
Pagi hari, Agus mematikan alarm di ponselnya yang sedari tadi sudah berisik berdendang ria. Agus menggemari sekeliling kamarnya, tetapi tidak ada Luna di sana. Agus hanya mengira mungkin saat ini Luna tengah sibuk menyiapkan sarapan di dapur.
Agus mulai keluar dari kamarnya dan mencari istrinya. Namun tidak ada juga. Hanya ada semangkuk bubur ayam yang masih hangat dengan note kecil berwarna pink.
" Selamat menikmati" Isi note.
"Apa ini? tidak romantis sekali. Di kira ini catering? selamat menikmati, cih!" Ejek Agus dengan tangan yang mulai aktif menyendok bubur ayam buatan Luna.
" Kemana dia, apa sudah pergi ke resto? sesibuk itukah dia? Lagian aku sudah transfer uang ke nomor rekening dia. Masih saja bekerja banting tulang tak karuan." Protes Agus yang kemudian membawa bubur ayam dan menyantapnya sambil menikmati sarapannya.
Tersaji berita politik, selebritis dan juga dunia bisnis di sana. Tetapi ada satu berita yang di buat oleh akun gosip yang tersiar dengan headline "PERSAINGAN CINTA CEO ADC".
Agus seketika melotot dan membesarkan volume sambil terus melahap bubur dengan sangat cepat.
Dalam akun gosip itu beredar gambar dimana Agus sedang memanggul Luna seperti karung beras semalam dan juga ada foto yang beredar di mana Luna terlihat asik mengobrol di dalam restonya bersama Romy. Agus seperti sedang berada di samping lava pijar yang menyala-nyala.
Sangat panas dan mengepulkan asap tinggi. Agus menghubungi Luna berkali-kali tetapi tidak ada jawaban. Tentu tidak akan ada jawaban karena pagi ini Luna,
*Luna scene*
" Baiklah, kamu sendiri yang bilang malas berdekatan denganku si burik ini. Tidak apa-apa, aku sudah biasa mendapat hinaan. Aku kuat!" Ucap Luna bermonolog dengan menguatkan dirinya sendiri dengan terus saja mengaduk bubur ayam.
" Nah, sudah siap. Setidaknya aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Aku hanya perlu menghindari pertemuan dengan dia saja sampai dia jemu dan menceraikan aku."
" Hmmh, semoga saja tidak sesulit merajut beribu sweater seorang diri." Gumam Luna yang kemudian bergegas menuju ke resto dimana sebelumnya juga telah menyiapkan sarapan untuk mertua dan adiknya. Begitulah Luna, sosok yang sangat memperhatikan sekelilingnya meskipun dirinya sering terabaikan.
Selepas dari kantor polisi, Luna yang hanya berdiri menunggu taksi ternyata bertemu dengan Romy yang baru saja bertugas mengantarkan korban laka lantas.
" Hai Lun!" Sapa Romy dengan senyum khasnya yang meluluhkan hati setiap wanita. Tetapi entah bagaimana dengan Luna?
" Hei, pak polisi!" Luna melambai dengan antusias dan diiringi dengan senyuman.
" Mau kemana? Kamu sakit?"
" Oh, tidak. Adikku yang sakit aku habis memberikan sarapan buat dia. Kamu?"
" Aku baru saja bertugas mengantarkan korban laka lantas."
"Bareng aku saja yuk! aku sekalian arah pulang." Romy menawarkan dengan satu tangannya yang sudah membukakan pintu mobil untuk Luna.
" Hmm, Oke! Lumayanlah dapet tumpangan dari polisi ganteng." Ucap Luna tanpa niat apa apa dan hanya merasa sudah akrab dengan Romy.
" Makasih loh. Kamu wanita ke 5698 yang memuji aku hari ini." Jawab Romy sombong.
" Idih! lebay!" pekik Luna dengan tertawa.
Dan lagi lagi semua itu ada yang mengabadiakan. Mengapa seperti itu? Tentu saja Luna pernah terkait dengan Agus Dermawan. Boleh dikatakan mungkin jika sekarang ponsel Luna sudah aktif, sudah banyak wartawan yang menghubunginya untuk wawancara.
__ADS_1
" Haha hahaha! Kamu dulu loh yang mulai." Ucap Romy yang membuat Luna tergelak. Memang Luna yang memulai candaan.
" Lun, semalam aku telfon kamu. Tetapi kenapa belum bisa?" Romy masih fokus mengemudi.
" Emm, maaf. Aku masih lupa menghidupkan kembali ponselku. Maaf ya?" Ucap Luna dengan wajah cas dan matanya membulat.
" Tidak apa-apa kok, I'm good." Romy tersenyum manis dan sekilas melihat Luna yang juga tersenyum.
" Sudah sampai. Sarapan di resto aku yuk. Ada nasi goreng ayam spesial. Kamu pasti laper kan? semalaman udah dinas."
" Tau aja. Anda sungguh pengertian." Romy tersenyum senang.
Luna berjalan memasuki resto tanpa ada keanehan. Dan sesekali disertai dengan candaan dari Romy yang selalu sukses membuatnya tertawa.
****
" Huft...!" Agus tersedak dan menggelengkan kepalanya untuk menelan makanan yang tersisa di kerongkongan.
Terlihat dari akun LAMBE NDOMBLE video yang baru saja di bagikan secara live oleh netizen dimana Luna memasuki resto dengan polisi berbadan tegap dan berparas rupawan di belakang Luna.
" Huh, serius kamu sama dia? kurang apa aku Luna?" Oceh Agus yang berdiri di depan cermin besar memperhatikan postur tubuh dan wajahnya.
