
Pesta pernikahan berjalan dengan sukses. Nina yang datang tanpa tahu malu, tanpa undangan dan juga tanpa di harapkan tentunya.
" Hai, selamat ya atas pernikahan kalian. Aku tidak menyangka jika selera Agus sekarang sangatlah rendah seperti ini. " Kata Nina dengan mengeraskan suaranya.
Luna hanya tersenyum kecut melihat Nina yang sedang berusaha bergelayut manja di tangan Agus.
Agus menggerakkan tangganya memberi kode kepada para kru EO untuk mengusir Nina.
Nina yang melihat beberapa orang mendekat untuk menyeretnya keluar dari acara dengan lantangnya mulai berseru.
"Stop!!" Dan kemudian Nina merebut mic milik MC yang masih memimpin jalannya acara.
Entah kegilaan apa lagi yang akan di lancarkannya kali ini tapi jelas saja itu tidak sopan dan menganggu ketenangan orang lain juga termasuk dalam prilaku merugikan orang lain.
" Selamat siang para tamu undangan yang terhormat, perkenalkan saya disini selaku dari pihak mempelai pria ingin menyampaikan beberapa hal." Kata Nina yang melirik pasangan pengantin yang berdiri dengan wajah pucat pasi karena tindakan Nina.
Luna masih ingat dengan Nina dan mungkin saja dia tidak akan pernah lupa siapa Nina. Pergulatan mesra yang terjadi di kantor Agus masih segar mengalir dalam ingatannya.
" Pihak pria? Siapa dia?" Desis para tamu undangan yang mulai mempertanyakan siapa Nina.
" Iya saya adalah pacar dari mempelai pria." Kata Nina dengan Sangat percaya diri dengan tatapan mata yang mengintimidasi Luna tentunya.
Luna terkesiap dan menatap tajam Agus yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya. Agus tidak berekspresi dan hanya berwajah datar sungguh sulit untuk di artikan. Agus menunduk dan menggaruk alisnya yang tak gatal dengan satu jari telunjuknya dan kemudian berjalan dan menampar Nina dengan sangat keras di hadapan para tamu undangan.
Para tamu undangan tercengang dengan tindakan Agus. Agus seorang CEO yang sangat sulit di temui dan terbilang dingin ini kini sedang menunjukkan sisi panasnya. Kemarahan sangat membara menguasai jiwanya. Tidak banyak bicara dan hanya dengan satu tindakan mampu membuat semua tamu yang hadir dan mulai bergosip terdiam.
" Agus, sini. Jangan kotori tanganmu untuk memegang sampah ini Nak." Kata Mama Elena memecah kesunyian dan segera mengelap tangan kanan Agus yang sudah menampar Nina dengan tisu seolah jijik jika tangan putranya memegang Nina.
" Agus!" Teriak Nina dengan mata yang berkaca-kaca dan wajah yang merah padam. Betapa malunya dia di tengah banyaknya tamu undangan di dipermalukan.
__ADS_1
Ibarat Boomerang. Nina yang bermuatan ingin menghancurkan pesta pernikahan Agus dan Luna kini justru harus menelan kegagalan dan malu yang amat sangat di hadapan banyak orang.
" Maafkan apa yang terjadi ya para tamu undangan. Ini tadi adalah salah seorang wanita yang tidak tahu malu yang selalu menganggu kehidupan putra saya. Namanya Nina jika kalian penasaran kalian bisa menemukan biografinya di internet." Kata Mama Elena sudah selayaknya MC pernikahan.
" Dia ini, sangat terobsesi dengan putra saya. Tetapi putra saya masih cukup baik penglihatannya jadi putra saya selalu menolak Nina ini. Tapi kalian jangan berfikir buruk atas tindakan yang dilakukan anak saya barusan. Nina ini hanyalah seonggok sampah yang tidak tahu malu dan juga tidak bisa berterimakasih."
" Kami keluarga Dermawan, sudah berbaik hati memenuhi semua biaya hidup Nina sedari dia SD. Sebab apa? Sebab dulu ayahnya adalah kuli yang meninggal karena kecelakaan kerja. Kami kasihan dan tidak tega menaruhnya di panti asuhan, jadi kami memberinya rumah, pengasuh dan segala fasilitasnya sampai dia mendapatkan gelar sarjana S2 dan bisa hidup mandiri."
Mama Elena berhenti sejenak untuk meminta persetujuan Suaminya. Papa pandu mengangguk, terpancar juga kemarahan dari wajah Papa Pandu ang sedari tadi tak berkedip menatap Nina penuh kebencian.
