
Tik!
Tik!
Tik!
Suara tetes air infus yang tersamarkan oleh riuh suasana rumah sakit yang ramai pasien. Luna terbaring lemah tidak berdaya. Demamnya yang tadinya sudah turun dan membaik nyatanya kembali melonjak tinggi hingga membuatnya tak sadarkan diri.
Sedari di bawa ke rumah sakit oleh BI Lilis, sampai tengah malam Luna belum juga terbangun. Pihak rumah sakit mengatakan hal itu adalah wajar mengingat reaksi perlawanan antibodi Luna terhadap racun yang di sebarkan oleh bulu babi.
Sementara di tempat lain.
" Gus, kamu ingat janji kamu kepada Mama?" Elena duduk santai menatap malam gelap.
"Ingat Ma." Jawab Agus lembut.
" Lalu, Kenapa tidak ada tindakan?" Elena memepertanyakan sikap Agus yang cenderung mengabaikan perjanjian dengan Mamanya.
" Apa benar berita yang beredar itu? Jika kamu sudah memiliki pasangan?" Elena menelisik berita yang beredar.
" Hem." Agus mengangguk dengan santainya sambil bermain game di ponselnya.
Elena tau dengan sangat karakter Agus yang sama persis dengan Ayahnya. Mereka berdua akan menjadi tuli mendadak ketika memainkan atau menonton sesuatu.
" Gus! Mama serius!" Elena mulai meninggikan suaranya.
" Iya Ma, dia pacar Agus. Mama bukannya sudah lihat di berita juga kalau kemarin kami habis berlibur dan menginap di pantai." Agus memanfaatkan berita yang bergulir liar sebagai tameng untuk menghadapi sang Mama yang selalu kekeuh ingin menjodohkan Agus dengan anak temannya.
"Baiklah, jika begitu. Bawa dia untuk menemui Mama. Mama ingin tau asal usul dan silsilah keluarganya." Ucap elena seraya berdiri dan merapihkan rambutnya dan kemudian berjalan pergi dengan anggunnya ala ibu ibu sosialita.
Tanpa mendengar jawaban putranya, elena melangkah pergi meninggalkan Agus. Agus bernafas lega dan mengusap dadanya. Dilonggarkannya dasi yang melingkar di lehernya. Agus menghela nafas panjang dan memijit lembut pelipisnya.
Seperti tidak ada habisnya masalah yang menghampiri Agus. Bagaikan mati satu tumbuh seribu, baru selesai dengan Mama Elena yang menuntut Agus untuk segera menikah. Sekarang Agus harus menyusun skenario untuk membuat sebuah plot baru dengan Luna.
Agus sangat yakin jika Luna akan menolak semua yang di rencanakan olehnya. Agus terdiam memutar otak mencari cara agar Luna mau bekerjasama untuk menjalankan misinya.
Aku harap kamu mau membantuku Luna. Tapi, apakah aku harus menghentikan usahaku dalam mencari gadis di dalam mimpiku? Atau aku harus kembali mencari bayi manis itu yang benar ada di dunia nyata? Pikir Agus yang ragu dengan langkah yang akan di ambilnya.
Alih-alih terhindar dari wanita pilihan Mama Elena, Agus kini justru di hadapkan dengan tiga pilihan, antara wanita yang ada di dalam mimpi, bayi manis yang di carinya, atau Luna sebagai cadangan. Agus mengusap kasar wajahnya dan mengacak rambutnya.
"Desta!" Ucap Agus mulai berbicara melalui sambungan telepon seluler.
__ADS_1
" Iya pak Boss. Ada yang harus saya lakukan?" Desta menjawab dengan suara serak karena sedang nyenyak tertidur.
" Sudah kamu dapatkan alamat rumah sakitnya?" Agus mencemaskan keadaan Luna.
" Sudah Pak Boss. Ini saya sedang berada di sini menunggunya." Jawab Desta meski dengan nyawa yang belum sepenuhnya tersambung dengan raga.
" Kamu boleh melanjutkan tidur." Jawab Agus yang mengakhiri panggilan.
Agus kini tengah berada di hotel setelah menghadiri rapat dengan klien. Elena sengaja menyusul Agus karena berita liar yang beredar.
****
"Wulan, maafkan jika aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu. Aku hanya berharap semoga putrimu menemukan jodoh terbaiknya." Batin Elena dengan mata yang sudah basah menggenang air mata.
Elena menatap ke jendela luar melihat gelap malam yang pekat dengan Sinaran temaram lampu jalanan.
Hingga pagi menjelang, dan matahari mulai menunjukkan pesona indah jingganya. Perlahan Luna mulai mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa berat dan pandangannya buram. Dilihatnya sosok hitam berdiri di hadapannya, dengan wajah yang sama sekali tidak terlihat jelas. Sampai sampai Luna menyipitkan matanya untuk mempertajam pandangan.
