
Pemakaman usai di laksanakan, Luna mendapat kabar kematian Ayahnya justru dari ayah mertuanya yang dimana adalah rekan bisnis Heru. Pandu dengan berat hati mengabarkan berita kematian Heru kepada Luna. Luna untuk sesaat hanya bisa terdiam dan mematung. Air matanya menetes tiada henti dan kini tubuhnya bergetar dan jatuh terhuyung.
" Kamu tidak apa apa nak?" Elena terlihat khawatir dan membawa Luna duduk di sofa.
" Ma, Ayahku Ma. Aku aku belum meminta maaf kepadanya." Luna menangis terisak pilu dan meremas bantal sofa sebagai bentuk luapan kekecewaan atas dirinya sendiri.
" Sayang, jangan ratapi, ikhlaskan supaya ringan langkahnya." Elena tidak banyak berkata, mulutnya tercekat dan lidahnya kelu. Rasa kehilangan yang sama dahulu juga pernah di alaminya ketika kedua orang tuanya secara bergantian meninggal dunia dengan waktu yang tidak terlalu lama berjarak.
" Agus, temani istrimu Nak. Tenangkan dia. Biar Mama yang menjamu para jamaah tahlil yang hadir." Elena memang sedang sibuk membagi waktunya untuk menyalami para jamaah tahlil yang hadir.
Mayat mereka baru di temukan sore menjelang malam ketika tetangga Heru berniat meminjam obeng ke pada Heru. Saat di temukan pertama kali adalah mayat Adrian yang sudah terbujur kaku di depan rumah Heru. Berita ini sontak menjadi sangat heboh hingga tersiar ke televisi nasional dan swasta.
Agus yang tidak tahu bagaimana cara menenangkan Luna hanya mengiyakan dan membawa Luna masuk kedalam kamar Sisil. Di rumah itu sudah tidak ada lagi kamar Luna dan Levan. Rima menjadikan kamar keduanya sebagai tempat menyimpan barang bekas atau barang yang tidak terpakai dengan alasan dari pada kosong dan tidak terpakai. Tetapi secara halus makna dari tindakan Rima adalah mengusir kedua anak tirinya. Heru saja yang terlalu di butakan oleh Rima hingga menutup hatinya untuk anak anak kandungnya.
" Duduklah." Agus mendudukkan Luna di ranjang Sisil.
Luna berbaring dan meringkuk memeluk guling lalu mulai menangis haru dan menutup mulutnya dengan guling agar suara tangisnya tidak terdengar hingga keluar. Agus menjadi semakin bingung dan kemudian ikut duduk di dekat Luna dengan satu tangannya yang ragu ragu menepuk-nepuk halus punggung Luna.
Tidak ada percakapan, hanya Isak tangis yang tersisa hingga Luna tertidur karena lelah menangis. Elena yang sudah selesai dengan para jamaah tahlil mengintip dan membuka perlahan pintu kamar Sisil. Dilihatnya tangan Agus masih berada di atas punggung Luna dengan keduanya yang tertidur lelap.
Dingin malam semakin menusuk membuat Luna mencari kehangatan di tempat tempat terdekat tanpa membuka matanya. Kehangatan itu di temukannya terasa harum dan sangat nyaman. Luna tertidur dan bermimpi indah.
Di dalam mimpinya.
Di tempat yang luas lagi sejuk, Luna mendekap erat tubuh Agus. Keduanya saling bertatap mesra dan Agus mencium kening Luna. Sungguh sentuhan bibir yang terasa nyata hingga membuat Luna ketagihan dan membalas ciuman suaminya berkali kali lipat.
Pada kenyataannya, Luna memang menciumi bibir Agus terus dan terus tanpa jeda. Bukan ciuman dalam saling mengabsen rongga mulut dengan lidah. lebih tepatnya hanya sebuah kecupan yang bertubi-tubi lagi dan lagi mendarat di bibir lembut Agus. Agus hanya terdiam kembali mencoba mencerna apa yang sedang terjadi mengingat baru saja dia bermimpi bertemu dengan wanitanya dengan hidung yang menggemaskan dan mata bulat.
Tunggu, setelah ku amati wajah ini? Wajah ini, dia wanitaku? Apakah benar kamu? Batin Agus kemudian mengucek matanya tak percaya.
__ADS_1
Lama Agus mengamati wajah Luna dengan seksama. Bahkan Agus mulai meraba alis, hidung dan bibir Luna. Perlahan tapi pasti Agus juga tergoda dengan bibir Luna yang seolah memiliki maghnet dan menarik bibir Agus untuk lebih lekat dan mendekat. Ciuman bahagia Agus mendarat di bibir Luna yang sudah sah menjadi istrinya.
Tiba tiba, Luna terbangun dari tidurnya dan membuka matanya. Wajah Agus tepat di hadapannya dengan bibir yang masih lekat menempel dan saling bertukar air ludah.
