agus.


Levan berjalan dengan seperti biasa. Fokus dan terarah.


Tiba tiba, sekilas situasi hadir begitu saja di hadapan Rosa.

__ADS_1


Aku pernah berada dalam situasi seperti ini. Baju yang sama, jam yang sama, pohon yang sama, dan Levan dia juga bajunya sama. Apakah hari ini adalah D-Day nya? Kalaupun iya, aku akan menukarnya, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya. Iya dari sana, dari sana akan datang seorang pengemudi mobil yang hilang kendali karena mabuk. aku harap ini hanya Dejavu. Tapi jika aku bisa menukar keadaan kita di sini, tidak apa aku akan memutar balik hal ini menjadi musibah, bukan Dejavu. Rosa mengingat rentetan kejadian di dalam mimpinya dimana seharusnya yang tertabrak adalah Levan.


Levan yang sedang berjalan dengan tenang di trotoar tiba tiba di dorong dengan begitu keras oleh seseorang saat sebuah mobil melesat cepat membanting stir hingga mengakibatkan tubuh seseorang yang mendorong Levan terpelanting membentur kuat pagar rumah yang kokoh.


Betapa terkejutnya Levan ternyata yang menyelamatkannya adalah Rosa. Wajah Rosa masih terlihat cantik meski sedikit berantakan dengan rambut dan kulit kepala yang menyelingkap karena tersayat bebatuan.


Entah bagaimana, tapi musibah itu terjadi begitu cepat Bahakan hanya sepersekian detik. Setelah mengenali jika yang menolongnya adalah Rosa, barulah levan bisa kembali bersuara setelah sebelumnya menjadi patung dan membisu.


Flashback off.


Ambulans datang dan dengan segera membawa kedua korban termasuk si pengemudi yang di nyatakan meninggal dunia karena benturan keras hingga mengakibatkan mobilnya terbalik hingga berkali-kali.


Levan terus saja menangis di depan pintu ruang IGD. Dirinya terus saja menangis menyesali apa yang pernah dikatakannya kepada Rosa secara kasar. Levan tahu benar selama ini banyak sekali ucapan dan perbuatannya yang meremukkan hati gadis manja itu.


Tidak jauh berbeda dengan Levan, Agus kini juga tengah dilanda kecemasan dan kesedihan yang teramat dalam. Agus dan Mama Elena terduduk di ruang tunggu yang berada di depan IGD. Keduanya sama-sama memiliki perasaan cemas dan takut kehilangan.


Luna dengan setia, merangkul dan mengusap lembut rambut adik laki-laki kesayangannya. Luna tahu benar jika perasaan Levan itu sebenarnya sangat lembut, tetapi levan selalu menutupinya dengan sikap yang dingin karena Levan hanya tidak mau terlihat lemah di hadapan orang lain terutama ibu tirinya, Rima.


Di sisi lain, Pikiran Mama Elena bergelayut menyiksanya. Dia sangat tersiksa dan merasa bersalah karena selama ini lebih sering bekerja daripada menemani tumbuh kembang anak anaknya. Sedari kecil Rosa lebih banyak bersama dengan Mbak Sri. Dan Mbak Sri juga sangat menyayangi Rosa, lebih tepatnya memanjakan setiap keinginan Rosa. Hal itulah yang membentuk Rosa menjadi gadis manja yang sebenarnya haus akan kasih sayang dan perhatian dari orang terdekatnya termasuk Agus.


Akankah Rosa berhasil melewati masa kritisnya?


Ataukah dia akan meninggal dunia dengan senyum dan kecupan terakhir Levan sebagai penghantarnya?


~ Bersambung ~


,Sedih banget author nulisnya😭😭😭😭


Rosa yang sabar ya, ada kisah khusus untuk kamu kok, yang lebih menyayat hati.

__ADS_1


Nyesel ga tuh, buat orang orang yang suka menyepelekan sedikit waktu kebersamaan?


Hargailah orang orang di sekitar kita, selagi dia masih bernyawa dan menyangimu segenap jiwa.


__ADS_2