
" Sialnya aku, Pantas saja Desta selalu mengeluhkan sikap Bossnya. Ternyata dia mang menyebalkan. Auh.... a....ah... Sakit. Gatal, boleh di garuk tidak ya?" Luna bermonolog ingin menggaruk kakinya yang masih berbalut perban.
" Hemm, hah, lega enak sekali."Luna menggaruk kakinya dengan spatula kayu yang ada di dapur.
Terdengar suara deru mesin mobil Agus yang mulai memasuki garasi. Luna bergegas pura pura tidur karena tidak ingin Agus menyuruhnya lagi. Luna merasa lunglai seharian ini mungkin karena pengaruh obat.
" Bagus, lumayanlah tingkat kebersihannya." Agus memuji hasil pekerjaan Luna di taman belakang. Sekitaran bawah pohon itu kini terlihat bersih tidak ada lagi daun yang berguguran di sana.
" Masak, masak." Agus bermonolog dan mulai menggulung lengan bajunya untuk memulai masak.
Sudah seperti ibu ibu yang handal. Agus memasak sambil membersihkan dapur, juga menata barang barang belanjaan ke dalam kulkas. Kulkas kini sudah terisi penuh dengan stok makanan.
"Hem, sudah matang. Waktunya memanggil dia dan aku akan mandi. lalu tidur." Gumam Agus yang menata capcai udang dan tahu goreng buatannya.
" Na, makananmu ada di meja!" Seru Agus mengetuk pintu Luna.
" ..... " Luna diam tidak memberi jawaban.
Malas sekali pasti aku nanti yang di suruh beres beres lagi. Tapi aku sangat lapar. Batin Luna.
Grug...! Perut Luna berbunyi. Luna sangat lapar karena seharian ini dia hanya memakan mi instan buatan Agus. Luna berdecak kesal kenapa di saat seperti ini malah perutnya tidak bisa di ajak bekerja sama.
" Na! Aku tahu kamu belum tidur. Mau di makan atau aku buang saja ya?" Kata Agus .
" Iya, aku makan. Sabar, kakiku sakit." Kata Luna beralasan.
Kakinya sakit? Batin Agus mulai khawatir.
Agus masuk dengan tiba tiba dan dengan segera membantu Luna untuk bangun dan memakai tongkatnya. Agus terlihat sangat perhatian. Seperti lelaki yang sangat sayang kepada pacarnya.
" Masih sakit Na?" Agus cemas.
" Ya hanya sedikit susah jika untuk membungkuk kok. Kalau sudah dalam posisi berdiri tidak seberapa." Jawab Luna jujur dengan ekspresi yang memaksakan senyuman.
__ADS_1
Berarti sedari tadi dia bangkit dan membungkuk saat membersihkan daun daun kering sangat kesusahan dong. Wah, aku sangat menyesal Na. Maafkan aku. Batin Agus yang lagi lagi menyesali perbuatan bodohnya.
Iyalah Gus gitu sadar udah nyiksa anak orang sedari tadi. Agak sebel sih author dengan sikap Agus yang sok bossy. Tapi yah, memang karakter dia seperti ini. Para reader, sabar ya.
" Tidak apa apa kok aku baik baik saja." Luna mencoba bersikap ramah di hadapan Agus.
Agus memapah Luna dan mendudukkannya di kursi. Agus menunggui sampai Luna selesai makan. Luna heran mengapa sikap Agus berubah menjadi baik saat ini tetapi kadang kala menjadi sangat suka mengatur.
" Ayo di makan. Habiskan. Jangan lupa minum obatmu ya." Kata Agus yang terdengar sangat perhatian terhadap Luna.
" Em... iya." Luna tersenyum simpul merespon perlakuan Agus.
" Tidak usah di cuci piringnya Na. Sudah biar aku saja. Kamu cukup istirahat dan minum obatmu." Agus membantu Luna berdiri dengan sangat hati-hati.
" Kapan kata dokter Na perkiraan sembuhnya?" Agus terus saja melihat kaki Luna.
" Malam ini sudah boleh di buka perbannya. Em, apakah kamu punya sprei yang berwarna lain?" Tanya Luna.
