Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Malam tragis.


__ADS_3

" Aku hanya ingin membahagiakan kamu sahabatku, ISTRIKU." Gumam Levan dengan mata yang berkaca-kaca."


Tidak mampu Levan terus menatap tubuh Rosa yang terbaring lemah, dia memutuskan untuk pergi dan menenangkan diri. Dihisapnya satu dua puntung nicotin hingga tersedak dan menitikan air mata. Betapa sakit hàtinya saat mengetahui istrinya kehilangan ingatan atas semua masa kebersamaan mereka.


" Levan, kenapa kamu ada di sini?" Tanya Evi pelayan sekaligus tangan kanan Luna.


Evi menyimpan nampan di bangku sebelahnya dan kemudian duduk di sebelah Levan. Keadaan Levan juga terpuruk sama halnya dengan Rosa. Dalam angannya dia ingin segera memeluk dan mengungkap semua kenyataan jika sekarang mereka sudah menjadi sepasang suami istri. Tapi apalah dayanya, semua itu harus di urungkannya sampai waktu yang tak tentu.


" Mbak, apa kewajiban seorang suami?" Tanya Levan dengan tatapan hampa.


" Banyaklah Van. Tapi aku juga tidak bisa menjelaskannya kepadamu. Karena aku sendiri belum memiliki ilmu yang cukup dalam tentang itu." Jawab Evi jujur.


" huft!" Levan menghela nafas dan beranjak tanpa sepatah kata.


" Kenapa dia, Seperti sedang di kejar dep collector saja." Gumam Evi menggeleng dan masuk kedalam resto.


Levan berjalan kaki menyusuri bahu jalan seorang diri. Pikirannya melayang entah kemana. Menyalahkan dan mengutuk diri sendiri. Menganggap apa yang terjadi terhadap Rosa merupakan bagian dari kutukan atas perbuatanya. Dimana dia secara tidak langsung menjadi penyebab kematian tiga orang sekaligus dalam satu malam.


" Hai, Van. Kebetulan kita bertemu disini." Kata Vito yang segera menarik Levan untuk berbicara berdua di gang sempit.


" Ada apa Vito?" Levan sudah merasa ada yang tak beres dengan gelagat Vito sahabatnya.


"Apa kamu melihat berita pagi ini?" Ucap Vito membuka sebuah situs berita online dan menunjukkannya kepada Levan.


Levan terdiam membacanya dan kemudian menjambak kasar rambutnya sendiri " Argghh.....!! Shit!!" Umpat levan geram.


" Beri aku alamat wanita itu." Pinta levan dengan wajah penuh amarah.


" Van, tidak bisa kita bertindak lagi. Sisil ada bersamanya. Apa kau tega terhadap Sisil?" Ucap Vito yang sudah mengetahui keberadaan Sisil dalam genggaman Jasmine.


"Apa yang dia inginkan?" Tanya Levan yang kini lebih bisa mengontrol emosi.


" Uang, tentu saja uang. Dia bahkan sudah tidak perduli lagi dengan kematian suaminya. Dan juga satu lagi..." Kata Vito dengan gugup.


" Apa Vito, katakan."


" Dia juga tahu aku ada di balik semua kesuksesanmu dalam membalas kejahatan Rima."


" Lalu?" Levan menunggu jawaban Vito.


" Dia ingin aku menjadi pemuas nafsunya." Kata Vito dengan wajah pucat pasi.


" Shit!! Dan kamu mau?! Huh?" Geram Levan memuncak mendengar sahabatnya yang bahkan tidak pernah berpacaran harus menjadi pemuas nafsu Tante Tante binal.


" Aku tidak punya perlawanan Van. Dia memegang semua kartuku. Aku sudah kalah telak Van. Sekarang tinggal kamu yang punya kesempatan untuk kabur. Besok polisi akan menemuimu untuk meminta keterangan. Tetapi," Ucap Vito menggantung.


" Tetapi apa?" Levan sangat penasaran sampai menjinjing kerah baju Vito.


" Tetapi semua bisa terkendali jika malam ini kamu datang kepadanya dengan membawa apa yang dia inginkan." Kata Vito tercekat.


" Apa Vito? apa! jangan mengulur waktu." Geram Levan karena darahnya sudah mendidih.


" Dia ingin kamu membagi 50% dari kekayaan Ayahmu." Ucap Vito.


" Hanya itu?!"