" Tinggi? Em..., Okelah lebih tinggi dia." Agus mengukur tingginya di tembok.
" Berotot? Kayaknya aku kurang protein dan gym." Agus mengepalkan lengannya tapi tidak ada otot sama sekali hanya ada daging dan kulit putih mulus seperti lontong.
" Ganteng, Manis? Jelas akulah Luna. Mata kamu buta?" Agus bermonolog sendiri di depan cermin.
Masih pukul 7 pagi dan itu merupakan jam macet di area perkantoran. Agus hanya bisa mengomel di sepanjang jalan. Lampu merah begitu lama baginya seperti ratusan tahun menunggu masa hisab dari dosa-dosanya.
" Semakin lama ku biarkan, semakin ngelunjak juga ni anak." Dengus Agus kesal bukan main.
" Mana semalam dia tidak mau tidur denganku. Ada aalasan apa dia mulai menjauhiku lagi? Aku sudah banyak berkorban untuk pernikahan yang tidak masuk akal ini. Bahkan bogem mentah Papa juga masih membuatku muak sampai sekarang. Apa aku ini tidak anda nilainya sama sekali di matanya?" Gerutu Agus sangat kesal.
Saat mulai ada celah untuk menepi, Agus segera menepi dan berpindah naik ojol. Tanpa peduli lagi bagaimana penampilannya saat ini, Agus yang masih mengenakan kaus putih polos dan celana pendek, sandal selop, dan juga rambut berantakan. Namun harus di akui meski begitu dia tetap terlihat tampan dengan bantuan kaca mata hitamnya.
****
Luna masih menikmati nasi goreng dan terus berbincang dengan Romy. Keduanya terlihat akrab dan karib. Evi yang melihatnya pun ikut senang setelah melihat senyuman di wajah Luna yang telah kembali. Mendung hitam itu sudah pergi menjauh. Luna kembali dengan sinar dan hangatnya.
" Kak!" Seru Levan begitu saja saat memasuki resto.
" Iya sayang!" Sahut Luna spontan dengan wajah yang berbinar.
Apa, Sayang? Dia pacarnya? Muda dan tampan sekali. Hhhh... rupanya aku sudah kalah telak. Batin Romy dengan pesimis.
" Uhuk.... uhuk...!!" Romy tersedak karena kaget mendengar panggilan Luna kepada Levan.
__ADS_1
" Eh kenapa? Minum dulu minum!" Luna menyodorkan segelas air putih untuk Romy.
" Kak, Cantik. Aku minta sarapan ya!" Seru levan yang masuk kedalam daur begitu saja melewati Luna dan Romy.
" Ya, langsung saja sama mbak Evi ya Van." Jawab Luna.
" Hemh, maaf ya. Dia tadi adikku." Kata Luna memperkenalkan levan kepada Romy.
Oh, amanlah ternyata hanya adiknya. Aku harus mencari tahu tentang statusnya. Tapi waktu aku cek KTP dia masih belum kawin. Aku yakin, aku masih ada kesempatan.
Romy mengulum senyumnya dan kemudian berpamitan kepada Luna. Romy sudah undur diri dan Luna membereskan meja bekas Romy makan. Agus datang dengan terengah-engah dan terlihat sangat kelelahan.
Pagi hari, kondisi di resto masih sepi pengunjung. Tanpa basa basi, Romy langsung mendudukkan Luna begitu saja di bangku bekas tempat dimana Romy duduk.
Luna hanya bisa menurut dan patuh, karena dia sendiri tidak mengerti mengapa Agus bisa terlihat semarah itu. Apalagi yang telah dilakukannya sampai suaminya murka.
" Ada apa?" Tanya Luna lembut dengan menyimpan nampan kembali di meja.
" Jelaskan ini!" Agus melemparkan ponselnya di meja dan berhenti tepat di hadapan Luna dimana video masih memutar.
Luna terlihat fokus membaca artikel di blog dan juga memahami isi video yang di berikan oleh Agus.
" Ku hitung dari sekarang dan jelaskan!" Gertak Agus dengan suara datar yang mengancam.
" 1"
"3" Kata Agus.
" Kan duanya belum?" Sahut Luna spontan.
" Duanya kita! terserah aku lah mau ngitung gimana juga!" Ketus Agus.
" Ini tidak benar, aku hanya me..."
" Me apa lagi?" Ketus Agus bersungut-sungut.
" Dia hanya memberikan aku tumpangan saja tadi. Kami tidak sengaja bertemu. Kami tidak ada hubungan apa-apa." Jawab Luna seadanya.
" Alasan lagi. Mau membuat karangan cerita macam apa lagi kamu huh? Berkali kali aku katakan, kamu sekarang sudah menjadi ISTRIKU! Apa kurang lantang aku berucap?" Ucap Agus dingin.
Luna menggeleng cepat dan menunduk.
" Kamu sudah cukup dewasa. Seharusnya kamu tau batasan dan apa kewajibanmu sebagai seorang istri. Aku akui awalnya hubungan kita hanyalah kerja sama. Kamu mencari untung, dan aku mencari aman. Tapi..."
" Pernikahan macam apa yang kalian jalin? jelaskan padaku!" Bentak seseorang yang berdiri di belakang Agus.
Luna yang tadinya menunduk kini menjadi tersentak mendengar teriakkan dari seseorang tersebut.
__ADS_1
Mati aku! Bagaimana ini? Luna merutuki dirinya sendiri.
...🍊~ Bersambung ~🍊...