
" Bagun Levan, hari ini adalah jadwal aku periksa. Kita harus cepat sebelum dokter Han pergi." Rosa berdiri di depan pintu kamar levan dan terus mengetuknya dengan kencang.
Levan sebenarnya sudah selesai bersiap, hanya saja dia malas menjawab kicauan Rosa yang membuatnya merasa pusing.
Pintu terbuka dengan tiba-tiba saat Rosa mencoba menguping dan menempelkan telinganya ke pintu. Dia mencoba mendengarkan apa yang sedang di lakukan levan di dalam. Mengapa seperti tidak ada pergerakan atau suara-suara.
Brug!!
Rosa hampir saja jatuh tertelungkup, tapi beruntunglah dia levan dengan sigap menangkapnya dan kini mereka berhadapan dengan mata yang saling menatap lekat dan jantung yang berdegup kuat.
" Hati-hati!" Levan membantu Rosa kembali berdiri dan merapikan rambutnya.
" Ih, jangan pegang-pegang!" Ucap Rosa bersungut-sungut kesal dan kemudian berjalan mendahului levan dan memasang wajah masam.
Selama dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, mereka hanya saling diam tidak ada percakapan sama sekali. Rosa masih kesal sebab tadi Levan mengusap kepalanya. Menurut Rosa itu tidak sopan.
Rosa tidak suka jika ada orang asing yang sok sok dekat dengannya. Apalagi levan sudah beberapa kali mencium lembut bibir ranum Rosa dan gilanya lagi, Rosa sangat terlihat menikmati apa yang levan lakukan.
Pemeriksaan berjalan lancar, hasil operasi juga sangat memuaskan. Rosa kini sudah kembali seperti dahulu. Rosa terus tersenyum-senyum melihat wajahnya di pantulan cermin kecil yang di bawanya. Levan hanya bisa menggeleng dan mengulum senyum melihat tingkah aneh istrinya.
Seperti anak kecil saja.
sampai berjalan sambil berjingkrak jingkrak seperti itu.Batin levan mengulum senyumnya.
" Aku lapar, bagaimana kalau kita makan dulu?" Rosa menghentikan langkahnya dan menatap levan yang berada di belakangnya.
Levan terdiam sesaat menatap lekat kedua manik coklat milik istrinya.
" Iya, kamu yang tentukan saja mau di mana kita makan." Ucap levan dengan lembut dan juga lagi-lagi tangannya mengusap lembut rambut Rosa.
Kenapa sikapnya aneh sekali hari ini?
Sudah berapa kali dia mengusap kepalaku dengan penuh kasih?
Kenapa di, tidak biasanya? Rosa bertanya-tanya di dalam hatinya.
Mereka memutuskan makan makanan Italia. Semua menu hanya Rosa yang pilih. Levan hanya menyamakan saja.
" Kenapa ga pilih menu sendiri?" Tanya Rosa pada levan yang sedang menikmati pemandangan luar yang asri lagi sejuk.
"Aku akan memakan apa yang kamu makan. Bukankah sedari dulu selera makanan kita sama?" Celetuk Levan sambil terus memandang keluar jendela.
Rosa, maaf aku akan mulai membuatmu perlahan mengingat tentang kita.
Aku tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Cukup sekali saja aku mengabaikan perasaanku dan itu membuatmu benar-benar melupakan semuanya tentang kita.
Rosa, tidak tahukah kamu kalau selalu ada ukiran namamu di dalam hatiku ini?
Aku ingin menyibak semua penghalang yang membuatmu melupakanku. Batin levan dengan seulas senyum tipis di sudut bibirnya.
" Iyakah? Hhhmmm, terserah kamu aja deh. Aku malas berdebat, aku juga ga penasaran tentang kamu."Ucap Rosa yang terkesan kasar dan mengacuhkan perasaan Levan.
Rosa kembali berfoto ria dan mengabaikan Levan yang mulai memandangnya dengan teduh.
Begini ternyata rasanya di abaikan.
Hatiku sangat sakit mendengar ucapannya, dia tidak tertarik denganku?
Oh, tuhan. Kapankah istriku akan mengingatku lagi?
Maafkan aku yang dulu mengabaikan perasaanmu Sa.
Aku merasa tak pantas bersanding denganmu dimana keluargamu adalah keluarga yang berada.
Dan aku, aku hanya anak dari keluarga yang berantakan. Levan memandang Rosa dalam diamnya.
Mereka makan dengan sendiri-sendiri. Rosa meminta meja yang berbeda dengan Levan. Dan tanpa di duga ada seorang pria yang seumuran dengan mereka datang dan menyapa Rosa. Rosa nampak mengenali pria itu dan mereka duduk bersama lalu mulai terlihat sangat akrab sambil bercanda.
Sampai makan siang selesai, Levan sama sekali tak menyentuh makanannya. Hatinya luka, melihat istrinya asik bercengkrama dengan pria lain sedangkan dia di acuhkan di tempat yang sama.
