
Agus yang sengaja berdiri dengan tenang tanpa bersuara tengah merekam semua percakapan antara asisten dan partner kopinya.
"Bantu aku Mbak, untuk mencari sosok wanita ini." Ucap Desta sambil mencium daging ikan kakap yang baru saja matang.
Luna melihat wajah yang ada dalam seketsa dengan seksama dan kemudian menggeleng. " Selama aku hidup, sekali ini aku melihat gambar wajah jelek begini. Apa iya masih ada manusia yang bertahan hidup tanpa mata dan hidung?" Luna mengeluhkan gambar sketsa buatan Agus.
Agus yang mendengarkan komentar Luna hanya manggut manggut dengan menyunggingkan senyum yang penuh arti.
"Siapa yang menggambar ini?" Luna mulai penasaran.
"Pak Boss Mbak. Aku di suruh mencari wanita yang memiliki senyum seperti itu. Bisa gila kan aku Mbak mana ada? Tapi kalau aku tolak tugas ini, malah bisa mati aku." Celoteh Desta.
"Masa? Tapi sepertinya Bossmu baik dan berwibawa. Saat bersamaku dia baik." Jawab Luna dengan jujur.
Agus mengulum senyum dan bangga akan dirinya sendiri. Pujian dari bibir Luna sekektika mampu membuatnya terbang ke awan.
"Tapi kadang juga nyebelin sih. Hehehehe!" Luna tertawa kecil.
Bagaikan terhempas jauh kesasar Bumi. Setelah memuji, Luna menjatuhkan Agus begitu saja. Agus kembali menekuk wajahnya dan memasang wajah masam.
"Dia itu sesungguhnya sangat baik dan hangat Mbak." Sahut Desta seperti membela Agus.
Agus kembali ceria mendengar pujian sekertaris pribadinya.
"Tapi suka main potong gaji itu lho. Hemmh, ga ngerti aku. Apa apa dikit potong gaji." Keluh Desta.
Agus memasang wajah masam.
"Ya, tapikan semua ada sebab dan alasannya. Kita tidak pernah tau apa yang di pikulnya sendiri demi perusahaan dan karyawannya. Mungkin dengan prinsip dia yang seperti itu yang bisa membuat dia jadi sukses seperti sekarang?" Kata Luna yang terdengar sangat bijaksana.
Agus merapihkan jas dan dasinya serta memasang senyum manisnya dan bersiap untuk mendekat kepada Luna dan Desta yang tengah asik berbincang sambil menunggu ikan matang sempurna.
"Ya, walau tidak bisa di pungkiri, sifatnya kadang arogant. Seperti waktu itu, dia suruh aku panggil dia Pak atau Tuan karena tidak ingin wibawanya jatuh di hadapan karyawannya. Cih, seolah hanya dia saja CEO di bumi ini." Keluh Luna dengan emosional.
Agus yang mendengar ucapan Luna menjadi geram dan berdehem untuk membubarkan acara rumpi tersebut. Desta menoleh bersamaan dengan Luna, keduanya salinge melempar pandang dan menunduk seketika. Desta sangat ketakutan karena membicarakan kejelekan Bossnya di belakang. Luna yang ada di otaknya langsung mengarah pada pemutusan kontrak pesan antar kopi.
"Ehem!" Agus berdehem.
Luna dan Desta menoleh dan memutar badan bersamaan.
" Ba... Bapak?" Desta melongo terkejut hingga rahangnya bisa jatuh kalau tidak segera terkatup.
__ADS_1
" Pak?" Ucap Luna dengan gugup dan takut.
"Sudah gosipnya?" Tanya Agus datar tapi cukup menusuk.
Luna dan Desta keduanya saling melempar pandangan dan ketakutan.
"Coba lanjutkan lagi!" Pinta Agus dengan suara lembut tapi sangat menusuk.
Lihat saja, akan aku kerjai kalian berdua. Berani beraninya menggosipkan aku yang tidak tidak di belakangku. Kalian pikir aku ini sejahat itu? Tidak akan ku tunjukkan sesuatu yang menarik pada kalian. Batin Agus yang masih berdiri tegak sambil menengadah dengan gayanya yang congkak.
"Desta, aku mau kamu sekarang belikan aku buah matoa. Tidak ada alasan hari ini harus ada." Ucap Agus tiba tiba.
"Matoa? buah apa itu pak?" Desta dengan polosnya masih berani bertanya.
"Gunakan Hpmu untuk mencari sesuatu yang berguna. Jangan hanya untuk bergosip!" Ucap Agus menyindir Desta.
"Sekarang!" Agus melirik tajam Desta yang sekektika berlari pergi.
Tinggallah Luna dan Agus sekarang. Kertas sketsa yang di bawa Desta masih di pegang oleh Luna. Agus meraihnya dan dengan sengaja sedikit meraba tangan Luna sebelum mendapatkan kertas sketsa itu.
"Gambar terjelek katamu?" Ucap Agus dengan suara lembut yang mematikan tepat di telinga Luna.
"Ma... maaf!" Ucap Luna dengan terbata bata dan keringat dingin menyembul di keningnya.
