Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Tertangkapnya Deri


__ADS_3

Luna berdiri menatap kalender yang tergantung di dinding Cafe. Terlihat lingkaran merah di tanggal yang berjarak satu Minggu dari hari ini. Matanya kembali meneteskan air mata, wajah Luna berubah sendu.


"Ibu, satu Minggu lagi adalah hari dimana kamu berpulang. Apakah Ayah masih mengingatmu? Apakah masih sering mendoakanmu?" Gumam Luna dalam tangisnya.


"Sore Kak, pesan apa?" Tanya Evi kepada pelanggan yang baru saja datang.


"Moccha latte dua ya." Ucap pelanggan tersebut.


Luna kembali dari belakang dan meraih kunci mobil yang ada di atas meja, sekelebat matanya melihat seseorang yang nampak tidak asing baginya. Luna mengangguk dan memberikan senyum tipisnya seolah menyapa orang tersebut.


"Baik, jawab Evi. Tunggu sebentar ya." Jawab Evi sembari membuatkan pesanan kopi tersebut.


"Vi, aku keluar sebentar ya. Nasi goreng dan kimbab tadi pagi sudah habis?" Tanya Luna kepada Evi perihal nasi goreng dan kimbab yang di bagikan secara geratis di hari Jumat pagi ini.


"Kimbabnya masih satu Mbak." Ucap Evi setelah mengecek satu bungkus kimbab masih berada di etalase.


"Ya sudah, nanti berikan kepada kak Desta ya. Dia salah satu pelanggan baik kita." Ucap Luna sambil merapikan rambutnya kemudian menepuk lembut pundak Evi dan berlalu pergi.


"Memangnya, dia selalu seperti itu ya setiap jumat?" Tanya pelanggan itu yang tidak lain adalah Agus.


"Iya Kak, selalu bersedekah makanan setiap Jumat pagi, mengunjungi makam ibunya setiap sore hari dan malamnya biasanya dia memberi sedikit rejeki kepada tuna wisma di sekitaran sini." Jawab Evi.


Ternyata, masih ada wanita berhati mulia di akhir jaman ini. Batin Agus sembari tersenyum tipis.


"Pak boss! Pak boss!" Seru Desta memanggil Agus sambil terengah engah karena sedari tadi berlari mencari Agus.


Agus hanya menoleh tanpa menjawab panggilan dari Desta.


"Saya cari kemana mana, ternyata ada di sini. Nona Rosa menangis di kantor. Saya tidak tau harus berbuat apa." Ucap Desta melaporkan kekacauan di dalam kantor.


"Sudah biarkan saja. Nanti kalau sudah puas menangis dia akan diam." Jawab Agus santai.


"Pak, tapi bapak tidak kasiahan dengan nona?" Tanya Desta yang mengkhawatirkan keadaan Rosa.


"Hem, biarkan sudah biarkan." Jawab Agus malas.


Agus terkesan malas merespon keadaan adiknya yang manja, Rosa setiap kali mendapat masalah maka Rosa akan selalu mendatangi Agus dan mengadukan semuanya. Tapi respon Agus tetaplah sama, cuek dan dan terkesan acuh tak acuh. Agus hanya ingin jika adiknya itu menjadi pribadi yang mandiri dan bisa bertindak dewasa.


"Ini kopinya dan ini untuk pak Desta." Ucap Evi sembari menaruh pesanan Agus di meja dan mempersilahkannya.


"Untuk saya?" Tanya Desta bingung.


"Iya, hari ini adalah Jumat berkah. Karena pembeli kami hari ini sedikit jadi kimbab ini masih tersedia sampai sore hari. Tapi tetap masih fresh kok pak." Ucap Evi menerangkan.


"Oh iya, Makasih ya." Jawab Desta dengan senyum yang mengembang.


Evi pergi setelah meletakkan kimbab di atas meja. Siapa sangka, Agus begitu saja meraihnya dan memakannya tanpa permisi. Desta hanya mampu melihatnya tanpa melarang, padahal Desta terlihat sangat ingin mencicipi kimbab buatan Luna itu.


"Enak." Kata Agus tanpa menawari Desta.


Puas memakan kimbab, Agus lalu mulai menyesap kopi. Agus terkekeh kecil melihat wajah Desta yang murung dan terlihat tidak rela dengan kimbab yang telah di makannya. Agus kemudian mengeluarkan uang seratus ribu dan meletakkannya dimeja.


"Ini, belilah kimbab yang lain." Ucap Agus dingin.


"Pak boss beneran?" Tanya Desta.


"Iya, tapi kalau kamu tidak mau ya aku tidak memaksa."Kata Agus yang mencoba menjahili Desta.

__ADS_1


"Ya mau lah pak." jawab Desta dengan cepat sembari menyambar uang seratus ribu itu.


Agus terkekeh geli dan kembali menikmati kopinya. Ekspresi lucu dari Desta mampu membuat Agus tertawa meski Agus menyembunyikannya.