" Baik, malam ini juga pengacaraku akan mengurusnya." Jawab Levan seperti terlepas dari beban. Yang di takutkannya adalah menjadi pelayan **** wanita binal itu. Dan ternyata hanya perihal uang, tentu saja levan akan dengan senang hati memberikannya. Namun tidak semudah itu semua berjalan. Levan menaruh curiga terhadap Vito.


" Vito, apa kau mulai menikmati permainan ranjang bersamanya?" Tanya Levan dengan memicingkan matanya.


" Tentu, aku tidak munafik. Entah ini musibah atau hadiah. Tapi aku sangat menyukai permainannya. Ya walaupun dia sedikit aneh. aku menemukan banyak sinyal kamera tersembunyi di kamarnya. Tapi tenanglah sob. Aku hanya memanfaatkan tubuhnya saja." Kata Vito terdengar sangat picik.


" Astaga!" Levan tergelak tak percaya.


" Sudah, datanglah malam ini. Ini alamatnya. Juga bawalah obat penawar. Aku takut dia merencanakan hal buruk." Kata Vito menepuk bahu levan dan kemudian berlalu pergi dengan menutup kepalanya dengan Hoodie.


Wanita itu ingin bermain main dengan ku? Baiklah, akan aku ikuti alur ceritamu. Dan Vito silahkan kamu menikmati hidanganmu sampai puas. Lalu Akau akan melenyapkannya. Aku tahu tidak ada mulut manusia yang bisa di percayai. Batin Levan seraya pergi meninggalkan gang sempit.


****


" Van, perasaanku tidak enak. Aku takut dia meracuni kita semua." Ucap Vito seraya berdiri menatap pintu gerbang besar yang menghampar panjang di depan rumah Jasmine.

__ADS_1


" Jangan takut, inilah saatnya kita mengumpulkan bukti kuat atau bahkan menghilangkan semua bukti yang memberatkan kita." Ucap pengacara yang di bawa Levan.


" Kau kenal aku dengan sangat baik pengacara Coki. Aku sudah menuliskan 30% aset milik ayahku akan jatuh ke tanganmu jika semua kasus membelit ini bisa selesai. Jadi aku harap kamu akan bekerja dengan maksimal." Ucap Levan.


Coki, Vito dan Levan. Ketiganya berdiri tegang menghadap gerbang.


" Kalian sudah membawa apa yang aku berikan?" Tanya Levan.


" Iya." Jawab keduanya bersamaan.


" Bagus, segera minum saat dada kalian terasa sesak atau kepala kalian terasa pusing. Langsung gigit saja maka kapsul akan pecah dan segera bercampur dengan air liur." Ucap Levan.


" Hem!" Angguk keduanya paham.


" Huft! aku sungguh-sungguh gugup." gumam Vito.


" Kamu sudah mematikan semua CCTV di villa ini?" Tanya Levan memastikan.


" Sudah." Jawab Vito.


" Sudah, saya tadi juga sudah memeriksanya Van." Ucap coki yakin.


" Hem mari kita mulai." Ketiganya mengangguk dan masuk bersamaan.


Di dalam kediaman Jasmine.


Tersungging senyum licik Jasmine menghiasi bibirnya. Segelas wine menemaninya kalut menunggu kedatangan beberapa manusia yang memiliki urusan pelik dengannya.


" Selamat datang Tuan Tuan yang terhormat." Sambut Jasmine dengan datar.


" Kak Levan!" Seru seorang gadis remaja berlari menghampiri Levan dan memeluknya erat.


Kerinduan terpancar dari mata Sisil gadis yang menganggap dirinya adalah adik kandung Levan. Tetapi nyatanya tidak ada silsilah yang saling terhubung sama sekali.


" Hai Sisil." Sahut levan membalas pelukan Sisil.


" Silahkan duduk." Kata Jasmine mengerling manja dan menggandeng lengan Vito.


" Kenapa sayang bukannya kau suka dengan pelayananku?" Kata Jasmine frontal membuat Levan dan pengacara Vito tergelak dan membelalak kaget.


" Tak usah berlama-lama. Aku tidak punya banyak waktu. Ini yang kamu butuhkan bukan?" Levan meminta dokumen kepada Coki.


" Sisil, bisa kau buatkan kami minum? Tamu kita sepertinya haus sayang." Kata Jasmine yang ingin Sisil segera pergi agar tak mengetahui fakta yang sebenarnya.


" Baik Mom." Jawab Sisil segera menurut dan membuat minuman.


