
Hari hari berlalu.
Agus sangat susah di hubungi. Luna memilih untuk menyibukkan diri di resto dan cafenya.
" Mas Joko, antar ini ke kantor Bapak ya." Kata Luna yang mengangkat sekeranjang besar roti pesanan dari kantor Agus.
"Baik Bu." Jawabannya dengan sopan dan segera menjalankan tugasnya.
Kling!
Kling!
Bel berbunyi. Tanda ada pengunjung yang datang.
" Hai, Lun!" Sapa Romy yang baru masuk.
" Hai! Apa kabar?"Luna mendekat dan menjabat tangan Romy. Mereka bercengkrama bersama. Sesekali terlontar canda dan tawa.
Ada satu manusia yang merasa terabaikan di sana. Tidak lain dan tidak bukan iyalah Evi. Dari semenjak menolong dan merawat Romy dalam beberapa waktu lalu, Evi semakin terpesona akan sosok Romy. Pertahanannya runtuh saat senyum manis Romy terus terusan meluluhkannya.
Aku memiliki trauma akan sebuah hubungan. Aku juga membenci pria. Tapi saat kamu hadir, semua itu runtuh begitu saja.
Dan sekarang, hatiku perih saat melihatmu mengabaikan aku yang ada di depan matamu.
Ya, aku memang kalah cantik dan menarik dari dia.
Mbak Luna memang wanita yang cantik hati dan fisik.
Sedangkan aku?
Aku hanya sebuah pelayan dan kasir. Kamu memang masih memiliki mata yang normal Pak polisi.
Siapa aku yang berani mengharapkanmu.
Siapa aku yang berani bersaing dengan Nyonyaku.
Hhhhhh, aku harus tahu diri agar tak terlalu dalam sakit hati. Pikir Evi yang terlihat menyibukkan diri pada pekerjaannya dan berinteraksi dengan Pembeli.
" Mbak, kembaliannya salah."Protes salah seorang pembeli.
"Saya habis 276k, harusnya kembali 24k. Kurang 4k mbak." Cetusnya sambil tertawa.
Nampaknya pembeli itu seolah tau jika hati dan otak Evi sedang tidak fokus melayani pembeli. Luna dan Romy yang masih bercengkrama tak jauh dari meja kasir keduanya kini melihat ke arah Evi.
" Oh, iya Maaf Mbak. Saya salah. Maaf ya." Kata Evi dengan tulus sambil melipat tangannya 🙏.
" Evi apa kamu sakit?" Tanya Luna yang rupanya sedari tadi memperhatikan Gelagat Evi yang terlihat murung.
" Oh, tidak Mbak. Mungkin hanya karena belum sarapan." Sahut Evi ngawur diiringi senyum palsunya.
" Sarapan dulu geh, nanti sakit."Celetuk Romy yang kini berdiri di depan meja kasir Evi.
Deg!!
A......!Plisse deh. Kalau aku mundur perlahan kamu jangan mendekat lagi.
Tuhan, kenapa kata-katanya yang simpel itu terdengar lembut dan menggoda? Batin Evi bergemuruh.
" Iya, sana sarapan dulu di belakang. Ini sudah hampir jam makan siang loh." Kata Luna dengan lembutnya yang kemudian Luna duduk di tepi meja kasir.
__ADS_1
" Nanti saja Mbak, sekalian makan siang. Tidak enak dengan yang lain kalau saya makan sekarang. Saya tidak mau di istimewakan."
" Udahlah, makan saja. Daripada kamu sakit dan jatuh pingsan. Kan tambah repot nanti."
Cih, yang merepotkan itu kamu. Pingsan di restoran. Evi berdecih tapi hanya berani di dalam hatinya. Dia kembali menunduk dan melayani pembeli.
" Ya sudah, aku masuk dulu. Mau periksa yang di belakang." Pamit Luna yang berlalu kembali masuk ke dapur.
" Ngapain masih di situ?"Evi bertanya kepada Romy dengan datar dan wajahnya yang dingin.
Berangsur-angsur para pengunjung berkurang dan nampak lengang.
" Ssshhhh, apa kamu sakit?" Romy menempelkan punggung tangannya ke kening Evi.
Oooohhhhh!!! Astagfirullah hal adzim!! Dia menyentuhku?
Mak!! aku ga kuat mak!
Kamera mana kamera? aku mau melambaikan tangan saja.
Seenaknya saja kamu main sentuh, kamu senyum saja aku runtuh apa lagi ini?
Batin Evi dengan perasaan yang bergemuruh. Darahnya berdesir menghasilkan energi panas sehingga kini pipinya merona dan terdiam seperti boneka.
" Kamu tidak Panas, tapi pipimu memerah." Kata Romy dengan santai.
Kamu yang membuat aku begini, sekarang malah banyak bertanya.
Sudah sana pergi Pak polisi. Aku ga kuat di giniin.
Evi menjadi gugup dan menggigit bibir bawahnya. Terlihat sekali kegugupan dari gerak tubuhnya.
SHOOT!!
BOOM!
DOUBLE KILL!!
Mampus ajalah aku. Pasti mukaku sudah seperti tomat busuk sekarang. Evi menunduk mengamankan pandangan agar tak terserang tatapan maut dan senyum melumpuhkan dari Romy.
"....." Evi menggeleng. Sekuat tenaga dia mengusir kegugupan yang menyerangnya. Bentuk perhatian kecil dari Romy seketika membuatnya lumpuh tak berdaya.
" Aku kemari untuk memberimu ini. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena sudah menolong dan menjagaku kemarin. Terima ya." Ucap Romy yang menyerahkan sebuah paper bag kecil dan meletakkannya di atas meja kasir.
