
"Levan, kamu jadikan menginap di rumah Kakak?" Tanya Luna sambil membereskan meja kasir.
"Iyalah Kak, aku masih kangen sama Kakak. Mungkin 2 atau 3 hari lagi aku akan kembali ke rumah Ayah." Ucap levan yang membantu mengepal lantai.
"Oh Ok!" Jawab Luna singkat.
Luna lantas mengirim pesan kepada Veni, memohon agar untuk beberapa malam ini Veni mengijinkan Luna numpang tidur di kamarnya. Luna tidak ingin Levan tidur di sofa. Tubuh le an yang tegap dan tinggi tentu saja tidak akan muat tidur di sofa yang kecil.
Veni mengijinkan Luna untuk memakai kamarnya, karena malam ini Veni juga akan banyak kerja lembur jadi akan terlambat pulang.
Untung saja Veni sangat baik. Levan, maafkan Kakak yang belum bisa membahagiakanmu. Batin Luna sambil menatap Nanar Levan yang sedang giat bekerja.
"Pakai saja kamarku Na. Sudah lama aku juga tidak berbagi cerita sebelum kita tidur."Gumam Veni sambil mengerjakan laporan keuangan.
Luna dan levan hendak memasuki ruang apartemen mereka tidak sengaja berpapasan dengan Agus yang hendak keluar membeli mi instan. Agus sungguh kelaparan karena terlalu sibuk sampai lupa makan.
Netra mereka saling bertemu dan hanya sedikit menunduk untuk menyapa.
Tinggal disini juga rupanya si mbak Luna penjual kopi itu. Batin Agus sambil berlalu dengan cueknya.
Seperti pernah bertemu, Siapa ya? Ah, mungkin hanya wajahnya saja yang pasaran. Batin Luna sambil mengingat ingat wajah Agus.
Agus pergi ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan bulanan. Tiba tiba dia teringat akan Desta yang masih terbaring sakit. Agus lalu membelikan beberapa buah dan roti yang akan di bawanya untuk membesuk Desta.
Sesampainya di rumah sakit Agus langsung menuju ke ruang inap Desta, melalui resepsionis rumah sakit Agus mendapat arahan.
Tok!
Tok!
Tok!
Agus mengintip dari kaca pintu, terlihat Desta sedang tertidur pulas. Masuklah Agus sambil menenteng beberapa bingkisan kunjungan yang di bawanya.
"Woy, bangun lu des!" Kata Agus sambil mencolek perut Desta.
Desta sontak terperanjat kaget melihat kedatangan Bossnya. Seketika Desta duduk sambil melepas earphone yang masih di kenakannya.
"Boss, tumben besuk saya? Ada tugas apa boss?" Tanya Desta yang bingung dengan kedatang Agus.
Selama menjadi atasan, Agus hampir tidak pernah mau mengunjungi rumah sakit ketika ada karyawannya yang sakit. Agus memiliki ketakutan tersendiri terhadap rumah sakit.
"Tugas, tugas. Orang sakit mah mau di kasih tugas apa Des?"
"Saya kesini hanya ingin membesuk kamu masih bernafas atau tidak!" Jawab Agus dengan datar.
Ih, dinginnya ini orang, mana mulutnya kayak mercon banting. Kalau ngomong asnyong nih orang nyumpahin gue kali ya maksud dia. Batin Desta dengan kesal.
(Asnyong : Asal monyong)
"Bapak, kayaknya seneng banget kalau saya mati." Sahut Desta keceplosan.
__ADS_1
Agus hanya diam dan melirik tajam.
Desta gelagapan akan kata katanya yang terlontar secara tidak sengaja.
"Kamu kayaknya tidak suka aku membesukmu Des? Benci karena sering saya potong gaji?" Ucap Agus dengan santainya.
Itu tau! Batin Desta mengumpat.
"Berapa hari lagi kamu terbaring seperti bangkai disini?" Tanya Agus.
Desta sudah terbiasa dengan perkataan Agus yang tajam dan menyayat hati. Tetapi seberapa pun seringnya, tetap saja terkadang Desta ingin membalas atau menghina balik Bossnya itu.
Bunuh orang dosa ga ya? Ini boss mulutnya super pedes. Udah kayak seblak level 100. Kuat kuatno ya Rabbi. Keluh Desta dalam hatinya.
"Balik tau juga pak, mungkin secepatnya atau juga selambatnya. Karena hasil tes lab juga belum keluar. Ini saya juga masih lemes banget, kepala pusing dan rasanya mulut pahit banget!" Keluh Desta menceritakan keadaanya.
"Siapa yang suruh cerita? Saya cuma tanya kapan. Ga usah panjang lebar." Ucap Agus sambil memutar bola matanya dengan malas.
"Ada tugas buat kamu." Kata Agus tiba tiba.
"Hah? pak tapi saya kan masih terbaring di atas ranjang ini pak. Mana bisa saya masuk kantor. Lagian saya juga belum bisa bekerja secara maksimal pak." Jawab Desta yang menjelaskan keadaanya yang benar benar lemah saat ini.
"Stop!" kata Agus.
"Saya cuman minta kamu, besok hubungi mbak mbak penjual kopi itu untuk mengirimkan kopi langsung ke ruangan saya." Ucap Agus dengan jari yang menunjuk nunjuk ke arah Desta sambil berjalan bolak balik seperti sebuah setrikaan.
"Untuk pembayaran, akan langsung saya transfer tiap bulannya. Malam ini juga saya mau kamu kirimkan berapa bayaran untuk perbulannya ke saya. Saya tunggu!" Kata Agus menyudahi perintahnya.
