
"Desta...!" Agus berteriak memanggil Desta dari dalam mobil.
"Tugas kamu hari ini. Carikan aku kue ini dan juga kopi panas seperti biasanya." Agus memerintah Desta.
Agus mengirimkan sebuah gambar kue macaron yang kemarin di berikan oleh Luna.
Agus berdiri sambil tersenyum membaca note di kertas kecil itu.
Buat pak boss yang putih dan manis, selamat menikmati!! Isi surat yang ditulis oleh Luna.
Agus, sosok yang tegas dan berwibawa. Tapi tiada yang tahu jika di dalam dirinya yang sebenarnya adalah sosok yang manis dan lembut. Masalahnya adalah, dirinya sangat sulit untuk mengungkapkan perasaan. Tidak pandai berkata manis tapi pandai bermakna di tempat sepi.
Seperti saat ini, Agus sangat menikmati waktunya bersama Suga. Suga adalah kucing Persia flat nose yang menjadi peliharaanya dari 7 tahun yang lalu. Agus sangat menyayangi Suga. Pemberian nama Suga juga hanya berasal dari namanya sendiri yang di balik pengerjaannya.
"Suga.... Suga.... Suga...! Eat!" Agus memanggil Suga untuk memberi makan.
Agus mengajak Suga berjalan jalan di taman sebelum masuk kantor. Hari ini waktunya sangat luang sehingga Agus bisa mengajak Suga berjalan jalan di taman.
"Suga...! cek... cek... cek...!" Agus mengelus ngelus Suga yang di gendongnya.
Puas berjalan jalan pagi di taman. Agus mengajak Suga untuk pulang. Berdirilah mereka di depan pintu apartemen, terdengar suara kucing mengeong seperti sedang birahi. Mengingat saat ini adalah musim hujan, dimana banyak kucing melakukan perkawinan.
"Ngaung!" Suga mengeong kuat.
"Ngaung!" Katty membalas.
Mereka terus saja bersahutan dan Agus hanya bisa tersenyum melihat tingkah Suga.
"Kenapa, ganjen? mau minta anu? Sabar, kamu belum gede Suga. Makan aja masih di beliin Daddy, belum bisa cari duit sendiri." Celetuk Agus ngawur.
Agus masuk kedalam apartemennya. Dan beberapa saat kemudian, Katty dan Luna keluar untuk membeli makanan Katty yang habis sekalian pergi ke shop pet untuk grooming.
"Mandi dulu ya nak ya, biar cantik!" Ucap Luna dengan nada gemas kepada Katty.
Di kantor.
"Mana si boss, kok belum datang..katanya jam 10. Ini sudah jam berapa?" gumam Desta sambil berjalan mondar mandir di depan ruangan Agus.
"Kalau di telfon pasti nanti aku kena efek mati sekali semprot one push. Tapi kalau ga di telfon nanti salah lagi." gumam Desta bimbang.
"Ah, telfon ajalah."
__ADS_1
"Hallo pak boss, selamat pagi." sapa Desta.
"Pagi." jawab Agus.
"Pak, rapat tinggal 10 menit lagi pak. Bapak kenapa belum sampai?" Tanya Desta dengan gugup.
Keringat Desta keluar begitu saja karena ketakutan akan kena semprot magic oleh Agus.
"Saya sudah di ruang rapat. Kamu yang di mana?" Tanya Agus balik dengan datar.
"Mau makan gaji buta?" Kata Agus.
"I... iya pak maaf. Saya kira bapak belum da...." Agus mematikan panggilan.
Nasib nasib. Belum selesai ngomong sudah di matikan. Selalu dan selalu. batin Desta kesal.
"Kapan juga dia masuknya? perasaan dari tadi aku disini ga liat orang lewat." Ucap Desta bermonolog.
"Ela, kapan pak boss datang?" Tanya Desta kepada resepsionis.
"Barusan aja. Pas kamu lagi ke toilet." Bisik Ela yang takut di sangka ngerumpi di kantor.
"Lumayan ada waktu satu jam untuk cari kue apa ini, Macaron." gerutu Desta sambil melihat gambar kue di hpnya.