" Kenapa memangnya?" Agus heran.
"Baik, akan ku ganti dengan warna yang lebih gelap. Bagaimana?" Ucap Agus menawarkan.
" Kamu bisa pasang sprei sendiri?" Tanya Luna yang terheran-heran tentang apa yang tidak bisa di lakukan oleh manusia satu ini.
" Itu sangat mudah, sedari kecil aku sudah mandiri Na. Apa apa aku kerjakan sendiri." Terang Agus sambil mengambil seprei yang tersimpan di dalam almari.
Dia sangat mandiri untuk golongan anak orang kaya. Dia bilang sedari kecil dia mandiri? Tapi kenapa? Biasanya anak orang kaya sangat manja dan apa apa menyuruh pembantu. Levan saja hampir tidak pernah mengganti spreinya kalau bukan aku yang menggantikan. Batin Luna yang justru memikirkan masa kecil Agus.
" Maaf merepotkan." Celetuk Luna sambil tersipu-sipu.
"Aku ingin tau, apa alasan yang menyebabkan anak orang kaya sepertimu ini pandai melakukan ini itu sendiri." Luna terduduk di tepi ranjang.
" Karena bagiku mengeluh itu tidak membantu sama sekali. Kecuali satu hal. Hanya menambah tingkat stress dan berat pekerjaan kita." Jawab Agus
__ADS_1
" em, iya sih kamu benar." Sahut Luna mengangguk.
" Makanya, kalau sudah sembuh nanti. Kalau aku menyuruh kamu untuk melakukan sesuatu tentang kerjasama kita, kamu tolong jangan banyak mengeluh ya. Karena itu tidak akan membantu sama sekali." Kata Agus menyeringai lebar.
" ya!" Sahut Luna malas berdebat. Luna tahu Bahakan walau berdebat pun, Agus akan dengan mudahnya membuat Luna menurut begitu saja.
" Kalau kamu pulang, tolong jangan lupa kunci pintunya ya. Aku sudah menyimpan satu kunci." Ucap Luna yang mulai menaikkan kakinya ke ranjang.
" Memang siapa yang mau pulang?" Agus berucap dengan suara datar.
"Kamu kan? Kita tidak akan dalam satu atap kan?" Luna memastikan.
" Siapa bilang? ini kan rumahku jadi ya suka suka akulah mau tinggal atau pergi." Jawab Agus dengan gampangnya.
" Serius kamu? Kita satu atap?"Luna melongo tidak percaya matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka.
" Biasa saja, kita hanya satu atap bukan satu ranjang." Agus mengatupkan mulut Luna dengan telunjuknya.
" Ih, kata pak ustad kalau laki laki dan perempuan berduaan maka yang ketiga adalah." Belum selesai Luna berbicara Agus langsung menyahutnya.
" Yang ke tiga Suga dan yang ke empat kucingmu. Sudah jangan terlalu banyak berkhayal. Badan tipis sepertimu bukanlah tipeku." Agus menghina fisik Luna yang terlalu ramping.
" Hei! aku tidak setipis itu ya... Em... ta... tapi .. ah pokoknya anu. Kita tidak boleh..." Luna menggumam dan mengurungkan perkataan yang hendak meluncur.
" Sudah, tidurlah. Kunci pintumu jika tidak ingin ada laki laki yang masuk dan tidur di sebelahmu." Agus meledek Luna.
Keluar dari kamar Luna Agus kemudian merapikan meja makan dan mencuci peralatan yang kotor.
...Aneh sekali dia jelas jelas sudah pernah berpacaran. tetapi, sepertinya dia sangat gugup membahas tentang satu atap. Apa benar katanya kalau dia masih tersegel rapi? Agus menggumam sembari mencuci piring. ...
Dengan was was dan memperhatikan sekelilingnya, Luna kemudian mengunci pintu dan memeriksa semua jendela kamarnya. Luna sangat takut jika apa yang dikatakan Agus akan menjadi nyata. Luna sangat berjaga jaga akan hali itu.
" Semoga kita bertemu, sayangku." Ucap Luna lirih sembari mencium gambar sketsa wajah yang hanya ada sepasang mata.
__ADS_1
~ Bersambung ~