Jasmine berdiri dan menyusul Sisil dengan beralasan " Oh, sebentar aku akan mengambil beberapa camilan. Tidak pantas sepertinya jika tidak memberi suguhan kepada tamu."


Harap-harap cemas ketiganya duduk dan saling melempar tatapan ambigu. Seperti bertanya tetapi jaga menjelaskan dalam waktu bersamaan. Levan menautkan jari-jarinya dan menggerakkan kakinya secara cepat.


" Hei, diamlah. Kau terlihat sangat panik." Vito menepuk kaki levan yang masih bergerak cepat.


" Aku yakin dia ingin membunuh kita secara bersamaan." Gumam coki yang sontak membuat levan dan Vito tergelak dan menelan kasar ludah mereka.


Jasmine kembali dengan jus jeruk dan juga sepiring kudapan. Senyum terus tersungging dari bibir merahnya.


" Silahkan dinikmati." Kata Jasmine tanpa menatap tamunya dan langsung membaca dokumen yang berada diatas meja.


" Wah, bagus. Sesuai dengan apa yang aku minta."


" Kamu cukup profesional bocah tengil." Puji Jasmine juga menghina levan secara bersamaan.


" Hanya itu?" Levan mendesis.


" Oh iya silahakn dinikmati. Kita harus merayakan kerja sama kita ini. Mari kita bersulang." Ucap Jasmine.


Levan, Vito, dan coki hanya terdiam tanpa berani menyentuh gelas. Seolah tau jika ada sesuatu dalam minuman mereka.


" Apa kalian takut jika aku menaruh racun dalam gelas kalian? Perlukah aku mencicipinya di depan kalian?" Kata Jasmine yang dengan tatapan nakalnya.


Vito memencet tombol yang ada di tangannya dan seketika lampu di ruangan padam. Kesempatan itu di gunakan oleh Levan untuk meneteskan sesuatu di gelas milik Jasmine.

__ADS_1


Lampu kembali menyala setelah levan selesai dengan tugasnya.


" Baiklah jika kalian ragu. Aku akan menukar gelasnya dan meminumnya." Jasmine menukar gelasnya dengan gelas levan dan kemudian menengguk dua tengguk jus jeruk milik Levan.


" Bagaimana? Kalian percaya kan aku tidak apa apa." Jasmine berdecih dan mengangkat alisnya.


Kamu aku mengakaliku Levan. Tidak akan bisa. Batin Jasmine dengan wajah santainya.


Levan, Vito dan coki semakin pucat pasi. Kini gelas yang berisi racun itu justru berada di hadapan Levan. Levan bingung memikirkan cara untuk kembali menukar gelasnya.


Dia tidak sebodoh yang aku kira. Batin Levan.


" Ayo. Tidak sopan kan kalau tidak meminum atau memakan suguhan dari tuan rumah?" Kata Jasmine dengan wajah yang sok polos.


" Boleh aku ke kamar mandi?" Ucap Vito tiba-tiba.


" Oh, ayolah Vito. Kamu sudah tau benar seluk beluk di rumah ini. Atau yang kau hapal hanya tata letak kamar kita?" Ucap Jasmine terdengar membuka aib mereka sendiri.


" Aku rasa tidak sopan jika tamu menggunakan kamar mandi di kamar utama. Bisa kau tunjukkan kamar mandi yang biasa saja?" Pinta Vito.


Kesempatan saat Jasmine menoleh dan memberi arahan lokasi di gunakan oleh levan untuk menukar gelasnya.


Untuk sesaat Vito ke kamar mandi. Dan kini mereka sudah kembali duduk bersama. Jasmine terus memaksa para tamunya untuk meminum jus jeruk yang ada di hadapannya. Mereka semua meminum jus jeruk itu. Tidak menunggu waktu lama, levan mulai merasa sesak di dada. Begitupun dengan Vito dan Coki. Ketiganya ambruk dan sekarat di hadapan Jasmine yang justru tertawa lebar di hadapan mereka.


" Hahaha! Rasakan kalian. Akhirnya denganku terbalaskan!"


" Kamu bocah tengil! berani beraninya kamu bermain dengan ku. Huh!" Jasmine mencengkeram mulut Levan yang sudah lemas.


" Kamu...!" Kata Levan dengan susah payah. Lehernya seperti tercekik.


