Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Mau nananina, tapi malu


__ADS_3

Perjalan hening membelah kota, Luna yang terlanjur malu hanya diam tak bersuara. Sorot matanya memperlihatkan kekecewaan atas dirinya sendiri.


Sampailah di rumah, Agus seperti biasa, memarkirkan mobilnya di garasi samping rumah.


" Ayo turun By, kita sudah sampai." Kata Agus yang sudah mempersiapkan diri untuk turun dan membawa tas kerja dan barang barangnya.


" Hemm." Luna berdehem dan kemudian turun dengan wajah yang tertunduk lesu.


Kenapa jadi lesu begitu mukanya? Agus menggaruk kepalanya yang tak gatal dan ikut berjalan mengekori Luna.


Mereka berjalan memasuki kamar tanpa saling berbicara. hanya diam dan diam. Beberapa waktu Agus masih bisa terima tapi lama kelamaan dia menjadi gemas akan mood istrinya.


Agus sudah selesai membersihkan diri, tetapi Luna tidak. Ia hanya berbaring dengan menatap langit-langit. Luna bahkan tidak mengganti bajunya. Entah apa yang di pikirkan Luna saat ini hanya dia yang tahu.


" Lapar By." Ucap Agus sambil menepuk paha Luna dan kemudian berbaring di atasnya dengan sebelah tangan mengusap perut Luna yang masih rata.


" Awaslah kalau begitu, aku akan masak. Kamu mau makan apa By?"


" Apa aja. By, jawab aku jujur.


" Iya, kamu mau tanya apa?" Kata Luna masih dengan nada datar dan menatap langit-langit kamar.


" Tadi, dari salah satu pengunjung resto, apakah ada Romy dari salah satunya?" Tanya Agus dengan santainya sambil terus mengusap perut rata Luna.


Luna tergelak mendengar pertanyaan dari Agus. Ia panik tapi tak mau memperlihatkan kepanikannya. Ia tahu jawaban jujurnya hanya akan membuat kehancuran itu tebakannya. Luna menggigit bibir bawahnya lalu mulai berbicara dengan satu tangannya mengusap lembut rambut coklat milik Agus.


" Harus jujur ya?" Tanya Luna yang kini sudah beralih duduk dan menatap lekat wajah Agus dengan memainkan rambutnya.


" Ehem..! harus"Agus mengangguk dan kemudian membenamkan kepalanya ke perut Luna dan menggesekkan hidungnya.


" hhhhh..." Luna menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Sepertinya dia sedang mengumpulkan energi untuk berucap sebuah kejujuran.


Bukannya segera menjawab, Luna malah melepas bajunya dan kini hanya memakai bra. Dia mengikat rambutnya asal hingga menunjukkan leher yang jenjang dan putih mulus. Dioleskan nya lipstik berwarna coral yang menambah kesan sensual. Luna juga memakai parfum di area leher yang di ambilnya dari dalam tasnya.


Hidung Agus mencium bebauan yang menggoda hidungnya.


" By, apa kalau aku jujur kamu ga akan marah?"


Shittt! Gimana aku bisa marah kalau cara bicaramu dengan tampilan seperti ini sayang?


Oh, adik kecilku kenapa kamu cepat tanggap dan sigap sekali?


Kenapa juga dia udah lepas baju, dan bibirnya, kapan dia pakai lipstik?

__ADS_1


Damn!! Dia sangat pandai memanfaatkan kelemahanku.


Agus berusaha mengendalikan gejolak di dalam dirinya yang sudah meronta meminta menuntut pelepasan.


" By, aku lebih menyukai kejujuran yang menyakitkan dari pada kebohongan yang membahagiakan. Setidaknya obat yang pahit itu membawa kesembuhan dari pada gula yang manis yang merusak kesehatan." Kata Agus dengan suara lembut yang membuat Luna tiba-tiba merindukan sesuatu dari dalam diri suaminya.


" Baiklah, Iya dia datang." Kata Luna yang berusaha jujur. Dia tahu ini tidak akan berjalan mulus. Pasti sisi kecemburuan suaminya akan segera bangkit dan mengobrak Abrik ketenangan yang ada.


" Apa!" Seru Agus dengan terduduk dan melebarkan matanya menatap intens manik coklat Luna.


" Tenanglah, aku hanya berusaha untuk jujur. Dan juga tidak ada apa apa diantara kami. Kamu kenapa sih kalau soal Romy selalu menjadi sensitif?" Luna menaruh curiga.


" Ti... tidak. Aku hanya tidak suka jika istriku dekat dengan pria lain apa itu salah By? Bukankah kita di haruskan memiliki rasa cemburu terhadap pasangan kita?"


