Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Terlelap dalam peluknya


__ADS_3

"Engh...!" Luna menggeliat dan semakin mengeratkan tubuhnya memeluk Agus. Agus seperti sedang membenarkan posisi kepalanya hingga benar benar pas dagunya berada di depan kening Luna. Tangan Agus masih setia merangkul tubuh Luna yang sudah tidak bersuhu tinggi.


Sementara Agus masih setia dalam mimpinya, bersama sosok wanita yang di nantikannya selama ini. Sungguh indah dan menyejukkan hati seolah si wanita juga merasakan apa yang Agus rasakan. Membalas belaian demi belaian yang berjalan sesuai dengan angan. Dengkuran halus Agus menandakan jika tidurnya benar benar nyenyak.


Keduanya masih saja berpelukan dan terlihat sangat tenang. Meskipun matahari sudah membumbung tinggi di awan. Hanya ada satu orang yang terlihat cemas, Laki laki itu berdiri mondar mandir seperti sedang menunggu seseorang. Berkali kali tangannya menyibakkan lengan panjangnya yang menutupi jam tangan. Dilihatnya jam tangan itu, seperti menunggu waktu yang seakan menyusut. Wajahnya terlihat panik sambil memainkan bibirnya lelaki itu mencoba mengetuk pintu bilik penginapan yang Luna singgahi.


"Tok!"


" Tok!"


"Tok!"


Desta mengetuk pintu bilik. Agus hanya menggeliat meski samar samar mendengar suara ketukan pintu. Luna pun sama, keduanya justru saling mendekap erat.


" Pak Boss!" Seru Desta memanggil Agus.


"Hem!" Spontan mulut Agus menjawab tanpa membuka matanya.


Luna yang mendengar suara Agus yang bergetar dari dadanya langsung pas di telinga Luna sekektika membuat Luna membelalakkan matanya lebar-lebar. Luna mendongak ke atas dan melihat rahang sempurna lelaki tampan dengan aroma tubuh yang sangat manis. Sekejap Luna diam mematung dan menikmati aroma tubuh Leo yang sama sekali belum pernah Luna temukan dari laki laki lain sebelumnya.


Meski Luna sering menjalin hubungan percintaan tetapi Luna selalu menolak jika pasangannya mengajak berhubungan intim. Itulah penyebab mengapa Luna sering di sakiti dan di tinggalkan oleh mantan mantannya yang terdahulu. Sampai sekarang Luna masih berhasil menjaga kesuciannya.


Meski kepala Luna berada di atas ketiak Agus tapi Luna sama sekali tidak mencium aroma yang tidak sedap. Hal itu justru membuat Luna penasaran dan membuatnya ingin mengendus lebih dalam bau aroma tubuh Agus.


Dia, dalam tidurpun tetap tampan. Bau tubuhnya juga manis dan tidak mencolok hidung. Rasa ini sungguh nyaman, Eh tapi kenapa tidak berbeda jauh dari apa yang aku rasakan di alam mimipi? Batin Luna yang bertanya tanya dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Pak boss!" Seru Desta lagi yang kini lebih kencang.


" Em?" Agus mengerjapkan matanya dan mengusap perlahan wajahnya.


Sementara itu Luna berpura pura masih terpejam untuk menghilangkan rasa malunya yang tembus hingga ke ujung ibu jari kaki. Meski begitu raut wajah Luna tidak bisa bohong. Agus yang melihat gerak bibir Luna yang sedikit bergetar menyembunyikan rasa malu kini mengulum senyum. Sangat lucu menurutnya melihat ekspresi wajah Luna seperti itu untuk pertama kalinya.


Agus berjalan berjinjit dan mengendap-endap membuka pintu perlahan dan kemudian mengetuk kening Agus yang masih setia berdiri di depan pintu bilik.


"Apa tidak bisa kamu menelfon ku saja? Kenapa harus berisik di depan pintu seperti ini?" Agus dengan bawelnya mengomeli Desta.


Agus merasa kesal, mengapa selalu saja ada yang merusak mimpi indahnya saat bertamu dengan wanita yang di sukainya itu. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa dan kemudian pergi ke suatu tempat.


