
Gerimis turun semenjak seperempat malam dengan tenang dan gemercik air yang sayup sayup membawa ketenangan. Luna yang masih terlelap di dalam tidurnya kini tengah asik bermimpi bertemu dengan Parengan tampannya. Wajahnya berseri meski hanya di dalam mimpi, senyum manis dengan setia menghiasi.
Wajah Luna tampak tersipu memerah karena malu entah apa yang terjadi di dalam mimpinya tetapi Luna sangat menikmatinya. Disisi lain, Agus juga tengah merasakan hal yang sama. Bertemu dan bermanja dengan gadis impiannya.
Ciuman yang manis dan dalam menghiasi mimpi keduanya di tempat tidur yang berbeda.
Dering alarm telah berbunyi, menandakan waktu sudah berganti. Kini pagi telah tiba meski tanpa Sinaran mentari yang menghangatkan bumi karena gerimis belum jua pergi.
"Ah, sial basah!" Teriak Agus dengan kesalnya, satu tangannya menggerayangi celana pendek yang kini sudah basah.
"Kapan aku bisa bertemu denganmu, apa kamu tidak tau huh, hanya dengan memegang tanganmu di dalam mimpi aku bisa sangat bahagia. Dan semalam kamu dengan beraninya melu**t bibirku? Huh, aku menyerah. Sampai kapan kau akan terus menyiksaku seperti ini?" Seru Agus yang benar benar kesal akan kejadian yang hanya terjadi di dalam mimpi.
Di sisi lain. Luna masih tersipu sambil mengulang rasa yang dirasakan dalam mimpinya. Luna menggigit bibir bawahnya dengan senyum yang mengembang dengan indah. Wajahnya sungguh merona saat ini. Luna sungguh senang meski semua ini hanya terjadi di dalam mimpinya.
"Kenapa tidak secara nyata dan hallal saja sih Mas pangeran? Sampai kapan kamu akan membuatku menunggu?" Gumam Luna seorang diri dengan wajah yang merona.
"CANTIK! Ayo cepetan bangun, ini sudah siang. Sarapannya sudah siap di meja. Aku duluan ya!" Seru levan dari balik pintu kamar Luna.
Levan pagi ini bergegas pergi bahkan sebelum Luna bangun, entah apa yang akan di lakukannya di cafe sepagi ini.
"Na, gue makan semua ya nasi gorengnya." Seru Veni yang sudah terbangun dan kini tengah melihat hasil masakan Levan dimeja makan.
"Sisain gue Ven, dikit aja." Jawab Luna yang mulai membuka mata meski tidak rela.
Lena menuju ke meja makan dengan wajah yang berseri-seri. Veni hanya terperangah melihat senyum bahagia yang begitu merekah di wajah sahabatnya.
"Lu semalem mimipi apaan?" Tanya Veni yang penasaran dengan mimpi Luna semalam.
Pasalnya semalam Veni sampai susah tidur karena Luna mengigau di dalam mimpinya. Luna tertawa riang sambil meracau memanggil "SAYANG" Veni yang mencoba membangunkan Luna sama sekali tidak membuahkan hasil. Karena terganggu akhirnya Veni tidur di sofa.
"Ah, enggak." Luna menepisnya.
"Jujur aja, lu panggil Sayang, sayang, jangan aku belum siap. Gitu lu, ngigo lu. tau ga sih?" Celetuk Veni yang menatap Luna dengan serius.
Luna seketika menjadi salah tingkah dan bingung akan menjawab apa. Luna sendiri tidak tau apa yang dia ucapkan benar benar keluar dari alam mimpi atau tidak. Tatapan Veni sungguh mengintimidasi Luna saat ini, bahkan Luna tidak berani menggerakkan sendok di tangannya. Sedikit Luna melirik Veni lalu mulai memberanikan diri untuk menjawab.
"Gue, mimpi di cium Mas pangeran gue Ven. Tau ga lu, nyesel gue bangun kecepetan." Ujar Luna yang mengutarakan keinginannya untuk lebih lama bermimpi.
"Sinting lu, udah Nanti lu ikut gue." Kata Veni.
"Kemana?" Tanya Luna yang tidak tau maksud Veni.
"Ketempat ustadzah, gue kira lu di tempelin jin deh. Segala mimpi ketemu itu laki laki. Gue bayarin sekalian anterin lu ya, Di ruqyah. Mau ya?" Bujuk Veni yang khawatir akan keadaan Luna yang terlalu sering bermimpi bertemu dengan sosok laki laki yang sama di setiap mimpinya.
__ADS_1
"Enggak ah, enggak. Enak aja, lu kira gue kerasukan?" Ketus Luna jengkel.
*****
"Bang Levan, ngapain sih di deket tong sampah? Dari tadi, nyari apaan bang?" Tanya Evi yang mencurigai levan yang dari tadi mengais ngais tong sampah untuk mencari sesuatu.
"Ga Vi, sudah sana kamu kembali kerja. Aku lagi sibuk." Jawab levan yang terkesan mengacuhkan pertanyaan Evi.
Evi hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal dan melenggang pergi melanjutkan pekerjaannya. Evi tidak mengerti mengapa levan sedari datang hanya sibuk mengais tempat tempat kotor di sekitar cafe dan resto sambil membawa kotak kecil.
