
" Sudah jangan menangis, diamlah. Aku tidak ingin Mama akan semakin memarahiku nanti." Kata Agus dengan memegang kedua pundak Luna dan menatap mata Luna dalam dalam.
" Iya, aku akan diam." Jawab Luna yang menepis tangan Agus dan pergi menuju ke kamar mandi.
Sudah sangat lama Luna berada di dalam kamar mandi dan Agus mulai panik, takut sesuatu terjadi dengan Luna. Hingga waktu makan malam tiba dan Luna belum juga keluar dari kamar mandi. Baru saja Agus berniat mengetuk pintu kamar mandi dan Luna sudah keluar dengan wajah cerianya.
Agus merasa bersalah telah membuat Luna bersedih dan menangis.
Tok!
Tok!
Tok!
" Nak, mari kita makan!" Ajak Mama Elena dengan mengetuk pintu kamar Agus.
" Iya Ma, Luna akan keluar." Sahut Luna tanpa melihat atau mengindahkan Agus yang sedari tadi berdiri mematung bingung melihat ekspresi wajah Luna yang cepat sekali berubah.
Luna membuka pintu dan keluar tanpa mengajak Agus. Luna dan Mama Elena berjalan berdampingan dengan tangan Luna yang menggandeng lengan Mama Elena. Mama Elena sampai mengernyitkan dahinya.
" Maaf ya Ma, Luna tidak membantu mama masak." Kata Luna dengan tulus.
" Tidak apa-apa Na. Mama tahu kalian sibuk. Biasalah, pengantin baru. Mama juga paham Huhuhu!Mama Luna menhan tawa gembiranya.
" Mama, apaan sih?" Luna tersipu-sipu dan mulai mengambil nasi.
" Mana suamimu?" Tanya Mama Elena yang sedari tadi Agus belum keluar dati kamar.
" Oh, sebentar lagi akan datang ma. Tadi dia sedang mengerjakan berkas." Jawab Luna asal.
" Oh, ya sudah. Biarkan anak yang gila kerja itu nanti juga dia akan mencari makanan jika sudah lapar. Dia itu sangat mirip dengan Papanya. Orangnya dingin, tapi sebenarnya sangat perhatian. Kamu harus sabar sabar mengahadapi dia ya." Mama Elena berpesan.
Kalau aku tidak sabar Ma, sudah aku tumbuk halus anakmu itu menjadi bubuk ketumbar. Tapi apalah dayaku Ma, Bahakan aku tidak punya hak hanya sekedar untuk menegurnya. Kami suami istri berbasis simbiosis mutualisme dan kerjasama Ma. Luna membatin sambil terus menyendok nasi dan mengunyahnya.
" Hei, kok udah makan aja. Ga nungguin aku By?" Kata Agus yang kini sudah berada di sebelah Luna dan menarik kursi makan yang ada di samping Luna.
" Kan kamu lagi sibuk By, jadi ya udah, aku sama Mama makan duluan." Jawab Luna sambil nyengir kuda di hadapan Agus.
" Kamu by" Agus mencubit gemas pipi Luna di hadapan Mamanya.
" Hemh!" Luna hanya tersenyum simpul dengan mata yang sedikit melotot menghadap Agus.
" Suapin dong by!" Ucap Agus dengan tiba-tiba. Luna tambah melotot melihat Agus. Kegilaan Agus nampaknya semakin menjadi dan memanfaatkan keadaan di hadapan sang Mama.
" Iya kalian ga usah malu. Papanya di Agus juga dulu waktu pengantin baru juga seperti itu nempel terus, makan apa apa juga maunya berdua, disuapin, hemmh! pokoknya sweet banget!" Mama Elena mengenai masa pernikahan baru mereka bersama Papa Pandu.
" Iya by, sini aku suapin." celetuk Luna dengan nada suara yang di buat buat sok imut.
