Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Kepulan asap putih


__ADS_3

Suasana pagi hari dengan matahari yang mulai meninggi sangat dinantikan oleh Luna. Dengan bertelanjang kaki Luna berjalan menyusuri pantai. Membawa beberapa peralatan masak dengan kompor portabel dan sebuah panci hasil meminjam dari BI Lilis, Luna berniat ingin membuat sarapan di bawah rimbun pohon bakau di tepi pantai.


Dekat dengan penginapan milik Bi LiLis, ada sebuah geladak kapal kecil yang lebih mirip dengan jembatan yang buntu. Tempat itu biasanya sering di pakai oleh mang Ujang untuk menikmati sejuk semilir angin pantai sambil merokok di sore hari sepulang dari menjual ikan di pelelangan ikan.


"Mau kemana neng?" Mang Ujang suami dari BI Lilis datang menghampiri dengan tergopoh-gopoh.


" Hayang buat sarapan di dudukan mamang eta. Meuni resep pisan mang abdi tingaleun." Jawab Luna dengan berbahasa campuran Sunda.


Ingin buat sarapan di tempat duduk mamang itu. Kelihatannya enak disana mang.Begitu kira kira artinya.


" Oh, sok atuh mangga. Selamat menikmati waeh atuh neng, Mamang pamit heula jeng bidal ke lapak." Jawab mang Ujang mempersilahkan dengan senang hati.


Oh, silahkan. Selamat menikmati saja neng. Mamang pamit dulu, mau berangkat ke lapak.Kurang lebih begitu maknanya.


" Awas tapi kakinya ya, banyak bulu babi kadang di bawah bawah situ. Semalam kan habis pasang tinggi. Terus sekarang surut jadi kadang ada yang suka nyangkut terus ga sengaja keinjak. Hati hati ya neng." Mang Ujang berpesan kepada Luna.


" Iya mang." Luna tersenyum manis sambil mengangguk.


****


"Desta!" Panggil Agus dengan nada tinggi.


"Desta!" Teriak Agus lagi.


" Sekali lagi aku panggil kamu tidak hadir. Habis gaji kamu bulan ini." Ancam Agus dengan tegas.


Desta yang sayup sayup mendengar namanya di panggil sekektika berlari menghampiri. Desta tahu benar jika Bossnya ini sangat suka mempermainkan gaji pegawai sebagai ancaman. Desta sampai terhuyung hitung kehilangan keseimbangan dan menabrak pintu kaca yang masih tertutup. Di kiranya kaca itu sudah bergeser dan terbuka, padahal masih tertutup rapat.


"Ada apa pak?" Jawab Desta meski dengan kepala yang benjol terantuk pintu.


" Ada tugas!" Jawab Agus sekenanya dan sambil menikmati kopi di pagi hari dengan pemandangan laut.


"A.. apa pak?" Tanya Desta dengan wajah polosnya.

__ADS_1


" Ini, kamu cari sosok wanita yang sama dengan yang ada di dalam gambar ini!" Agus memberikan sketsa gambar wajah wanita dengan senyum manisnya tanpa mata hidung dan juga telinga.


Desta sekektika mengelus dada dan tidak tahu lagi akan berkata apa kepada Bossnya. Dimana dia bisa temui manusia yang berwujud seperti itu? Mungkin ada di sebuah kamar mayat, korban mut****i dan itupun tanpa sebuah senyuman. Agus kembali menikmati kopinya tanpa melihat wajah bingung Desta yang mendapat tugas berat.


^^^Sabarlah Desta, semua ini demi kehidupan yang lebih baik. Batin Desta menyemangati diri sendiri.^^^


" Jawabnya ada di ujung langit. Kita kesana dengan seorang anak. Anaknya tampan dan juga pemeberani...... Sekarang berusaha melaksanakannya!" Desta bernyanyi lagu dragon ball dengan maksud memuji diri sendiri dan menyindir bahwa dimana dia temukan jawaban dari tugasnya kali ini kecuali di ujung langit?


"Des, kamu lihat asap putih itu?" Agus menunjuk kepulan asap yang berasal dari rimbun pohon bakau.


"Iya pak, kenapa?" Jawab Desta.


" Kenapa kenapa! Kamu kesana sekarang, kamu lihat itu kebakaran atau bukan. Saya tidak mau ada kejadian buruk disini." Omel Agus tiba tiba.


Padahal jika di lihat, kepulan asap putih itu cukup jauh dari resortnya. Dan juga asap itu hanya sedikit lebih sedikit dari asap yang di timbulkan dari pembakaran sampah.