Levan ingin marah tapi tak bisa mengingat Rosa yang masih kehilangan memori tentang dirinya. Keadaan seperti ini sungguh menyiksa batin Levan.
Laki-laki mana yang tak cemburu jika melihat wanitanya bersama pria lain? Levan sedari tadi sudah berusaha sekuat mungkin untuk mengendalikan emosinya.
" Kamu kenapa? sakit atau apa? ini kenapa tidak di makan?" Tanya Rosa yang menghampiri meja levan setelah temannya pergi.
" Tadi siapa?" Ucap levan yang balik bertanya dan tak menjawab pertanyaan Rosa.
" Oh, tadi. Dia anak Tante Mira, sahabat Mama. Eh dia tinggal di sekitar sini loh. Dia juga punya bakat menyanyi dan bermain musik yang oke punya. Hemhh.... sungguh" Rosa tersenyum-senyum memuji bakat bakat anak sahabat Mama Elena yang baru saja di temuinya.
Sakit Sa. Di depanku kamu memuji laki laki lain.
Lihat aku Ra, lihat aku, aku suamimu Ra! Batin levan meronta ingin menyebutkan kenyataan jika dia adalah suami sah Rosa.
" Dari pada hanya memuji, kenapa ga sekalian saja kamu jadikan dia suami?" Celetuk Levan yang berniat menyindir Rosa agar semua pujian Rosa untuk laki-laki asing itu terhenti.
" Eh, iya. Kamu cerdas juga Van. Kalau aku Pepet terus, dia bakalan mau kali ya jadi suamiku. Hemhh, idemu bagus sekali Van."Rosa mengulum senyum senang dan mulai memainkan ponselnya.
Levan tergelak mendengar perkataan istrinya. Maksud levan adalah agar Rosa tersindir dan menghentikan kekagumanya. Tetapi Rosa malah seperti termotivasi untuk melakukan ide gila yang di lontarkan oleh suaminya sendiri.
__ADS_1
Makan siang selesai dan mereka kini sedang berjalan kaki untuk pulang. Jarak tempuhnya memang tidaklah jauh. Rosa juga sangat senang menikmati berjalan menyusuri jalanan kota yang ramai dan padat penduduk yang berlalu lalang melakukan kegiatan mereka.
Rosa selalu sibuk dengan ponselnya setelah perban di buka dan hasil operasi menunjukkan hasil yang sempurna, Rosa seperti mengagumi wajahnya sendiri. Dia tak henti-hentinya berfoto merayakan kegembiraannya.
Hingga saat menyebrang, ada sebuah truck yang melintas dan Rosa tidak menyadarinya dan membuatnya hampir tertabrak. Tapi kali ini levan berlari sekencang-kencangnya dan mendorong Rosa. Rosa terhindar tapi levan tidak.
Terlihat darah mengucur dari bagian kaki Levan, sedangkan Rosa baik-baik saja hanya sedikit lecet di lututnya.
*
*
*
" Maafkan aku ya, gara gara aku, kamu malah jadi seperti ini." Ucap Rosa yang menyesal telah ceroboh sehingga membuat orang lain celaka.
" Tidak apa-apa, sudah kewajibanku untuk menjagamu kan" Jawab Levan dengan tulus dan lembut.
" Istriku." Gumam levan sangat lirih sampai Rosa tak menyadari kata terakhir yang menyebutkan kata istri.
" Baiklah, karena ini kesalahanku. Maka aku akan merawatmu sampai kamu sembuh."
"Dokter bilang, butuh waktu tiga bulan untuk kamu kembali pulih. Ada beberapa jaringan ototmu yang robek dan juga tulangmu cukup serius cideranya." Ucap Rosa yang terlihat perhatian terhadap Levan.
Tidak apa apa Sa, meskipun harus dengan cara seperti ini aku bisa dekat denganmu maka aku rela. Batin levan dan mengembangkan senyumnya tanpa sadar.
" Kamu kenapa? apa lukamu tidak sakit, kenapa malah senyum-senyum sendiri? Aneh."Cibir Rosa melihat levan mengulum senyuman.
" Sini aku lihat, atau jangan jangan kepalamu terbentur tadi?" Rosa terlihat mencemaskan keadaan levan dan itu semakin membuat levan bahagia.
Rosa menyentuh kepala levan dan seperti seorang dokter yang tengah mengamati luka pasien, Rosa sampai menelisik secara seksama.
"Boleh, aku peluk kamu? Di saat seperti ini aku merindukan kasih sayang Kakakku. Tapi aku juga tidak mau mereka cemas. Boleh aku peluk kamu, akan ku anggap kamu sebagai kakakku saat aku memelukmu" Ucap Levan dengan raut muka yang, Levan berusaha mendapatkan perhatian lebih dari Rosa.
Author mencium bau-bau levan memanfaatkan keadaan ini.ðŸ¤ðŸ¤.
" Eum..."Rosa berfikir dan terdiam menatap luka di kaki levan.
Di kasih peluk ga ya????
Jang lupa mampir di mari.
Ok!!!!
__ADS_1