" Biasa saja, tidak usah sampai seperti itu mengagumi ketampananku." Ujar Agus yang mulai mengeluarkan suguhan tinggi hatinya.
" Astaga, kamu?Aku kira ... Ah sudahlah." Luna menjawab sekenanya karena sebagian kosa katanya hilang tiba tiba.
" Kamu kira apa? Hem, jawab!" Agus terkesan memaksa.
" hem!" Jawab Agus malas.
" Aku kira gondoruwo. Hehehe!" Luna tertawa kecil yang membuat ceria wajahnya kembali lagi.
" Kamu ini, biasa saja ketawanya. Ga usah kayak kunti!" Ledek Agus membalas perlakuan Luna.
Seketika Luna mengatupkan mulutnya dan mencibir, Luna terlihat menggemaskan dengan pipi yang menggembung.
" Apa kata dokter?" Agus ingin mengetahui keadaan medis Luna.
" Katanya, aku sudah boleh pulang." Jawab Luna sekenanya dengan wajah yang datar.
" Terus kenapa kemarin sampai pingsan?" Agus sangat penasaran akan keadaan Luna.
" Tuan Agus Dermawan, Aku pingsan karena efek racun si bulu babi itu. Bahagia kamu sudah berhasil menancapkan 6 bulu babi langsung ke kakikku?" Luna menatap nanar Agus yang menelan ludahnya perlahan.
Agus paham benar maksud Luna adalah ingin mengungkit rasa bersalah Agus agar semakin dalam. Tapi memang terlihat dari kaki Luna yang bengkak membesar dan pastilah itu sangat sakit.
__ADS_1
Agus memutar otak dan ingin mengutarakan tentang wanita pilihan Mamanya. Melihat Luna yang berhati mulia, Agus sedikit memiliki peluang dan harapan untuk mengutarakan maksud kedatangannya.
" Na, kamu tahu tentang gosip kedekatan kita di media online?"
" ya"
"Em, kamu kemarin ingin aku membantumu untuk keluar dari masalah ini kan?" Agus membuat Luna terprovokasi.
"Ya"
"Kamu ingin bebas pergi kemanapun tanpa adanya heaters kan?"
" Ya" Luna mengiyakan pertanyaan Agus.
"Bagaimana kalau kita pacaran sungguhan di hadapan mereka?" Celetuk Agus yang akhirnya membuat Luna bertambah pusing seketika.
" Bagaimana bisa? Aku hanya di gosipkan dekat denganmu saja sudah susah keluar rumah. Apalagi jika memang benar, Wah bisa mati berdiri aku." Luna menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya akan permintaan Agus.
" Na, tenanglah. Kamu tidak akan di rugikan dalam hal ini. Justru kamu akan banyak mendapatkan keuntungan." Agus mencoba meyakinkan Luna dengan iming-iming keuntungan.
" Apa itu?" Mata Luna langsung membelalak lebar dan terlihat sangat tertarik dengan apa yang Agus ucapkan.
" Aku akan membantumu dan menjamin semua kebutuhan serta keselamatanmu dan termasuk para media dan heatrs kamu tidak perlu khawatir lagi. Tugasmu hanya satu." Agus mengernyitkan ucapannya dan melihat sekeliling.
"Apa itu Pak?" Luna mengulang kata yang sama.
"Berpura-pura lah menjadi pacarku di hadapan ibuku."
"Aku sebenarnya hanya ingin mengulur waktuku sampai aku menemukan gadis kecil manis yang masih menyinggahi hatiku ini. Agus mengungkapkan kejujuran dari hati.
Tetapi Luna justru terperosok jauh kedalam angan-angannya sambil tersenyum senyum sendiri.
Berpura-pura menjadi pacarnya di hadapan Mamanya. Itu tandanya ada kemungkinan besar bahwa Mamanya akan tidak menyetujui hubungan kami. Lalu, dia akan membayarku untuk meninggalakan putranya dengan harga yang fantastis. Dan Agus juga akan memberikan sejumlah keuntungan untukku. Wah sepertinya aku sangat beruntung. Levan, tunggulah sebentar lagi kakakmu ini akan menjadi milyarder. Ada tambang emas untuk menyambung hidup kita. Batin Luna yang tertawa sendiri.
" He... he... he...! Luna tertawa dengan tatapan mata yang kosong.
" Eh, kesambet ni anak. Na, Na, Na!" Teriak Agus memnggema memenuhi seisi ruangan.
Luna terhenyak dan tersadar dari lamunannya masih dengan tawa kecil yang tersisa.
"Gimana?" Agus meminta keputusan Luna.
__ADS_1
" Em... aku." Jawab Luna.
~ Bersambung ~