Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Sarapan bersama


__ADS_3

Menjelang pagi, dengan semangat yang hanya tersisa 50% Luna bangun meski dengan wajah pucat dan bad mood karena pengaruh periode bulanannya. Saat sedang haids Luna sering menjadi lemas dan nampak pucat di sertai gejala lain seperti nyeri perut bagian bawah dan sakit pinggang serta buah dada. Tapi saat Luna terbangun di pagi hari dan menengok kunci mobil Agus yang masih tergeletak di atas nakas. Luna seketika teringat untuk mengembalikan kunci mobil.


Luna ingin mengucapkan terimakasih dengan memberikan sesuatu kepada Agus. Pagi ini Luna membuat sarapan roti lapis, salad, dan juga nugget ayam buatannya sendiri. Luna mengemasnya rapi dan menaruhnya di dalam Tupperware, lengkap dengan kopi buatannya yang juga di masukkannya kedalam cup Tupperware.


Selesai membuat sarapan untuk Agus, Luna bergegas mandi. Veni yang masih tertidur akhirnya terbangun karena mencium wangi aroma masakan Luna. Veni begitu heran, kenapa sepagi ini Luna berangkat ke Cafe. Luna meninggalkan sarapan untuk Veni juga. Membuat sarapan juga merupakan layanan service untuk Veni yang telah menyewa sebagian apartemen milik Luna.


"Kesambet apaan sih Lun, pagi pagi udah heboh buat sarapan. Bisanya juga santai." Heran Veni yang masih terbaring malas di antas ranjang milik Luna.


"Lagi mau bikinin sarapan untuk seseorang aja. Sebagai ucapan terimakasih." Jawab Luna sekenanya sambil terus menyesuaikan baju dan merias wajahnya.


"Cuman mau ke cafe aja sampai seperti mau kencan." Ucap Veni yang terkesan mengejek.


Luna menoleh dan menyipitkan matanya menatap Veni seperti sedang berkata " Bodo amat!"


"Udah ah, sarapanmu di meja makan. Aku berangkat dulu!" Seru Luna sambil menenteng semua bawaanya termasuk sarapan untuk Agus.


Kini Luna sudah berdiri di depan pintu kamar Agus, berkali kali tangganya bergerak naik turun seolah ragu untuk mengetuk pintu. Tidak ada cara lain, karena Luna juga tidak punya nomor ponsel Agus. Akhirnya dengan segenap keberanian, Luna mencoba mengetuk pintu kamar Agus.


Tok!


Tok!


Tok!


Agus membuka pintu, dan sedikit terkejut ketika melihat Luna sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kamu?" Heran Agus.


"I.... iya, aku mau mengembalikan kunci mobilmu." Jawab Luna yang sedikit gugup, tampilan Agus saat ini sungguh membuat Luna terhipnotis.


Kharisma Agus memancar kuat. Dengan setelan kemeja hitam yang di padukan dengan dasi berwarna biru nabi dengan corak garis garis biru muda membuat Agus sungguh menawan. Tatanan rambut Agus yang rapi memperlihatkan keningnya yang sempurna, garis wajah Agus tidak begitu tegas dan lebih terlihat baby face dengan gummy smile yang selalu melekat di bibirnya mampu membuat Luna meleleh.


"Ini" Luna menyodorkan paper bag yang di jinjingnya kepada Agus.

__ADS_1


"Wah, Mari masuk." Agus melihat isi tas yang di berikan Luna dan terkesima dengan isinya yang kemudian mengajak masuk Luna.


Luna hanya terdiam sambil mengekor Agus dari belakang, sungguh tampan dan menawan Agus yang lama terpendam bari bisa di sadari kilau ketampanannya oleh Luna untuk kedua kalinya.


"Silahkan." Agus menarik kursi di meja makan dan mempersilahkan Luna untuk duduk.


Luna mengamati sekitar, terlihat ruangan Agus tertata rapi dan bersih untuk ukuran seorang laki laki. Luna terkejut ketika melihat seekor kucing yang menghampirinya sambil mendusel di kaki Luna.


"Kamu juga punya kucing?" Tanya Luna senang melihat kucing Agus.


"Iya. Kamu juga pecinta kucing?" Tanya Agus yang melihat wajah Luna yang senang ketika membelai bulu halus kucingnya.


"Iya aku punya, Katty namanya. Sama seperti ini, putih dan manja." Ucap Luna dengan antusias.


"Dia jadi aneh akhir akhir ini. Tadinya dia tidak manja, tapi setelah Desta membawanya kembali dari taman, dia jadi sangat manja." Keluh Agus tentang kucing yang dikiranya Suga.


