
" Gimana?" Tanya Romy yang menunggu jawaban dari Evi.
" Nanti, jika kamu sudah berhasil kembali dari tugasmu aku akan menjawabnya. Sementara ini, biarkan aku memikirkannya." Jawab Evi yang menggantungkan jawaban.
" Oke, Aku berangkat." Kata Romy yang kemudian bangkit dari duduknya.
" Hei, pak polisi. Bawa uangmu, aku tidak membutuhkannya. Simpanlah." Ucap Evi yang mengulurkan kembali amplop yang berisi uang pemberian Romy.
" Oke." Romy kembali mengambil uangnya dan memasukkan kedalam saku jaketnya.
Dia bukan gadis matre yang gila harta rupanya.
Luna, haruskah aku menyerah dalam menggapai cintamu.
Lagi lagi aku kalah dari Agus Dermawan. Bocah tengil itu.
Ah, tidak. Bukan salahnya, kesalahpahaman itu bermula karena mulut berbisa Nina.
Aku harus menuntaskan ini.
Agus, maafkan aku yang dulu membencimu. Batin Romy sembari melangkahkan kakinya.
" Cih, aneh-aneh saja dia mau membayar ku menjadi pacar bohongan. Aku bukanlah seperti wanita yang ada di dalam novel. Aku hanya akan menikahi dengan orang yang ku cintai." Gumam Evi yang kemudian membereskan piring dan gelas bekas Romy makan.
*
*
*
Di rumah sakit.
Awan hitam pekat berbentuk seperti ombak bergulung-gulung, menelan apa yang di lewatinya. Angin kencang berhembus menumbangkan pepohonan.
Berdirilah seseorang yang seperti hilang arah memandang sekitarnya. Wajahnya pucat dan kebingungan, nampak luka luka yang ada di kakinya mengeluarkan darah.
Luna berdiri melihat itu semua, dia ingin meraih dan memeluk sang pria namun tak bisa. Ada kabut tipis tetapi tak mampu di tembusnya. Luna berteriak-teriak memanggilnya. Lelaki itu melihatnya namun juga tak mampu bergerak. Tubuhnya seperti terkunci dan tertahan sesuatu yang berat.
" Luna!" Triak Agus yang merupakan sosok lelaki dalam mimpi Luna.
" By, By...!" Rintih Luna di alam bawah sadarnya.
" Mas!" Teriaknya kencang sampai mengagetkan Mama Elena yang setia menemaninya.
Mama Elena menghampiri dan mengusap lembut kening Luna yang sudah basah berkeringat dingin. Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul 03:00 dini hari.
" Bangun sayang, bangun!" Mama Elena mengguncang tubuh Luna.
" Ma!" Seru Luna yang terperanjat dari alam mimpinya.
" Ma, Mas Agus Ma. Dia terluka Ma. Dia kebingungan, Dia kesakitan Ma. Kita harus menemukan dia Ma." Ucap Luna dalam tangisnya.
" Iya sayang iya. Kita masih terus berupaya. Tim SAR melakukan pencarian. Kamu jangan berfikiran yang tidak tidak Ya. Tenanglah hatimu. Mama yakin putra Mama baik baik saja." Kata Mama Elena menenangkan Luna.
Bagaimanapun Hati Luna tetap saja gundah dan gelisah. Ketenangan serasa jauh pergi darinya. Mimpi itu datang lagi kala Agus berada jauh darinya. Anehnya mimpi yang menggambarkan tentang Pasangannya tidak akan pernah bisa terjadi jika mereka bersanding dan berdekatan.
" Ma, Dia kesakitan Ma. Kakinya terluka." Ucap Luna menangis sesenggukan mengingat kembali apa yang di lihatnya di dalam mimpinya.
__ADS_1
" Tidak sayang, itu hanya bunga tidur." Tolak Mama Elena yang enggan mempercayai ucapan Luna yang tidak masuk akal.
" Ma, aku melihatnya Ma. Kakinya mengeluarkan darah. Tubuhnya terpaku tidak mampu bergerak Ma. Ma ayo kita kesana untuk mencarinya." Pinta Luna dengan kesedihan yang mendalam.
