Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Gaji mereka


__ADS_3

" Kamu masih marah?" Tanya Agus pada Luna yang sedari tadi hanya diam dan melipat tangannya ke dada, membuang pandangan keluar jendela dan enggan untuk melihat wajah Agus yang tengah mengemudi di sebelahnya.


" Tau ah gelap!" Sahut Luna yang sudah sangat malas menjawab pertanyaan Agus. Pasalnya apa yang di garapnya semua ada di dalam laptop dan belum sempat tersimpan. Juga termasuk gaji para pelayan cafe dan resto.


" Hem bau bau kebakar nih. Kamu bau ga By?" Agus melirik Luna.


" Ga!" Jawab Luna ketus.


" Eh, beneran loh By. Bau ini." Ulang Agus yang ingin meyakinkan Luna.


" Ga bau apa apa!" Sahut Luna ketus.


" Bau kebakar ini,"


" Apasih ga jelas!" Luna melirik Agus tapi terlihat jelas dari gerakan di wajah dan matanya jika dia berusaha untuk menajamkan penciuman dan mencari sesuatu.


" Bau kebakar, Katanya kan kalau istri durhaka tuh bakal jadi keraknya neraka kan?" Ucap Agus yang menyindir tindak kemarahan Luna yang berkepanjangan.


" Boleh kok, marah. Asal tidak lebih dari tiga hari. Dan ini baru dua jam. Masih kurang 70 jam lagi!" ketus Luna tanpa melihat Agus.


Ih, paham juga dia. 70 jam lagi? Mana bisa aku 70 jam tanpa menyentuh dia.


Dari mulai marah tadi jangankan nyentuh, lihat aku saja sudah males banget dia.


70 jam tanpa meluk dan cium dia?


Tanpa makan masakan dia?


Oh No!!! aku harus cari cara untuk merayunya dan membuat dia memaafkan aku.


" 70 Jam By? Serius lah By. Jangan begitu, cuman laptop aja. Nanti kita beli, 10!" Ujar Agus sambil menunjukkan 10 jarinya.


" By, bukan masalah barangnya atau jumlahnya. Tapi ini masalah apa yang ada di dalamnya kamu tahu?" Luna mulai angkat bicara dengan nada marah.


" Aku masih merekap absen mereka dan besok adalah waktunya mereka gajian. Tapi kamu malah, Ah ga tau lah!" Luna mendengus kesal.


" By, tinggal gaji sama rata aja sih cuma pelayan ini." Jawab Agus menggampangkan.


" Tidak bisa seperti itu dong By! Pekerjaan mereka dan absen mereka juga beda beda. Kamu pasti lebih pahamlah bagaimana cara menggaji tenaga kerja. Cafe dan resto ku itu hanya usaha kecil, penghasilannya harian dan fluktuatif. Jadi ga bisa main pukul rata." Kata Luna.


"Ya, aku paham. Maksud aku kasih mereka separuh gaji rata rata dulu. Sisanya setelah dokumen lengkap. Gitu aja kok repot!" Celetuk Agus dengan santainya. Tidak terlihat kekhawatiran di raut wajahnya.


Ya , sebenarnya bukan hal sulit bagi Agus Dermawan untuk mengatasi masalah sepele ini. Tapi bagi Luna ini adalah masalah besar dimana dengan separuh gaji, itu ternyata akan mengecewakan para pekerjanya.


" Kamu enak bisa ngomong gitu By. Tapi aku ga bisa!" Luna mulai berbicara dengan suara bergetar dan menangis tersedu.

__ADS_1


Agus hanya kebingungan dan menarik beberapa lembar tisu lalu memberikan kepada istrinya yang sudah menangis.


" Kamu ga pernah ngerasain gimana uang abis dan kita harus hidup dari kebaikan hati tetangga yang mau memberikan hutangan bahan bahan makanan?"


" Kamu ga pernah tahu bagaimana rasnaya di tagih si pemilik kontrakan saat benar benar tidak punya uang."


" Kamu ga pernah tahu rasanya malu yang luar biasa ketika kita sudah berjanji akan membayar hutang pada tanggal tertentu dan ternyata kita benar-benar tidak sepeser uang untuk di berikan?"


" Aku tahu rasanya itu By! dan sekarang karena secangkir teh akan banyak orang yang mungkin mereka akan merasakan hal menyakitkan itu." Luna menangis tersedu sambil berbicara.