****


"Assalamualaikum ibu." Ucap Luna menyapa almarhumah ibunya yang berada di dalam liang lahat.


Tidak ada bunga yang di tabur atau semacamnya, Luna selalu berharap jika ayahnya akan menengok makam sang ibu. Tetapi setelah menikah dengan Rima, Heru sama sekali belum pernah datang mengunjungi makam Lina. Hati Luna bagai teriris setiap kali mengingat kenyataan itu. Kali ini levan datang sedikit terlambat. Kini keduanya berada dia tas makam ibunya dan mendoakan mendiang ibu mereka.


Selesai dari makam, Luna kembali ke Cafe setelah sebelumnya menghantarkan levan kembali ke asrama kampus. Masih terngiang di kepala Luna ucapan Levan yang sepele namun membuat Luna bertanya tanya. Luna duduk termenung dibalik bangku kemudinya.


" Kak, segeralah menikah. Agar lebih ringan beban hidupmu. Aku tidak tega melihatmu memikul semuanya seorang diri." Ucap levan yang masih begitu jelas terngiang di telinga Luna.


"Dia benar, harusnya aku tidak lagi mengejar sesuatu yang tidak pasti di usiaku yang sudah matang ini. Tapi kenapa hatiku begitu terikat kepada sosok yang bahkan belum pernah aku jumpai." Ujar Luna bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Ah, sudahlah. apapun itu aku serahkan kepada yang maha kuasa. Kalaupun nanti levan yang akan menikah duluan, aku pun akan merelakannya." Gumam Luna sembari melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil.


Terlihat lampu cafe masih menyala dan Evi tengah sibuk melayani beberapa pembeli. Resto juga tidak kalah ramai, sepertinya malam ini Luna akan bekerja lembur.


Luna menghela nafas panjang seperti menghempas beban berat yang menindih dadanya. Bulat tekadnya untuk membahagiakan dan menjaga sang adik, sampai sampai tidak terfikir olehnya untuk menikmati waktu luang dan berhura hura.


Luna membantu Evi dan mereka benar-benar sibuk saat ini. Seseorang yang tidak di harapan kedatangannya datang dan berkunjung ke Cafe.


"Hai Lun!" Sapa Deri dengan santainya tanpa ada rasa malu.


"Hai" Jawab Luna singkat dengan acuhnya Luna kembali membereskan meja dan melayani beberapa pengunjung.


"Apa kabar?" Tanya Deri.


Deri mengikuti Luna tetapi di halangi oleh Evi. Evi juga paham betul bagaimana kisah Deri dan Luna. Evi juga ingat saat Deri dengan terang terangan membawa selingkuhannya ke cafe tempo hari. Entah apa yang ada di kepala Deri, tetapi sepertinya urat malunya benar benar putus.


Luna menyelinap dan berpindah ke resto. Di dalam resto hanya tersisa satu pembeli yaitu Agus yang tengah menyantap makan malamnya dengan santai. Luna langsung duduk di pojok ruangan yang tidak terlihat dari Cafe.


"Mbak Luna ngapain nyumput di situ?" Tanya Joko salah seorang pelayan resto.


"Sttt! Mas Joko jangan berisik. Sana kerja lagi." Ucap Luna memerintah mas Joko.


Agus hanya melirik dan kembali menyantap makanannya. Luna yang kesal, marah, dan muak tetapi tidak berani meluapkannya hanya bisa menahan diri dan mengambil nafas panjang sambil memejamkan mata dan mengatur nafas di pojokan.


Betapa terkejutnya Luna ketika terdengar suara seorang pria yang tidak asing memanggilnya dan duduk di sebelahnya sambil mengusap pipinya.


"Lun!" Seru Deri yang kini duduk di samping Luna.


"Awas, aku banyak pekerjaan." Kata Luna yang enggan untuk melayani Deri.


"Lun, duduk sebentar lah. Ada yang ingin aku bicarakan." Kata Dewi dengan nada memelas.


Sudah seperti makanan basi, selalu saja Deri melakukan trik yang sama terhadap Luna. Tetapi nampaknya tidak untuk hari ini, trik Deri sama sekali tidak berpengaruh terhadap Luna.


"Lepas, aku banyak pekerjaan. Aku juga tidak ada urusan lagi sama kamu." Ucap Luna yang mencoba melepaskan tangannya yang di genggam oleh Deri.


"Tidak! Bukankah kamu masih sangat mencintaiku?" Ucap Deri dengan penuh percaya diri.


"Lepas!" Luna meronta ingin melepaskan tangannya.


"Eh, kamu tuli?" Sahut Agus dari belakang Deri.

__ADS_1


Deri langsung menoleh dan menunjukkan raut wajah geram. Agus dengan santainya berjalan menghampiri Deri.


"Apa katamu?" Ucap Deri ingin Agus mengulang kata-kata yang sama.


