
Hai!!
Sayang sayangku!!
Semoga sehat selalu ya.
Emm, Happy reading aja deh.
Love you all!!❤️❤️❤️
Agus yang lelah berdiri mulai duduk di sebelah Luna yang terdiam membaca surat dari Rosa. Mata Luna berkaca-kaca dan kemudian menatap Agus dengan seksama seperti sedang bertanya " Inikah hubungan kalian selama ini?"
Isi surat Rosa.
°
°
°
°
Untuk Kakakku yang paling tampan.
Kak, Maaf jika karena kehadiranku di dunia ini kamu merasa di abaikan oleh Papa dan Mama. Sungguh itu semua terjadi bukan atas kemauanku. Kak, aku sangat berterimakasih karena kamu selalu memberikan apa yang aku inginkan. Tapi kak, tidak semua yang aku inginkan itu uang dan materi.
Aku juga ingin pergi berjalan-jalan dengan mu. Aku ingin merayakan ulang tahunmu, aku ingin bisa bercanda denganmu. Tapi kak, aku juga tidak boleh egois dengan keinginanku. Aku harus memahami seperti apa kamu.
Dan itulah kamu, Kakak yang dingin dan acuh terhadap aku dan aku tetap menyayangimu, Selalu dan sampai kapanpun.
^^^Dariku, adikmu Rosa.^^^
Luna sangat sedih membaca surat dari Rosa untuk Agus. Luna tidak percaya mengapa ada hubungan kakak beradik yang saling mengacuhkan. Tetapi Luna tahu pasti jika sosok Agus itu adalah pria dan juga Kakak yang baik, semua itu terlihat dari caranya memberikan perhatian kepada Rosa meskipun bisa dikatakan terlambat. Terlambat untuk Agus yang baru menyadari betapa berharganya hubungan Kakak beradik.
Dengan spontan tangan Luna bergerak dan menggenggam tangan Agus dengan lembut seperti memberi energi positif terhadap Agus yang menyesali keterlambatannya dalam menunjukkan kasih sayang kepada adiknya. Agus membalas menatap Luna dengan tatapan sayu, kesedihannya teramat dalam. Luna mengangguk seperti mengerti akan apa yang dirasakan oleh Agus.
" Kita keluar dulu, Ayah ingin bicara pada kalian." Pandu mendekati Luna dan Agus yang masih duduk bersebelahan.
" Ada apa pa?" Tanya Agus yang tidak mengerti dengan ajakan Ayahnya sedang sedari tadi Ayahnya hanya diam berdiri.
Ayah menjadi berbeda setelah melihat aku dan Luna tadi. Batin Agus meraba hal yang mungkin saja menjadi penyebab perubahan sikap Ayahnya.
__ADS_1
Mereka berjalan bersama dengan Pandu yang berada di depan dan Agus kemudian Luna di paling belakang. Luna hanya terdiam dan tidak mengerti mengapa ayah Agus mengajak mereka pergi keluar.
Sampailah mereka di teras mini market yang tersedia beberapa meja untuk menikmati kopi.
" Duduk. Ada hal serius yang ingin ayah tanyakan kepada kalian." Pandu langsung memulai inti pembicaraan tanpa basa basi, nada bicaranya datar tapi terdengar tegas dan berwibawa.
" Apa Yah?" Agus memberanikan diri untuk bertanya.
Luna mencoba untuk bersikap santai dan biasa saja sembari melihat orang-orang yang berlalu lalang di jalanan. Padahal jantung Luna sekarang seperti mau berpindah dan lari dari tempatnya. Suasananya seperti sedang berada di meja hijau dengan para saksi dan terdakwa. Luna sungguh takut dan tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
" Sudah sejauh mana hubungan kalian, sampai kalian mau melakukannya dan tak melihat tempat?" Tanya Pandu dengan suara baritone.
Agus dan Luna hanya menunduk dan tidak bisa menjawab pertanyaan Agus. Pasalnya ada hal yang terjadi ketika Ayah Agus datang untuk menjemput Agus agar menjadi saksi ijab Qabul Rosa dan Levan.
Flashback on.
" Lun jangan bercanda! Jangan seperti ini." Agus yang ketakutan akan Luna yang berpura-pura kesurupan masih meletakkan tangannya di atas kening Luna dan menghalang Luna untuk mengerang-erang lagi.
"Minum! Minum!" Erang Luna membesarkan suaranya seolah-olah ada mahluk lain yang merasukinya.
" Iya, aku ambilkan." Jawab Agus.
" Tidak enak!Hemmh....! Aku mau es jeruk! Aku mau makan rendang!" Seru Luna kuat kuat mengerang meminta menu yang seharusnya tidak di minta oleh orang yang kerasukan.
Huh? Dia kerasukan atau pura-pura sih? Kenapa yang di minta seperti orang yang sedang kelaparan? Oh, kalau beneran dia kerasukan, pasti dia tidak bisa merasakan enak atau tidak. Baiklah akan aku coba cara ini. Kata Agus yang masih mengambilkan permintaan Luna dan menambahkan banyak saus cabai dan lada di bumbu rendang juga menambahkan garam di dalam es jeruk Luna.
" I...ini!" Agus meletakkannya di meja dengan takut-takut.
" Duduk, Hemmh! Duduk!" Seru Luna yang tak luput dari erangannya yang membuat Agus semakin ketakutan dan menuruti kemauan Luna.