" Jangan sayang, tidak bisa. Kamu harus tetap disini. Kamu dan cucu Mama tetap disini. Biar Papa dan tim SAR yang mencari keberadaan Agus. Kamu masih hamil muda sayang, tidak bagus bagimu terus seperti ini. pikirkan juga bayimu." Kata Mama Elena menasehati.
Sebenarnya, Mama Elena sendiri ingin cepat berlari dan mencari anaknya yang di kabarkan hilang. Hati Mama Elena sakit dan tercabik-cabik saat mendengar berita itu. Namun apa boleh buat? Dia juga harus menguatkan istri dari putranya.
" Baby, doakan terus Daddy Ya. Kamu jangan buat Daddy mual. Kasihan dia." Desis Luna dengan air mata yang terus jatuh berderai sambil mengusap lembut perutnya.
*
*
*
" Ah,, Sampai Juga."Lengkuh Levan yang baru saja terbangun dari tidurnya.
" Ayo Van Cepat bangun." Kata Rosa yang kemudian menyiapkan tongkat Levan.
Dengan segala kerepotan yang ada, akhirnya Rosa dan Levan telah sampai di kediaman Agus. Tidak ada orang sama sekali, akhirnya Rosa segera menghubungi Mama Elena dan meluncur ke rumah sakit.
" Masuknya bergantian saja. Hanya boleh dua orang yang menunggu." Ucap Mama Elena di luar ruang rawat.
" Aku dulu saja Ya Ma." Ucap Rosa yang masuk kedalam.
Terlihat di dalam ruang rawat Luna hanya terus terpaku pada layar TV yang menyiarkan tentang perkembangan pencarian korban. Bulir air mata terus saja berlinang dari sudut matanya. Aura kesedihan kental terasa di ruangan yang dingin itu.
" Kak," Lirih Rosa dan Luna menoleh menyambutnya dengan senyum piasnya.
" Kak, yang sabar ya."Rosa seketika menghambur dan memeluk Luna dengan hangatnya. Keduanya menangis dan berpelukan erat saling menguatkan satu sama lain. Saling memohon kepada sang Khaliq agar orang yang mereka sayangi lekas di ketemukan.
" insyaAllah sayang. Mana suamimu?" Tanya Luna.
" Dia di luar." Jawab Rosa setelah melepaskan pelukannya.
Kini keduanya hanya saling diam menatap jauh kedalam manik netra. Saling menguatkan hanya dengan tatapan mata. Rosa menggenggam erat tangan Luna dan mengusapnya perlahan. Menguatkan jiwanya yang rapuh dengan sedikit sentuhan dan besarnya dukungan mental.
" Aku, tidak pernah menduga dan berharap semua ini terjadi Sa. Aku menyesal mengijinkannya pergi." Gumam Luna lirih tetapi sangat jelas di telinga Rosa.
" Kak, tiada yang perlu di sesali. Aku yakin Kak Agus baik baik saja. Dia akan segera di temukan." Ucap Rosa menguatkan Luna yang rapuh.
" Tadi aku bermimpi buruk tentangnya. Kakinya terluka dan Dia kebingungan sendiri disana memanggil namaku Sa. Aku merindukannya. Aku ingin dia disini. Terakhir kali kami berbicara dia menanyakan kehamilan padaku dan aku sama sekali belum tau jika waktu itu aku sudah hamil. Aku tidak merasakan apapun Sa. Hanya saja..." Kata kata Luna terhenti karena isakan tangisnya.
" Hanya saja apa Kak?" Tanya Rosa yang sangat ingin mendengar kelanjutan cerita Luna.
" Hanya Saja sewaktu dia akan berangkat, aku sama sekali tidak rela. Aku ingin ikut bersamanya tetapi dia menolak Sa. Katanya disana sangat pelosok. Itu berarti bantuan juga akan lebih lama sampai kan Na?" Kembali Luna menangis mengharu biru mencemaskan belahan jiwanya.
" Sudahlah Kak, serahkan semua pada yang maha kuasa. Mintalah yang terbaik." Ucap Rosa lembut sambil kembali memeluk Luna.
" Tidak aku tidak akan meminta yang terbaik. aku takut jika yang terbaik adalah kematian suamiku. Aku akan meminta keselamatannya." Tangis Luna semakin menjadi membuat levan khawatir dan kemudian masuk.