"it's oke. Hanya beda bungkus." Gumam Desta sambil mencibirkan mulutnya.
Agus berdiri mematung menghadap ke jendela besar, tatapan matanya redup dan teduh. Wajah seriusnya saat ini lenyap, tergantikan dengan wajah yang tampan dan manis.
Agus tersenyum manis saat kembali mengingat mimpinya semalam. Lagi lagi wanita di dalam mimpinya hadir. Masih sama dengan balutan gaun putih. Tak nampak jelas wajah dari wanita dalam mimpi itu.
Tapi bahkan kecantikannya dapat Agus rasakan dengan hati. Ketulusan dan kelembutan itu nyata Agus rasakan. Agus tersenyum manis sambil mengelus pipinya. Agus mencoba mengulas kembali rasa yang di dapatkan dari sentuhan jari jemari si wanita itu.
Tok!
Ttok!
Tok!
Suara ketukan pintu memecah lamunannya dan terhisap kembali ke dunia nyata. Kembali lagi dengan wajah seriusnya seketika Agus terlihat sangat kesal dengan ketukan pintu itu.
"Pak, rapat akan segera di mulai." Lenna salah seorang karyawan memasuki ruangan untuk menata minuman.
__ADS_1
Agus hanya diam dan menoleh.
"Macaron." Kata Agus tanpa berbalik badan.
Satu kata macaron, tapi ampuh membuat jantung lenna hampir meloncat dari tempatnya. Lenna tau benar pasti hari ini adalah hari sialnya dan Desta.
"Sebentar lagi pak, sedang dalam perjalanan." Jawab lenna berbohong.
Lenna harus berbohong karena memang kenyataanya, macaron yang di pesan belum juga datang. Apalagi kopi panasnya juga belum ada kabar.
Lenna bergidik ngeri dan segera meninggalkan ruangan rapat karena tugasnya sudah selesai untuk mempersiapkan ruang rapat.
"Desta! Mampus kita. Mana kuenya?" Bisik lenna sambil menepuk pundak Desta dengan kuat.
Desta yang masih menikmati secangkir teh di pantry pun tersedak.
"Oh, iya. kue. Kurir!" Desta berlari ke resepsi untuk mengambil macaron.
"Ela, kuenya sudah datang?" Tanya Agus cemas.
"Sudah, ini. Cepat bawa keruang rapat!"Ela menyodorkan tiga kotak macaron.
Desta dengan segera membawa kue kue itu. Jantung Desta berdegup kencang seakan tau jika kesialan akan menghampirinya. Langkah kaki Desta menjadi sangat lebar dan cepat.
"Pak, ini kuenya." Kata Desta sambil terengah engah.
"Kopi panasnya?" Agus mulai duduk di kursinya dan menyilangkan kaki menatap Desta.
Desta menelan ludah dan mengerti akan pandangan dingin Bossnya itu. Seketika Desta menunduk dan mundur beberapa langkah.
"Baik pak, sebentar lagi. Mbak yang tukang buat kopi kesukaan bapak belum buka." Lapor Desta dengan gugup.
Agus lalu berdiri dan mengintip dari tirai jendela yang menghadap ke cafe dan resto milik Luna.
Agus menghela nafas dan mendengus kesal lalu menjentikkan jari tengahnya memberi isyarat kepada Desta untuk keluar.
Desta yang melihat gerakan jari Bossnya langsung keluar dengan wajah yang sangat gugup.
"Kopi, panas. Kopi Panas!" Gumam Desta dengan panik.
"Kalau sampai kopi panas tidak ada. Bisa hancur masa depanku. Setiap hari minum kopi, kenapa tidak sakit magh sih? Padahal dia minumnya selalu dua cangkir."
__ADS_1
"Shhhh, ada yang aneh. Dia selalu mengeluh sakit perut dan nyeri lambung jika meminum kopi buatan cafe lain. Tapi apa bedanya sih dengan kop Mbak Luna?"
"Aha! aku ada ide. Dengan ide ini pasti semua masalah terpecahkan!" Gumam Desta sambil tersenyum senyum sendiri.