Luna sengaja menambahkan banyak cabai ke sendok yang akan di suapkannya untuk Agus. Agus bukanlah orang yang sangat suka pedas. Level pedasnya Agus hanya seujung kuku Luna. Dengan apa yang Luna masukkan kedalam mulut Agus kali ini sudah pasti lidah Agus merasa terbakar.
" Enak kan by?" Kata Luna dengan gigi yang saling menggertak dengan tatapan mata tajam menindas.
" Eh, sejak kapan kamu suka pedas Gus?" Tanya Mama Elena heran.
__ADS_1
" Sejak ketemu sama aku Mam." Jawab Luna tersenyum lebar.
" Iya ma." Sahut Agus menutupi kerongkongannya yang sudah panas terbakar.
" Kamu suka ini kan sayang? Ayo makan!" Agus menjejalkan brokoli ke mulut Luna. Luna sangat membenci brokoli, baginya rasanya aneh dan tidak bisa membaur di lidahnya sudah pasti Luna merasa mual sat itu juga.
" Iya, makan lagi by!" Lagi Luna menjejalkan sesendok penuh nasi dengan sambal dan ayam goreng.
" Iya, kamu juga by!" Agus membalas tindakan Luna.
Keduanya saling menghancurkan aksi balas dendam hingga sepiring nasi di hadapannya sudah habis tak bersisa.
" Kalian tambah lagi ini. Mama senang sekali melihat nafsu makan kalian. Tidak sia sia Mama masak." Ucap Mama Elena yang merasa bangga dengan hasil masakannya.
"Oh tidak ma. Kami kenyang dan aku akan mengerjakan beberapa berkas yang di kirim Desta." Jawab Agus menolak secara halus padahal sekarang perutnya sudah mulai bereaksi.
" Aku juga akan melihat laporan keuangan cafe dan resto Ma. Tadi Evi mengirimkan email." Jawab Luna yang juga tentunya sudah tidak tahan dengan rasa mualnya.
" Ya sudah, kalian segera masuk ke kamar kalian. Satu pesan Mama." Luna dan Agus menyimak dengan seksama tanpa berkedip.
" Apa Ma?" Tanya Agus.
" Segera di rilis ya Cucu buat Mama." Kata Mama Elena dengan senangnya.
" Ih, Mama. Sudah ah!" Sahut Luna yang pergi duluan masuk ke dalam kamar dan kemudian di ikuti oleh Agus.
Di dalam kamar Agus dan Luna.
" Aku dulu!" Kata Agus
" Aku!" Agus menarik gagang pintu.
" Aku!" Luna melakukan hal yang sama.
" Aku sudah kebelet!" Kata Agus dengan kaki yang mulai merapat menahan perut mulasnya.
" Aku sudah mau keluar. Hoek!" Luna berlari masuk dan segera memuntahkan apa yang baru saja di makannya.
" Cepat! jangan lama-lama!" Seru Agus menahan hasratnya.
Selesai menguras perut kini keduanya tidur di tempat yang terpisah.
" Kemarilah!" Agus menepuk ranjang yang ada di sebelahnya.
" Tidak, aku harus profesional. Aku akan tidur di sini." Luna bersiap untuk tidur di sofa yang berada di dekat jendela.
" Hei, kita sudah suami istri." Celetuk Agus yang sebal karena Luna mulai merajuk.
" Iya, tetapi hanya sebatas dalam surat kerjasama. Tidak lebih!" Ketua Luna.
Hati Luna masih sangat kesal dengan kejadian yang baru saja terjadi sore tadi dimana Agus memintanya bersabar sampai wanita idaman Agus datang. Luna mulai membuang semua angan-angan dan mimpinya. Luna juga sadar diri jika dia bukanlah tipe Agus seorang milyarder muda dengan banyak aset si seluruh penjuru negri.
" Apa maksudmu?" Agus berdecak kesal dengan suara yang mulai lantang yang mendalam dirinya mulai marah.
