Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Demam tinggi


__ADS_3

Luna berjalan tertatih dengan kaki yang terangkat sebelah. Mimik wajahnya menunjukkan ketidak nyamanan dengan suara rintihan yang tertahan. Agus ingin menggendong Luna di punggung, tetapi Luna bersikeras menolaknya.


" Aku gendong ya?" Kata Agus dengan tatapan penuh penyesalan.


" Tidak!" Jawab Luna terdengar marah.


" Masih marah?" Tanya Agus yang benar-benar tidak enak hati.


"...." Luna terdiam lalu membuang pandangan dan berdiri menatap hamparan pasir yang harus di laluinya.


Sudah mirip seperti berada di tengah gurun pasir yang panas dan membakar, kau yang membentang terlihat seperti oase yang menyejukkan. Agus mengerti mengapa Luna terdiam berdiri dan menatap hamparan pasir. Tentu susah baginya untuk melewati hamparan pasir karena keseimbangannya akan hilang dan lukanya tidak boleh kotor apalagi terkena pasir.


" Kita naik kursi roda saja ya?" Kata Agus memberi saran.


Luna mengerutkan alisnya karena menganggap ide Agus sungguh gila. Percuma menaiki kursi roda di tengah hamparan pasir, tentu saja rodanya akan amblas begitu saja. Luna tersenyum sendiri mendengar usulan Agus. Tampaknya akan sedikit ada hiburan jika Luna mengiyakan usul Agus.


Luna menganggukkan kepalanya, pertanda dia menyetujui ide Agus. Dengan segera Agus berlari menuju ke klinik dokter untuk meminjam kursi roda. Angan angan Luna sudah bersafari ria mengerjai Agus di tengah hari yang terik. Luna terkekeh senang dan tertawa seorang diri. Rasanya jika ada yang melihatnya, sudah dapat di pastikan, Luna akan di sebut dengan orang gila.


Agus kembali berlari tanpa membawa kursi roda, tetapi malah membawa sebuah kain sarung yang di belinya dari toko baju. Luna menatap heran dan tidak mengerti akan apa yang ada di dalam kepala Agus saat ini.


Pupus sudah harapan Luna untuk mengerjai Agus. Kini malah dirinya yang sudah membayangkan dirinya sendiri di dudukkan di atas kain sarung sambil di tarik oleh Agus dengan pantat yang akan hangus terbakar panas dari pasir yang saling bergesekan.


" Ayo, kamu naik ini saja biar aku tarik." Ucap Agus dengan idenya.


Tidak melenceng dari bayangan. Apa yang di pikirkan Luna sepertinya di dengar oleh Agus dengan baik.


" Tidak mau!" Tolak Luna yang masih kekeh berdiri dengan satu kaki.


" Terus maunya apa? Jangan bikin aku merasa bersalah seperti ini dong!" Agus mulai frustasi.


Tidak ada cara yang lebih elegan selain dengan di gendong. Dengan terpaksa Luna mau di gendong oleh Agus. " Gendong aku saja." Ucap Luna dengan wajah tertekuk lesu.

__ADS_1


" Apa?" Tanya Agus sambil mengipas wajahnya dengan tangannya.


" Gendong aku." Rengek Luna dengan polosnya.


" Oke, ayo naik!" Agus segera berjongkok dan bersiap menggendong Luna.


Dari balik pepohonan, sudah ada beberapa lensa kamera yang mengabadikan momen tersebut. Agus merasa nyaman ketika menggendong Luna, ini kali pertama kontak fisik terjadi diantara mereka. Jantung Luna yang berdegup kencang terasa di punggung Agus. Agus tersipu merasakannya sebab, kedua gundukan Luna yang sintal juga ikut merapat dan menekan halus punggung Agus membuat efek khusus yang banyak di sukai kaum lelaki.


Agus, tahan Agus. Jangan di sini! Ucap Agus pada otaknya agar tidak merespon sentuhan dengan berlebihan.


" Maaf ya. Karena aku kamu jadi seperti ini." Ucap Agus dengan tulus.


" Iya, aku maafkan." Jawab Luna.


" Eh, semudah itu?" Agus tidak percaya.


" Hem." Jawab Luna singkat dan lemah.


