Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Cotton candy


__ADS_3

Pagi ini, Luna pagi pagi sekali sangat bersemangat untuk beraktivitas karena levan sudah mengiriminya pesan untuk datang berkunjung dan akan menginap beberapa malam di apartment Luna.


Luna dan levan adalah Kakak beradik yang jauh dari kata bertengkar. Semenjak kepergian Bunda mereka keduanya menjadi lebih akur dan saling melengkapi. Peranan Luna lebih seperti pengganti ibu bagi Levan dan Levan menjadi anak manis dan penurut pada sang ibu.


Bertemulah mereka di teras depan Cafe saat levan datang membawa cotton candy berwarna pink kesukaan Luna. Luna dengan sangat gembira menyambut kedatangan adiknya itu.


"Cantik!" Seru levan memanggil Luna dari kejauhan.


Luna hafal betul, dengan panggilan itu karena hanya levan yang berani memanggilnya seperti itu. Bersamaan dengan Levan, Agus juga sedang berjalan menyusuri jalanan untuk mampir dan membeli kopi karena Desta saat ini tengah ijin sakit.


"Gila, sebenernya males gue kudu jalan kesini. Tapi ga papalah sekalian aku mau lihat siapa mbak Luna Luna itu." Gumam Agus sembari berjalan di belakang Levan.


"Kenapa juga kamu sakit typus segala des? Pasti karena kau jorok dan malas cuci tangan. Apa aku harus mencari asisten sementara sampai dia sembuh ya? Soalnya biasanya sakit typus itu lumayan lama." Gerutu Agus sambil terus berjalan.


Telinga Agus mendengar levan memanggil Luna dengan sebutan "Cantik" Agus memicingkan matanya dan mencibir geli.


"Masih ada aja brondong yang ngejar mbak mbak." Gumam Agus.


"Levan!" Teriak Luna dengan antusias sambil sedikit berjingkrak jingkrak menyambut kedatangan adik kesayangannya itu.


Agus menggeleng geli sambil terus berjalan memasuki Cafe.


"Sayang, Kamu kapan nyampenya?" Tanya Luna yang saat ini menangkup wajah levan dan mencium kening Levan.


"Kak ah, malu. Aku bukan bayi lagi tauk. Malu di lihatin banyak orang." Keluh levan yang memprotes tindakan Kakaknya sendiri.


"Kenapa, udah punya pacar ya? Udah ga mau kakak perhatikan dan sayang lagi?" Tanya Luna dengan tatapan menggoda Levan.


"Enggaklah, enggak akan sebelum kakak menikah." Jawab levan dengan yakin.


"Eumm… Ayo kita masuk. Panas disini." Ajak Luna sambil menggandeng tangan levan.


Luna dan levan memasuki Cafe, Agusenoleh melihat keduanya karena bel berbunyi ketika ada pengunjung yang masuk.

__ADS_1


Dih, ga sadar umur banget sih itu perempuan. Masih aja nyarinya berondong. Mana tu bocil bucin banget lagi sama pacarnya. Batin Agus yang menyangka jika levan dan Luna adalah sepasang kekasih.


"Kamu duduk di sini, Kakak buatkan minuman dulu ya." Kata Luna yang kini kembali kemeja untuk melayani pembeli.


"Bapak pesen apa pak?" Luna menanyai Agus yang berdiri di depan meja pesanan.


"Kopi, seperti biasanya." Jawab Agus singkat.


Seperti biasanya? Memangnya dia pelangganku? Rasanya wajah ini asing sekali. Kapankah dia kemari? Pikir Luna yang kembali mengingat wajah wajah pelanggan tetapnya.


"Maaf, tapi sepertinya saya baru pertama kali melihat Bapak berkunjung kemari." Ucap Luna menjelaskan bahwa Luna sama sekali belum pernah melihat Agus.


"Oh, biasanya orang ini yang sering kesini." Agus menunjukkan foto Desta dari ponselnya.


Luna melihat gambar Desta di foto, Luna mencoba mengais kembali ingatannya. Luna teringat akan Desta yang setiap hari membeli kopi untuk Bossnya. Luna beranggapan jika yang datang untuk membeli kopi kali ini adalah teman sejawat Desta.


"Oh, Mas yang ini? Saya baru ingat." Kata Luna dengan ramah.


Desta di panggil Mas. Aku di panggil pak. Apakah penampilanku setua itu? Batin Agus yang sedikit kecewa dengan panggilan Pak oleh Luna.


