
Tok
Tok
Tok
Suara seseorang memainkan jarinya di atas meja kerja. Mengetuk-ngetuk sebuah pena hingga menghasilkan suara. Dari tangannya menopang dagu, tatapannya kosong. Dia tengah tenggelam dalam pikirannya. Dialah Romy. Semenjak Luna menikah, runtuh sudah semua harapannya. Hatinya sakit dan terasa tercabik-cabik saat mengetahui kabar pernikahan Luna dari Ayahnya.
" Kenapa sih lu Rom? Ngelamun terus" Tanya Zain sahabat baik Romy sambil memberikan secangkir kopi hangat di meja Romy.
"Sedih gue Zen. Udah kecolongan" Keluh Romy sedih dengan menghembuskan nafas kasar dan menyisir rambutnya kebelakang dengan jari jemarinya.
" Lu kan polisi, ga susah lah kalau cuman kecolongan doang. Tangkep dong, palingan cuman barang-barang kecil doang yang ilang." Cibir Zain meremehkan keluhan sahabatnya.
"Kalau bisa gue tangkep, udah gue tangkep dan kurung dia di sini. Tapi sayang, dia sekarang sudah punya yang lain." Kata Romy menunjuk dadanya mengartikan jika ada yang hilang adalah salah satu bagian dari dalam dadanya.
" Uhuk! Uhuk!" Zain tersedak kopi yang di sesapnya sampai-sampai muncrat ke wajah Romy.
"ih, jorok!" Romy mendengus kesal mendapatkan semburan kopi dari Zain.
"Siapa yang disitu? Apa cewek yang?" Belum selesai berbicara, Romy sudah mengangguk. Mengiyakan kata kata Zain selanjutnya.
"Ya, cewek yang waktu malem dorong motor sama gue itu. Inget kan Lu?" Romy mengulas kembali kejadian lalu bersama Luna dia menaikkan satu alisnya dan menepuk paha Zain yang duduk di tepi meja kerjanya.
" Perjuangkan lah! Kita di didik untuk pantang menyerah." Jawab Zain enteng.
"Enak aja, dia udah merrid." Kata Romy yang terkesan berputus asa dan menghela nafas dalam.
" Hahaha, segala kemungkinan itu selalu ada bro! Kun fa yakun. Apa yang Dia mau pasti akan terjadi, tergantung seberapa besar kita percaya dan bersungguh-sungguh meminta." Ucap Zain yang ingin mengembalikan semangat sahabatnya.
"Benar dia udah menikah, tapi.... Dia masih bisa bercerai kan?" Kata Zain asal.
"Gila lu! Udah ah, males gue curhat sama Lu. Sesat mulu nasihat lu!" Protes Romy yang menyesali perbuatannya curhat kepada orang yang dianggap selalu meracuni pikiran ya dengan perkataan perkataan ngawur tetapi kadang bisa terjadi begitu saja tanpa di nyana.
"Sana lu Sana!" Seru Romy mengusir Zain sambil mendorong dorong tubuh Zain untuk pergi dari meja kerjanya.
__ADS_1
" Dih, ngusir gue? Gue doain lu selalu bucin tuh Ama cewe itu. Biar tau rasa lu. Gue bilang kemungkinan selalu ada, bukan berarti lu yang jadi pebinornya. Dasar! Ga usah cari cari gue, gue ngambek Ama lu!" Ketus Zain bersungut-sungut dengan wajah masam meninggalkan meja kerja sahabatnya.
"Dih, apaan. Ngambek bilang-bilang." Gumam Romy terkekeh kecil melihat sahabatnya merajuk.
" Bener juga sih kata si Zen. Kalau semua yang akan terjadi, yang tadinya tak mungkin, bisa jadi mungkin." Gumam Romy mengangguk-anggukan kepalanya dan tersenyum kecil kembali melihat monitor di depannya.
DI HOTEL
" By, bangun. Kerja, kerja!!!" Luna mengguncang tubuh Agus perlahan berusaha membangunkannya.
"Eung...," Sahut Agus membuka sebelah matanya. Rasa malas dan lemas membelenggunya setelah dua kali ronde bercinta di menangkannya. Luna mengaku kalah Hinga bisa klimaks 3-4 kali dalam satu kali permainan. Agus benar-benar berbangga hati karena terbukti mampu memuaskan istrinya hingga berkali-kali dalam satu kali putaran permainan.
" Berapa kali keluar By?"Agus menggoda Luna yang sudah terlihat cantik duduk didepan meja rias.
" Berkali-kali. Puas?" Tanya Luna balik. Luna merasa malu,tapi dia juga tak bisa memungkiri memang Suaminya sangat hebat dalam hal itu. Setiap centi dari kulitnya selalu mendapatkan haknya secara adil dan merata. Tak pernah di sangkanya selama ini, jika lelaki dingin itu sangat pandai menghangatkan ranjang hingga memanas.
" Kamulah yang puas, aku mah dua kali aja dua kali maen. Kamu?" Celetuk Agus membuat Luna tersipu hingga pipinya merona. Bukan tanpa alasan Agus berbicara seperti itu seolah menuntut pengakuan atas keperkasaan yang dimilikinya.
" Iya, sayangku iya. Kamu yang hebat. Aku sampai 7 kali klimaks. Oke? senang?" Luna menayakan kesenangan hati suaminya setelah pengakuan kepuasan itu meluncur dari mulutnya.
