Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Boomerang


__ADS_3

" Enak mi nya. Bapak pandai masak ya." Luna memuji Agus dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


"Bapak, Bapak. Apa tugasmu terlalu sulit? Apa yang aku suruh tadi?" Agus mendengus kesal dan mengingatkan Luna akan tugasnya.


" Panggilan sayang." Jawab Luna menggigit sendok makanya dan nampak bingung.


" Berlatih dan terus biasakan panggilan sayang." Kata Agus tegas.


" Panggilan apa yang belum pernah di ucapkan oleh mantan mantanmu?" Luna mulai mengasah otak dan akan melakukan seleksi kata.


" Aku tidak punya mantan." Kata Agus dengan wajah kesal.


" Apa? Tidak mungkin. Kamu tampan, kaya, badan bagus, tetapi tidak pernah pacaran? Hahaha bangunlah paman, sebentar lagi dunia gulung tikar." Luna mengejek Agus dengan sebutan Paman.


"Ya! hentikan. Memanglah aku tampan, kaya dan badanku juga sangat menggoda. Tetapi aku bukan lelaki bejat yang mencari keuntungan dan mengatasnamakan cinta dan pacaran." Jawab Agus dengan geram.


Jawaban Agus membuat Luna berpikir. Perlahan Luna mencerna ucapan Agus kata demi kata.


" Lalu kamu? Pasti kamu gadis bodoh yang suka bergonta-ganti pacar hanya demi kesenangan ya?" Celetuk Agus terdengar merendahkan Luna dengan tatapan menghina Agus menatap Luna dia sertai dengan smirk.


Jegler!


Seperti tertindih batu besar Luna mendengarkan ucapan Agus. Benar memang Luna sering berganti pacar tapi bukan berarti dia adalah gadis bodoh yang memberikan segalanya kepada pacarnya. Terutama kesucian, hal itu masih utuh di jaganya hingga kini. Alasan Luna berkelana dalam cinta adalah untuk menemukan pangeran dalam mimpinya. Baginya tidak akan ada hasil tanpa adanya usaha.


Begitupun dengan sosok laki laki di dalam mimpinya. Bagaimana bisa Luna menemukan nya tanpa berusaha mencarinya?


"Hey! enak saja. Aku berpacaran hanya untuk menemukan seseorang. Bukan untuk mengobral diri!"


"Lagian sampai sekarang aku juga masih tersegel rapih." Gumam Luna menunduk dan berucap lirih tetapi sangat jelas di telinga Agus.


"………" Agus diam dan mencibirkan mulutnya tak percaya dengan ucapan Luna.


" Serius!" Kata Luna yang seolah tau arti dari cibiran Agus.


"Ah, sudah sudah. Aku kenyang. Kamu cuci piringnya." Kata Agus yang mulai beranjak bangun. Agus malas meladeni ocehan Luna dan menurut Agus tidak penting juga baginya Luna masih tersegel atau tidak. Karena mereka hanya bekerja sama tidak lebih.


"Aku?" Kata Luna dengan wajah polosnya.


" Iya, siapa lagi? Tidak ada pembantu disini." Terang Agus.


" Tapi kenapa? rumah ini sangatlah besar. Lalu siapa yang akan membersihkannya?" Tanya Luna masih belum juga paham akan kebenarannya di rumah Agus.

__ADS_1


"Siapapun yang menempatinya." Jawab Agus sembari berlalu pergi dengan tangan yang berada di dalam saku celana.


Agus berjalan dengan congkaknya melewati Luna begitu saja. Luna yang kesal kemudian berekspresi seperti hendak mencakar dan menggigit Agus. Tetapi ketika Agus menoleh, secepat kilat Luna beralih posisi seperti sedang mengelap meja makan.


Astaga!! pantas saja Desta selalu mengeluh tentang gajinya yang sering terpotong. Memang begini pelitnya manusia bernama Agus ini. Rumah sebesar inipun perhitungan sekali dia hanya untuk sekedar membayar gaji pembantu. Batin Luna berjalan perlahan membawa piring kotor.


" Sepertinya aku yang di manfaatkan disini." Luna merutuki dirinya sendiri.


" Siapa yang di manfaatkan?" Celetuk Agus tiba tiba di samping Luna yang sedang mencuci piring.


"Huh....! Mengagetkan saja." Ketus Luna kesal.


" Akulah yang di manfaatkan, siapa lagi. Memang ada orang lain di sini?"


" Hem, bukannya membersihkan rumah yang di tempati itu tanggung jawab setiap penghuni ya? Ya kalau tidak mau kita bisa kembali ke apartemen." Kata Agus dengan mudahnya.


"Tidak! Tidak bisa." Seru Luna menolak dengan keras.