Pertanyaan Luna menggantung ketika melihat wajah Agus dengan seksama. Wajah Agus yang terkena sinar matahari menunjukkan siluet yang sungguh kharismatik. Ketampanannya memancar murni membuat jantung Luna berdegup kencang merasakan kenyamanan yang sepertinya pernah dia rasakan sebelumnya tapi entah dimana.


Perasaan ini pernah aku rasakan sebelumnya. Rasa nyaman dan tenang, damai dan teduh sungguh rasa yang sulit di ungkapkan. Apakah dia? Batin Luna mulai meraba ingatan akan mimpi mimpinya selama ini.


"Tidak usah, biar nanti sore saja saya kembali lagi untuk membeli kopi." Jawab Agus singkat.


"Silahkan di tunggu sebentar, nanti saya antarkan ke meja Bapak" Kata Luna sembari menunjuk salah satu meja yang kosong.


Agus duduk dan menikmati suasana yang ada di dalam cafe. Suasananya asri khas pedesaan dengan beberapa ornamen dari bambu dan jerami serta beberapa lampu lampion yang menghiasi langit langit. Beberapa hiasan aquarium juga ada di dekat meja kasir.


Mata Agus benar benar mengamati setiap sudut ruangan dan menikmati keindahan di dalamnya. Suasana itu sungguh memanjakan mata Agus yang jarang sekali berada di alam luar. Kehidupannya hanya berkutat diantara gedung gedung dan kantor ber AC setiap harinya.


"Maaf pak, ini pesanan bapak." Kata Luna sambil memberikan pesanan Agus.

__ADS_1


Tanpa sengaja tangan mereka saling bersentuhan saat memegang gelas kopi. Agus menatap wajah Luna yang terkena Sinaran matahari pagi dari belakangnya. Seperti siluet yang indah dan menawan wajah Luna terlihat mempesona meski tidak begitu jelas karena silaunya sinar matahari.


Deg!


Perasaan apa ini? Kenyamanan ini, dimana pernah aku temui? Batin Agus kembali mengingat rasa yang pernah dirasakannya.


"Pak, pak! Bisa lepaskan tangan saya?" Kata Luna dengan lembut ketika mencoba menarik tangannya yang masih di pegang oleh Agus.


Agus sungguh terbuai oleh rasa nyaman dan indah yang sulit di artikan satu hal yang pasti, ada kebahagiaan tersendiri setelah hal itu terjadi. Agus sendiri tidak tahu apa itu.


"Ma... maaf. Aku sedang banyak pikiran." Ucap Agus yang berdalih karena malu telah memegang tangan Luna.


Sumpah, malu banget gue. Malu maluin banget nih tangan. Tapi kenapa saat menyentuhnya aku merasa nyaman dan ada sedikit rasa lega disini. Batin Agus sambil meraba dadanya.


Agus kembali ke kantor sedang Luna kembali berbincang dengan levan. Mereka berdua saling melepas rindu dan berbincang hangat.


"Bagaimana keadaan Ayah Van?" tanya Luna seketika menjadikan suasana hening.


"Ayah baik. Kak, apa hukuman terberat dari seorang pembunuh?" Tanya Levan tiba tiba.


Luna tertegun mendengar pertanyaan Levan, matanya menatap jauh kedalam mata Levan. Tangan Luna langsung menggenggam jemari Levan.


"Van, jangan pernah kamu melakukan hal bodoh dan meninggalkan Kakak sendiri. Kakak tidak suka kamu berbicara seperti ini." Ucap Luna serius.


"Aku benar benar muak Kak dengan keadaan kita saat ini. Nenek lampir itu selalu menjilat Ayah. Ayah jadi semakin membencimu kak." Ucap levan mulai mengadu keluh kesahnya.


"Sabarlah Van, jangan mudah terpancing. Lihat Kakak yang termakan emosi. Sekarang Kakak jauh dari ayah dan tidak bisa menjaga ayah lagi."


"Kamu, kamu yang harus bertahan terus berada di sana sampai semuanya membaik." Ucap Luna.


"Tapi kak, Aku... sudah tidak tahan lagi. Kakak tau, wanita itu mengatasnamakan kuliahku untuk mendapatkan keuntungan."


"Dia, dia mencari muka di hadapan Ayah seolah semua uang Ayah telah sampai kepadaku. Padahal, semua yang ku pakai, yang ku makan saat ini adalah hasil jerih payahmu. Sampai kapan kita akan mengalah Kak?" Tanya levan dengan penuh emosi.

__ADS_1


"Tenang, sabarlah. Apakah kamu sudah memeriksa apa yang aku perintahkan?" Tanya Luna dengan tatapan tajamnya.


__ADS_2