
" Terimakasih Pak!" Kata Luna dengan senyum tulusnya.
" Panggil nama saja. Aku senang bisa berkenalan dengan kamu." Kata Romy yang jujur dari dalam hati.
" Ah, enggak ah. Sama polisi kok panggil nama. Aku takut terkena pasal berlapis." Jawab Luna setengah meledek Romy.
" Hem baiklah, terserah anda saja." Ucap Romy tak mau kalah.
" Jangan pakai anda. Kesannya terlalu formal." Protes Luna.
" Ya selama anda memanggil saya Pak, maka selama itu juga saya akan memakai kata anda untuk memanggil anda." Jawab Romy yang terkesan memaksa tetapi secara halus.
" Ih, oke oke. kita saling panggil nama. Tapi Aku sungguh sungguh berterimakasih sama kamu ya. Ga tau deh kalau ga ada kamu bagaimana." Kata Luna yang terdengar mulai lebih santai.
" Ok, sudah tugasku juga kan. Kamu tidur di sini?" Tanya Romy yang clingukan memperhatikan setiap sudut ruangan cafe.
" Iya, kadang kala. Tapi, tidak selalu, kalau lagi males pulang saja." Jawab Luna jujur.
" Ya sudah aku pamit dulu." Ucap Romy berpamitan dengan mengembangkan senyum khasnya.
" Eh, besok pagi Jumat berkah. Kamu kesini ya Rom. Aku ada makanan gratis untuk 10 pelanggan pertama. Ya walaupun kamu Dateng ya telat, besok pagi, tetap aku sisakan ya." Ucap Luna dengan ketulusan dari dasar hatinya.
" Siip!" Jawab Romy dengan semangat lalu diiringi langkah kakinya keluar cafe.
****
" Hai, kasur dan bantal kecil. Jumpa lagi kita. Hemmh.... aku kangen kalian." Kata Luna bermonolog dengan tempat tidur mungilnya di belakang resto.
Luna mempunyai satu ruangan kecil di dekat tempat penyimpanan bahan masakan di belakang resto. Hanya tempat kecil seukuran yang pas jika hanya di isi dengan kasur kecil dan lemari kecil. Sebelum punya apartemen yang di sewakan dan juga mobil sedan tua, Luna memang tidur di tempat itu.
Sudah lama tidak di pakai membuat kasur dan bantal serta selimut disana berdebu. Luna tidak mau ambil pusing dan mempermasalahkan itu. Yang terpenting baginya saat ini adalah tidur. dengan tidur dirinya berharap bisa melupakan apa yang terjadi di kantor Agus tadi.
Sementara di tempat lain,
" Kemana istrimu gus?" Tanya Mama Elena yang seharian tidak bertemu dengan menantunya.
" Di. dia sedang lembur dengan karyawannya Ma. Dengan Evi, untuk menggarap laporan keuangan." Kata Agus sedikit gugup.
" Gaji karyawan maksud kamu?" Tanya Mama Elena yang menangkap kejanggalan dari raut wajah Agus yang terlihat lesu.
" iya itu Ma." Jawab Agus dengan senyum terpaksa untuk menutupi kebohongan.
" Kamu bohong ya? Kamu bertengkar dengan luna? Mama lihat sedari tadi muka kamu kusut." Kata Mama Elena langsung tanpa basa-basi.
" Tidak Ma. Kami baik baik saja, hanya memang kami sedang banyak pekerjaan." Jawab Agus lagi.
" Baiklah, yang penting kalian tidak sedang bertengkar." Mama Luna tidak mau ambil pusing dan memilih menelan bulat-bulat penjelasan Agus.
Fiuh..., Untung saja Mama percaya. Sekarang aku harus mencari kemana lagi dia. Batin Agus kebingungan.
Levan sedang beristirahat di apartment Luna saat ini. Dirinya masih terasa asing jika harus menetap di rumah Elena yang dengan cepat berubah menjadi mertuanya. Levan belum bisa menyesuaikannya dan memilih secara perlahan sampai Rosa tersadar dari komanya.
__ADS_1
Agus kembali kerumahnya dan menghempaskan bokongnya di sofa. Kepalanya sungguh berdenyut pusing saat ini. Di pegangnya ponselnya dan berkali kali mencoba menghubungi nomor Luna tetapi tidak bisa.
Kemana dia? nomornya belum bisa di hubungi. Gumam Agus sambil memijit pelipisnya perlahan hingga lama lama matanya menjadi sayu dan terpejam dalam lelapnya.
Di dalam mimpi mereka bertemu.
Balutan baju senada dan warna sama. Putih bersih keduanya dengan baju serba putih. Keduanya berjalan dengan beriringan tanpa bergandengan menuju ke sebuah dermaga besar di tepi laut yang luas. Airnya jernih dan semilir anginnya menenangkan.
Suasananya sungguh tentram, hingga tiba tiba berubah dengan awan mendung yang begitu pekat dan menghitam dan kilatan petir yang seperti ingin mencambuk apa yang ada di dekatnya. Di dalam mimpi, Agus yang melihat itu hanya terdiam dan mengigil ketakutan saat di salah satu tangan Luna memegang kilatan petir yang menyala bagai api.
Luna lalu mengambilkannya ke arah Agus dan menjadikan Agus sebagai targetnya. Agus hanya bisa berlari kocar-kacir tak karuan menghindari cambukan petir yang semakin menggila hingga membuat dermaga tempatnya berpijak hangus terbakar dan Agus bahkan terjerambab diantaranya hingga dia terbangun dari mimpinya.
" Huh, huh, huh, astaga" Agus mengelus dadanya dan menyeka keringat dingin dari keningnya.
