Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Berbohong sedikit.


__ADS_3

DI RESTO


" Pasti telat lagi, telat lagi. Udah deh kalau udah sama si tuan Agus pasti keleleran urusan kerjaan. Ini mana laporan bulanan numpuk." Keluh Evi yang menata banyaknya tumpukan nota belanja yang belum di cocokkan dengan catatan pengeluaran.


" Selamat sore! Selamat datang di resto kami!" Seru Evi menyambut seseorang yang baru saja datang.


Pintu di resto itu dilengkapi dengan sebuah lonceng yang menggantung di atasnya yang otomatis akan berbunyi jika ada pengunjung yang masuk.


" Pesan apa Mas?" Tanya Evi pada seorang pria berbadan tinggi lagi tegap dengan kaca mata hitamnya.


" Ayam bakar spesial." Jawabnya.


" Minumnya?"


"Es jeruk nipis aja." Jawabannya lagi tanpa melihat Evi dan sibuk memencet ponselnya.


Gila nih orang ganteng banget. Mak, jantungku dag dig dug Mak, tolongin ngapa mak? Ini aku udah serasa kayak lari estafet muterin lapangan. Batin Evi dalam kekagumannya menatap wajah tampan yang kharismatik luar biasa di hadapannya saat ini.


" Eh, mas. Mas bukannya polisi yang temenya mbak Luna itu kan ya?" Tanya Evi kepada Romy yang tampak tak asing baginya.


" Hem, iya. Kenapa?" Tanya Romy yang kini mulai mendongakkan kepalanya dan menatap Evi dibalik kacamata hitamnya.


" Enggak, tambah ganteng aja." Kata Evi spontan jujur dari lubuk hatinya.


" Eh, enggak enggak. Maaf Mas saya lancang. Salah ngomong saya tadi." Dengus Evi kesal dengan kebodohannya sendiri dan menepuk-nepuk bibirnya perlahan di hadapan Romy yang justru membuat Romy tertawa geli.



Ekspresi Romy kira kira saat melihat ada gadis bodoh di hadapannya Yang sedang menepuk-nepuk bibirnya karena salah berbicara.


"Udah biasa aja, emangnya fakta kan kau aku ganteng?" Celetuk Romy dengan entengnya sambil berlalu dari hadapan Evi Tyang tergelak tak percaya dengan kenarsisan Romy.


"What? ternyata dia manusia yang super PD." Gumam Evi tak percaya dengan matanya yang membulat.


Sore itu resto tak begitu ramai, karena cuaca sedang buruk, hujan deras masih saja membasahi bumi. Luna yang seolah di sekap oleh suaminya sendiri akhirnya berhasil meloloskan diri dengan berbagai umpan yang di berikan, seperti menuruti semua kemauan Agus dari makan hingga kecupan. Selesai dengan drama manja manjaan Luna kembali bergegas menuju cefe dengan membawa sebuah payung. Memang tidak begitu jauh karena cafe dan resto Luna memang berada di seberang jalan, berhadapan dengan kantor cabang sang suami, Agus Dermawan.


Romy duduk di dekat jendela, menikmati indah bunga yang asri yang sengaja di tanam di dekat jendela guna menambah keasrian dan juga keindahan resto.


" Mbak, lama sekali sih? itu lho udah numpuk semua." Kata Evi mengadu kepada Luna yang baru saja tiba.


" Iya maaf, biasa momonganku manjanya ga ketulungan. Tadinya aku ga boleh kerja. Tapi karena aku rayu ya akhirnya boleh, dengan satu syarat." Kata Luna yang kini tengah membaca buku laporan keuangan.


" Apa itu mbak? Pasti minta jatah dobel ya?" Tanya Evi penasaran.


" Enak aja! Dia itu cemburuan tahu. Aku ga boleh terjun langsung, tapi hanya boleh memantau aja dari kantor." Jawab Luna yang terlihat kesal dan duduk di dekat meja kasir dengan menghentakkan kakinya.

