Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Cerita semalam


__ADS_3

"Tentu, aku sudah melaksanakannya. Satu bulan ini aku harus menghasilkan sesuatu." Ujar Levan sambil tersenyum licik.


"Bagus, tunjukkan padaku. Dimana saja kamu meletakkannya." Kata Luna penuh harap.


"Ada syaratnya!" Jawab Levan dengan wajah yang menginginkan sesuatu.


"Hemmm, apa?" Luna terlihat pasrah dan lesu.


"Aku sangat rindu dengan masakanmu Kak, aku mau ayam panggang yang utuh ala kita." Levan mulai membayangkan sedap aroma ayam panggang buatan Luna.


"Ayam panggang keju kan? Kriuk di luar lembut di dalam terus kejunya meleleh. Hum, sedap!" Sahut Luna seraya mempraktikkan mengunyah sesuatu.


"Iya Kak, buatkan ya. Please!" Pinta levan sambil memasang wajah sok imut.


"Masak ayam panggang, butuh waktu dua jam. Bagaimana kalau kita makannya nanti malam saja, saat resto sudah tutup? Jadi tempatnya longgar dan khusus buat kita aja."


"Sekarang, kamu bantuin Kakak dulu ya. Nanti Kakak masakan Ayam panggah kesukaanmu. Ok?" Kata Luna.


"Ok, aku pasti akan bekerja keras." Jawab Levan.


Sebenarnya Levan hanya mengulur waktu untuk bercerita kepada Luna. Levan masih sangat ingin berlama lama bersama Kakaknya. Peranan Luna begitu berarti bagi Levan, membuat levan tidak ingin memilki kekasih hati sebelum Luna menikah.


Levan tidak ingin, karena adanya seorang pacar maka akan membuat perhatiannya terpecah pada keluarga. Levan adalah sosok anak penurut dan baik di rumah. Tapi siapa sangka jika di luaran Levan adalah ketua geng yang terkenal arogant.


Di lingkungan kampus, Levan sangat di segani. Bukan karena kenakan atau predikat buruk. Tetapi lebih kepada ketegasannya dalam membela orang tertindas. Levan sangat memebenci bullying, Levan akan selalu bertindak jika itu sudah menyangkut bully.


Tapi karena itulah, banyak gadis yang menggilai sosok kepahlawanan Levan. Seperti Rosa gadis manis yang cantik yang begitu gigih mengejar cinta Levan. Berkali kali Rosa mendapatkan penolakan tak lantas membuatnya malu atau mundur. Justru Rosa semakin bersemangat dan tertantang untuk mendapatkan Levan.


****


Malam harinya,


"Tada...!! Ayam panggang sudah siap!" Seru Luna sambil menata ayam panggang di meja makan.


Ayam panggang itu sungguh menggoda, aromanya begitu nikmat dengan tampilan yang menarik. Lengkap dengan salad sayuran dan juga susu.


"Kak, kok susu. Ih, aku udah gede tau!" Levan mengeluh dengan susu yang tersedia di meja.

__ADS_1


"Ini, sebagai penawar pedas. Sambal ini, extra hot, jadi harus siap siap penawarnya." Jawab Luna singkat.


Mereka duduk bersama sambil menikmati ayam panggang di dalam resto yang sudah tutup. Semua jendela resto tertutup tirai, tidak akan nampak dari luar kecuali bayang bayang tubuh mereka yang terkena sorot lampu.


Terlihat bayangan dari sorot lampu, mereka saling suap dan sesekali saling membelai wajah satu sama lain. Itu semua hanya pengaruh sudut dan sorot bayangan.


Agus yang baru saja keluar dari kantor melihat pemandangan tak senonoh itu dari seberang jalan dan hanya menggeleng geli.


"Gila aja, semakin ga punya adab kaum muda sekarang." Gumam Agus sembari membuka pintu mobil dan kemudian melaju pergi.


Levan dan Luna melahap ayam panggang sambil berbincang.


"Kak, kenapa kakak tidak menikah saja?" Tanya Levan tiba tiba.


"Van, kamu kan tahu. Menikah itu butuh banyak modal dan juga butuh calon. Lihat kakak sekarang, kakak masih sangat menikmati kesendirian Kakak. Kamu tidak usah mengkhawatirkan keadaan Kakak." Jawab Luna penuh dengan makna tersembunyi.


Luna selalu merahasiakan kisah cintanya yang tragis dari sang adik. Levan sama sekali tidak pernah tau jika selama ini Luna selalu gagal dalam mencari pangerannya.


Jangan sampai kamu tahu, betapa menyedihkannya aku. Aku hanya ingin kamu fokus pada kuliahmu dulu. Jika nanti kamu sudah selesai dan bekerja, mungkin saat itu aku baru akan memikirkan pernikahanku. Batin Luna sambil tersenyum manis pada Levan.


"Iya sih Kak, bukannya kakak sudah menabung bersama Deri untuk biaya pernikahan kalian?" Tanya levan mulai menelisik dan mendesak Luna.