" Gaji mereka memang tak banyak By hanya sebesar harga sandal jepit mu. Tetapi bagi mereka itu sudah cukup untuk makan satu bulan." Luna sangat kesal dengan sikap Agus yang dingin dan cenderung menggampangkan keadaan orang lain.


Derrt!


Derrt!


Ponsel Luna bergetar.


" Coba periksa." Ucap Agus datar dengan terus mengemudi.


Luna segera memeriksanya. Terlihat pesan masuk dan menyertakan sejumlah angka dengan jajaran nol tujuh digit di belakangnya.


" Apa ini By?" Luna menyeka air matanya.


" Ponsel kan?" Agus terlihat cuek seperti tidak melakukan apa apa padahal dia yang mentransfer uang kepada istrinya sebagai bentuk permintaan maaf. Hanya saja Agus tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan semua ini.


Agus mengulum senyum mendengar saat nada manja dari bibir Luna.


Aku memang tidak bisa banyak bicara yang muluk-muluk.


Tapi aku harap dengan uang itu, bisa membantu sedikit beban para pekerjamu Sayang.


Dan kamu tak lagi marah padaku.


" By, untuk apa ini?" Tanya Luna lagi yang sungguh tak mengerti akan maksud Suaminya.


" Kamu ga lihat itu ponsel? Atau kita mau periksa ke dokter mata sekarang juga? Kenapa kamu tidak tahu benda pipih apa yang kamu pegang sendiri." Kata Agus yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Ya aku tahu, tapi uang uang ini?" Luna lama kelamaan menjadi sangat gemas pada Agus dan itu terdengar dari nada bicaranya.


" Hemmh, males jelasin. Ada uang ya di pakailah buat nambahin rejeki mereka sedikit asalkan rata. Aku ga mau gara gara laptop rusak jadi ilang jatah kelonku aalm nanti." Celetuk Agus santai sambil melongok melihat lampu merah.


Duarrrr!!!!


Tak percaya, tapi itu terjadi!

__ADS_1


Yah, kira-kira begitulah. Agus Dermawan yang memang sesuai dengan namanya yang Dermawan.


" Kamu serius Sayang?" Tanya Luna memastikan dan bagaikan tersedot kedalam lubang hitam. Air mata Luna kini tak lagi menetes tapi hanya menyisakan binaran kebahagiaan.


" ...." Agus mengangguk tanpa melihat wajah Luna.


" Yeay....!!! Makasih sayangku, My Hubby Gummy. Love you! Muach...! Muach...!" Luna bersorak kegirangan dan langsung dengan reflek memeluk dan menciumi wajah Agus.


" By, Stop!" Agus meraup bibir Luna dan menghentikan aksi cium mencium itu.


" Kenapa? kamu ga mau? kamu mau aku marah lagi?" Desis Luna tanpa melepas pelukan eratnya kepada Agus meski terhalang seat belt yang sangat ketat menahan perutnya.


" Sadar kenapa? lihat kita di lampu merah. Semua melihat kita." Desis Agus yang kemudian menutup kaca mobilnya.


Krik....!


Krik....!


Situasi menjadi hening saat Luna tersadar jika memang kaca mobil masih terbuka. Dan itu berarti apa yang di lakukannya barusan sangat jelas terlihat tak berakhlak. Apalagi tepat di samping mobil Agus ada anak kecil yang di bonceng ibunya di depan.


Sang ibu sampai menutup mata anaknya dengan tangannya. Luna yang merasa sangat malu kemudian Menurunkan kursi temat duduknya sampai posisi badannya berbaring dan tak terlihat dari kaca.


Malu banget sumpah!


Udah mirip sama penjual begituan aku...!


Ampun ampun! malu banget sumpah!


Luna merutuki tindakanya dan menutup mukanya dengan totebag miliknya.


Sementara itu Agus hanya menahan ketawa atas tindakan Luna.


Sumpah, jadi gemush gini Aku By!


Padahal kamu udah ada credit card yang aku kasih,


Tapi tetep aja, lebih senang dan semangat kalau yang di gesek adalah credit card milikku. Agus menggeleng dan mobil melaju lagi membelah jalanan kota.



Mampir ke cerita yang baru ini ya, di jamin seru.


3 kisah cinta dalam satu cerita?


Dan mereka semua gemesin🥰🥰.

__ADS_1


Mampir ya sayang sayangku!


__ADS_2