
Luna tidak berani mengangkat kepalanya di tengah persidangan antara Bapak dan Anak yang sedang berlangsung ini. Matanya hanya tertunduk menatap ujung kemeja yang dimainkannya. Seperti balita yang sedang di marahi ibu gurunya, jelita hanya mendengarkan tanpa berani berkomentar.
" Kamu tahu apa yang paling papa tidak suka?" Kata Pandu dengan suara baritone yang membuat Luna merinding mendengarnya.
" Tau Pa" Jawab Agus yang tertunduk lesu.
" Lalu kenapa kamu masih melakukannya!" Bentak Pandu dengan satu tangan yang menggebrak meja hingga jelita meloncat dan jatuh dari tempat duduknya.
" Astaga!" Keluh Luna yang kaget dan terperosok jatuh.
" Bangun!" Agus menarik kerah baju Luna seperti sedang mengangkat anak kucing dengan menjinjing kulit di area leher.
" Agus, malam ini juga kamu pulang dan tidur di rumah. Papa tidak mau kalian ada dalam satu atap tanpa pernikahan." Kata pandu dengan tegas dan mata lasernya terus menatap tajam keduanya.
" Jangan, aku takut ada di rumahmu sendirian. Nanti kalau ada yang tadi bagaimana?" Bisik Luna dengan mimik wajah ketakutan.
" Diamlah, aku akan mengatasi ini." Jawab Agus dengan berbisik.
" Pa, dia tidak berani tidur di rumahku sendirian. Dia takut Pa." Kata Agus dengan suara takut-takut.
" Kenapa? Itu hanya alasan saja. Tidak ada tapi tapi. Menikah dulu baru satu atap selain itu tidak ada alasan! Dia bisa kembali ke rumahnya sendiri. Apa dia gembel yang tidak punya hunian?" Seru Pandu dengan suara keras yang membuat Luna menunduk sedih mendengar kata tidak punya hunian.
Memang benar Luna sedang tidak punya hunian karena sudah menyewakannya kepada dua sahabatnya dan untuk kembali menetap di sana, agaknya itu sangat tidak etis dimana rumah yang sudah di sewakan kembali di tempati. Luna memikirkan nasibnya yang terancam menjadi gelandangan malam ini.
Agus yang melihat Luna menunduk sedih kemudian berlutut di hadapan sang Papa.
" Pa, aku mohon. Biarkan dia tetap tinggal bersamaku. Aku akan bertanggungjawab." Kata Agus dengan gentleman.
" Apa maksudmu? Kamu akan menikahinya?" Tanya Pandu memastikan ucapan anaknya.
Agus mengangguk perlahan.
__ADS_1
Luna menelan ludah berkali kali sambil menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan bila- bila saat ini dia sedang bermimpi. Memang jelas di dalam mimpinya jika laki laki itu adalah Agus. Tetapi untuk menikah secepat ini, tentu mental Luna juga belum siap sama sekali.
Sial, kenapa aku rela berlutut di hadapan Papa dan meminta hal yang tidak seharusnya? Ada apa dengan diriku ini? Hanya melihat dia ketakutan sampai terperosok saja bisa membuatku memohon di hadapan Papa sampai seperti ini. Batin Agus kesal sekaligus bingung akan tindakannya sendiri.
" Oh, baiklah, jika memang itu maumu. Kebetulan penghulu juga belum pulang. Sangat pas sekali Kakak dengan kakak dan adik dengan adik." Gumam pandu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Dandi, bawa penghulu kembali kemari sekarang juga." Titah pandu dalam sekali ucap tanpa basa-basi.
Dandi yang hanya mematuhi perintah Tuanya hanya menurut begitu saja dan kembali memutarkan arah mobilnya menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Pandu menggiring Agus dan Luna untuk segera menaiki mobil.
Penghulu yang kebingungan hanya memasang wajah datarnya dan memberanikan diri untuk bertanya.
" Ada apa saya di bawa balik kesini lagi pak?" Tanya penghulu sembari menoleh kebelakang dimana Agus, Luna, dan pandu duduk berjajar.