"Kalian putus dan dia membawa kabur uangmu dan juga mobilmu? Tapi kamu hanya diam saja kak?" Ucap levan mulai meninggi.


"Levan, sudahlah. Kakak sudah mengurusnya, polisi masih memproses kasus ini. Kamu jangan pikirkan tentang hal itu lagi ya." Kata Luna.


"Hemmh..! Entahlah kak, aku benar benar tidak bisa memahami yang mudah percaya dengan laki laki hanya karena sebuah mimpi yang terus menghantuimu." Ujar levan yang merasa kecewa dengan tindakan Luna.


"Baik, baik. Sudah, lupakan ya. Kakak janji, kakak tidak akan mengulangi kebodohan yang sama. Oke!"


"Maafkan kakak ya?" Ucap Luna dengan tatapan nanar.


Levan sangat mengkhawatirkan Luna yang masih melajang. Levan tau benar akan karakter Luna yang selalu memendam kesedihan dan hanya membagikan senyuman. Levan hanya berfikir mungkin jika Luna menikah dan memiliki pendamping setidaknya bebannya akan berkurang dan memiliki tempat untuk berbagi.


"Ya sudah jangan di bahas lagi. Sekarang ceritakan pada Kakak apa yang kamu lakukan semalam?" Tanya Luna mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya, aku ingat. Aku sampai lupa. Jadi semalam aku," Jawab levan mulai menceritakan kejadian semalam.

__ADS_1


flashback on.


Setiap levan pulang kerumah, entah ada saja alasan Rima untuk pergi meninggalkan Heru dan Sisil di rumah sementara levan menjaga keduanya. Bak dayung bersambut, Waktu kepergian Rima merupakan saat yang di nantikan oleh Levan.


Rima pergi beralasan untuk menghadiri acara pernikahan temannya. Heru yang masih sangat bahagia dengan kedatang putranya juga tidak banyak bertanya akan kepergian Rima. Tapi, bagi Levan Rima sangat sering melakukan ini ketika dirinya sedang berada di rumah.


Levan memanfaatkan peluang ini dengan sebaik mungkin, levan memasang beberapa kamera pengintai yang sangat kecil di sudut rumahnya. Di dapur, ruang baca, dan juga ruang makan. Levan memesan kamera ini dari salah satu temannya yang sangat berbakat dalam meretas jaringan.


Dengan kamera yang terpasang ini levan bisa memantaunya langsung dari ponsel dan bisa mendengar suaranya langsung. Bukan dengan geratis, sejumlah peralatan mahal ini levan dapatkan dari bertukar keuntungan dengan Vito sahabatnya. Vito yang tidak tertarik dalam dunia farmasi tetapi terpaksa masuk kejuruan farmasi karena keinginan sang Ayah sangat kesulitan untuk meraih gelar sarjana.


Vito meminta Levan untuk membuat skripsinya karena levan terkenal sangat pandai bahkan sering menjadi asisten dosen. Membuat Vito selalu mendekati Levan. Levan memanfaatkan hal ini dengan sangat baik.


Flashback off.


"Lalu?" tanya Luna lagi.


"Oh, ada satu lagi. Aku menakutinya Kak. Jadi semalam dia pingsan dan terbentur di tembok." Ujar Levan.


"Kamu menakutinya? Bukankah Kakak hanya menyuruhmu untuk memasang kamera kamera kecil itu. Bukan untuk menakutinya Levan." kata Luna.


"Anggap saja ini bonus Kak. Buy one get one free. Hahaha!" Seru levan sambil tertawa puas.


"Kamu takuti seperti apa?" tanya Luna mulai penasaran.


"Kamar Ayah dan ruang baca kan bersebelahan. Jadi aku mengaitkan selembar kain putih di kali pancing dan mulai memancing Kak. Aku memasang wig di pucuknya dan setelahnya kain putih itu merumbai menyerupai tubuh dan berterbangan Kak."


"Aku sangat puas mendengar dia berteriak teriak ketakutan dan menangis sampai pingsan." Kata Levan dengan sangat senang.


"Lalu sekarang mana wig itu?" Tanya Luna.


"Ini aku bawa, aku takut jika aku pergi dia akan menggeledah kamarku untuk mencari tahu sesuatu." Kata Levan.


"Anak pintar, Sini Kakak minta wignya. Kakak saja yang bawa." Kata Luna sambil mengulurkan tangannya untuk meminta wig.


"Kak, jangan disita ya. Aku masih ingin mengerjainya lagi." Rengek levan menolak memberikan wig.


"Silahkan kamu mengerjainya tetapi dengan cara yang berbeda setiap kalinya. Oke! Sekarang bawa sini, kita harus menghilangkan barang bukti." Ucap Luna.

__ADS_1


"Benar boleh dengan cara yang lain?" Tanya Levan dengan tatapan aneh.


__ADS_2