
Mama Elena membereskan beberapa barangnya dan bersiap untuk pulang. Dilihatnya pintu kamar Sisil yang masih tertutup rapat. Sungguh senang hati Mama Elena membayangkan akan segera menimang cucu karena pengantin baru itu belum juga selesai dengan ritualnya. Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana, tetapi harapan Mama Elena sangatlah tinggi.
Mama Elena tersenyum sendiri membayangkan apa yang terjadi, Hatinya bagaikan penuh dengan bunga bunga saat ini. Pandu yang datang dari dapur membawakan teh hangat untuk istrinya memasang ekspresi kebingungan. Dia sungguh heran menatap bolak balik dari wajah istrinya ke pintu kamar yang berada di ujung lorong.
" Mama kenapa?" Pandu. menyenggol pundak Elena dan membuyarkan semua hayalannya.
" Sepertinya sebentar lagi pa, kita akan punya cucu. Lihat si Agus rajin sekali mengerjakan tugas kelompoknya bersama Luna. Hemmh, mama bahagia sekali Pa." Elena berbunga-bunga dan mengembangkan senyum kebahagiaan.
" Papa kira apa?" Pandu pergi duduk di sofa dan melewati Elena begitu saja.
Hemmh dasar Papa, mengganggu orang senang saja. Jadi buyar deh hayalan Mama dari mana tadi nih? Ah, papa! Elena kembali membereskan tas bawaanya dengan wajah masam.
Di dalam kamar.
Dengan penglihatan yang buram karena mata yang baru saja terbuka, Agus berteriak kaget melihat Luna yang menungguinya sambil berdiri menatapnya.
" Hiya! Astaga!" Seru Agus yang terkejut melihat Luna . Dikepala Agus masih terbayang tentang sosok putih menggantung di balik pintu yang di bicarakan Luna. Sedari kecil, Agus sangat tidak menyukai tentang hal hal yang berbau mistis. Baginya hal seperti itu sangat menyeramkan.
" Kenapa sih by?" Luna dengan santai berdiri dan kemudian mengikat asal rambutnya.
" Nah begitu kan lebih bagus tidak seperti kunti!Awas lain kali kalau kamu menakuti ku lagi, Aku akan mengenakan denda." Agus mengancam karena sangat kesal dengan tampilan Luna yang menyambut pagi harinya dengan kesan mistis. Agus melihat Luna dengan lebih tenang karena Luna sudah tidak menggerai rambutnya lagi.
Luna berdiri dan hendak keluar, tiba tiba Agus menghadangnya dan berdiri dengan sangat dekat di hadapan Luna dengan satu tangannya menahan pundak Luna. Seketika jantung Luna berdegup kencang.
Aaaaa! Jangan jangan dia mau mengungkapkan perasaannya kepada ku? Atau dia sudah mulai memiliki perasaan yang lebih terhadap ku? Luna Luna, beranikan dirimu, dia sudah hallal buatmu. Tidak apa-apa, jangan malu-malu. Hubby, kamu kenapa menatap ku seperti itu? Hubby, iya lidahku sudah mulai terbiasa dengan sebutan hubby." Luna tersipu-sipu dan menundukkan kepalanya mencoba menyembunyikan degupan jantung yang kian kencang.
" Tunggu, kita keluar bersama. Gandeng tanganku, pasang senyum manis di hadapan Papa Mama, juga satu lagi. Panggil aku dengan sedikit manja." Agus mengarahkan Luna untuk mengikuti semua kemauanya.
__ADS_1
Ih, aku sudah terlalu banyak berharap. Ternyata tetap saja dia suami yang berbasis perjanjian. Huh, harus bagaimana aku? Ingin rasanya aku memeluknya dan tidak melepaskannya lagi. Dia pangeran ku dan juga suamiku. Tapi jika aku berterus terang, mungkin dia akan menyebut aku wanita gila dan suka mengarang cerita. Apakah aku bisa dengan perlahan membuatnya jatuh kedalam pelukanku?
