
Luna terbaring di sofa. Kedua sahabatnya harap harap cemas menunggu kesadarannya pulih.
"Lun, bangun geh, kamu ga pengen buru buru ngapain gitu setelah pesta ini selesai?" Ucap Caca yang menepuk halus pipi Luna.
" Gila lo! Mau ngapain emang? Susah emang punya temen gila kayak Lo Ca!" Ucap Veni bersungut-sungut geram dengan perkataan sahabatnya.
" Eh, ya normal lah. Emang buat apa dia di nikahin kalau ga buat itu? Ya kan Gus?" Celetuk Caca yang terkesan frontal dan mengarah pada satu hal intim.
" Ish!! Awas minggir kalian. Begini amat istriku punya temen." Sahut Agus dengan malas lalu menarik kursi dan duduk di dekat Luna sembari memijit telapak tangan Luna.
" Malu, cie Malu! Giliran berdua aja ga ada jeda. Sampek kasihan gue Ama sahabat gue ini. Udah kecil, buntek, cengeng pula. Dapet lawan maen ya ganas abis. Hemmh...!" Dengus Caca di akhir ucapannya.
" Sok tau lo! Udah awas sana. Ven bawa temen Lo keluar ya. Atau ga gue jadiin dia gantungan kunci." Kata Agus memperingati dengan wajah dinginnya nada bicaranya menanamkan ancaman.
" Udah, Ayolah Ca kita keluar dulu. Kasih ruang buat pengantin baru." Kata Veni yang menarik lengan Caca untuk segera meninggalkan ruangan rias pengantin.
Mama Elena hanya bisa tersenyum dan menggeleng. Dia tak habis pikir dengan tingkah polah sahabat menantunya.
" Ish! Iya iya. Inget ya, jangan di ruang ini. Aku ga mau banyak mata dan telinga yang ternoda." Celetuk Caca ngawur, Tatapan matanya melirik Agus.
" Apaan lo! Dikira gue mau ngapain" Sahut Agus kesal dengan melempar bantal sofa ke arah Caca.
" Hahahaha! ya kali udah ga ketahan itu santan udah mengendap berubah menjadi lemak jenuh." Kata Caca sengaja mengejek Agus.
" Enak aja lemak jenuh, ini mayonaise tau." Sahut Agus yang semakin kesal dan lagi-lagi melempar bantal sofa namun Caca berhasil menghindar dan berlari keluar sambil tertawa kecil.
__ADS_1
" Permisi Tante, Om, kami keluar dulu."Ucap Veni yang mewakili Caca yang lupa berpamitan karena hanya fokus tertawa.
" Iya, Terimakasih ya untuk perhatiannya. Sepertinya sebentar lagi Luna juga akan sadar." Kata Mama Elena yang setelah sebelumnya mendengarkan penjelasan dari dokter yang sudah memeriksa keadaan Luna.
Luna didiagnosis hanya kelelahan dan kurang istirahat saja. Selain itu tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Penjelasan ringkas dari dokter seperti memberikan angin segar bagi Agus dan juga orang tuanya.
" By!" Ucap Luna setelah membuka mata secara perlahan.
" Hei, kamu sudah bangun sayang? Masih pusing atau ada keluhan lain?" Sahut Agus yang masih sangat cemas dengan keadaan istrinya.
" Enggak, aku udah baikan kok By."Jawab Luna dengan tersenyum manis. Matanya sayu menatap wajah Agus yang terus saja melihatnya.
" Jangan liatin terus, aku malu By." Rengek Luna yang semakin menambah gemas Agus terhadapnya. Pasalnya dari semenjak baru membuka mata, Agus tak berkedip melihatnya.
" Kamu cantik By. Lagian, kan sudah resmi dan hallal." Agus menggoda Luna dengan mengedipkan matanya.
" Dih, Mama. Udah dong jangan bahas soalan batu lagi." Protes Agus yang tidak mau aibnya terbongkar.
" Batu?" Tanya Luna sembari mengernyitkan dahinya tatapan matanya berbicara lagi seolah ingin mendengar penjelasan lebih.
