
Masih di dalam kamar dengan Luna yang berbalut handuk super mini. Nampak jelas dari layar tv yang mati Luna sedang kesusahan membuka koper. Agus sedikit merasa gemas sebab juniornya juga sudah tidak tahan dan menggeliat hebat.
" Ah, kamu lama!" Seru Agus dengan menarik selimut dari ranjang dan membungkus tubuh Luna dengan selimut lalu mendudukkan Luna di tepi ranjang.
"Aaaaaaa.....! Bapak, Bapak mau ngapain aku aaa..... Tolong!" Seru Luna dengan memejamkan mata, memberontak dan sibuk memegangi handuk yang semakin longgar dan akan lepas. Arah pikiran Luna sudah mengarah kepada hal hal mesum.
" Aku akan melahapmu sekarang juga. Aku kan suamimu. Aku sudah bisa menikmatinya sekarang." Kata Agus dengan smirk mengerikan dan tatapan mata yang tajam. Agus sengaja menjahili Luna dengan seolah ingin melakukan sesuatu terhadapnya.
Astaga! a... apa dia akan melakukannya sekarang? Dia akan meminta haknya sekarang? Mampus! Aku belum mencukur bulu kakiku, aku belum memakai parfum dan juga bulu ketekku. A.... tidak tidak jangan sekarang jangan. Aku harus cari cara. Batin Luna sambil memejamkan matanya karena takut jika Agus melakukan belah duren.
Lama Luna memejamkan mata tetapi tidak ada yang terjadi. Tidak ada tangan yang meraba, tidak ada deru nafas yang menerpa wajahnya. Tidak ada juga sentuhan lembut di bagian tertentu. Luna mulai membuka mata perlahan dan melirik ternyata apa yang di bayangkannya tidak terjadi. Luna dengan mata terpejam meraba meraba sesuatu yang dikira masih berdiri di hadapannya.
" Eh, tidak ada. Hehehe!" Gumam Luna sambil nyengir kuda.
" Memang apa yang kamu harapkan ada?" Tanya Agus yang sudah sibuk duduk di lantai dengan berusaha membuka koper yang macet resletingnya.
Ih, dasar! aku kan hanya takut saja jika kamu meraba raba tubuhku yang masih tersegel rapi ini. Mana tadi aku belum pakai penyegar mulut. Luna mendengus kesal dan memutar bola matanya dengan malas.
" Ih, pelan pelan. Masih seret tau." Kata Luna yang ikut duduk di depan Agus saat ini dengan tubuh yang tertutup rapi dengan selimut.
" Iya tembem, ini pelan. Biar cepet selesai." Jawab Agus dengan gemas yang masih berusaha mengakali resleting koper.
" Please geh, tambah dikit bukanya. Dikit lagi." Kata Agus bermonolog dengan berusaha membuka resleting koper.
" Ih, sabar Pak. Sabar," sahut Luna lirih.
" Pak, pak. Aku minta apa?" Ucap Agus dengan lirikan membunuh.
" Iya hubby, iya maaf. Pelan ya pelan. nanti robek." Kata Luna dengan lembut yang takut jika kopernya akan rusak dan robek bila Agus terus menarik secara kuat kedua ujung sleting yang sedikit terbuka.
" Uh...., uh...., uh...., Akhirnya." Seru Agus mengerang dan akhirnya bernafas lega setelah berhasil membuka koper Luna.
" Ah...., akhirnya." Timpal Luna yang juga bernafas lega.
Di depan pintu kamar Luna dan Agus.
Ah, suara aneh itu? Hihihi, asik. Sebentar lagi Aku akan punya cucu. Akan aku pamerkan kepada teman teman arisanku. Huh, cucuku pasti nanti akan sangat tampan dan cantik. Wulan, sebentar lagi kita akan punya cucu. Terimakasih ya Allah, aku sangat bahagia. Aku tidak mengira jika Agus akan menjadi anak yang sangat rajin. Hihihi! Senangnya hatiku! Aku harus kasih tahu papa. Batin Elena kegirangan dan kembali berjalan dengan berjinjit menuju ke kamar tamu.
Di dalam kamar Luna dan Agus.
" Terimakasih By!" Kata Luna yang senang kopernya terbuka dan mulai bisa berganti baju.