" Iya, tapi cemburumu itu selalu ter arah pada Romy saja. Apa kamu sadar itu By? Jujur aku malah jadi curiga, ada apa sebenarnya antara kamu dan dia?" Luna menelisik dalam mengorek informasi yang lama membuatnya selalu bertanya tanya.


" Tidak ada. Aku hanya tidak mau kamu di dekati pria lain. itu saja TITIK!" Agus mendengus kesal dan melipat tangannya ke dada dan membuang pandangan.


Luna memeluk Agus dari belakang lalu menciumi leher Agus. Luna tahu benar jika Agus tidak akan bisa marah padanya jika posisi mereka seperti ini. Tangan Luna mengusap lembut jari jemari suaminya dengan bibirnya yang tiada henti menciumi leher dan tengkuk suaminya.


Aaarrggghhhhhh! By, apa yang kamu lakukan?


Aku ingin menerkammu sekarang juga, tapi... tapi...


Ah, persetan dengan tapi! Shit!!!


" By, aku hanya mencintaimu. Lama bagiku untuk menemukanmu. Dalam mimpiku pun hanya kamu yang selalu hadir, apa kamu selalu meragukanku By?" Luna berbicara dengan sendu.


Ada apa ini, kenapa moodnya cepat sekali berubah ubah?


Tadi dia murung, lalu mulai menggodaku, dan sekarang dia murung lagi.


Aaarrggghhhhhh! bisa gila aku di buatnya.


" Aku tidak meragukanmu, aku hanya ingin kejujuranmu." Ucap Agus singkat jelas dan padat.


" Baik." Jawab Luna yang tak kalah singkat.


Kini Luna beralih posisi, dia duduk di atas pangkuan Agus dan melingkarkan kakinya di pinggang suaminya dengan tangannya yang melingkar di leher Agus.


" Lihat mataku sayang, apakah ada kebohongan di sini?" Luna menatap lekat kedua manik indah milik suaminya.


" Emmm, tidak." Agus menggeleng setelah mengamati mata Luna.

__ADS_1


" Hanya saja ada .."


" Ada apa?"


" Ada beleknya." Celetuk Agus yang kemudian tertawa cekikikan.


" Ih,ngeselin!"Seketika Luna turun dari pangkuan Agus dan bercermin.


Luna sangat malu hingga pipinya bersemu merah. Setelah melihat, ternyata tidak ada apapun di pangkal matanya dan itu hanyalah cara Agus untuk mengatakan, Iya aku mempercayaimu dan tak apa-apa. Hanya saja Luna kini harus memahami ternyata suaminya bukanlah sosok lelaki romantis yang pandai merangkai kata. Namun semua hanya di tunjukan dari tindakan dan ketulusan hati.



" Aku lapar!" Seru Agus yang menatap Luna dengan seperti ini.


" Iya iya.... "


" Ih, padahal udah nyusun trik biar dia meleleh dan tergoda, udah gitu kan kita nananina, uh ah uh ah, main kuda-kudaan bareng, eh malah suruh masak." Gerutu Luna sangat lirih hingga Agus tak mendengarnya.


Dari kejadian di dalam mobil sebenarnya nafsu Luna sangatlah tinggi dan menggebu, hanya saja dia malu untuk berterus terang. Luna juga tidak tahu mengapa. Dan suaminya juga seolah ingin menggodanya terlebih dahulu sebelum memberikan apa yang di inginkan istrinya.


Oh, Tuhan!


Kenapa mahluk ciptaanmu yang satu ini begitu manis?


Kenapa aku sangat bernafsu sekarang?


Aku merindukanmu Sayang...


Tapi aku malu untuk bilang, Apa kamu tidak mengerti, aku sudah memakai parfum, lipstik, dan melepas bajuku juga.


Tapi kamu,


Ah.... sebel, sebel, sebel! Luna menggerutu kesal dalam hatinya.


Ia berjalan keluar dari kamar sambil sesekali menghentakkan kakinya yang tentu saja tidak berbunyi tapi itu sangatlah lucu di mata suaminya. Kebiasaan baru Agus, sangat suka menggoda Luna dengan moodnya yang sering berubah-ubah.


Agus mengulum senyumnya melihat Luna keluar dari kamar dengan cemberut. Itu sangatlah menggemaskan bagi Agus.


" Kalau ga ikhlas masak, ga usah masak By!" Teriak Agus saat Luna sudah memegang gagang pintu sambil cemberut.


" Ikhlas kok sayang. Hehehe..." Luna meringis memperlihatkan jajaran gigi putihnya dengan senyum yang di paksakan.


Senyum yang di paksakan, tapi aku suka. Batin Agus yang tersenyum bahagia setelah Luna pergi menutup pintu.

__ADS_1


Dia sudah jujur, tapi apa aku bisa jujur perihal Romy?


Romy, awas saja kau.


__ADS_2