__ADS_1


" Kantor? emang mbak punya kantor? Orang biasaya juga setiap menggarap gaji dan pengeluaran kita bahas berdua. Udah kayak kerja kelompok." Racau Evi apa adanya.


" Nah makanya itu, setelah ini aku bakalan terus ada di kantornya dia. Dia kasih aku satu ruangan di lantai bawah kantornya. Katanya biar Deket dan ga banyak ketemu laki-laki." Jawab Luna dengan jujur tapi terlihat tidak sejalan dengan keputusan suaminya.


" Yah, bakalan ga bisa cuci mata dong. Padahal kan enak disini sering bisa liat yang bening. Apalagi pak polisi itu." Tunjuk Evi dengan dagunya mengarah ke tempat duduk Romy yang masih asik membaca buku.


" Astaga, kenapa ga bilang sih? kalau ada dia? Gila bisa mati aku. Suamiku paling cemburuan kalau sama dia." Desis Luna dengan menunjukkan wajah paniknya. Sepertinya Yang ada di kepalanya saat ini adalah kabur secepat mungkin sebelum Romy mengetahui keberadaannya dan mengajaknya berbincang ria. Ada sedikit sesat dihari Luna ketika harus menjaga jarak dengan Romy. Padahal menurut Luna, Romy adalah sosok yang humble dan bersahabat.


" Peffttt!! Mbak mbak suamimu itu alay!" Kata Evi asal.


Pletak!!


Evi mendapat sentilan keras dikepala.


" Jangan ngawur kalau ngatain suami saya ya. Dia ga alay, tapi lebay!" Celetuk Luna yang seolah lupa jika ada Romy di sana tapi Luna malah berbicara sedikit keras hingga Romy menoleh kearahnya.


" Hai Lun!" Seru Romy yang melihat keberadaan Luna di dekat meja kasir.


" Astaga, dia lihat aku. Gimana ini?" Luna bertanya pada Evi yang hanya di balas oleh Evi dengan mengangkat sedikit bahunya dan kembali berpura-pura menunduk membaca sesuatu padahal tidak ada apa apa diatas meja kecuali buku menu.


" Sial! kalau sampai rame atau suamiku tahu. Kamu aku potong gaji." Ucap Luna mengancam Evi dan berlalu menghampiri Romy.


" Oh, hai!!" Balas Luna dengan lambaian tangannya.


Krekkk!


DI KANTOR AGUS DERMAWAN.


" Pak, ini dokumen yang sudah di persiapkan. Tiga jam lagi kita harus ke Jepang, ada demo dari buruh pabrik disana pasalnya mereka meminta kejelasan akan gaji mereka yang mandeg dua bulan." Kata Desta dengan jelas.


" Apa?!" Agus berdiri dan menatap tajam Desta.


" Dua bulan? Tapi kenapa kamu bilangnya baru sekarang?" Tanya Agus yang nada Suaranya sudah kembali tenang.


" Maafkan saya, tapi saya tidak berani mengganggu bulan madu Bapak dan ibu." Jawab Desta dengan gugup. Sampai-sampai keringat dingin menyembul dari keningnya. Hatinya sudah merasa tak tenang.


Pasalnya meski Agus bicara perlahan dan tidak membentak dengan nada tinggi, tetapi ucapanya sangat tajam dan mampu membunuh sesorang hanya dengan sindiran halus.


" Ya, kamu tidak enak memberi tahu saya. Tapi kamu enak enak saja membuat saya rugi milyaran. Apa maksud kamu?" Ucap Agus yang bertanya tapi lebih tepatnya menyalahkan Desta.


Tuh kan bener ga meleset gue. Lagi-lagi kesalahan selalu di gue. Dia mah maha benar udah. Sabar sabar punya bos model begini. Desta mengelus dadanya.


