Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Hari sial Rosa


__ADS_3

Pagi hari, kicau burung mewarnai setiap langkah Agus yang bersemangat menjalani hari dengan memulai lari pagi di saat matahari mulai menyingsing menunjukkan hangatnya.


" Hemh...! Segar" Agus menghela nafas dalam-dalam.


" Iya, segar ya." Sahut Luna yang sontak mengagetkan Agus sampai memegang dadanya.


" Astaga ih! Ngagetin banget kamu Na." Kata Agus mendengus kesal.


Luna Berdiri di samping Agus dengan bantuan tongkat dengan selimut hitam dan Hoodie hitam yang menutup kepalanya. Agus sangat terkejut dan hampir saja berlari. Pasalnya Agus sangat takut dengan hal hal yang berbau mistis. Sedangkan Luna lebih ke masa bodo dengan hal hal yang berbau gaib.


" Orang tuh lari pagi, Bukannya malah pakai selimut kemana mana." Agus mengomentari Luna yang membawa selimut besar ke teras belakang rumah.


" Eh, em..! Aku sepertinya pernah melihat pohon yang besar seperti itu. Tapi di mana ya?" Luna menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Pohon besar di belakang rumah Agus sangat familiar untuk Luna. Hanya saja Luna lupa dimana pernah melihat pohon yang seperti itu di dalam hidupnya. Mata Luna tidak beranjak dan terus mengamati pohon bunga tabebuya kuning.



" Ya jelas di sini dong sayang." Celetuk Agus tiba tiba.


" Eh, kamu kenapa?" Ucapan Luna terpotong saat dengan tiba tiba Agus merangkulnya dan memeluknya erat.


" Diam dulu seperti ini. Adikku datang, dia itu mata matanya Mamaku. Patuhi aku, Oke?" Bisik Agus yang diiringi dengan senyum palsunya yang mengembang sempurna sembari memeluk Luna.


" Em, bunganya bagus ya sayang?" Tanya Luna mulai dengan aktingnya.


" Iya, kamu suka?" Tanya Agus dengan wajah bahagia yang kini mulai menempelkan wajahnya ke wajah Luna sembari menikmati matahari terbit dan sajian indah bunga tabebuya.


Rosa semakin mendekat dengan wajah murungnya. Bibirnya manyun dengan alis yang hampir bertaut, Rosa datang mendekati Agus.


"Awas awas!" Rosa memisah Agus dan Luna dan kini berada di tengah-tengah mereka.


" Kenapa sih Sa ? Dateng dateng reseh!" Celetuk Agus nampak kesal.


" Awas jauh jauh, jaga jarak. Belum hallal!" Kata Rosa dengan melirik kakaknya.


" Ya sabar geh, bilang sama Mama. Sebentar lagi dia bakal jadi calon istriku." Agus menjelaskan.


" Apa, Is...?" Kata Luna bingung tetapi lagi lagi terpotong oleh Agus.

__ADS_1


" Iya kan sayang? kita akan segera menikahkan?" Agus memaksa Luna untuk berkata ia walaupun hanya dari ekspresi wajahnya yang sangat menindas dengan senyum palsunya.


" Hem Iya." Jawab Luna.


" Eh tunggu. Kalau dari dekat aku melihat dia. Membuatku ingat akan seseorang, siapa ya?" Rosa menggali ingatannya.


" Ah, jangan sok kena kamu Sa. Awas ah, aku dan pacarku mau masuk dulu. Kasihan kakinya masih sakit. Awas, awas! minggir!" Agus mendorong Rosa untuk menyingkir.


" Heits! iya aku ingat sekarang, Dia adalah wanita yang sering Levan bilang sebagai pacarnya yang ternyata adalah kakak kandungnya. Iya kan? Kenalkan kakak ipar, aku Rosa." Peringati Rosa seketika menjadi manis dan baik.


" Ah, sudah. Ini. gesek semaumu. Kamu di bayar berapa sama mama huh?" Agus kesal dengan kedatangan Rosa.


" Hehehehe! Tau aja sih Kak. Aku hanya dapat uang ekstra untuk shoping hari ini." Jawab Rosa yang ketahuan menjadi mata mata dan kini malah nyengir kuda.


" Hemmh! Ini aku tambah kartu kredit. Terus silahkan pergi tuan putri." Ucap Agus dengan nada imut.


" Ah, tidak. Tidak! Aku masih ingin berlama lama dengan calon kakak ipar ku." Jawab Rosa dengan senyum manis dan nada bicara yang manja satu tangannya mulai menggandeng Luna.