" Aaaaa...!" Luna terperanjat dan dengan refleks menendang Agus hingga Agus terguling ke lantai.
" Hey, diam ini masih malam!" Ketus Agus menggosok gosok pinggangnya yang sakit.
" Maaf Pak, aku hanya kaget dengan tindakan anda." Kata Luna dengan menunduk tidak berani menatap wajah Agus.
" Pak, Pak! Apa panggilan sayangku? Jika tidak ada maka akan aku potong pembayaran." Agus yang kesal mulai mengancam Luna seenak hatinya.
Luna berfikir keras mencoba menemukan panggilan sayang yang pas dengan karakter Agus.
" Cepat!" Agus tidak sabar.
" Hubby saja ya?" Kata Luna mencoba peruntungan dengan ide yang alakadarnya.
" Hubby is Husband Gummy. Karena senyum Kamu manis seperti candy gummy ." Luna memberi penjelasan asal asalan.
" Oke aku suka. Aku kasih bonus kamu 10 % ." Agus kembali duduk di dekat Luna.
Sesaat Luna bisa melupakan kesedihannya dan di saat Luna mulai bisa sedikit santai justru ada hal menegangkan yang kembali terjadi. Terdengar bunyi benda jatuh dari atas atap. Agus melihat jam tangannya dan masih jam 3 dini hari. Ingatan Agus kembali pada tragedi penembakan yang baru saja terjadi di rumah Heru yang saat ini di tidurinya. Meski mereka beramai ramai dengan para tetangga dan juga ayah pandu dan Mama Elena. Tetapi hanya mereka yang ada di kamar, sedang yang lainnya ada di ruang tamu.
Sementara untuk menuju ke ruang tamu harus melewati lorong antar kamar dan itu membuatnya sungguh takut. Tiba tiba bau amis tercium. Agus bergidik ngeri dan memeluk Luna erat.
" Na, temani aku tidur." Agus menggigil ketakutan dan menyembunyikan kepalanya di balik pinggang Luna yang masih terduduk.
" Ah by, aku juga takut ah. Geser" Luna ketakutan dan juga ikut meringkuk bersembunyi bersama di dalam selimut tebal.
__ADS_1
" Sini sini cepat sini." Agus menarik tangan Luna hingga Luna kini berada di dekapannya.
Mereka saling peluk, dan berlangsung cukup lama mencoba memejamkan mata tetapi tidak bisa karena terlalu takut. Agus dan Luna mereka berdua sama sama ketakutan dan sekarang hawa panas mulai terasa. Posisi mereka yang saling berdekatan dan ada di dalam selimut jauh lebih menakutkan daripada hawa mistis yang ada di sana.
" Pak," Panggil Luna.
" Pak lagi, kebiasaan!" Protes Agus kesal.
" Maaf lupa By. Buka selimutnya ya, aku sudah berkeringat." Kata Luna dengan keringat yang sudah membanjiri tubuhnya. Lidah Luna sangat kaku ketika memanggil Agus dengan panggilan hubby. Sangat aneh baginya melakukan hal itu mengingat mereka baru saja menikah satu malam yang lalu dan sekarang sudah sedekat ini dengan panggilan sayang.
" Rendahkan saja temperatur Ac-nya." Sebenarnya Agus enggan beranjak dan berpindah tetapi juga tidak mengijinkan Luna untuk bergeser karena takutnya.
" Baik, aku akan mengambil remot AC." Luna sudah tidak terlalu takut dan lebih berani ketimbang Agus yang masih meringkuk bergidik ngeri.
Ngik...!
Ngik..!.
Harapan Luna harus terputus seketika ketika matanya menatap remot AC yang tertempel di dinding yang jauh dari jangkauannya. Perlahan Luna kembali mendelep kedalam selimut.
" Kenapa?"
" Tidak jadi By, remotnya jauh dan ada putih putih di balik pintu." Luna menceritakan apa yang di lihatnya dengan separuh jiwa yang melayang arena ketakutan.
"Jangan menakuti ku, itu tidak lucu." Agus berdecak kesal dengan nada bicara datarnya.
" Siapa juga yang menakuti kamu. Kalau tidak percaya lihat sendiri saja. Aku kapan sih pernah bohong." Luna menegaskan kejujurannya.
" Eh, tunggu. bukannya hantu itu bisa menembus apapun. Memangnya kalau kita menutup tubuh Kita dengan selimut, dia tidak bisa menjangkau kita. Bagaimana kalau dia tiba-tiba ada di tengah kita dan menghadapmu By?" Luna malah mengembangkan bakat halusinasinya.
__ADS_1
" Na! Diam!" Seru Agus kuat yang tidak mau mendengar omong kosong Luna tentang mahluk astral lalu membekap mulut Luna dengan tangannya.
" Diam! atau ku cium kamu lagi." Ancam Agus dengan bisikan yang berhasil membuat Luna merinding ketakutan. Lebih menakutkan dari apa yang dilihatnya di balik pintu.