
Iring iringan mobil memadati jalanan kota. Luna kini tengah berada di bangku depan tepat di samping kemudi. Luna hanya pasrah dan menatap jendela luar tanpa ada yang bisa di lakukannya.
Otaknya masih sibuk memahami kejadian tadi pagi selepas subuh. Bagaimana dia mau begitu saja melayani Agus dan terlena dalam setiap jamahan yang di lakukan oleh sang suami.
Kenapa bisa? Tetapi aku juga sangat menikmatinya. Pikir Luna menggelengkan kepalanya mengusir pemikiran yang masih terngiang dan terbayang kejadian yang membuatnya mendesah nikmat.
"Na," Agus memanggil Luna dengan meletakkan tangannya di atas handle gigi dan membaliknya hingga tangan Agus menengadah.
" Hem," Jawab Luna malas tanpa menengok.
" Na, tangan." Kata Agus.
" ...." Luna diam.
" Tangan!" Seru Agus mengulang dengan nada yang mulai meninggi dan Luna seketika menoleh dan melihat tangan Agus yang sudah bergerak gerak.
" Tangan, sini." Pinta Agus dengan wajah dinginnya.
" Iya." Jawab Luna malas seakan dia tau apalagi yang di inginkan oleh Agus kali ini.
Luna meletakkan tangannya dan Agus menggenggam erat.
" Kamu kenapa pagi ini terlihat sangat lesu? Menyesal sudah melayaniku sebagai suamimu?" Tanya Agus to the point tanpa basa basi.
Heh, apa menyesal? Oh tentu tidak. Aku sangat suka, meski sekarang terasa panas dan perih untuk berjalan. Aku hanya kaget mengapa kita bisa secepat ini bisa bersama dan mengikat janji suci. Aku tidak pernah mengiranya. Batin Luna.
" Menyesal? Tentu tidak. Kenapa harus menyesal jika melakukan dengan yang sudah hallal? Hanya saja... " Ucap Luna menggantung dan membuat Agus penasaran.
" Hanya apa? Kamu mau minta imbalan?" Ucapan Agus asal tebak.
" Eh, kamu pikir aku wanita apaan? setelah melakukan itu minta di bayar. Aku melakukannya dengan rela ya walaupun awalnya sedikit di paksa." Gerutu Luna dengan wajah cemberutnya.
" Lalu hanya apa?" Agus kembali mengulang kata kata Luna yang terpotong.
" Apa, apa! Ini sakit dan perih. Hiks... hiks.... Aku tidak mengira jika akan sakit seperti ini." Ucap dengan ketus, Luna beralasan.
Agus mengulum senyum dan bangga akan dirinya sendiri. Sekalinya melakukan dengan perawan. Sungguh sangat memuaskan bagi Agus menjadi penilik dan juga pemilik pertama dari mahkota istrinya. Agus yang awalnya mengira jika Luna bukan lagi perawan kini mengakui benar jika Luna terbukti mampu menjaga kesuciannya dan baru saja di persembahkan untuknya.
" Ya maaf Na. Tapi terimakasih." Kata Agus dengan senyum tipisnya.
Aku harus memberinya hadiah untuk ini. Dia mampu menjaga keperawanannya dan hanya di berikan untukku. Aku sangat yakin saat ini jika memang kamu tercipta untukku. Batin Agus senang.
Terimakasih katanya? Sudahlah, aku juga tidak begitu yakin. Bukankah ini hal wajar bagi suami istri? Batin Luna tidak mengerti maksud ucapan Agus.
" Maaf ya jika tadi aku sedikit kasar." Agus mengingat nafsunya yang sungguh agresif tadi hingga bermain dua kali dalam tempo waktu yang berdekatan seperti membuat Luna lemas kehabisan tenaga dan meringis menahan sakit dan nyeri. Tetapi, sensasi rasa itulah yang sangat di rindukannya bahkan saat ini.
"Eung!" Jawab Luna dengan wajah sendu.
" Ya udah, jangan cemberut gitu dong by. Senyum ya. Aku janji besok besok lebih pelan." Kata Agus sambil mencium tangan Luna yang di genggamnya.
Eh, dia cium tangan ku? Kaget Luna dengan tindakan Agus. Saat mengangkat tangan lalu menciumnya, Luna melihat gelang dengan benang hitam yang melingkar di pergelangan tangan Agus. Bandul dari gelang yang di pakai Agus sama dengan kalung yang di pakai Luna saat ini. Luna mengeluarkan kalungnya dan terlihat mencocokkan.
" Gelangmu Pak." Kata Luna seketika.