" Saya tidak mau ada sesuatu yang mempengaruhi jumlah pengunjung di resort ini." Imbuh Agus dengan tegas.


Desta seketika berlari mengerjakan dua tugasnya yang entah bisa di selesaikan atau tidak. Sesampainya di hamparan pasir Desta masih melongok ke atas melihat apakah Agus masih mengawasinya atau tidak. Tetap pada tempatnya dan tidak bergeser, Agus justru menggerakkan kedua jarinya mengarah ke mata dengan artian dia mengawasi Desta.


" Sial, masih juga di pantau. Aku cuma mau jalan santai aja. Capek banget tau lari dari lantai 3 kesini. Huft!" Keluh Desta sambil menyeka keringat di dahinya, setelan jas semakin membuatnya berkeringat parah.


Mau tidak mau Desta harus mengerjakan perintah Bossnya, Desta lari tergesa-gesa menuju ke titik asap. Yang terlihat adalah seorang wanita dengan rambut tergerai dan bergerak seirama dengan tiupan angin pantai. Sesaat Desta mengelus dada dan bernafas lega.


"Untung bukan kebakaran. Boss saja yang berfikir berlebihan." Gerutu Desta sambil terus berjalan mendekat.


Luna menoleh karena mendengar langkah kaki Agus di pasir, Luna tertegun dan melongo untuk beberapa saat dan kemudian mulai bertanya kepada Desta " Kamu disini juga?"


"Oh, Mbak Luna! Wah, penolongku!" Ucap Desta yang terengah-engah kemudian melepas jasnya dan menjadikannya bantalan kepala.


Desta sungguh lelah dan berbaring di geladakan untuk meregangkan tubuhnya dan mengatur nafas kembali. Desta menatap awan dan mulai bernafas dengan lega. Luna hanya terdiam dan bingung dengan tingkah laku Desta.


"Kamu kenapa?" Tanya Luna yang takut terjadi sesuatu pada Desta.

__ADS_1


"Capek aku Mbak, Boss suruh aku lari kesini, periksa asap masakan Mbak. Dikiranya kebakaran." Terang Desta jujur.


" Ga mungkin lah kebakaran, banyak air gini." Sahut Luna sambil menggeleng.


" Lah iya juga ya?" Desta baru tersadar dari kebodohannya.


"Masak apa Mbak?" Tanya Desta yang penasaran sekaligus lapar.


" Baunya enak!" Puji Desta yang sebenarnya mengharapkan undangan makan.


Luna terkekeh melihat Desta, kebetulan Luna sedang membakar ikan kakap yang lumayan besar yang di belinya dari mang Ujang pagi ini. Ikannya masih segar dan juga besar, meski Luna hanya mengoleskan bumbu sederhana berupa lada bubuk dan bawang putih bubuk serta kecap manis, tapi aroma yang di hasilkan sungguh menggoda.


" Enak dong, aku yang masak." Jawab Luna yang lebih memuji diri sendiri.


Desta mencibirkan mulutnya dan berdecak remeh. " Ga jadi enak kalau ga nawarin aku." Celetuk Desta yang sangat menginginkan masakan Luna.


****


Lama Agus menanti kabar dari Desta, kepulan asap sudah memudar dan tak nampak lagi. Tapi justru Desta juga menghilang di bawah rimbun pohon bakau.Agus menghubungi nomor telepon seluler Desta, ponsel berdering di dalam kamar dan masih berada di atas nakas. Agus mendengus kesal dan berkacak pinggang. Kini dengan terpaksa Agus harus menyusul sekertaris pribadinya.


"Huft! jauh juga. Mana panas banget sih ini." Agus mengibaskan tangannya seperti layaknya kipas di depan wajahnya.


"Capek juga gue." Keluh Agus lagi.


"Ga ada ojek apa ya?" Agus melihat sekitar.


Mana ada ojek di pantai, sepertinya kepala Agus sedang dalam mode hemat daya. Sehingga mulai berhalusinasi di pagi hari. Walaupun belum meninggi, tetapi matahari kali ini mampu membakar kulit. Panasnya terik dan menyengat.


Luna dan Desta sedang bersiap untuk menyantap ikan bakar yang masih mengeluarkan asap. Aromanya tercium sangat mengundang nafsu makan. Agus berdiri dan berkacak pinggang tepat di belakang Luna dan Desta.


Agus hanya terdiam saat mendengarkan pembicaraan kedua orang tersebut. Meski ada rasa kesal sekaligus marah, Agus mencoba untuk bersikap tenang.


~ Bersambung ~

__ADS_1


__ADS_2