" Tapi, semua itu tampaknya tidak cukup memuaskan untuknya. Dia sengaja ingin mengejar Agus dan berharap bisa menjadi bagian dari keluarga Dermawan dengan satu tujuan picik. Dia ingin memusnahkan kami semua dan memiliki seluruh harta kami." Kata Mama Elena yang kini sudah memasang raut kebencian terhadap Nina.
" Itu tidak benar Tante. Tante jangan mengarang cerita. Saya sudah menganggap kalian semua sebagai keluarga saya. Tidak ada niatan buruk Tante. Dan kepada Agus, saya tulus Tante" Kata Nina yang mencoba meyakinkan Mama Elena dengan wajah memelasnya yang teraniaya.
" Oh, begitukah? Lalu apa ini?"
" Shit!! Harusnya kamu lebih cepat bertindak!"
" Tapi, aku sudah semaksimal mungkin Nina."
" Harusnya kamu melindasnya sekali lagi dan pastikan dia mati!"
" Apa kamu tidak kasihan? Dia sudah menganggapmu sebagai Kakaknya."
" Hahahaha! Kakak katamu? Aku lebih tertarik untuk memiliki seluruh harta keluarga Dermawan."
" Dengan apa caramu?"
" Gampang, dengan cara menikahi Agus Dermawan dan memiliki anak dengannya setelah itu singkirkan mereka semua. Kamu hanya perlu sedikit bersabar sayang!"
__ADS_1
Begitulah isi rekaman suara yang di putar Mama Elena dari ponselnya.
Polisi sudah datang dan segera memborgol tangan Nina yang merupakan dalang dari kecelakaan yang menimpa Rosa. Bukti itu baru di dapatkan Mama Elena pagi tadi oleh orang suruhan Papa Pandu yang manaruh curiga atas gerak-gerik Nina yang terkesan menarik diri dari keluarganya setelah Rosa kecelakaan. Bahkan Nina sama sekali tidak membesuk Rosa atau memberikan dukungan moril kepada keluarga.
Semua orang tercengang. Apalagi Luna kakinya mendadak lemas seperti tidak bertulang dan matanya basah dengan air mata. Dia tidak mengerti ada orang yang begitu jahat dalam hidupnya. Mama tirinya dan kini Nina anak asuh mertuanya.
Luna ingat kembali bagaimana sekarang hidup adiknya menderita karena istrinya sendiri melupakannya. Kesedihan itu menyeruak memenuhi dadanya. Luna menangis dan begitu saja pingsan dan tepat berada di rangkulan Papa Pandu yang sedari tadi berdiri mendampinginya.
Para tamu menjadi riuh dan heboh. Semua bergosip ria. Belum lagi ponsel mereka yang merekam semua kejadian dan memposting secepat kilat.
" By..!" Seru Agus yang melihat Luna jatuh pingsan dalam rengkuhan Ayahnya.
" Cepat amankan dia, keluarga kami tak Sudi melihat wajahnya lagi!" Ketus Mama Elena memberi perintah pada Desta untuk mengurus segala bukti kejahatan Nina.
"Bawa anakku masuk!" Seru Mama Elena yang dengan cepat berjalan mendahului Agus yang tengah menggendong Luna menuju ku ruang rias.
Pesta menjadi kacau dan kini tinggal MC yang sesungguhnya yang mempersilahkan para tamu undangan untuk menikmati hidangan yang tersedia.
Luna terbaring tak sadarkan diri di sofa yang berada di dekat jendela besar. Wajahnya yang ayu cantik alami dengan polesan makeup yang flawless membuat Agus terkesima meski kini istrinya tengah menutup mata.
" Sayang, bangun Mama sudah membuang sampah itu pada tempatnya." Kata Mama Elena yang mengusap lembut pipi Luna.
" By, bangunlah! semuanya baik-baik saja." Kata Agus yang entah sadar atau tidak dia malah memonyongkan bibirnya dan hendak mencium Luna di hadapan Papa dan Mamanya.
" Sadar tempat!" Mama Elena meraup bibir Agus yang sudah penuh hasrat untuk mencium bibir Luna.
Tindakan Mama Elena sangatlah tepat. Pasalnya Agus lupa jika sekarang di ruangan itu masih banyak para kru EO, keluarga besar, tim penata rias, dan juga dua sahabat Luna yaitu Veni dan Caca.
" Sabar dikit lah Gus. Nanti malam lah kalau mau adu senjata." Celetuk Caca tanpa melihat ekspresi wajah orang-orang sekitar yang mengkerutkan alisnya karena ucapan frontalnya.
__ADS_1