"Sini kamu!" Ucap Agus dengan nada geram. Tentu saja Agus hanya berpura pura marah.
Luna mengumpulkan kekuatan dan kemudian mulai menginjakan kakinya ke pasir.
"Geser lagi ke sana! Jangan terlalu dekat." Ucap Agus lagi dengan sengaja mengerjai Luna agar kakinya terendam air laut.
Dengan lutut yang lemas dan tubuh yang bergetar dan jantung yang berdetak tak karuan, Luna memberanikan diri dan menuruti permintaan Agus. Luna mulai memasukkan kakinya yang tanpa alas kedalam air.
"Aduh!" Tiba tiba Luna memekik kesakitan.
"Ga usah akting deh!" Celetuk Agus yang dengan asiknya menikmati ikan bakar buatan Luna.
"Tapi kakiku sangat sakit, sepertinya aku menginjak sesuatu." Ucap Luna mengadukan keadaannya.
" Jangan manja! dari tadi juga ga pakai alas ga apa apa." Tumpah Agus dengan cueknya.
Agus seperti seorang guru yang sedang menyetrap muridnya yang nakal. Luna berdiri dengan satu kaki sambil meringis kesakitan.
__ADS_1
" Boleh aku duduk di batu itu?" Luna meminta keringanan, pipinya sudah memerah karena pantulan sinar matahari. Sedang kakinya benar benar wait dan mulai mengeluarkan darah.
"Tidak!" sahut Agus dengan cueknya.
Agus masih saja asik makan hingga sampai sekelebat Agus melihat cairan merah yang bergerak tersapu ombak kesana-kemari. Mata Agus membulat dan melebar melihat hal itu. Seketika itu Agus berlari dan menggendong Luna ala bridal style.
Agus kini sangat ketakutan melihat kaki Luna yang tertancap duri duri besar berwarna hitam dengan bulatan di tengahnya masih hidup dan bergerak gerak. Tidak hanya satu duri, tapi ada beberapa duri yang menancap di telapak kaki Luna. Luna meringis kesakitan sekaligus perih dari air laut.
"Kakimu kenapa? kenapa tidak bilang dari tadi kalau kakimu terluka?" Agus yang panik lupa jika sedari tadi Luna sudah memberitahunya tetapi Agus malah sengaja tidak menghiraukan sama sekali.
"Cabut saja perlahan agar tidak patah dan tertinggal di dalam." Kata Luna sambil merintih menahan sakit.
Rasanya Agus sangat menyesal sekarang karena mengakibatkan Luna terluka dengan tingkah konyolnya. Agus kini ikut berkeringat dingin, dia tidak tau cara menangani hal semacam ini. Benda hitam itu terus saja menggerakkan durinya yang lain sehingga Agus semakin bingung bagaimana cara untuk melepaskannya.
"Telur alien ini hidup Na. Aku harus bagaimana?" Ucap Agus dengan panik.
"Itu bulu babi, bukan telur alien!" Sahut Luna kesal sambil meremas celana pendeknya.
"Kita ke dokter, ayo kita ke dokter." Ucap Agus dengan gugup dan panik.
Agus menghubungi Desta yang sedang mencari buah matoa entah kemana. Desta tentu saja tidak bisa segera sampai, mengingat Desta hanya pergi dengan menggunakan taksi. Sedangkan keadaan Luna darurat sekarang.
"Sakit sekali?Apakah bisa fatal?" Tanya Agus dengan wajah polos dan ketakutan.
"Bisa, aku bisa segera mati kalau kau tidak segera mencabutnya." Ucap Luna asal.
Dengan ranting Agus melepaskan bulu babi dari kaki Luna dengan sekali pukulan keras dan mengakibatkan banyak duri bulu babi yang patah di dalam telapak kaki Luna.
" Kamu sengaja ingin aku mati?" Teriak Luna sambil melotot.
"Ti... tidak. Aku tidak tau cara melepasnya. Aku takut kamu mati makanya aku segera melepaskannya dengan kuat." Jawab Agus membela diri.
"Bagaimana ini? Tampaknya aku akan segera mati tanpa sempat menikah. Pangeranku, maafkan aku hiks, hiks!" Luna menangis meratapi nasibnya.
Mendengar keributan dan perdebatan dari Luna dan Agus, Bi LiLis datang menghampiri dan melihat kaki Luna yang berdarah.
"Siapa yang akan mati? Ayo kita ke klinik yang di sebrang jalan!" BI Lilis menunjuk sebuah klinik praktek dokter umum yang berada di seberang jalan.
Luna terdiam seketika dan dengan serta Merta Agus membopongnya sambil berlari menuju ke klinik. Tanpa menghiraukan keadaan sekitar Agus terus saja mengurusi Luna selayaknya suami yang mengasihi istrinya.
BI Lilis mengikuti dari belakangnya setelah sebelumnya membereskan peralatan memasak Luna. Agus seperti suami yang menunggu kelahiran buah hatinya, Agus berdiri di depan pintu dan berharap harap cemas.
__ADS_1
~ Bersambung ~