"Desta, Iyakah? waktu itu aku melihat dia menggendong kucing, ternyata kucingmu Tuan?" Kata Luna sambil terus mengusap bulu halus kucing Agus.


"Aku kira kucing milik dia sendiri." Sambung Luna.


"Ah, tidak. Anda saja, saya memberikan sarapan itu hanya untuk anda. Jadi tidak etis rasanya kalau saya juga ikut memakannya." Tolak Luna dengan halus.


"Ini banyak, dan saya juga tidak akan sanggup menghabiskan ini sendirian." Jawab Agus yang terkesan memaksa.


"Maaf sudah merepotkan Anda semalam tuan." Ucap Luna yang malu malu mengingat kembali kejadian semalam.


"Oh, sudah biasa buatku. Aku punya adik perempuan, dan saat dia dalam masa itu. Sungguh menyebalkan." Ujar Agus dengan santainya.


Luna memanggil Agus dengan panggilan ANDA, sesuai dengan permintaan Agus. Hari ini Luna sebenarnya masih benar benar malu dan ingin rasanya bersembunyi menghindari Agus, tapi kunci mobil juga di bawanya. Rasanya terkesan tidak tahu terimakasih jika Luna begitu saja menghindari Agus karena malu.


"Kamu sungguh, memanggilku dengan sebutan Anda dan Tuan?" Agus terkekeh.


"Hei, aku hanya bercanda. Panggil aku Kak saja. Karena mungkin selisih kita cukup jauh." Timpal Agus dengan ramahnya.

__ADS_1


Agus memperhatikan gerak gerik Luna yang terlihat canggung. Agus terkekeh melihat sikap Luna yang sangat kikuk di hadapannya.


"Ayo makan, bantu aku menghabiskan ini." Agus memberikan sendok kepada Luna.


"Baik jika kamu memaksa. Kak," Jawab Luna dengan gugup.


Luna memperhatikan postur tubuh dan wajah Agus, Luna mengira jika usia Agus mungkin hanya berselisih sekitar 4 atau 3 tahun dengannya. Luna mulai menyantap salad sayuran yang ada di mangkuk. Agus mengambilkan salad untuk Luna, sungguh manner yang sangat baik.


"Sudah lama ya, aku berlangganan kopimu. Tapi tidak terfikir kan untuk membuat kontrak pesan antar kopi selama ini. Aku justru membuang buang waktu Desta untuk berlarian membeli kopi dari cafemu." Celetuk Agus yang masih menikmati roti lapisnya.


"Hem, iya. Kamu punya adik perempuan?" Luna teringat kembali dengan cerita Agus tentang adik perempuannya.


"Iya, dia seumuran dengan adikmu." Jawab Agus singkat yang sesungguhnya malu karena Rosa benar benar menggilai sosok Levan.


"Benarkah? Wah, suatu kebetulan." Ucap Luna dengan antusias.


Pandangan Luna teralih dengan sebuah foto besar yang menggantung di dinding dekat dengan meja makan. Luna menyipitkan matanya mencoba menajamkan penglihatan akan suatu objek. Luna mengingat kembali salah satu wajah yang ada di foto itu.


Mata Luna kembali menjelajah dan terhenti pada sebuah foto anak laki laki yang menggendong bayi kecil perempuan. Anak laki laki itu mengenakan seragam SD. Luna tersenyum puas berjuta makna melihat foto itu. Agus menangkap pandangan Luna yang masih terarah pada foto yang berada dia atas piano itu.


"Kenapa tertawa, jangan tertawakan bayi gendut itu. Dia istimewa bagiku." Celetuk Agus dengan bangganya.


Luna menahan tawa mendengar ucapan Agus, Luna tidak menyangka Agus akan mengidolakan seorang bayi gendut. Luna menggeleng tidak percaya dengan perasaan senang di dalam hatinya.


"Terimakasih untuk sarapannya, aku kenyang. Oh iya, untuk dua tiga hari mendatang jangan kirim kopi ke kantor ya, em..." Ucapan Agus menggantung karena bingung akan memanggil Luna dengan apa.


"Luna, panggil saja aku Luna." Sahut Luna yang mengerti ekspresi wajah Agus.


"Iya Luna, jangan antarkan kopi 3 hari mendatang ya." Kata Agus yang kini tengah sibuk memakai jas dan bersiap berangkat ke kantor. Sedang Luna hanya duduk dan berpura pura sibuk sambil memainkan ponselnya.


" 3 hari, Kenapa?" heran Luna yang kini melihat Agus.


"Pesta pernikahan," Jawab Agus.

__ADS_1


~ Bersambung ~


Tolong klik like ya, untuk membakar semangat author. Tambah komen juga biar tambah semangat, vote juga boleh biar lebih rajin up!👍👍


__ADS_2