" Apa? apa? Huh?. Hahahahaha! Mari kalian!" Seru Jasmine yang menggema membuat Sisil yang mendengarnya berlari menuju ke ruang tamu.


Betapa terkejutnya Sisil setelah melihat Levan, Vito dan Coki tergeletak lemas menggelepar di lantai. Mereka terlihat sangat mengenaskan dan kesakitan.


" Mom! apa yang kau lakukan?" Teriak Sisil.


" Stop! don't call me Mom!"


" Kamu bukan darah dagingku. Kamu hanyalah anak hasil perselingkuhan suamiku yang bajingan itu. Ayah kandungmu dan ibu kandungmu mereka hanyalah orang orang brengsek!"


" Lama aku memendam sakit hati ini. Hingga akhirnya anak tengil ini yang melancarkan misiku. Hahahahaha! Betapa beruntungnya aku!" Teriak Jasmine dan tertawa lantang. Percayalah suasana yang sungguh mengerikan.


Sisil hanya terdiam berdiri mematung menerima fakta baru yang mengerikan dalam hidupnya. Pantas saja selama dia ikut orang tua Rima, tidak ada perlakuan baik dari mereka semua. Dan pada akhirnya Jasmine yang memungutnya dan menjadikannya aset hidup. Jasmine mewakili dan bisa menikmati harta yang beratasnamakan Sisil sebagai pengasuh sementara. Yaitu bisa mengatur dan mengasuh Sisil sampai usia 20 tahun. Ya tentu saja tidak sedikit, mengingat Sisil masih tercatat sebagai anak dari Heru. Kesempatan emas bagi Jasmine untuk mengalihkan beberapa aset tanpa sepengetahuan Levan. Tidak tercium badan hukum? Jelas tidak karena Jasmine menggadaikan beberapa aset properti milik Heru kepada perorangan yang hanya bermodal materai.


" Kak Levan!" Kata pertama yang meluncur dari mulut Sisil adalah Levan. Sisil sangat menyayangi dan mengandalkan Levan.


Tiba-tiba Sisil ikut menenggak setengah dari jus jeruk yang asih ada di meja. Ya, jus itu milik Levan. Jasmine seketika menampik gelas yang di pegang Sisil namun terlambat sudah. Sepersekian detik Sisil sudah menggelepar dengan mulut berbusa. Disinilah mata Jasmine terbuka lebar. Mengapa ketiga tamu yang di racunnya tidak mengeluarkan busa dari mulutnya? sedangkan Sisil terus saja berbusa dan kulitnya mulai pucat pasi.


" Sisil! Damn!"


" Kenapa kau merusak rencanaku?" Jasmine menjambak rambutnya frustasi.


" Uhuk...! Uhuk...!" Jasmine terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


" Darah? Darah! Aku berdarah. Auh, kepalaku sakit sekali!" Keluh Jasmine mulai terhuyung dan sempoyongan.


Ambruk begitu saja dan terkulai lemas tak berdaya dengan darah yang keluar dari hidung dan telinganya.


" Uhuk-uhuk!" Levan terbatuk dan menghela nafasnya dalam-dalam begitupun dengan Vito dan Coki. Obat penawar mereka mulai bekerja.


Mereka terselamatkan setelah sebelumnya tak berdaya melawan racun yang menyerang tubuhnya. Nafas ketiganya masih tercekat dan sesak.


" Sisil!" Gumam levan dengan tubuh yang bergetar. Takut dan sedih bercampur menjadi satu saat melihat Sisil sudah tidak bernyawa.


Tangan levan mengulur ingin memeluk Sisil tatapi dengan cepat Vito mencegahnya dan menarik Levan. " Stop!" Seru Coki.


" Jangan sentuh apapun disini. Mari kita hilangkan semua jejak dan bukti." Kata coki meski dengan kepala yang berdenyut kuat sakit bukan main.


Mereka bertiga berjibaku membersihkan semuanya menatanya sedemikian rupa seperti saat mereka belum datang. Semua sudah di atur Serapi mungkin. Vito dan Coki membersihkan bukti sedangkan levan hanya bisa meratapi Sisil dengan tatapan hampa dan mematung di dekatnya.


" Maafkan Kakak yang tidak bisa menyelamatkan nyawamu sayang." Gumam Levan sedih.

__ADS_1


" Sudah, ayo kita pulang. Sudah takdirnya seperti ini Levan. Jangan sesali lagi." Vito menenangkan dan merangkul levan untuk segera pergi.


__ADS_2