" Maaf pak, saya yang salah karena terlambat memberi tahu Bapak. Harusnya saya lebih sigap dalam hal ini." Ucap Agus dengan tulus mengakui keterlambatan dalam menyampaikan informasi perusahaan.


" Hemh, maaf lagi maaf lagi. Apa nilai maaf kamu itu milyaran? Kalau iya ga apa apa, tapi kalau ga bernilai mending kamu diam." Ucap Agus dengan ketusnya tanpa melihat wajah Desta dan sibuk membaca dua patio yang menyala bersama di atas mejanya.

__ADS_1


" Iya pak, maafkan saya pak." Jawab Desta lagi.


" Kamu sudah mulai tuli? Tadi saya bilang, kalau maaf kamu ga ada nilainya, mending kamu diam. Terus kenapa banyak omong lagi?" Agus menggerakkan tangannya seperti mengusir dan menyuruh Desta keluar.


Desta yang paham lalu bergegas keluar sebelum kata-kata potong gaji terucap. Agus berbalik memutar kursinya menghadap ke resto milik sang istri, tapi dari ruangannya terlihat tirai bambu di resto itu sudah tertutup tapi tidak semuanya.


Tanpa menunggu lama, Agus langsung menelfon Luna.


,📲: "Ha... hallo, iya by ada apa?"


📱 : "Halo, itu kenapa tirai tertutup satu, kenapa?"


📲: " Oh, mungkin yang duduk disitu silau atau kepanasan." Bohong Luna menutupi yang sebenarnya karena takut akan kemarahan Agus.


📱: "Hem, kamu sedang apa?"


📲: " Aku lagi di belakang by mau ke toilet ada apa?" Bohong Luna lagi.


📱: " Ya sudah, sebenarnya aku kangen tapi sepertinya kamu sibuk. Ya sudah kalau sedang sibuk. Aku kira tirainya menutup karena kamu sedang berbincang dengan polisi itu." Celetuk Agus yang seolah tau.


Luna terdiam dan melotot menatap Romy yang tengah asik makan. Luna berdiri dan mengintip dari tirai yang tentu saja tetap tidak terlihat dari lantai kantor suaminya.


📲: " Ti... tidak By. Ya sudah aku mau bantu masak anak anak dulu." Kata Luna beralasan agar panggilan dari Agus segera terputus.


📱: "Iya, hati hati ya sayangku. Bye bye! Muach!"


📲 : " Muach! bye, love you hubby!!" Jawab Luna dan kemudian menutup panggilan dari Agus.


Maafkan aku by, aku cuman ga mau ada keributan. Dan lagi aku sama dia hanya berteman. Maafkan aku yang sedikit berbohong ini By. Pikir Luna di dalam lamunannya setelah berbicara dengan Agus.


" Mesranya pengantin baru." Ledek Romy meski kini hatinya seperti tersayat sembilu. Membuyarkan Luna dari jerat pikirannya sendiri.


" Hust, diem deh ga usah godain. Suamiku itu cemburuan banget tahu, apalagi kalau sama kamu." Celetuk Luna dengan wajah cemberutnya.


" Syukurlah kalau dia cemburu sama aku. Aku buat dia cemburu terus." Jawab Romy dengan entengnya sembari berseringai licik.


" Maksudnya?" Luna melongo tak percaya mendengar perkataan Romy.


" Biar cepet cerai. Hahaha, ku tunggu jandamu Lun." Ucap Romy yang terbilang tidak tau diri di hadapan Luna.


" ish, ga lucu bercandanya." Sahut Luna jengah dan melempar Romy dengan tisu yang bekas Luna pakai.


Bukannya di buang tapi Romy malah memasukkannya kedalam saku celananya.


" Ohhh, jorok. Buat apa coba tisu bekas ingus di simpan? Buang ga?" Desak Luna kepada Romy yang malah cengengesan.

__ADS_1


" Ga!" Jawab Romy sengaja meledek Luna.


__ADS_2