Luna berjalan dan menggandeng tangan Agus seperti perintah Agus dengan senyum manisnya Luna menyapa kedua mertuanya. Luna melihat kamar dan juga depan ruang tamu yang bertanda garis polisi. Dengan terpaksa para tetangga menggelar acara tahlilan di taman belakang karena area depan sedari malam hingga pagi masih bersliweran beberapa penyidik yang sedang melakukan olah TKP.
" Ayo kita pulang sekarang, jangan berlama-lama di sini. Tidak baik untuk istrimu melihat tempat tempat itu. itu pasti sangat berat untuknya Nak." Elena berbisik di telinga Agus. Agus masih setia menggandeng Luna dengan hangat. Entah tulus atau tidak, tapi adegan itu sungguh membuat Luna nyaman dan berani melirik ke tempat yang bergaris polisi.
" Na, kita pulang ya. Kamu terlihat lelah." Ucapan Agus yang lembut membuat Luna tersadar dari lamunannya dan menyeka air mata yang jatuh dengan sendirinya.
Luna menangis mengingat masa-masa dimana sang ayah masih hidup. Dalam ingatannya Ayah Heru tetaplah ayah yang baik meskipun di saat terakhirnya selau saja menyalahkan. Luna atas segala hal yang terjadi. Luna menjadi semakin sesak ketika polisi selesai menggeledah dan menemukan sebuah foto keluarga mereka dimasa kecil Luna. Luna di gendong sang Ayah, sementara Levan masih berada di dalam kandungan ibunya.
Bagaimanapun Heru dia tetaplah cinta pertama bagi Luna. Ya seorang ayah adalah cinta pertama bagi putrinya terlepas dari baik atau buruk prilakunya. Luna terduduk, dan kembali menangis sedih. Agus mulai panik dan bingung bagaimana cara menenangkan Luna di hadapan kedua orang tuanya. Disisi lain Agus malu dan kaku, dan di sisi lain dia harus. Agus ikut terduduk dan memeluk Luna dengan kikuk.
" Sudah, jangan menangis lagi. Kamu masih ada aku. Kita akan bersama. Kita akan membangun biduk rumah tangga dan hidup bahagia bersama." Ucapan Agus seperti angin segar di telinga Luna. Masih dengan tangis yang sama, satu tangan Luna mulai membalas pelukan Agus.
Harapan Luna teramat tinggi. Bagaikan punguk merindukan bulan. Sungguh ironi fakta yang terjadi. Mereka sudah sah dalam satu ikatan, tetapi masih saja berbeda haluan. Prinsip dan juga rahasia masing masing yang masih utuh tersimpan rapi.
*
*
*
Lama lama kalian juga akan timbul rasa ingin terus bersama dan saling mencari jika berjauhan. Lihat saja. Mama Elena berada dalam sumpah serapah dalam hatinya.
Sampai di kediaman Agus, mereka langsung memasuki rumah tanpa banyak kata yang terlontar. Agus memapah Luna dan mengantarnya ke kamar. Luna terlihat lesu dan pucat. Tidak lagi ceria dan lebih murung.
Bagaimanapun, ikatan mereka saat ini adalah suami istri. Mereka berada dalam bahtera yang sama setidaknya mereka harus bisa saling melengkapi untuk menjaga laju dan keseimbangan bahtera. Mama Elena yang sama sekali tidak mengetahui perihal kerjasama yang telah di buat putranya mempunyai banyak harapan terpendam. Di dalam hatinya elena selalu yakin jika suatu saat nanti mereka akan hidup bahagia bersama entah bagaimana prosesnya.
Agus berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum dan bertemu dengan Elena. Sebenarnya mereka adalah ibu dan anak yang sangat jarang bicara. Keduanya hanya berbicara jika ada hal penting saja. Ya, sifat Agus yang seperti ini tentu di dapatkannya dari sang Ayah.