" Hehehehe! Tidak apa kok aku yang beres beres rumah." Kata Luna dengan senyum yang di paksakan.


Luna tidak bisa kembali ke apartemen karena dia sudah menyewanya kepada Caca. Kini Luna setengah hati menyesali kontrak kerja sama dengan Agus.


" Baiklah, anak baik." Puji Agus sambil mengacak rambut Luna.


" Satu orang kan?"


"Iya satu saja cukup." Jawab Luna dengan polosnya. Luna berharap bisa memanjakan Katty dan merasakan sedikit kenikmatan menjadi orang kaya.


" ....." Agus menunjuk Luna.


" Aku maksudmu?" Luna sangat geram.


" Siapa lagi? Satu orang kan? Aku rasa kamu saja sudah cukup." Kata Agus seenaknya.


" Hey, lalu dimana kamu menepati isi perjanjian jika semuanya masih aku yang mengerjakan?" Luna mengungkit isi perjanjian.


" Aku sudah menepatinya, Rumah, Kandang, dan pengurus kucing. Semua sudah ada."


" Hanya satu yang kurang, Bersikap romantis dan manis di depan umum. Tenang aku sangat pandai perihal itu." Jawab Agus yang terdengar mengakali Luna.


"Sudahlah lakukan pekerjaanmu. Aku akan pergi." Ucap Agus sembari melambaikan tangannya dan dengan senyuman mengejek Luna.

__ADS_1


Luna yang kesal karena merasa di manfaatkan oleh Agus kemudian melempar kain lap ke arah Agus. Tetapi sayang kain itu meleset. Agus hanya menoleh dengan wajah dinginnya.


Sore hari di kediaman Agus. Luna merasa jenuh seharian hanya berbaring memutuskan untuk memasak sesuatu. Tetapi belum sempat Luna memasak, Agus sudah kembali datang.


" Hay!" seru Agus menyapa Luna.


" Ada apa? Apa ada barangmu yang tertinggal? Luna terheran.


" Iya banyak sekali yang tertinggal di dalam." Jawab Agus sekenanya.


Luna dengan acuhnya kemudian mulai berjalan ke dapur. Tetapi nihil tidak ada bahan apapun yang tersedia di kulkas. Luna masih merasa asing akan tempat tinggal barunya mulai penasaran dan berkeliling sekitaran rumah.


Sangat tenang dan asri. Jauh dari ramai kendaraan yang lalu lalang. Luna bisa sedikit tenang di sini. Ada sebuah pohon besar di belakang rumah Agus. Luna ingin berjalan mendekatinya tetapi Agus sudah memanggilnya.


" Kau mau ikut tidak?" Teriak Agus mengajak Luna.


"Kemana?" Sahut Luna dengan suara keras.


"Belanja, aku lupa mengisi kulkas." Jawab Agus.


" Tidak, kamu saja. Kakiku masih belum terlalu nyaman untuk berjalan lama." Jawab Luna yang malas untuk ikut dengan Agus. Luna berpikir jika dia ikut maka Agus akan memanfaatkannya lagi di depan publik.


Kenapa harus ikut, jika aku bisa duduk santai di sini dan menikmati matahari sore. Hemm aku berpikir bisa mengakali dan mengambil sedikit keuntungan dari laki laki putih itu. Nyatanya, ini seperti Boomerang bagiku. Semuanya berbalik dan seolah memperalat ku. Ini, aku yang bodoh atau dia yang terlalu pintar? Batin Luna menerka nerka.


" Tanganmu baik baik saja kan?" Seru Agus dari jendela kamarnya.


"...." Luna menggeleng.


" Bagus, gunakanlah untuk mengambil daun-daun yang berguguran itu!" Teriak Agus memerintah Luna seenaknya sendiri.


Sumpah, kenapa juga aku tadi harus menuju ke pohon besar ini? Sial sekali! Sungguh dia sudah membodohi ku. Dia memanfaatkan ku. Sebenarnya aku di jadikan pacar pura pura atau pembantunya sih? Luna menggerutu dengan wajah yang cemberut kesal menatap Agus yang justru tertawa senang dari dalam kamarnya.


Tambah manis dia kalau cemberut seperti itu. Gumam Agus melihat wajah Luna yang kesal.


" Pungut daunnya!" Seru Agus.


" Iya!" Jawab Luna dengan angkat kesal dan terus merutuki keputusan yang sudah di ambilnya.


Akankah Luna bisa bertahan dengan sikap Agus yang bossy?


Ataukah ada sisi lain dari Luna yang mampu membuat Agus menjadi budak cintanya?

__ADS_1


~ Bersambung ~


__ADS_2