****


Luna yang masih pincang, berusaha mengambil sesuatu dari kopernya. Diambilnya sebuah kertas sketsa bergambar wajah lelaki yang tak berbentuk tanpa mata, hidung dan mulut. Luna mulai menggores halus garis garis yang membentuk menyerupai mata. Mata itu tampak tidak asing bagi Luna. Tapi tanpa adanya hidung dan mulut bagaimana Luna bisa mengenalinya.


Hati Luna kini menggebu-gebu, perasaanya senang tidak karuan. Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan apa yang baru saja Luna alami, yang jelas semua itu membuat Luna merasa sangat bahagia.


Begitupun Agus, yang kini sedang memimpin rapat meski tidak mandi. Agus hanya berganti baju di dalam mobil dan menyemprotkan parfum. Desta hanya menggeleng pasrah, tidak biasanya Bossnya yang super bersih ini tidak mandi. Tapi memang meski tidak mandi, tidak akan mengurangi kharisma dan ketampanan Agus Dermawan.


" Desta, aku minta kamu urus Luna ya. Bantu dia sampai sembuh. Aku yang bersalah atas luka di kakinya. Setelah ini kami langsung kesana." Perintah Agus yang kini masih sibuk bersiap siap dan menyisir rambutnnya untuk pertemuan berikutnya.


"Baik Bos." Jawab Desta dengan patuh.


"Kalau dia ingin pulang,antarkan saja. Biar aku pulang dengan mobil perusahaan." Ucap Agus yang seakan sangat mengkhawatirkan keadaan Luna.

__ADS_1


Desta mengerutkan keningnya dengan heran. Bagaimana seorang Agus Dermawan mau mobilnya di naiki oleh wanita. Yang selama ini Desta tahu, Agus sangat benci jika mobilnya di naiki oleh orang lain, tidak perduli oleh pria dan wanita. Desta mulai menganggukkan kepalanya seakan mencerna sesuatu. Mungkin benar gosip gosip yang beredar liar itu, jika Agus memiliki hubungan khusus dengan Luna.


Desta kini mengingat sesuatu dengan jelas, bagaimana bisa dia lupa jika Agus dan Luna telah menginap satu kamar sedang dia sendiri yang membangunkan mereka?Desta melongo dan menutup mulutnya dengan bantuan satu tangannya. Kini Desta tersenyum senang, setidaknya akan berkurang waktunya bersama Agus dan otomatis, Agus juga tidak akan sering sering mengomeli atau memotong gaji Desta. Desta seolah ingin merayakan momen langka ini dalam hidupnya.


****


"Hallo Pak, Maaf saya cuma mau bilang." Ucap Desta dengan gemetar ketakutan.


"Mbak Luna dan juga pemilik penginapan semuanya tidak ada. Kata pegawainya, mbak Luna di larikan ke rumah sakit siang tadi karena jatuh pingsan." Desta melaporkan kejadian yang menimpa Luna.


"Di bawa kerumah sakit mana?" Agus terdengar sangat panik.


"Belum tau saya juga pak." Jawab Desta polos.


" Tanya pegawainya dan cari di mana rumah sakitnya!" Ucap Agus dengan lugas dan kemudian mematikan panggilan Desta.


Desta sungguh lelah, tulang tulangnya terasa remuk. Baru saja dia mengantar Leo menuju ke hotel untuk rapat dengan jarak tempuh satu jam, dan kemudian kembali lagi memeriksa Luna. Dan sekarang, dia harus kembali ke kota dengan waktu tempuh dua Jam.


Baru saja ingin merayakan jika mereka benar punya hubungan tetapi sepertinya semua itu pupus begitu saja. Desta mengusap kasar wajahnya dan mengacak rambutnya frustasi. Di liriknya buah matoa yang ada di bangku depan sebelah kemudi.


"Kemarin aku seharian nyariin kamu. Sekarang aku seharian harus bolak balik cariin dan urusin orang sakit. Haduh nasib nasib!" Desta menghela nafas pasrah dan lelah berbicara dengan buah matoa.


****


"Bodohnya aku, gara gara aku dia jadi sakit dan menderita seperti ini. Aku benar benar menyesal telah melakukan kebodohan ini." Gumam Agus dengan tatapan kosong di matanya.

__ADS_1


~ Bersambung ~


__ADS_2