__ADS_1
" Nak, temani istrimu. Tenangkan hatinya,buatlah dia nyaman, kurangi sifat dinginmu. Ingat, jangan seperti Papamu. Hhh, sudah Mama mau mandi dulu. Badan Mama sudah lengket lengket. Semalaman Mama ingin muntah rasanya mencium bau amis disana. Belum lagi banyak suara suara aneh." Kata Elena dengan sangat lembut dan menatap tulus mata Agus. Elena tidak tahu jika dirinya semakin menambah takut putranya dengan celotehannya mengulas kembali tentang rumah mendiang Heru.
Sontak saja Agus menjadi ketakutan dan clingukan mengamati sekitarnya. Terlihat kecemasan dan ketakutan akan hal hal yang tidak terlihat yang mungkin saja mengikutinya. Agus menelan ludahnya dan kemudian berlari masuk kedalam kamar bersama Luna.
Seperti memiliki radar di kepalanya, Agus tetap saja melihat keadaan si sekitarnya dengan wajah ketakutan, tangannya sampai berkeringat dingin kali ini.
Berarti, tadi malam itu benar nyatanya bukan hanya aku yang melihat dan membaui bau amis itu tetapi Luna dan Mama juga. Aaaaa....! Semoga tidak ada hantu yang mengikutiku pulang. Ah iya, aku harus menghubungi Ilham. Ilham bantu aku kawan. Agus dengan tangan yang gemetaran mengambil ponsel dan menghubungi kawannya. Dirinya sampai lupa jika kini mereka berada di dalam satu kamar yang sama. Tidak di dapati Luna di sana, tetapi gemericik air di kamar mandi menandakan Luna sedang berada di dalamnya.
Kepanikan Agus beralih saat dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar mandi. Agus ingat tadinya dia dan Luna tidur di kamar yang terpisah dan kamar yang tadinya di tempati Luna sekarang sedang di tempati oleh Mama Elena.
" Luna, Kamu mandi?" Agus mengetuk pintu dan kemudian bertanya meski jantungnya sekarang sedang berlarian tak tentu arah.
" Iya Pak, Eh lupa by. Ada apa?" Tanya Luna yang masih menikmati ritual mandinya dengan berendam di bathtub.
" Apa kamu sudah membawa baju ganti?" Pertanyaan Agus seketika menyadarkan Luna. Luna lupa jika kini mereka berada di dalam kamar yang sama karena Mama Elena memutuskan untuk tinggal menetap disana selama Rosa belum siuman. Alasan jarak tempuh sangatlah kuat. Karena memang benar jarak dari rumah Agus ke rumah sakit jauh lebih dekat di banding jarak rumah Elena ke rumah sakit.
Luna kelabakan jangankan baju ganti, handuk saja Luna sampai lupa membawanya. Kesedihan yang teramat dalam membuat kerja otak Luna kehilangan konsentrasi.
Bagaimana caranya aku untuk keluar dari sini? Baju gantiku? Ahh, apa Aku bisa meminta tolong kepada Pak Agus? Bagaimana?
Bagaimana?
Bra dan ****** ***** juga aku belum membawanya. Aku sangat malu jika harus menyuruh Pak Agus mengambilnya. Agh! dasar bodoh. Tidak ada jalan lain. Aku terpaksa memintanya untuk membantuku kali ini.
" Belum, aku lupa. Tunggu sebentar aku akan menyelesaikan mandiku dan akan mengambil bajuku. Tapi boleh aku minta tolong?" Luna menggigit bibir bawahnya ragu dia takut kalau Agus tidak mau membantunya.
" Apa?"
" Ambilkan aku handuk." Luna tidak punya pilihan lain selain mengandalkan Agus saat ini.
__ADS_1
Apakah yang terjadi selanjutnya?
...~ Bersambung ~...