Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
EVI di kecup pak polisi


__ADS_3

" Bukan begitu By. Bukanya terlalu sibuk atau bagaimana, tetapi sinyal di sini sangat buruk akhir-akhir ini. Dan juga cuacanya buruk." Ujar Agus di ujung panggilan.


"A L A S A N!" jawab Luna yang masih kesal terhadap suaminya.


" Tidak tahukan kamu by, aku susah tidur karena kamu tidak ada dan juga tidak memberi kabar. Aku kangen By.." Lagi lagi Luna berbicara dengan nada manja.


" Hehehehe, istriku bucin sekali, hum?" Agus terkekeh geli juga senang dengan respon kerinduan dari sang istri. Itu tandanya Luna sangat mencintainya.


" Menyebalkan!" Ketus Luna.


" By, apa ada kabar terbaru dari pembibitanku?" Tanya Agus yang penasaran akan hasil dari perbuatannya.


" Belum, sih. Aku tidak merasa pusing atau mual mual. Selera makanku juga stabil." Sahut Luna.


" Tapi kenapa aku sering pusing di pagi hari dan juga mual ya? Tapi tidak sampai muntah sih. Hanya mual saja. Apalagi kalau bau bawang." Keluh Agus melalui video call.


" Hehehe jangan jangan kamu lagi ngidam."


" Kalau kamu tidak hamil lalu anak siapa yang bikin aku ngidam?" Celetuk Agus.


" Bayi gurita mungkin." Sahut Luna ngawur.


" Ish ga lucu." sahut Agus.


" Siapa tau bibirmu tercecer dan menetas sembarangan." Sindir Luna dengan bahasa yang syarat akan makna ejekan.


" Heh! Suamimu ini produk berkelas ya. Tidak semua wanita ku sebar benih! Benihku mahal." Kata Agus dengan sombongnya.


" Iya, iya sayangnku My Hubby." Kata Luna yang pasrah akan kesombongan suaminya.


"ehem!" Desta berdehem karena sedari tadi rupanya dia menunggu tuannya selesai melakukan panggilan video call dengan ponselnya.


" Eh, sudah sayang yang punya Ponsel sudah memberi kode." Cetus Luna yang sadar akan isyarat dari Agus.


" Hahahaha aku sampai lupa. Aku lanjut ke nomormu ya By." Sahut Agus yang kemudian mematikan panggilan.


" Sudah Bu? Apa ada yang bisa saya lakukan lagi?" Tanya Desta setelah menerima ponselnya.


" Sudah, sana kamu makan siang. Free dari saya karena telah meminjamkan ponselmu." Ucap Luna berbaik hati.


" Terimakasih, memang Nyonya muda yang terbaik dan tak pelit, ramah tamah dan juga cantik." Desta memuji Luna sebagai bentuk rasa terimakasih.


" Kamu puji aku lagi, bisa salto salto sambil melayang aku Des." Sahut Luna sambil terkekeh geli akan pujian dari Sekretaris suaminya.


*


*


*


*


" Kamu itu yang apa? Mendingan kamu pergi sekarang juga." Ketus Evi geram.


" Eh, apa begini sikap pelayan terhadap pelanggan? Kamu di ajarkan untuk bersikap profesional dan juga ramah kepada pembeli, bukan malah seperti ini." Balas Seorang lelaki.


" Pergi kamu pergi!"Teriak Evi mengusir pria tersebut.


" Aku pengunjung juga sekaligus pembeli. Atas dasar hak apa kamu mengusirku huh?" Cetus pria tersebut dengan mimik wajah menghina di setiap katanya.


" Aku yang bertanggung jawab untuk kenyamanan para pelanggan yang ada disini, dan kamu, kamu hanya memancing keributan di sini."

__ADS_1


" Memancing keributan, siapa?Aku?"Ketus lelaki itu sembari menunjuk hidungnya sendiri lalu terkekeh semaunya.


" Kamu, kamu yang membuat keributan di sini. Karena ada kamu di sini aku jadi muak. Aku kembali teringat akan kebodohanku di masa lalu karena memilih wanita burik seperti kamu."


"Cih, dan sekarang kamu sok mengusirku dari resto ini? Siapa kamu, huh?"


"Aku yakin semenjak aku membuangmu tidak ada satu laki-laki pun yang mau memungutmu. Karena kamu itu hanya sebutir pasir dan juga dungu!"