Sesampainya di penginapan, lebih tepatnya di bilik yang di sewa Luna. Agus dengan perlahan menidurkan Luna dengan hati hati. Tanpa sengaja Agus melihat kancing baju Luna yang terlepas, mungkin akibat tergesek punggungnya. Tonjolan itu sintal dan indah di balik balutan kain putih kemeja yang menerawang. Tapi bukan itu, mata Agus tertuju kepada sebuah kalung dengan bandul setengah lingkaran.


" Kalung ini? Punyaku? kita sama?" Agus berdecak heran melihat kalung yang juga di milikinya tetapi di simpan di suatu tempat.


Agus lantas duduk terdiam di tepian ranjang Luna dan terus saja mengamati wajah Luna.


Apa mungkin dia gadis kecil itu? Tapi, jika memang dia gadis kecil itu. Seharusnya dia punya luka jahitan di atas pinggangnya. Lalu kalau dia memang gadis kecilku. Bagaimana gadis di dalam mimpiku? Agus membatu dengan bimbang memikirkan kedua wanita yang ada di kepalanya saat ini.


*****


"Neng, ini di minum obatnya." BI Lilis membangunkan Luna yang sedari siang masih terlelap.


Sedangkan Agus kembali ke resort untuk mengurus beberapa urusan dengan Leo, rekan bisnis sekaligus sahabat lamanya.

__ADS_1


" Neng!" Seru BI Lilis.


" eung?" Luna mulai membuka mata perlahan.


" Minum dulu obatnya biar tidak demam. Kata dokter kalau sudah 4 jam harus minum obat lagi." Ucap bi Lilis mengulang nasihat dokter.


" Iya Bi." Luna meminum obat dan kembali tidur.


Malam hari Agus kembali menjenguk Luna yang masih berbaring lelap di atas ranjang kecil. Agus membawakan makanan dan roti untuk Luna bila mungkin Luna kelaparan di tengah malam. Agus ingat tadi pagi Luna belum sempat makan apapun hingga siang hari dan sampai malam Luna masih terlelap.


BI Lilis sudah menyediakan makanan, tetapi Luna belum menyentuhnya. Terlihat dari wadah yang belum bergeser dari tempatnya. Agus hanya menggeleng dan melepas jasnya kemudian menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku.


Masih begitu jelas dalam kepala Agus tentang kalung dan tanda luka jahitan di pinggang. Jika memang Luna adalah bayi perempuan yang pernah di gendongnya semasa kecil, maka Agus akan benar benar menikahinya. Lama Agus menatap Luna dalam diam, hingga akhirnya Agus mulai terlelap.


Beberapa saat berlalu, sayup sayup terdengar lirih rintihan Luna mengasuh sakit dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya. Agus beringsut dan terjaga, mata Agus membelalak melihat tubuh Luna yang sudah menggigil menarik selimut.


Agus ingat saat mengantarkan keponakannya yang sedang demam, dokter melarang sang anak di balut selimut. Dokter malah menyarankan untuk membuka selimut supaya tidak terjebak dalam suhu yang panas dan semakin panas. Kini Agus menerapkan ucapan dokter yang pernah di dengarnya.


"Jangan pakai selimut Na." Ucap Agus dengan lugas.


" Dingin," Rintih Luna.


Agus kemudian duduk di sebelah Luna, dengan tiba tiba Luna memeluknya seperti sedang mencari kehangatan dari tubuh Agus. Agus terdiam membeku tidak dapat menolak Luna. Otak dan anggota tubuh Agus mulai tidak kompak, otaknya menolak tetapi tangan dan kakinya justru bekerja sama menghangatkan tubuh Luna.


Desiran hebat terjadi dan membuat sesuatu di bawah sana menggeliat hebat. Agus sekuat mungkin menahannya, Agus tidak ingin menjadi bajingan yang memanfaatkan keadaan sulit seseorang demi kepuasan.


"Tubuhmu panas, tapi kamu merasa kedinginan." Gumam Agus sambil merapikan rambut Luna dan pipinya yang merasakan suhu panas dari kening Luna.


Apa yang akan dia lakukan jika tahu aku memeluknya erat seperti ini? Apa dia akan menghajarku? Atau bahkan melaporkan aku ke polisi atas kasus pelecehan seksual?Batin Agus sedikit khawatir akan nasibnya esok hari.


~ Bersambung ~

__ADS_1


__ADS_2