Eh, dia kalau sama adiknya sama sekali tidak perhitungan loh. Tapi kalau sama aku? Kelihatan banget kalau cari untung. Bahkan untuk rumah saja dia sampai tidak rela jika aku menempati sendiri. Batin Luna berdecak kesal.


" Awas, dia pacar aku. Kamu ga usah Deket deket!" Agus mendorong tubuh Rosa agar menjauh dan melepaskan Luna.


Kenapa dia bersemangat sekali untuk mendekati Luna? Apa sebenarnya tujuan Rosa datang kemari? Misi apa yang mama perintahkan kepada anak manja ini? Agus kesal dan memicingkan matanya.


Derrrttt!


Derrrttt!


Ponsel Rosa berdering dan Rosa melepaskan seketika tangannya dari menarik Luna yang membuat Agus yang sedang menariknya jatuh ke tanah dengan Luna yang berada di atasnya dan tanpa sengaja Kening Luna mengenai bibir Agus yang kini berdarah.


" Hallo!"


" Iya Ma. Mereka benar pacaran. Malah sekarang mereka tinggal di rumah Tante Wulan yang lama."


" Iya Ma, tapi untuk menjauhkannya aku tidak bisa. Aku sepertinya mulai menyukai calon kakak ipar ku ini." Jawab Rosa dengan jujur sambil menggigit kukunya karena panik akan Omelan dan kemarahan Mama Elena.


" Maaf Ma, kali ini aku ada di pihak Kakakku." Jawab Rosa yang membuat Agus melongo seketika.


Sementara itu Agus yang kesakitan dan Luna kesulitan bangun dengan kakinya yang sakit keduanya hanya saling dorong dan sama sekali tidak menunjukkan rasa sayang satu sama lain.

__ADS_1


" Aku curiga jangan-jangan kalian hanya pacar settingan?" Celetuk Rosa yang sudah selesai dari panggilan telepon seluler.


" Eh, sayang Maaf ya. Ini sakit ya?" Luna tiba tiba bersikap manis dan perhatian setelah mendengar kecurigaan Rosa.


" Kata siapa? Kamu tidak lihat betapa dia mengkhawatirkan aku?"Sahut Agus kepada Rosa. Agus yang kikuk karena Luna berada tepat di atasnya karena memberikan efek kejut di bagian tertentu yang sungguh menggairahkan.


" Sayang, sakit." Rengek Agus manja menunjuk sudut bibirnya.


" Shhh! kalau beneran pacaran coba di cium aku mau lihat." Ucap Rosa mencoba mengetes keduanya.


" Hei! Dasar adik kurang ajar! Gila kamu ya mau melihat kami berciuman. Setelah ini apa lagi? kamu mau melihat kami melakukan hubungan badan biar kamu yakin, iya?" Celetuk Agus geram dengan sikap Rosa yang mencari kebenaran akan hubungannya dan Luna.


" Ya kalau di perkenankan sih, aku rela mataku yang lentik ini ternodai. Lumayan gratis." Ledek Rosa sengaja memancing kekesalan Agus.


" Sial! Awas! Pergi sana!" Agus melempari Rosa dengan batu kerikil kecil.


" Iya iya, aku pergi. Sudah seperti jin iprit


saja aku di lempari batu." Gerutu Rosa yang berlari menghindari lemparan batu dari Agus.


" Tapi besok kalau menikah, Malam pertamanya boleh dong di live streaming!" Teriak Rosa masih mengerjai Agus.


" Kamu tahu kan sekarang kenapa aku tidak suka dia? Apalagi Mama, jauh lebih bawel di bandingkan dengan Rosa." Kata Agus.


" Tapia ku suka, dia mudah bergaul dan manis." Kata Luna yang memuji sikap Rosa.


" Heh? Manis? Kamu waktunya minum obat sekarang. Aku rasa kamu sudah membutuhkan obat lagi." Ucap Agus sarkastik.


Brugh!


Dum!


Terdengar suara benturan keras dari luar pagar. Agus dan Luna sama sama mendengarkan dengan seksama dan berusaha untuk bangkit meski dengan susah payah.


Tak lama kemudian terdengar teriakan seseorang yang menangis histeris memanggil nama Rosa.


" Rosa!" Suara teriakan itu membuat Agus terperanjat dan berlari secepat kilat menuju ke sumber suara.


Apakah yang sebenarnya terjadi?

__ADS_1


~ Bersambung ~


__ADS_2