__ADS_1
Entah mengapa, pipi Agus selalu mengembang dan dihiasi senyuman ketika Luna memanggilnya dengan sebutan Hubby. Agus mulai sedikit clingukan ketika Luna akan berganti baju.
" Em, aku akan berganti baju ke kamar mandi ya by." Kata Luna dengan menata baju ganti yang akan di bawanya.
"Hem!" Agus hanya berdehem dan memilih sok sibuk dengan ponsel yang di mainkannya.
Karena gugup dan grogi Luna melupakan handuk yang berada di dalam balutan selimut sudah sangat mengendur. Luna berdiri dan mulai berjalan,
Pluk!
Handuk Luna terjatuh tepat di hadapan Agus. Luna yang panik malah justru berteriak dan menghadap kepada Agus.
"A....aa!" jerit Luna yang kemudian menutup mulutnya dan dengan gugup kemudian menutup dua daerah istimewa di tubuhnya.
" Kamu sengaja!" Seru Agus dengan ata melotot yang ternoda melihat semua lekuk tubuh Luna.
" Maaf," Luna berbalik dan kini malah menunjukkan tonjolan di pantatnya yang seksi.
" Luna! Kamu gila?" Seru Agus yang entah geram atau senang dengan berkah yang tarsaji di hadapannya.
" Aku harus bagaimana?" Seru Luna sambil berlari menuju ke kamar mandi dan malah menunjukkan efek memantul dari kedua bagian yang menonjol di tubuhnya.
A.... apa itu tadi? Ah, mataku ternoda! Astaga, kamu kenapa langsung memberontak sekeras ini? Tidurlah... tidurlah... Jangan buat aku malu di hadapan istriku. Istri? ah iya dia sudah istriku. Ah... sudahlah kembalilah layu dan jangan memberontak lagi. Aku belum bisa mewujudkan angan-angan mu yang terpendam. Patuh dan menurut lah! Batin Agus yang kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengusir hayalannya.
" Huh, huh! huh, tidak apa-apa Luna dia hanya melihat belum menikmatinya. Tidak apa-apa, tenang, tenang. Lagian kalau dia menikmati juga sudah haknya." Luna menenangkan dirinya sendiri mencoba mengusir kegundahan dan kegugupannya.
Luna mengeluarkan kepalanya terlebih dahulu, melongok dan melihat keadaan sekitar. Terlihat Agus sudah berbaring di dalam selimut tebalnya dengan temperatur AC yang sangat rendah sehingga membuat Luna yang baru saja berganti baju menjadi kedinginan.
" Hhhmm, hhmmmww, dingin sekali." Luna mengigil kedingianan tetapi tidak berani mematikan AC. Jika dia berani mematikan itu, sudah pasti si tuan Agus Dermawan akan langsung mencalak ganas.
Agus sebenarnya tidak tidur dan hanya berpura-pura memejamkan matanya mencoba mengusir gejolak jiwa laki laki yang ada. Sungguh kejantanan yang susah di tangguhkan masih menggeliat dan terus meronta menunjukkan keperkasaannya. Tidak ada cara lain selain menutupinya dengan selimut dan membelakangi Luna.
" Untung saja dia sudah tidur. Fiuh... syukurlah!" Gumam Luna yang kini bernafas lega dan mulai membereskan baju bajunya.
Tidur apamu? Juniorku terus saja memberikan perlawanan. Apa kamu pikir mudah menaklukkan dia? Seharusnya kamu yang bertanggung jawab akan semua ini. Harusnya aku menerkam dan mengajakmu berperang saat ini juga. Tanpa ampun hingga kamu meminta ampun. Batin Agus yang sangat kesal.
Sungguh malangnya Agus yang hanya bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa padahal. di dalam celananya serasa semakin sempit dan tidak nyaman. Ingin rasanya dia membebaskan juniornya melakukan hal hal yang di sukainya. Tetapi tidak, Agus masih mempertimbangkan perasaan Luna. Meskipun sekarang mereka sudah sah suami istri, tetapi tidak mungkin bagi Agus melakukannya sekarang sedang dia dan Luna masih belum memiliki perasaan.