Agus terkekeh dengan sembari berjalan memasuki kamar mandi, bahkan dia sampai bersiul dan berhenti sesaat di depan meja rias hanya untuk sekedar menepuk-nepuk pucuk kepala Luna.
Luna hanya terdiam senang menerima perlakuan manja suaminya itu. Hatinya sangat berbunga-bunga kini. Wanita mana yang tak suka jika lelakinya sangat mencintainya? Perlakuan kecil yang manis terkadang lebih mampu mengeratkan suatu hubungan daripada pengorbanan besar yang hanya tersimpan di balik layar.
DI KOREA.
Udara semakin lembab dan panas. Tentu saja karena Negara yang memiliki 4 musim ini sudah memasuki musim panas dari bulan Juni hingga September. Rosa kebingungan sedari tadi dia hanya mondar mandir kesana kemari mencari kunci pintu.
Dia sangat kepanasan sekarang, terlihat pohon pohon bergoyang menandakan angin di luar yang lembab begitu kencang menghempas. Yang ada di benak Rosa adalah mungkin dengan duduk bersantai menikmati hembusan angin di bawah pohon dengan ditemani minuman dingin akan terasa sejuk. Bayangannya panas di Korea sama dengan di Indonesia.
" Levan.. Levan..." Panggil Rosa di depan pintu kamar Levan.
" Hem?" Sahut levan sekenanya karena malas Rosa menganggu tidur siangnya. Kamar Levan terasa begitu sejuk karena dia memasang suhu terendah. Levan tau jika panas di Korea itu sangat menyengat dan tak baik jika berada di luar rumah, sebab itu bisa menghanguskan kulit.
Tapi tidak dengan Rosa yang dengan polosnya malah berfikir sebaliknya. Jika panas ya neduh dan ngadem di bawah pohon seperti di Indonesia.
__ADS_1
" Ada apa?" Tanya Levan dengan malas membuka pintu.
" Kamu tahu kunci pintu?" Tanya Rosa.
" Tau lah."
" Mana?"Tanya Rosa lagi yang berharap levan akan menunjukkan kunci pintu yang di mintanya. Dengan matanya yang mencari cari di sekitar kamar Levan.
" Itu kunci pintu, itu juga, ini juga. Kamu kurang cairan ya? Kayaknya mulai blo'on." Jawab Levan yang terdengar mengejek tingkat kepandaian istrinya sambil menunjuk kunci-kunci pintu yang masih menggantung di beberapa pintu kamar.
" Ish," Rosa mendesis kesal mendengar jawaban dari Levan.
" Bukan kunci itu. Tapi kunci pintu depan, mana? Kamu tahu tidak?" Dengus Rosa kesal yang terlihat geregetan sampai tangannya ingin meremas manusia tampan yang ada di hadapannya saat ini.
" Ga!" Ketus Levan malas dan menutup pintu rapat di depan hidung Rosa.
" Hey! Yak!! Kalau hidungku bengkok bagaimana? Kamu mau tanggung jawab huh? Dasar supir sialan!" Geram Rosa mengamuk karena pintu itu nyaris menyentuh hidung mancungnya.
Levan kembali membuka pintu dengan segera dan meraih tengkuk Rosa lalu mengecup bibir yang bawel itu dengan kecupan manis.
" Sini aku tanggung jawab, Cup!" Ucap levan tanpa rasa bersalah mengecup bibir merah muda milik Rosa. Tidak menolak tapi tidak juga menerima, tapi Rosa hanya diam saja tak bergeming. Desiran hebat kembali mengalir di darahnya. Seperti ada banyak kupu-kupu yang menggelitik hatinya hingga pipinya bersemu merah.
" Yak! Kamu lancang ya, berani kamu sama aku mesum seperti ini. Dasar laki laki tidak bermoral. Akan aku adukan pada Mama atas kelakuan mesummu ini. Biar tahu rasa kamu di pecat. Oh ya, juga kakakmu. Biar tahu dia kalau adiknya sama sekali tidak berakhlak." Ketus Rosa lagi-lagi dengan terus mengomel.
Tapi yang terjadi malah,
"Adukan saja, aku yakin mereka akan senang atas tindakanku." Jawab levan dengan acuhnya seolah tidak menggubris ucapan Rosa dan kemudian berlanjut dengan ******* bibir Rosa dengan halus dan lembut hingga pagutan itu terasa manis meski tak mendapatkan balasan.
Ih, ayo dong lawan. Cakar, atau tendang ************ laki laki arogan ini. Kenapa tubuhku malah seolah suka? Aku malah ingin lagi dan lagi? Kenapa aku?
" Ish!" Rosa mendorong tubuh levan kuat hingga kepala levan terbentur daun pintu kamarnya.
Rosa lalu berlari kembali masuk kedalam kamarnya. Dia berdiri bersandar di daun pintu dan meremas dadanya. Jantungnya berdegup kencang seakan akan meloncat dari tempatnya. Pipinya merona dan suhu tubuhnya seakan naik secara tiba-tiba. Ada desiran hebat yang menghantarkan rasa bahagia, hingga tanpa sadar dia menyunggingkan senyum tipisnya.
" Ouh, bagaimana ini? Terasa panas disini?" Rosa mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahnya yang memanas.
__ADS_1
"Sial gara gara si supir itu!" Gerutu Rosa kesal yang kemudian memasang rendah suhu AC di kamarnya. Menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan menghela nafas berat dan kasar dan kemudian berusaha menutup mata untuk mengusir apa yang baru saja dilakukan oleh levan kepadanya.