__ADS_1
" Apa? Aku tidak akan takut lagi kepadamu bapak Agus Dermawan!Kita memang menikah, tapi itu hanya berbasis perjanjian kerja sama. Kita partner disini tidak lebih. Jadi aku mohon jaga batasanmu." Jawab Luna terdengar tegas dan garang.
Tapi siapa yang peduli meski bagi Luna amukannya adalah Auman singa, tetapi di hadapan Agus itu hanyalah seperti suara anak kucing yang mengeong dan semakin membuat Agus merasa gemas.
" Oh, sudah berani melawan dan membentak ku ya? Baik!" Agus mengangguk angguk dengan tatapan membunuh.
" Pindah, atau aku paksa!" Ancam Agus dengan wajah yang terlihat menyeramkan Bahakan siapapun yang melihat dia saat ini pasti akan menunduk dan tidak berani menatap matanya.
" Huh! Kamu pikir aku akan takut? aku akan mundur? Tidak tuan Agus Dermawan! Balas Luna dengan mencibirkan mulutnya dan membuang pandangan dari Agus.
" Kamu berani Huh!" Agus yang naik darah tanpa ada basa basi segera mengangkat tubuh Luna ala bridal style.
" Lepaskan, lepaskan lataku!" Kata Luna memberontak.
Brugh! Agus dengan sengaja menjatuhkan tubuh Luna kelantai begitu saja membuat Luna meringis kesakitan.
" Sakit," Rengek Luna yang kembali menjadi dirinya yang lembut dan cengeng.
" Sakit? bukannya kamu yang minta?" Agus meledek Luna dengan berbicara dengan nada menye menye.
"Sakit By, hiks... hiks.... hiks...!" Luna menagis memegangi pinggangnya.
" Mau di sana atau tetap di sini?" Agus menunjuk ranjang.
Luna berusaha berdiri tetapi tetap tidak bisa. Nampaknya memang benar pinggangnya teramat sakit hingga dia tidak mampu berdiri.
" Panggil aku apa tadi?" Tanya Agus yang ingin mendengar panggilan sayang dari bibir Luna dengan rintihan.
" Hubby." Luna menjawab sambil cemberut dan mengerucutkan bibirnya.
" Okey! pegangan yang kuat." Kata Agus yang membopong Luna dengan tangan Luna mengalung di lehernya.
" Sakit by." Lagi rengek Luna yang di kira hanya bercanda bagi Agus.
" Mana sini aku lihat." Kata Agus mencoba membuka area yang dikeluhkan sakit oleh Luna.
" Jangan, aku malu." Luna menepis tangan Agus dan menutup rapat dirinya dengan selimut.
" Hey, chaby! Mengapa harus malu aku sudah melihat semuanya tadi."
" Hiya! aku sangat malu, sudah hentikan. Aku ingin tidur." Ucap Luna yang malas berdebat dan menahan rasa sakitnya.
" Maaf ya Na, aku tidak mengira kamu akan kesakitan seperti ini." Ucap Agus dengan suasana yang mulai sendu.
" Jika yang terjatuh orang yang tidak pernah mendapatkan operasi di ginjal mungkin tidak apa apa. Tapi tidak untuk aku." Jawab Luna dengan jujur dengan separuh badannya terbungkus selimut.
" Sini Na, aku lihat." Kata Agus.
Ini kesempatanku untuk melihat luka di pinggangnya jika dia gadis kecil yang selama ini aku cari maka bekas jahitan itu pasti masih ada. Dan jika itu kamu, maka aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Agus membatin sambil menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Luna.
Di lihatnya bekas luka jahitan itu dan memang sama, Agus seketika mencium bekas jahitan di pinggang Luna. Matanya berkaca-kaca dan mulai meluapkan emosinya.
Luna terperanjat ketika Agus mencium luka bekas jahitan di pinggangnya.
__ADS_1
*Ada apa? kenapa dia malah mencium luka bekas jahitan ku, bukankah itu seharusnya menjijikkan baginya?
...~ Bersambung* ~...