" By, kamu tidur?" Panggil Luna dengan sangat lembut dan Luna tidak tahu jika suara lembutnya itu justru menambah kuat geliat junior milik Agus.
" By, By!" panggil Luna mengulang.
__ADS_1
" Stop!" Ucap Agus lantang yang membuat Luna terbengong tanpa mampu berucap.
" Kamu kenapa by?" Tanya Luna bingung.
" Kamu berisik! Jangan panggil aku hubby lagi!"
" Kenapa? bukannya baru saja kamu yang meminta." Luna tidak mengerti mengapa Agus cepat sekali berubah ubah baru beberapa menit yang lalu dia meminta Luna untuk memanggilnya dengan sebutan sayang. Tetapi apa sekarang? Agus sudah tidak ingin lagi di panggil hubby. Luna menggeleng tidak mengerti.
" By, jangan membentak ku. Aku cuma ingin bertanya, dimana baju bajuku akan aku taruh?"
" Di lemari!" Ketus Agus tanpa melihat wajah Luna.
" By, By!"
" Ini bukan kamarku by. Aku tidak tahu lemari yang mana." kata Luna dengan nada yang lembut.
" Stop berbicara dengan nada sok imut. Biasa saja!" Protes Agus karena saat ini baginya setiap suara yang keluar dari mulut Luna seperti desahan dan suara manja yang menggodanya.
" By, ini suaraku yang biasa. Bukan di buat buat." Jawab Luna masih dengan kesabarannya.
"Stop! jangan bicara lagi, taruh saja bajumu di lemari yang paling ujung." Ketus Agus sambil menunjuk lemari yang berada di ujung wallkin closet.
" Aku salah apa sih? sampai kamu marah marah dan bentak bentak aku terus? Kalau kamu tidak mau aku di sini, kamu bisa bilang kan? Aku tidak mau di perlakukan seperti ini. Hiks...., hiks, hiks!" Luna menangis dan kembali mengemas baju bajunya.
Ya begitulah Luna, pribadi yang lembut dan mudah tersentuh. Perkataan Agus yang tanpa sengaja membentak Luna karena Agus sedang mengalihkan pikirannya dari nafsu untuk menunggangi Luna berhasil membuat Luna tersakiti dan menangis sedih.
Mendengar Luna menangis Agus baru menyadari kesalahannya yang tidak sengaja membentak Luna hingga berkali-kali. Agus kemudian duduk di hadapan Luna dan melihat mata Luna yang sudah basah dan menunduk tidak mau melihat Agus sementara tangannya sibuk kembali mengemas bajunya.
" Na, kamu jangan kemana-mana ya. Kamu di sini." Kata Agus singkat dengan tatapan mata sayu yang seketika menghipnotis Luna.
Apakah dia mulai....Batin Luna belum selesai dan Agus sudah menghancurkannya dengan kata katanya.
" Kalau kamu pergi sekarang, Mama akan curiga. Tunggulah beberapa waktu lagi Na, sampai aku menemukan wanitaku." Kata Agus dengan lembut.
Lembutnya suara Agus tak selembut makannya yang sukses meremukkan hati Luna. Apakah Agus tidak sadar, biar bagaimanapun Luna sekarang adalah istrinya dan mengatakan sampai dia menemukan wanitanya? Itu berarti Luna hanyalah seperti ban serep pada sebuah mobil. Air mata Luna semakin deras, mulutnya tercekat, dadanya sesak dan tidak mampu berkata-kata lagi.
Aku, aku tidaklah lebih dari seorang pemain pengganti atau pemain cadangan buatnya. Aku kira, sikap baik dan lembut yang dia berikan adalah suatu indikasi jika hatinya perlahan mulai menerimaku. Tetapi aku salah, aku hanyalah istri yang berbasis perjanjian. Baiklah, Agus Dermawan. Jika itu mau mu, aku akan bersikap profesional dalam menjalankan kerjasama kita. Batin Luna masih dalam tangisnya.
" Sudah jangan menangis, diamlah. Aku tidak ingin Mama akan semakin memarahiku nanti." Kata Agus dengan memegang kedua pundak Luna dan menatap mata Luna dalam dalam.
" Iya, aku akan diam." Jawab Luna yang menepis tangan Agus dan pergi menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...