"Apa ini?"
" Bukalah, semoga kamu suka."
Evi perlahan membukanya dan matanya terkesima dengan apa yang kini sudah berada di tangannya.
"Jepit rambut." Katanya lirih.
" Iya, maaf aku bukan orang kaya jadi tidak bisa memberikan hadiah mahal sebagai ucapan terimakasih." Kata Romy yang tanpa ragu memakaikan Jepit rambut di kepala Evi.
" Cantik" Puji Romy yang tersenyum manis.
" Jepitnya?" Evi membalas lirih ucapan Romy.
__ADS_1
" Keduanya."Sahut Romy tanpa filter, yang entah dia sadar atau tidak sedang memuji kecantikan wanita yang berada di depan matanya.
Evi tersipu malu dan lagi-lagi pipinya kembali bersemu.
" Makasih." Ucap Evi sambil menunduk dan tak berani menatap Romy.
Evi menyembunyikan wajahnya yang merah merona. Dia sangat malu jika Romy sampai mengetahuinya. Di satu sisi Evi sadar diri dan ingin menyerah, tapi di saat itu juga Romy semakin mendekat dengan serentetan perhatian kecil yang mampu membuat hati Evi kembali luluh.
Kling!
Kling!
Kling!
Suasana hangat keduanya bubar jalan seketika kala Desta masuk kedalam resto.
"Selamat da..." Sambut Evi ramah kepada pengunjung, meskipun itu adalah Desta.
Semenjak Luna dan Agus menikah, keakraban juga terjalin diantara para pekerja mereka yang mengharuskan mereka untuk lebih sering bertemu dan bersosialisasi.
" Stop! ga usah di sambut. Mana Nyonya?" Tanya Desta langsung pada intinya. Mata Desta terkesiap saat melihat Romy yang masih berdiri di depan meja kasir.
"Di dapur." Jawab Evi cepat.
Pantas saja Pak Boss menyuruh aku cepat cepat kemari memeriksa Nyonya muda. Rupanya ada pak polisi ini. Ah, pak Boss memang feelingmu tajam sekali. Jika dia ada disini dan tau di resto ada pak polisi ini, maka akan runyam semuanya. Batin Desta.
Desta masih ingat betul bagaimana Bossnya itu cemburu buta terhadap sosok polisi yang berdiri di hadapannya saat ini. Desta tau benar siapa Romy.
Agus dan Romy dahulu bersahabat bertiga dimana Romy memiliki rasa pada Nina, tetapi Nina malah terobsesi pada Agus.
Romy dan Agus, mereka perang dingin selama bertahun-tahun lamanya. Hanya karena Nina. Tapi siapa yang tau jika hal itu terjadi juga karena ulah Nina. Nina hanya menganggap Romy sebagai pengganggu diantara dirinya dan Agus sehingga dengan cara liciknya, Nina sering membuat Agus dan Romy berseteru yang hanya di picu oleh masalah sepele.
Karena itulah, sinyal permusuhan masih terjalin sampai saat ini. Ada rasa penyesalan di hati Agus dan Romy dimana mereka berdua menghancurkan persahabatan hanya karena seorang wanita yang sakit jiwa. Dan hal ini pun terkuak setelah penangkapan Nina. Malah Romy juga terjun dalam penyelidikan kasus Nina.
Desta segera pergi memasuki dapur untuk mencari keberadaan Nyonya mudanya. Matanya seperti sebuah sensor dan akhirnya menemukan Nyonya mudanya.
" Nyonya, Pak Boss menghubungi saya." Kata Desta yang terpotong sebelum kembali berbicara.
" Apa? Dia hubungi kamu? tapi tidak hubungi aku? Apa maksudnya? Berani sekali dia!" Sahut Luna yang bersungut-sungut memendam amarah.
Bagaimana tidak, sudah dari semenjak keberangkatannya, Agus sulit sekali di hubungi. Luna setiap hari selalu saja mengisi kerinduannya dengan tangisan dan memeluk guling yang sengaja di pakaikan baju kemeja suaminya yang sengaja tidak di cucinya.
Bau keringat Agus bisa sedikit mengobati rindunya. Mungkin jika melihat tingkah istrinya yang begini, Agus juga tidak akan tega untuk pergi.
" Nyonya...," Sela Desta yang lagi-lagi tehenti karena ocehan Luna.
" Apa? Apa? mau alasan apa lagi? Mau bilang sibuk? Sibuk apasih dia, bukannya hanya mengawasi apa dia disana sudah alih profesi menjadi kuli? sampai-sampai tidak ada waktu untuk sekedar menelfon istri."
"Nyonya, ini pak Boss ingin bicara. Telfonnya masih terhubung." Potong Desta bergantian.
"Kenapa tidak bilang?"Luna mendekat dan menyahut ponsel Desta.
" Loh, kemana gambarnya?" Luna kecewa karena harapannya adalah video call tapi ternyata hanya panggilan suara.
" Hallo By. Aku kangen, hiks... hiks... hiks...." Ucap Luna sambil menangis menahan rindu. Nampaknya dia sudah tidak perduli akan opini para pekerjanya saat ini. Dia menangis dan di perhatian para pekerjanya. Tidak perduli apapun itu, yang terpenting baginya adalah bisa melepas rindu yang menggebu.
" Maaf sayang, disini susah sinyal. Ini aku bisa menghubungi mu saja harus ke kota dulu. Aku juga kangen. Kamu jangan nangis ya. Maafkan aku yang terlalu sibuk." Kata Agus di seberang panggilan.
" Kamu sok sibuk! Hiks... hiks... hiks..." Desis Luna lirih yang kemudian mengalihkan panggilan ke video call.
__ADS_1