" Aku suamimu, jangan panggil pak. Seolah aku ini adalah sopir atau satpam rumah." Agus berdecak kesal.
" Iya Maaf. Lalu panggil apa, aku juga belum punya panggilan untukmu jika berbincang dengan Mama. Mas, kak atau apa?" Luna bingung dengan menghitung panggilan dengan jarinya.
" Panggil Hubby saja sudah."
" Walaupun di depan Mama?" Luna memastikan.
" Gimana kalau nama saja?" Usul Luna dan kemudian,
" Yak! itu tidak sopan. Bagaimanapun aku lebih tua darimu. Panggil aku dengan sebutan Koko. Lihat mataku yang sipit ini." Ujar Agus yang justru membuat Luna tertawa geli karena Agus sengaja menyipitkan matanya.
__ADS_1
" Koko? Bagus juga. Aku hanya tidak tahan melihat gaya narsismu itu Ko." Kata Luna terkekeh geli melihat ekspresi wajah Agus yang sengaja menggodanya.
" Nah gitu ketawa, jangan cemberut terus. Tadi kamu mau bilang apa By?"
" Hum? By? tapi di sini tidak ada siapa-siapa. Kenapa harus panggil by? panggil nama saja." Pinta Luna yang merasa aneh dengan sikap Agus yang hangat tidak seperti biasanya yang kaku dan dingin.
Mobil berhenti, dan tidak terasa mereka sudah sampai di parkiran depan cafe. Luna kebingungan kenapa Agus justru menaruhnya di depan cafenya sedangkan kantornya berada di seberang jalan. Keadaan masih sepi karena sudah masuk jam kerja, waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Ya, gara gara hairdryer itu membuat mereka datang kesiangan.
Agus turun terlebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Luna. Luna masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Agus.
" Kenapa mobilmu malah di parkir di sini? Sayangkan nanti mobilnya kepanasan." Ucap Luna yang merasa tidak rela jika mobil Agus kepanasan di area parkir yang terbuka miliknya.
" Ini sekarang mobilmu juga. Kamu adalah ISTRIKU. Jadi semua milikku adalah milikmu juga." Kata Agus dengan menyerahkan kunci mobil di tangan Luna.
" Hei, ta... tapi!" Seru Luna karena Agus pergi begitu saja tanpa berbicara lagi dan justru melambaikan tangan dengan memberikan senyuman terbaiknya.
Aku pikir dia adalah lelaki yang pelit dan perhitungan terhadap pasangan. Tetapi ini, dia malah memberiku mobil mahalnya. Aku sudah salah menilai dia. Luna menggeleng dan masuk kedalam cafe.
****
Jam istirahat tiba. Cafe dan resto sudah di penuhi oleh pembeli. Desta berlari dengan tergesa-gesa menuju ke cafe Luna seperti membawa pesan yang amat penting. Desta sampai tersengal-sengal dan berusaha mengatur nafasnya saat berbicara.
" Mbak, eh. Nyonya muda. Tuan muda mencari anda. Dia sudah marah marah di kantor katanya nomor nyonya muda tidak bisa di hubungi." Kata Desta dengan terengah engah.
" Masak iya sih? Tapi Kak, jangan panggil nyonya muda geh. Aku ga terbiasa, terlalu berlebihan buatku." Ucap Luna dengan mata yang mengamati benda pipihnya.
" Oh, baterainya drop." Jawab Luna santai.
Desta heran dengan pasangan yang baru menikah kemarin ini. Sisi lainnya sangat tenang dan santai. Tapi satu sisinya selalu tergesa-gesa, tegang dan amukan. Luna selalu santai dan tenang, sedang di Agus selalu ingin semuanya serba perfect dan cepat.
" Mbak, kok malah santai santai sih. Tuan muda Agus Dermawan ingin anda segera ke kantornya dengan membawa kopi pesanannya." Kata Desta dengan sedikit gemas dengan sikap santai Luna.
" Oh, aku buatkan kopinya. Kakak bisa bawa sekalian ke kantor kan?" Luna mulai meracik kopi.
" Apalagi sekarang, aku sedang sibuk-sibuknya. Apa dia tidak bisa melangkahkan kakinya kemari?" Gumam Luna yang terlihat kesal dan bersiap menata kopi untuk di bawa ke kantor suaminya.
Sesampainya di kantor, resepsionis sudah mengenal baik Luna tetapi justru mengajak Luna berjalan memutar dengan alasan lift yang rusak.
" Mbak Luna, kita lewat tangga darurat saja. Lift sedang dalam perbaikan." Kata Lena dengan sopan.