***
"Pagi tuan Agus Dermawan yang tampan dan rupawan!" Seru Desta yang menyapa Agus yang baru saja turun dari lantai atas kamarnya.
"Ngapain pagi pagi kesini, minta naik gaji? Sampek puji puji segala."Ketus Agus yang masih sibuk merapikan kancing lengan jasnya.
Hemm, mulutnya pedes bangey! Kuat kuatin Desta Ya Allah! Batin Desta dalam hati.
"Karena saya sudah sembuh dan siap untuk kembali beraktivitas, maka dari itu saya memutuskan un..."Ucapan Desta terpotong karena Agus pergi begitu saja tanpa menghiraukan.
Agus berjalan meninggalkan Desta dan kini sudah berdiri di depan pintu mobil menunggu Desta membukakan pintunya. Desta dengan segera berlari kecil mengejar ketertinggalan. Agus sudah kembali memasang wajah serius. Desta melaju dengan cepat menuju kantor. Tanpa sepatah katapun Agus menanyainya. Tatapan mata Agus yang tajam cukup membuat Desta mengerti jika saat ini tugasnya hanyalah diam.
Sesampainya di kantor semua karyawan sudah berada di posisi masing masing dan berpenampilan rapi serta menyapa Agus meski tidak mendapat jawaban. Agus langsung masuk begitu saja dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Kopinya sebentar lagi sampai Pak." Ucap Desta memberitahukan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" Seru Agus mempersilahkan karena mengira jika yang datang adalah pengantar kopi.
Agus begitu terkejut dan langsung memasang wajah tidak sukanya ketika melihat sesosok wanita berdiri dengan senyum manjanya. Agus seketika memasang wajah malas dan lesu dan mengeluarkan kartu kreditnya. Dilemparkannya kartu kredit ke meja dan tatapan Agus melengos menatap keluar jendela.
"Gesek sendiri, kamu butuh berapa." Ucap Agus dengan malas dan tidak rela.
"Ih, Kakak. Kalau adiknya yang cantik dan manis ini datang ya di sambut dong. Apa kek gitu." Keluh Rosa sambil mencibir kesal.
"Non, Maaf tapi sepertinya pak Boss sedang banyak pikiran. Kita keluar saja ya." Ucap Desta membujuk Rosa untuk segera meninggalkan ruangan karena mengerti akan raut wajah Agus yang benar benar malas dengan kehadiran Rosa.
Agus hanya diam dan menatap dingin Rosa. Tatapannya seolah mampu membekukan air panas yang baru mendidih. Desta menelan ludah perlahan melihat raut muka Bossnya.
__ADS_1
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" Seru Agus.
"Permisi pak, saya mau menghantarkan kopi." Ucap Levan dengan sopan.
Rosa seketika berjingkrak girang melihat kedatangan levan di kantor Kakaknya.Rosa benar benar senang saat ini, apa yang dirindukannya selama ini sekarang sudang ada di depan matanya. Rosa seketika memeluk Levan dengan senangnya.
"Sayang! Aku kangen." Seru Rosa memeluk erat tubuh levan di hadapan Agus dan Desta.
"Maaf, tapi saya tidak kenal anda." Kata Levan mengelak dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Rosa.
Sumpah ini perempuan malu maluin gue banget sih. Apaan sih, meluk meluk gue. Panggil panggil sayang lagi. Mana di kantor orang. Eh, apa dia kerja di sini? Batin Levan yang tidak suka akan perlakuan Rosa.
"Sayang, kita satu kampus loh! Aku Rosa gadis tercantik yang jadi rebutan di kampus tapi aku selalu jatuh cinta sama kamu aja sayang!" Ucap Rosa merajuk manja sambil terus mempererat pelukannya.
Agus merasa malu dengan tindakan adiknya itu.
"Lepasin! Jadi perempuan jangan gampangan! Dia aja ga kenal lu!" Agus menjewer telinga Rosa agar pergi menjauh dari Levan.
Suasana menjadi canggung dan levan memutuskan untuk segera pergi selagi asih ada kesempatan.
"Maaf saya permisi dulu Pak." Ucap Levan sambil menunduk.
"Iya, silahkan." Jawab Agus.
Agus memarahi Rosa seketika Levan beranjak pergi.
"Rosa, Kakak tidak suka ya kamu jadi pelakor. Laki laki tadi itu sudah punya pasangan." Ucap Agus menasehati Rosa.
"Pacar, maksud Kakak?" Ucap Rosa tidak percaya.
"Iya, Kakak tidak pernah mengajarkan kamu untuk merebut milik orang lain tanpa etika." Kata Agus.
"Tapi kak, Levan itu jomblo." Ucap Rosa mencoba menjelaskan akan status Levan.
"Tidak, pokoknya kamu jangan membantah Kakak. Sekarang pulang, Kakak banyak kerjaan." Ucap Agus.
"Terserahlah, aku cuma mau bilang. Mama ngajak Kakak makan malam besok. Oke! Harus datang, tidak ada alasan." Ucap Rosa sambil berlalu pergi.
__ADS_1
Aku harus kejar Levan, lama sekali aku menunggu kesempatan ini. Sudah lama aku tidak melihat wajahnya. Aku rindu Levan. Batin Rosa yang bergegas menyusul Levan.