"Nikahkan mereka sekarang juga Pak. Saya tidak mau lagi menanggung dosa zina dari anak saya yang bandel ini." Keluh Pandu tegas.
Agus tidak berani menjawab atau mengelak dirinya hanya menunduk lesu dan sedikit berbisik pada Luna. Entah apa yang di bisikan, tetapi Luna kini terlihat lebih santai dimana sebelumnya jantungnya seperti di ayun ayunkan perahu kota kora.
" Mempelai laki-laki, apakah anda terpaksa?" Tanya penghulu dan di jawab gelengan kepala oleh Agus.
" Mempelai wanita, apakah anda berada di bawah paksaan pihak lain?" Tanya penghulu dan juga di balas gelengan kepala oleh Luna meskipun sebenarnya Luna mau menikah dengan Agus karena terpaksa dan tidak mau Mama Elena semakin memburuk keadaanya setelah tau jika mereka saling tindih bahkan diruang tamu.
Agus hanya membisikkan,
" Aku lipat gandakan 10 kali lipat dari perjanjian, ini hanya sementara." Bisik Agus sebelum penghulu menanyai Luna.
Sesaat kemudian,
" Sah!" Seru Pandu kuat bahkan sangat kuat sampai Luna terkejut dan memegangi dadanya untuk kesekian kali.
Aku rasa aku akan memiliki lemah jantung jika terus terusan dekat dengan orang ini. Batin Luna mengelus dadanya.
__ADS_1
Dandi hanya menggeleng tidak percaya jika dalam satu malam terjadi pernikahan kakak beradik yang terjadi tanpa rencana sama sekali. Benar tanpa rencana manusia, tanpa pesta dan tamu. Tetapi ini adalah rencana Tuhan yang di aminkan dan di saksikan oleh ribuan malaikat.
Pandu kemudian turun setelah menikahkan anaknya, sungguh jauh dari ata haru dan sakral. Luna saat ini hanya terdiam terpaku menelaah semuanya secara perlahan. Dalam secepat kedipan mata, kini dia sudah menikah dengan Agus Dermawan dan sah menjadi istrinya secara agama. Menikah tanpa di hadiri sang Ayah sebagai wali, menikah tanpa riasan dan gaun, tanpa terencana sama sekali.
Satu yang ada di kepalanya saat ini. Kelipatan 10 kali dari perjanjian kerjasama dengan Agus. Luna sangat senang disisi lain karena dengan itu, masa depan Levan akan terjamin. Luna bahkan tidak tahu harus menangis atau tertawa saat ini. Tatapannya hanya mengamati hitam pekat malam hari dengan kerlipan lampu jalanan.
Agus pun sama, dia masih tidak mengerti mengapa bisa dalam hitungan detik menjadi suami Luna yang pada awalnya hanya perjanjian bodoh untuk menghindari perjodohan dari Mamanya. Agus melamun menatap boneka yang berdiri dan bergoyang di dashboard seperti sedang menghinanya. Agus yang kesal lalu mengambil boneka dashboard itu dan menyimpannya di laci dashboard.
Di ruang rawat Mama Elena.
" Mama, misi sukses!" Kata pandu berjingkrak girang sambil menciumi wajah Elena.
" Pa, apa Papa serius? Tidak bohong kan?" Tanya Elena memastikan.
" Iya, Ma Papa serius. Mereka sudah sah suami istri." Kata Pandu bersemangat.
" Akhirnya Pa, lunas sudah hutang kita terhadap Wulan. Mama bisa sedikit lega sekarang." Kata elena menghela nafas lega.
" Lalu bagaimana dengan Rosa?" Tanya Elena dengan kembalinya kesedihan di wajahnya.
" Belum Ma. Levan masih menungguinya. Em maksudku menantu kita, suami Rosa." Jawab Pandu memberikan laporan secara khusus.
" Wulan, hutangku aku lebihkan. Aku menikahkan kedua anakku dengan kedua anakmu. Aku harap kamu bahagia melihat ini semua." Gumam Pandu sambil mengusap lembut pundak Elena.
...~ Bersambung ~...
... Jangan lupa like 👍...
...komentar 💬...
...dan juga vote 🥰🤭🤗 ...
__ADS_1