" Iya batu, dulu sewaktu SMA dia sedang pusing dengan ujian akhir. Para guru wali kelas mengadakan acara konseling ya niatan gurunya sih menanyakan cita cita yang kemudian ingin membalas semangat para muridnya untuk semakin giat belajar. Tetapi itu tidak berefek kepada dia." Kata Mama Elena bercerita yang kemudian duduk di samping Luna yang juga sudah mulai duduk.
" ceritakan Ma!" Pinta Luna dengan antusias.
" Saat di tanya, Agus apa cita-cita mu? Dia menjawab, aku ingin menjadi batu. Kenapa? tanya lagi gurunya yang heran. Jawabannya sungguh membuat Mama berfikir beribu kali apa benar dia adalah bibit unggul dari Papa mu. Papa mu itu orang yang punya semangat menggebu dan hangat. Sementara dia malas-malasan dan hanya sekedarnya saja. Dia menjawab, iya Bu batu. Sebab batu hanya diam dan memberi banyak fungsi, dia juga membantu keseimbangan alam semesta. Tidak banyak bergerak, tidak butuh berbicara, tidak perlu makan, tetapi hanya diam begitu saja sudah sangat berharga bagi kehidupan sekitarnya." Mama Elena sampai masih ingat secara detail penjelasan Agus mengenai batu itu. Bagaimana tidak, setelah itu wali kelas Agus memanggil Mama Elena dan meminta anaknya untuk di bawa ke psikolog. Wali murid Agus takut jika Agus memiliki kelainan terhadap satu hal.
__ADS_1
" Ah Mama, itu kan hanya aku yang malas saja. Makanya menjawab seperti itu." Jawab Agus mengelak keras dan bersandar manja di lengan Luna.
" Coba kalau kamu menjadi batu sungguhan, mana mau wanita cantik seperti dia ini seumur hidupnya hanya bersandar pada batu? Mama yakin kamu akan menyesal tujuh turunan 8 tanjakan karena tidak memiliki pedang sakti selama hidupmu karena menjadi batu. Dan juga bagaimana dengan mayonaise? Hahahaa!" Ucap Mama Elena yang cenderung mengarah pada menjatuhkan anaknya sendiri.
Papa pandu sudah menahan tawa mendengar perdebatan sengit antara Mama dan anak itu. Dia hanya menyimak dan sesekali mengulum senyum melihat mereka.
" Mayonaise? Kenapa batu ada hubungannya dengan mayonaise?" Tanya Luna yang terheran-heran dan menatap suaminya dengan wajah lugunya.
" Sudahlah, jangan dengarkan Mama By. Dia hanya bercanda." Ucap Agus yang tidak mau jika istrinya semakin tahu tentang aib aibnya di masa lalu.
" Ma, sudah. Mari kita pulang." Papa pandu sudah bersiap dan menenteng tas milik Mama Elena.
" Pa, maaf ya. Karena aku pingsan, acara pernikahan ini jadi berantakan. Pasti papa banyak mendapat banyak pertanyaan dari kolega bisnis Papa." Ucap Luna dengan wajah menyesal.
" Tidak Nak. Kesehatanmu jauh lebih penting. Sekarang nikmatilah bulan madu kalian. Setelah ini segeralah berbulan madu. Jangan mau kalau hanya di penginapan buluk ini. Suamimu ini banyak uang, jadi manfaatkanlah. Ajaklah dia pergi ke tempat lain yang sedikit menguras kantongnya." Kata Papa Pandu meledek pasangan pengantin baru itu.
" Astaga Papa aku! Bukannya menantunya di suruh hemat ini malah di ajarin boros." Dengus Agus kesal.
" Hahahaha! tenang saja By, aku lebih suka di sini. Jantungku aman." Ucap Luna sembari tersenyum manis dan menepuk lembut pipi Suaminya.
" Untung istriku Solehah dan kona'ah." Puji Agus yang membalas dengan mengusap lembut punggung tangan Luna.
" Belum saja, lihat nanti jika dia sudah terkontaminasi." Sahut Mama Elena sambil tertawa ngeri meninggalkan ruang rias pengantin.
Luna dan Agus terdiam dan saling tatap. Isi di kepala mereka mungkin sama saat ini.
__ADS_1
Mama siapa itu seperti itu? Batin mereka dengan ekspresi berjuta makna.