"Kamu itu Jelek! To**l! dan juga dungu!" Oceh si pria yang berdiri di hadapan Evi dengan memakai seragam kerja yang terlihat sangat modis dan bergaya.


Mendengar ribut ribut dari luar, Luna langsung bergegas mengecek keadaan. Luna tidak mengharapkan hal buruk terjadi.


" Ada apa?"Tanya Luna yang berdiri di sebelah Evi dan mengusap pundak bawahannya yang sudah menangis dan tertunduk setelah mendengar cemoohan dari pria yang dahulu pernah mengisi hatinya.


" Ada masalah apa anda sampai marahi pekerja saya?" Tanya Luna masih dengan nada bicara yang terdengar lembut.


" Dia tidak becus dalam melayani dan merespon pembeli. Saya tidak suka dengan pelayanannya."Tunjuk si pria tepat di wajah Evi.


" Tidak Mbak,bukan seperti itu. Aku, aku hanya sebatas menyapa saja tidak lebih.." Evi membela diri dengan mata yang sudah basah akan air mata. Perkataan si pria yang menghinanya membuat hatinya teriris.


" Jangan sok kenal dan berani beraninya menyapaku. Aku tidak Sudi untuk mengenalmu lagi." Ketus si pria itu.


" Hei!"


BRAK!! Luna menggebrak meja dengan tatapan matanya yang tajam menyorot langsung ke si pria arogant itu.


"Jaga bicaramu ya, jika ada masalah pribadi dengan dia selesaikan di luar jangan membuat onar di sini." Bentak Luna dengan emosi.


" Hahaha, siapa kamu berani mengusir pelanggan sepertiku? Mana yang punya resto, akan aku adukan kalian."Si pria menggertak.


"Adukan saja sepuasmu karena aku sudah di sini. Aku yang punya resto ini. Mau apa kamu?" Seru Luna yang kini semakin emosi dibuatnya.


" Hei dengar, di manapun kita bertemu jangan lagi sok sokan kenal atau menyapaku. Aku jijik mendengar suaramu." Ucapanya seraya menunjuk lagi wajah Evi yang tak berani menatapnya.


" Hei! Kamu, kamu Beno kan? Kamu supir Papa?" Celetuk Romy yang tiba-tiba menepuk pundak Beno dari belakang.


" Ada urusan apa kamu sampai membentak Pacarku? Ada andalah apa kamu dengan calon majikanmu?" Ucap Romy dengan santainya yang kemudian berdiri di sebelah kanan Evi karena di sebelah kirinya ada Luna yang masih mengusap lembut punggung Evi yang menangis tersengal-sengal.


Banyak mata yang memperhatikan mereka. Luna kemudian mendudukkan Evi di salah satu meja makan.


" Eh! Kamu!"Seru Luna memanggil Beno yang masih berdiri mematung setelah melihat Romy di depannya.


" Kemari dan duduklah, selesaikan masalah kalian bertiga di meja ini. Jangan buat keributan, kamu taukan anak majikanmu itu seorang polisi berpangkat?" Ujar Luna yang sengaja menyindir dan menyadarkan Beno akan posisinya yang sebenarnya.


Senyum tipis kemenangan tersungging di ujung bibir Luna saat melewati Beno. Lebih tepatnya senyum menghina.


" Ayo Beno kita selesaikan."Ucap Romy menyunggingkan senyum sejuta makna.


Romy menarik bangku dan duduk di sebelah Evi. Jantung Evi berdegup tak beraturan berharap apa yang terjadi hanyalah bunga tidur.


Dengan serta-merta Romy datang bak pahlawan dan mengaku sebagai pacarnya. Apa ini? Evi seharusnya bahagia, tapi tidak Evi justru merasakan takut yang berkali-kali lipat. Dia takut akan di buang dan di campakkan lagi oleh pria.


Namun dalam kondisinya saat ini Evi hanya bisa pasrah mengikuti permainan yang di pimpin oleh Romy.


" Kamu tidak apa-apa sayang?" Romy menunduk mensejajarkan wajahnya dengan Evi yang masih menunduk.


"..." Evi hanya menggeleng dalam Isak tangis.


" Beno! ada hubungan apa kamu dengan pacarku di masa lalu?" Tanya Romy tegas, suaranya menunjukkan kemarahan.