" Makan!" Seru Luna menunjuk nasi yang sudah di ambil Agus.
Keadaan masih remang remang yang hanya bersumber dari penerangan lampu emergency yang lupa di charge oleh Agus. Agus melotot membulatkan matanya, Agus enggan memakan apa yang sudah di campurkannya dengan berbagai campuran yang bisa membuatnya muntah.
" Makan!!" Bentak Luna kuat sehingga membuat Agus dengan seketika menuruti perintahnya.
Agus sungguh ingin muntah karena rasa yang tidak karuan sedang beradu di kerongkongannya saat ini. Agus mencoba untuk menelannya bulat-bulat tetapi itu justru membuatnya tersedak. Luna yang panik seketika menghentikan aktingnya dan memberi Agus es jeruk yang di bawanya sendiri dengan rasa yang sangat asin tentunya.
Agus segera menyemburkannya dan berlari menuju ke tempat cuci piring, Luna dengan tergopoh-gopoh mengikuti Agus dari belakang dan membantu Agus memuntahkan apa yang di makannya dengan memijit tengkuk Agus. Sadar dengan tindakan Luna yang ternyata hanya berpura-pura Agus yang marah kemudian pergi kembali duduk di sofa.
" Maaf." Kata Luna perlahan dengan rasa bersalah karena aktingnya ketahuan.
__ADS_1
" Buat apa seperti itu? Itu tidak ada di dalam perjanjian kerja kita." Kata Agus tersulut emosi karena merasa di permainkan oleh Luna.
" Em, Supaya kamu mau makan. Kamu belum makan sedari pagi Pak." Kata Luna mencoba untuk berani berbicara.
Luna mengkhawatirkan Agus yang belum makan, padahal dirinya juga belum makan sedari tadi pagi tetapi itu tidak di rasanya. Agus merasa kasihan melihat Luna yang berdiri kemudian meminta Luna untuk duduk di sebelahnya untuk mudah berbicara karena hujan dan petir yang masih berisik mengganggu pembicaraan mereka.
" Sudah diam dan jangan banyak tingkah, tunggu lampu kembali menyala." Ketus Agus dengan kesalnya.
" Iya." Jawab Luna patuh dan menurut seperti anak TK yang di marahi ibunya.
Petir menyambar dan berhasil membuat Luna yang mulai ingin tenang meloncat seketika ke pangkuan Agus dan memeluk Agus erat. Luna tidak perduli apakah Agus akan marah atau tidak, dia hanya tidak begitu bersahabat dengan suara petir.
" Kalau aku menyetujui poinmu yang kemarin, rasanya aku akan banyak mendapat keuntungan dari dendamu." Kata Agus sambil terkekeh mengingat poin perjanjian mereka yang menyebutkan jika sentuhan fisik akan dikenakan biaya.
Kilatqn petir kembali menyambar dan kali ini Luna menangkap sesosok wanita tengah berdiri di depan kaca jendela menetapa mereka berdua dengan wajah yang hitam rata dan rambutnya tergerai panjang dan tertiup angin. Luna sampai gemetaran dan menepuk nepuk Agus mencoba memberitahunya.
" Itu, itu!" Kata Luna yang mulutnya sudah kaku karena melihat sosok seperti itu secara nyata.
" Ga mempan! Mau akting apa lagi? Lepaskan, kamu berat!" Omel Agus yang sangat kesal dengan kebohongan Luna.
" Itu...., itu!" Kata Luna lagi kali ini sampai Luna menangis dan berdoa hingga Agus bisa mendengarnya.
Agus yang penasaran kemudian menolah kearah jendela dan benar saja mendapati sesosok itu sedang menghadap menatap mereka. Sontak Agus langsung melompat ke sela antara sofa dan meja dan mengungkung tubuh Luna yang berada di bawahnya dan mereka berdua saling memejamkan mata rapat rapat karena ketakutan.
" Ada kan?" Kata Luna mengigil ketakutan.
" Diam, jangan di sebut lagi. Nanti dia kesini." Jawab Agus yang super ketakutan saat ini.
Tanpa sadar tubuh Agus menindih Luna dan memeluknya kuat dengan wajah Agus yang mendusel diantara leher Luna dan begitupun Luna yang memejamkan matanya rapat-rapat lalu menenggelamkan kepalanya di leher Agus dan menutup matanya dengan satu tangannya.
Mereka sangat ketakutan dan tidak berani membuka mata. Walau sat ini lampu sudah menyala dan Pandu dengan Mbak Sri sedang berdiri menatap Luna dan Agus yang saling tindih di sela antara sofa dan meja. Sungguh pemandangan yang tidak patut untuk di saksikan seorang Ayah terhadap anaknya.
Flashback off.
" Sejak kapan hubungan kalian terjalin? Sejak kapan kalian tinggal satu atap?" Tanya pandu mengintimidasi keduanya.
Agus hanya menunduk di hadapan sang ayah, Agus tahu jika Pandu tidak menyukai pergaulan bebas ataupun perzinahan. Untuk itu Pandu akan sangat marah besar terhadap tindakan Agus yang satu ini.
Satu hal yang Agus lupakan adalah kemarahan Sang Ayah dimana dia memutuskan untuk menetap satu atap dengan Luna hanya demi menghindari kejaran Sanga mama dan media masa. Kini setelah ini, pasti akan muncul masalah baru yang tak bisa di hindarkan oleh Agus dan Luna.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1