'Bisa perang dunia jika Mbak Luna masuk ke ruangan Bapak Agus sekarang disana masih ada Nina. Wanita arogan itu sungguh tidak tahu malu. Berapa kali Bapak menyeret paksa dia menggunakan satpam. Tapi tetap saja, lagi dan lagi dia kembali ke sini.' Batin Lena sembari mengantar Luna berjalan menaiki lantai kantor Agus.
" Masih lama ya?" Luna terlihat sedikit lelah dan berkeringat setelah menaiki 5 satu lantai.
" Tinggal satu lantai lagi Mbak." Kata Lena dengan menggandeng lengan Luna.
" Mbak, memang benar gosip itu ya? jika Mbak dan Bapak Agus memiliki hubungan lebih?" Tanya Lena yang memang penasaran dengan perkembangan berita kedekatan Luna dan Agus yang setiap hari masih menghiasi layar kaca.
" Hem, iya." Jawab Luna dengan malu malu.
" Wah, berita baik dong. Aku ikut bahagia ya Mbak. Semoga langgeng sampai pernikahan. Aku lebih suka pak Agus dengan anda dari pada dengan Nina." Celetuk Lena yang kelepasan.
" Nina? Siapa Nina?" Luna menghentikan langkahnya.
" Em, bukan siapa-siapa Mbak. Ini kita sudah sampai di ruangan Bapak. Sekali lagi selamat ya Mbak." Lena menjabat tangan Luna dengan senangnya.
Lena segera kabur sebelum Luna sempat menanyainya perihal Nina. Kepala Luna masih terngiang ngiang dengan nama Nina. Karena sibuk memikirkan nama Nina, Luna sampai lupa mengetuk pintu dan pemandangan yang menyakitkan hati itu terpampang nyata di depan matanya.
Agus yang berbaring di bawah dengan seorang wanita yang menungganginya berada diatasnya dengan baju yang sedikit terbuka memperlihatkan separuh gundukan kembarnya. Luna sangat terkejut hingga tanpa sadar meneteskan air mata.
" Ma, maaf Pak. Saya hanya ingin mengantarkan kopi pesanan Bapak." Ucap Luna yang kemudian meletakkan kopi di depan pintu dan kembali menutup pintu dengan cepat dan pergi meninggalkan ruangan Agus.
Luna menangis terisak meninggalkan ruangan Agus. Lena yang berada di resepsionis melihatnya lari dengan kesedihan dan terisak pilu. Lena tidak mengerti apa yang di lihat Luna hingga membuatnya terluka amat dalam.
Bodoh! aku sangat banyak berharap dengan dia. Ternyata dia sama saja dengan laki laki lain. Dia sama saja dengan Deri tidak ada bedanya. Harusnya aku sadar jika aku ini hanyalah istri di atas perjanjian. Aku hanyalah alat penunda sampai dia menemukan wanitanya. Aku sangat sakit, pernah aku sakit tapi tidak sesakit ini. Pernah aku hancur tapi tidak separah ini. Dan apalah aku, aku sudah menyerahkan semuanya kepada dia. Aku rasa wanita tadi adalah wanita yang di maksudnya, wanita yang dengan bebas bisa menjamah tubuhnya. Sedangkan aku? Aku hanyalah permainan untuknya. Batin Luna menjerit menangis pilu.
__ADS_1
****
Brugh!
Agus mendorong tubuh Nina hingga terbentur cabinet book yang ada di belakangnya. Sikap Agus sungguh kasar kali ini. Nina sudah kelewatan.
Yang sebenarnya terjadi adalah.
Agus masih berdiri mengahadap ke jendela besar dan mengamati kafe Luna. Agus tersenyum senang saat melihat Desta yang berlari secepat kilat menuruti perintahnya. Tetapi saat tidak di duga itu datang, Nina datang setelah menunggu beberapa saat Desta pergi. Nina tau benar jika masih ada Desta, maka kemungkinannya untuk bisa masuk kedalam ruangan Agus adalah 0%.
Beberapa saat setelah Desta pergi, dan Lena juga tidak berada di tempatnya karena memang sedang dalam jam istirahat. Lena pergi memesan makanan di kantin karena tidak ingin meninggalkan meja kerjanya terlalu lama. Tetapi saat Lena kembali, sekelebat dia melihat Nina memasuki ruangan Agus tanpa permisi.
Dan, kegaduhan terdengar di sana seperti sebuah pertarungan sengit antar pria dan wanita yang memiliki hubungan. Suara mereka sampai keluar ruangan dan Lena bisa mendengarnya. Lena sengaja membuntuti dan menunggu di lorong lantai ruangan Agus. Dari sana terdengar jelas pertengkaran mereka.