" Di dalam mimpi juga sebegitu menyeramkan kemarahannya." Kata Agus dengan terengah-engah kehabisan nafas.
Lain di Agus, lain juga di Luna. Luna malah bermimpi yang sebaliknya. Mimpi yang membuatnya menangis pilu setelahnya.
Di dalam mimpinya.
Mereka duduk bersama menatap cahaya yang tenang dan menyejukkan hati. Tiba tiba, ada seekor burung cantik yang hinggap di tangan Agus. Agus lalu menangkapnya dan memberikannya kepada Luna. Luna dengan senang hati menerimanya dan kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Namun setelahnya, tiba tiba Agus menghilang diantara cahaya yang ada.
Luna berseru memanggil Agus sampai menagis terisak di dalam tidurnya hingga akhirnya dia terjaga dengan mata yang basah dan sembab.
" Astaga!"
" Bahkan di dalam mimpi saja dia sukses membuatku menangis seperti ini."
Evi tersentak hingga melemparkan kotak sampah yang di pegangnya ke sembarang arah.
" Eh ****** eh ******!" Seru Evi yang latah.
Luna yang mendengar ada suara Evi langsung beranjak dan membuka pintu kamar persembunyiannya.
" Vi, sudah pagi." Sapa Luna kepada Evi dengan senyum ramahnya.
" Eh, mbak. Bikin kaget saya. Dari semalam tidur di sini mbak?" Tanya Evi penasaran.
" Iya, lembur soalnya banyak pekerjaan. Males mau pulang udah terlanjur malam." Kilah Luna beralasan.
" Kamu lanjutkan dulu kerjanya. Saya mau belanja bahan di supermarket." Ucap Luna seraya berlalu pergi melalui pintu belakang.
Luna pergi ke supermarket untuk membeli bahan masakan resto. Dia juga menyusuri pasar untuk mencari bahan yang jauh lebih murah tetapi kualitasnya sangat bagus. Tak lupa, Luna juga membeli seperangkat pakaian lengkap dengan pakaian dalam untuk berganti ketika di resto. Dia sungguh enggan untuk melihat wajah suaminya setelah apa yang di saksikan ya tempo hari.
Luna bergegas kembali ke cafe setelah selesai dengan belanja dan dia juga menumpang mandi di kamar mandi di sebuah masjid. Kini sudah lebih baik, meski tubuhnya masih sedikit merasakan gatal gatal. Setelah bangun tidur, Luna terus saja merasa gatal dan menggaruk punggungnya. Tetapi pikirnya hal itu adalah gigitan nyamuk mengingat semalam dia tidak memakai obat nyamuk saat tidur.
" Mbak, di cariin pak polisi." Kata Evi melapor dengan wajah yang ketakutan.
" Polisi? Oh, iya. Makanan Jumat berkah kita masih ada kan?" Tanya Luna yang kini lebih ceria.
" Eh, mbak, ada polisi nyariin mbak. Mbak ada kasus apa? Apa mbak mau menyogok polisi dengan makanan gratis?" Tanya Evi yang cemas sekaligus takut jika Bossnya tertimpa kasus hukum.
__ADS_1
" Ya kalau bisa sih, kenapa enggak?" Jawab Luna dengan wajah ceria yang kemudian memasuki cafe.
Terlihat dari meja kasir, Romy tenagh duduk menikmati pemandangan di cafe Luna yang terbilang unik dengan tema tanaman hijau.
" Hey pak polisi!" Sapa Luna dengan penuh semangat.
" Eh, anda apa kabar?" Jawab Romy tak kalah iseng.
" Hahahaha😂!" Mereka tertawa bersama.
Seperti ini kira-kira gambaran Romy as polisi yang tampan dan gagah berani.
Author sih, auto mau menyerahkan diri kalau polisinya bening begini. Enggak di tilang juga, bakalan sengaja lepas seatbelt biar kena tilang😂😂.
" Ini janjiku dan juga ucapan terimakasihku." Ucap Luna sembari menaruh nampan yang berisi sarapan berupa kimbab tuna.
" Waow. Kelihatannya enak." Puji Tomy saat melihat makanan untuk dirinya.
" Enak dong. Kamu ga dinas?" Tanya Luna.
" Dinas, tapi ya udah janji sama kamu jadi aku sempetin kesini sepagi mungkin. " Jawab Romy yang sudah asik menikmati kimbab buatan Luna.
" Demi makanan gratis." Timpalnya lagi sambil tertawa.
" Iya, lumayan tanggal tua. Hahaha." Ucap Luna dengan tawa khasnya.
" Nikmati sarapannya, aku akan kembali ke dapur ya. See you." Kata Luna.
" Tunggu, boleh minta sesuatu?" tanya Romy.
" Apa?"
" Boleh minta salad buah?"
" Em, sepertinya belum siap."
" Kalau ayam bakar?"
"Belum juga, menu pagi kami hanya sarapan ringan." Jawab Luna polos.
" Kalau minta nomor ponsel, boleh?" Ucap Romy dengan tersenyum manis.
" Hem? boleh. Siapa tau aku juga butuh membuat laporan dan pengaduan." Kata Luna yang menuliskan nomornya di secarik kertas catatan pesanan.
" Bisa, asalkan Jagan pengaduan soal mantan saja." Celetuk Romy asal yang justru membuat Luna kembali tertawa dan itu sungguh membuat Romy semakin terkesima dengan wajah cantik Luna.
Kemana saja aku berkelana hai si buta? Gadis secantik dan baik seperti dia sampai ku lewatkan begitu saja. Luna, kamu berbeda. Batin Romy sambil mengulum senyumnya.
...~ Bersambung~...
__ADS_1