Beno sangat ketakutan, keringat dingin mengucur begitu saja. Dia sadar dia hanyalah seorang sopir dari Ayah Romy. Romy sering memergoki mobil ayahnya membawa perempuan, tapi setelah di telisik secara mendalam ternyata itu adalah ulah Beno yang mengaku mobil keluarga Dirga Mahendra adalah mobilnya. Ternyata mantan kekasih dari Evi hanyalah berpura-pura kaya.

__ADS_1


" Maafkan saya Mas, dia dahulunya adalah mantan saya." Jawab Beno dengan jujur meski lehernya terasa tercekik saat berucap mantan.


" Benarkah itu sayang? Dia adalah mantanmu?" Telisik Romy yang seolah dia adalah pacar sungguhan yang tengah cemburu.


" Iya, Mas, tapi itu dulu. Dan kami tidak pernah berkomunikasi lagi setelah 3 tahun yang lalu." Jawab Evi yang jujur tetapi tetap mengikuti alur.


" Baiklah, aku hargai kejujuran darimu sayang." Ucap Romy.


Aku bahagia Tuhan meski ini hanya pura-pura tapi dia pernah memanggilku sayang dari mulut manisnya. Aku bersyukur padamu Tuhan telah membantuku hari ini.


" Dan Beno, mulai saat ini kamu tidak usah lagi menjadi sopir di keluarga kami. Sudah cukup kamu membuat malu keluarga kami dengan memasukkan wanita ke mobil ayahku setiap hari. Mereka pikir ayahku hidung belang, tetapi ternyata itu kamu." Ucap Romy tanpa nada tinggi dengan pandangan yang fokus pada ponselnya.


"Maaf, Maafkan saya Mas. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Saya mohon, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini." Beno memohon sampai melipat kedua tangannya.


"Terlambat! Video pengintaian ku tentang kelakuan busukmu sudah ku kirim pada Papa." Ucap Romy tegas. Dan,memang benar Romy baru saja mengirimkan bukti akan tindakan Beno yang mencoreng nama keluarga Dirga Mahendra.


" Sa..." Evi akan berbicara tetapi ragu untuk melanjutkan ucapannya seolah meminta ijin kepada Romy untuk melanjutkan ucapannya.


Romy mengangguk dengan senyum manis berhiaskan lesung pipinya.


" Sayang, jangan pecat dia. Kasihan keluarganya di kampung." Ucap Evi memelas.


" Tidak!Dia sudah membentak,arahi, dan merndahkanmu PACARKU di hadapan banyak orang dan juga Dia sudah mencoreng nama keluarga ku Sayang. "


" Dan kamu, apa kamu sengaja mempertahankan dia untuk terus bekerja di keluargaku supaya kalian bisa lebih sering bertemu lagi? Apakah kamu ingin terus membuatku terbakar cemburu?" Kata Romy yang sudah mirip aktor yang jago acting.


" Ti... tidak bukan itu maksudku."Ucap Evi diantara senang dan sedih.


"Maafkan saya tuan!" Sela Beno memohon.


" Diam! Apa kamu tuli?aku sedang berbicara dengan pacarku." Bentak Romy yang mulai memainkan kekuasaannya.


" Percayalah padaku hum, jangan cemaskan hal tidak berguna. Tersenyumlah, aku sedih melihatmu menangis." Romy mengusap bulir air mata Evi yang tersisa.


"...." Tidak ada pilihan, Evi tidak jago berakting dia hanya pasrah dan mengangguk.


CUP!


Satu kecupan mendarat di kening Evi setelah dirinya tersenyum. Mata mereka saling bertemu dan memancarkan binar kebahagiaan.


Entah palsu atau bukan tetapi sudah terjadi dengan lancar dan sukses membuat Beno gemetaran akan nasib masa depannya yang hancur.


Kira-kira pas nyium Evi, Romy deg degan ga ya?


*


*


*


Malam hari.


Luna tengah memeriksa pekerjaan para pegawai yang tengah beres beres dan bersiap pulang.


" Ehem! cie cie yang habis di kecup pak polisi." Ledek Luna dengan jahilnyadengan menaikkan kedua alisnya. ((


" Apasih Mbak!" Jawab Evi malu-malu.


" Seneng ya?Bahagia ya? Aku jodohkan saja ya kamu dan dia. Dia ganteng gitu, baik lagi. Mau ya... Ya... ya...." Luna senang sekali menjahili Evi.


Luna tau saat ini hati Evi sudah seperti taman bunga tulip yang indah dan berwarna warni. Evi bahkan tersenyum senyum sendiri saat sedang bekerja.

__ADS_1


__ADS_2