Melihat levan masuk dengan kaki yang pincang dan di bantu tongkat sebagai penopang, membuat Luna kembali menangis sedih. Luna kembali teringat akan mimpinya yang melihat Agus dengan kondisi kaki yang penuh luka dan berdarah.
" Van, kakimu kenapa?" Tanya Luna dengan wajahnya yang sudah sembab.
" Tidak apa-apa Kak, hanya saja kecelakaan kecil sewaktu disana." Jawab Levan seolah cidera yang dialaminya sama sekali tidak sakit sedikitpun.
__ADS_1
" Kenapa tidak mengabari Kakak? Sejak kapan kamu seperti ini? hum?" Tanya Luna yang kemudian menangkup wajah Levan dan memandang lekat matanya mencari kebenaran dari jawaban Levan.
" Aku tidak apa-apa kak, sebentar lagi juga pulih. Hanya cidera ringan." Jawabnya sambil tersenyum mencoba mengusir kecemasan yang berkecamuk di kepala kakaknya.
" Kakak rindu sama kamu Van." Luna memeluk Levan erat mencurahkan kerinduan terhadap harta yang paling berharga selama hidupnya sebelum dia menemukan Agus dan juga hadirnya benih cinta diantara dia dan Agus.
" Sudah jangan kuat kuat meluknya. Kasihan keponakanku nanti dia terjepit." Kata Levan mencoba menghibur Luna.
" Hahaha, keponakanmu masih sebesar biji kacang hijau sayang." Ucap Luna yang tanpa sadar mulai tertawa kecil dengan sedikit candaan Levan.
" Aku sungguh iri dengan kehangatan kalian sebagai kakak beradik." Ucap Rosa sambil melirik Levan.
" Jangan iri sayang, kemarilah. Kau juga adikku." Luna melambai meminta Rosa kembali mendekat lalu mereka berpelukan bertiga.
*
*
*
Hari demi hari terus berlalu.
Satu persatu data korban bencana alam telah di umumkan.
Nama Agus Dermawan yang selalu dinantikan tidak juga nampak. Luna semakin cemas. Apalagi sekarang sudah masa akhir dari pencarian.
" Pencarian kita hentikan saja atau bagaimana. Ini sudah 7 hari. Tidak mungkin ada yang mampu bertahan di bawah puing puing." Ucap ketua tim SAR yang memimpin pencarian korban.
" Tidak, tidak. Jangan sekarang. Aku masih belum menemukan sahabatku." Tolak Romy yang bersikeras ingin pencarian tetap di langsungkan.
" Pak, anda tidak boleh egois. Kami dari tim SAR juga para relawan juga sudah kelelahan. Tenaga kami sudah habis di forsir. Mengertilah pak." Ucap tim SAR memberi penjelasan.
" Tapi, Tapi,..." Romy berhenti berbicara kala ada seseorang yang menepuk pundaknya.
" Kalau mereka tidak mau, seharian ini biarlah aku yang membantumu mencarinya. Ini usaha terakhir kita dalam mencari." Ucap Zain yang ingin membantu Romy.
" Thanks bro!" Romy tersenyum lega mendengar perkataan Zain, teman satu angkatannya.
" Kamu kesana, aku kesana." Ucap Romy menunjuk kedua arah yang berbeda. Zain ke kanan dan dia ke kiri.
Berpeluh dan juga lelah Romy beristirahat di bawah pohon. Sayup-sayup terdengar suara rintihan dari puing bangunan. Romy menajamkan pendengarannya dan mencoba mencari arah sumber suara. Terdengar juga suara ketukan dari benda yang saling beradu. Kadang terdengar dan kadang hilang.
Romy semakin mendekat dan berteriak " Ada orang disana? Ketuklah sesuatu jika memang kau manusia."
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Terdengar bunyi ketukan.
"Tunggulah sebentar aku akan memanggil bala bantuan." Teriak Romy lagi yang kemudian berlari memanggil tim SAR dan juga tentara yang ada.
Semoga itu kamu Gus.
Aku berharap kamu masih hidup sahabatku.
__ADS_1