"Baik pak." Jawab Desta dengan layu.
"Yang semangat!" Seru Agus.
"Siap! Baik pak!" Jawab Desta dengan suara keras.
"Nah, gitu dong. Tidak sia sia aku kesini membawakan kamu bingkisan." Agus terkekeh melihat raut wajah Desta.
"Segera, saya tunggu!" Agus mengambil sebuah apel dan melahapnya begitu saja dan pergi meninggalkan Desta.
Semoga dia bintitan ya Allah, Beliin bingkisan eh di makan sendiri. Desta menggerutu dalam hatinya.
******
"Ah, leganya. Bisa tidur nyenyak ini disini." Kata Levan yang tengah tengkurap di ranjang Luna sambil menciumi aroma seprai.
"Tidurlah Van, besok bantu Kakak untuk jualan ya." Kata Luna yang masih membersihkan wajahnya sebelum tidur.
"Kak!"
"Hemm." Jawab Luna.
"Seperti biasa." Kata Levan sambil tersenyum manis menatap Luna dari pantulan cermin.
__ADS_1
Luna terkekeh geli lalu berjalan menghampiri Levan. Kebiasaan Levan adalah tidur sambil memegang pucuk rambut Luna. Levan memiliki kebiasaan seperti itu jika berada di dekat Luna. Dahulu levan hanya melakukan itu dengan rambut sang ibu. Tapi setelah kematian ibunya, Levan yang kehilangan kasih sayang menjadi susah untuk tidur.
Dari saat itu, jika memilki waktu dan kesempatan, Luna selalu membiarkan levan untuk memegang pucuk rambutnya atau bahkan menciuminya.
"Kak, wangi rambut kakak sama dengan rambut ibu." Kata levan tiba tiba.
"Levan, kakak sengaja memakai shampo yang sama dengan yang di pakai ibu supaya kamu tetap bisa merasakan kehadirannya lewat aroma ini." Jawab Luna.
"Kak, Kenapa kita tidak pernah bertengkar Seperti kakak beradik yang lain?" Tanya Levan yang membandingkan hubungannya dengan hubungan kakak beradik teman temannya.
"Siapa bilang aku ini kakakmu?" Jawab Luna.
"Hah?" Levan mengernyitkan keningnya.
"Aku kan ibumu, dan kamu adalah putra sulung ku yang tampan, baik, dan pintar. Jadi, jangan pernah bandingkan lagi. Karena kondisi kita tidak seperti mereka." Ucap Luna sambil menatap Levan.
"Ya, awalnya aku iri dengan mereka. Mereka lucu, saling sayang tapi bersikap sangat cuek. Saling memperhatikan dan melindungi tapi tidak ingin terlihat. Mereka malu malu Kak." Kata Levan.
"Iya mereka malu malu. Kalau kamu Van, malu maluin. Udah gede masih ngempeng rambutnya Kakak." Sindir Luna.
"Yeh, ga papalah. Sebelum aku atau Kakak ada yang menikah, selama itu aku ga akan berhenti dari kebiasaan ini."Jawab Levan dengan santainya.
"Dasar!" Seru Luna sambil tertawa melihat Levan yang berbicara dengan mata yang mulai tertutup.
Cukup lama levan memegang pucuk rambut Luna. Sampai akhirnya Levan sudah tertidur pulas dan melepaskannya perlahan.
"Udah molor nih anak" Gumam Luna sambil mengecup pucuk kepala Levan.
Levan sebenarnya belum tertidur pulas, tetapi dia hanya berpura pura. Levan hanya ingin merasakan kehangatan yang sangat dirindukannya dari sentuhan sang ibu yang lama sudah hilang. Tapi Luna selalu mampu memberikan kasih sayang dan kenyamanan itu. Luna tidak pernah berubah dan selalu menganggap jika Levan adalah adik kecilnya.
******
"Huh, akhirnya istirahat juga!" Dengus Agus sambil melempar kunci di nakas.
Agus melemparkan tubuhnya yang lelah di atas matras yang sangat empuk dan lembut.
"Wanitaku, sambut aku dalam mimpimu!" Kata Agus dengan perlahan sambil menutup matanya.
******
Agus bertemu dengan wanitanya di dalam mimpi. Masih sama, mengenakan pakaian putih, wajah yang buram dan terlihat bersinar di sertai perasaan nyaman, tenang, dan teduh. Keduanya kali ini semakin dekat, mereka bergandengan tangan, dan saling tatap.
Agus merasakan adanya kebahagiaan yang meluap luap dari dalam dirinya. Sampai di dunia nyata pun Agus tertidur dengan wajah yang tersenyum bahagia.
Disisi lain, Luna juga memimpikan hal yang sama. Kali in luna sagat bahagia, mereka berdua duduk di pantai memandang matahari terbit, merasakan hangatnya sinar mentari. Perasaan bahagia menyeruak memenuhi setiap relung hatinya. Wajahnya berseri dengan senyum bahagia yang menyelimuti.
Dering alarm ponsel berbunyi keras membangunkan keduanya di saat mereka saling mendekatkan wajah satu sama lain seperti saat ingin melakukan adegan ciuman. Perasaan bahagia dan nyaman bersama benar benar membungkus keduanya dalam jalinan asmara.
"Shit! Kenapa harus sudah pagi! Ayo come back to sleep now!" Umpat Agus yang terbangun karena dering alarm.
***
__ADS_1
"Luna, Luna ayo merem lagi. Kita ulang lagi sebelum hilang pangeranmu." Kata Luna bermonolog sambil berusaha memejamkan matanya lagi.