" Lepaskan Nina, ini tidak sopan!" Kata Agus yang memberontak kuat karena Nina sudah menempel di punggungnya dengan erat.
" Kenapa aku harus melepaskan? Apa kamu sudah tidak menginginkan aku?" Kata Nina tak kalah kuat dengan suara Agus.
" Nin, aku bukan Agus yang dulu. Aku sudah tidak ingin lagi melihatmu." Kata Agus membentak kuat Nina.
" Aku tidak percaya." Jawab Nina dengan setengah berbisik dan meraba ************ Agus.
" Nin hentikan!" Agus beringsut dan memelintir tangan Nina.
" Auh...., sakit. Tenang Buddy aku hanya bercanda!" Kata Nina dengan menyunggingkan smirknya.
" Keluar dari ruanganku sekarang, keluar!" Teriak Agus mengusir Nina. Tentu saja Nina tidak akan pergi dengan semudah itu.
Nina mendorong Agus dan kemudian Agus jatuh merebah di sofa dan Nina dengan cepat menindih tubuh Agus lalu menurunkan bajunya Bagian atas sehingga tersaji pemandangan tidak senonoh yang di lihat oleh Luna.
Sebelum itu, Lena sebenarnya berinisiatif untuk memanggil satpam. Tetapi, belum semat bertemu satpam, Luna sudah datang terlebih dahulu membuat Lena kebingungan dan mengajaknya memutar menaiki tangga darurat dengan harapan Bossnya mampu mengusir Nina dengan sendirinya. Tapi semua meleset dari dugaan, justru di saat yang tidak semestinya Luna menyaksikan semuanya.
Wanita mana yang bisa tahan jika melihat suaminya di tunggangi wanita lain? Alasan apa yang mampu menyanggah semua yang jelas-jelas ada di depan mata?
****
" Minggir kamu!" Seru Agus dan mendorong Nina hingga terjatuh dari atas pinggangnya.
" Luna!" Seru Agus memanggil Luna dan berlari mengejar Luna.
" Kemana perginya luna?" Tanya Agus dengan panik kepada Lena dengan baju yang sudah berantakan akibat perbuatan Nina.
" Mbak Luna kesana tadi Pak. " Tunjuk Lena pada pintu keluar, Lena terheran mengamati penampilan Agus.
Ih, Pak boss habis ngapain sih sampai berantakan begitu. Lena berdecak heran.
Tak lama setelah Agus keluar, Nina juga keluar dari ruangan Agus sembari merapikan bajunya yang terbuka dan tak sengaja melihat Lena yang mengamatinya. Sontak saja Nina membentak Lena dengan keras.
" Apa kamu lihat lihat!" Bentak Nina dengan tatapan mata tajam dan kemudian berjalan dengan angkuhnya.
Ih amit amit, ada orang titisan Dajjal seperti itu. Yang satu kalem, cantik, anggun. Yang satunya mirip titisan Dajjal. Dengus Lena kesal dengan sikap sombong dan angkuh Nina.
Agus berlari ke kafe Luna dan tidak di dapati ya Luna di sana. Evi mengatakan jika sedari tadi Luna belum juga pulang. Agus sangat kelabakan mencari Luna hingga Agus mencarinya ke apartemen lamanya namun tidak ada juga disana. Apartemen kosong, Agus pulang ke rumah, tetapi juga tidak ada Luna disana.
Ponsel Luna masih tertinggal di cafe dengan keadaan sedang di charge. Agus sangat panik, sampai malam tiba, Luna belum juga ada kabar ataupun pulang ke rumah.
Semarah itu dia sampai pergi tidak membawa apapun. Aku harus mencarinya kemana lagi? Semua tempat dimana biasanya dia berada sudah ku telusuri tetapi tidak da jejaknya sama sekali. Kemana sebenarnya kamu pergi? Agus merasa kehilangan dan cemas akan kepergian Luna yang tanpa kabar.
*****
" Hiks hiks hiks, bodohnya aku." Gumam Luna dalam tangisnya.
" Sekarang aku akan kemana? Aku benar benar muak melihat dia. Dikepalaku masih saja terbayang adegan menjijikkan mereka. Ini saatnya aku pergi. Kami menikah secara Agama, tapi belum sah secara hukum. Jika mau menuntut apa yang akan ku tuntut? Dan uang yang dia janjikan juga belum lunas. Hahahaha! Luna ! kamu hanya di manfaatkan, kamu hanya di bodohi! Sadarlah Luna, sadarlah! Bangun, mimipimu terlalu tinggi!" Luna bermonolog seorang diri di tepi jembatan yang menghubungkan dua daratan.
...~ bersambung ~...
__ADS_1