"Benar rupanya kamu tuli. Lepas!" Agus melepaskan genggaman Deri.


Luna meringis kesakitan dan bersembunyi di balik badan Agus. Tangan dan lutut Luna sudah gemetar saat ini, jantungnya berdegup kencang dan semakin membuatnya lemas. Tanpa sadar, Luna memegang jas Agus bagian belakang tepat di pinggang.


"Oh, rupanya kamu sudah punya pacar baru. Pantas saja sedari tadi kamu menghindariku." Deri mencela Luna yang hanya terdiam di balik badan Agus.


" Iya memangnya kenapa? apa maslahnya denganmu?" Seru Agus yang tak kalah kuat.


"Cih, dasar wanita murahan. Baru putus beberapa hari kamu sudah dapat pengganti. Atau jangan-jangan kalian pasangan selingkuhan ya?" Ucap Deri yang terkesan merendahkan Agus dan Luna.


"Eh, jaga mulut busukmu itu ya. Bukanya kamu yang berselingkuh dengan Risna dan kamu juga yang telah membawa kabur uang tabungan beserta mobilku. Kini apa lagi? kamu tidak mampu membayar angsurannya atau kamu sudah menggelapkan mobil itu? Masalah apa lagi yang kamu bawa untukku?" Celetuk Luna yang sudah habis kesabarannya.


Luna yang sedari tadi diam dan enggan untuk mengulas lagi cerita pahit itu kini sudah menjadi lebih berani. Luna hanya tidak mau ada orang lain yang terseret kedalam masalahnya. Agus hanya terdiam mendengar semua ucapan Luna. Agus menjadi semakin bingung dimana memang Agus pernah melihat Luna bersama pria yang jauh lebih muda darinya bahkan tidur di satu atap yang sama. Agus benar benar tidak tau titik dari permasalahan mereka berdua.


Raut wajah Deri berubah menjadi merah padam saat ini. Tak seperti biasanya, Luna berani membalas ucapan Deri. Masih dengan meremas kuat jas hitam Agus di bagian pinggang, Luna berani menatap tajam Deri.


"Apalagi? huh? Apalagi sekarang? Dengar ya, aku bukan Luna yang dulu. Luna yang bodoh yang mudah kamu tipu." Luna membentak Deri.


"Lun, aku mohon kepadamu. Tolong cabut laporanmu itu. Aku mohon, aku tidak mau berakhir di penjara." Ucap Deri memohon kepada Luna.


"Apa? tidak akan! Sakit hatiku lebih dari apa yang akan kamu rasakan di dalam bui." Sahut Luna yang kini lebih berani.


"Aku mohon Lun!" Deri bersimpuh dan memohon kepada Luna.


"Tidak!" Jawab Luna keras.


Polisi datang dan langsung menyergap Deri, rupanya Evi melaporkan tentang keributan yang terjadi. Evi juga sudah muak dengan tingkah Deri, ternyata tanpa sepengetahuan Luna. Deri juga pernah berupaya melecehkan Evi di dapur saat bekerja.


"Ikut kamu sekarang, dan jelaskan semuanya di kantor polisi." Ucap seorang polisi yang sudah memborgol tangan Deri.


Agus hanya berdiri dan menyimak semua yang terjadi. Agus masih benar benar tidak mengerti tentang apa yang terjadi. Tangan Luna masih meremas kuat jas Agus kakinya gemetaran dan lututnya mulai lemas hingga akhirnya Luna terjatuh ke lantai. Agus yang panik lalu membantunya untuk kembali duduk di kursi. Dengan niatan membantu, Agus membersihkan lutut Luna yang kotor karena terjatuh di lantai. Agus terlihat begitu perhatian meski mereka belum mengenal satu sama lain.


Tatapan mereka bertemu pada satu garis yang sama saat Luna berusaha mengucap terimakasih kepada Agus.


"Makasih ya Em..." Kata kata Luna menggantung karena tidak tahu siapa nama pria Yanga da di depannya.


"Agus, panggil saja aku Agus." Jawab Agus yang kini berdiri sambil menepuk-nepuk tangannya yang kotor.


"Makasih Agus." Ucap Luna lirih dengan suara yang bergetar.


"Ini Mbak, minum dulu." Evi memberikan segelas air putih kepada Luna.


Luna menenggak air pemberian Evi dengan tangan yang masih bergetar.


"Mbak hebat, berani membalas Si Deri itu." Puji Evi.


"Hem, makasih. Bereskan cafe sekarang ya. kita tutup saja." Ucap Luna memberi perintah kepada Evi.


Agus masih saja berdiri mendampingi Luna seperti enggan untuk beranjak pergi. Luna mencoba untuk berdiri tetapi entah mengapa kakinya terlalu lemas untuk berjalan.


"Mau ku bantu?" Tanya Agus menawarkan bantuan sambil mengulurkan tangannya.


~ Bersambung ~

__ADS_1


__ADS_2