Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Tanda merah


__ADS_3

Sudah dua hari Luna bersembunyi dan menginap di restonya. Ponsel pun sengaja belum di aktifkanya dan itu membuat seseorang menuju ke resto dengan protes kerasnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan Luna sudah menutup restonya. Memang selama bersembunyi Luna tidak pernah sekalipun menampakkan batang hidungnya.


Agus dalam sehari bisa 5 sampai 6 kali menanyakan Luna kepada Evi dan mas Joko. Tetapi sayangnya mereka semua bungkam dan menunjukkan sikap loyal terhadap Luna.


" Kamu, mau sampai kapan sembunyi dari suamimu sendiri Na?" Veni mengusap punggung Luna yang masih menangis setelah menceritakan tentang kejadian di kantor Agus.


" Aku tidak tahu Ven. Hatiku masih sakit dan kecewa." Keluh Luna yang memang menunjukkan kekecewaan dengan tangisnya.


" Baiklah, terserah mu saja. Kamu bisa kembali ke apartemen Na. Tidak baik kamu tidur di sini." Veni menasihati agar Luna kembali ke apartemen.


" Tidak Ven, dia akan menemukan ku di sana." Veni mengangguk paham. Ternyata sahabatnya benar-benar menghindari segala macam peluang pertemuan dengan Agus.


" Hmmh," Veni hanya bisa menghela nafas dan menjadi pendengar yang baik saat ini.


" Ya sudah, kalau kamu tetap mau menginap di sini. Aku pulang dulu, badanku remuk rasanya. Aku baru saja kembali dari dinas luar kota." Keluh Veni yang benar-benar lelah.


Sebenarnya kedatangannya ke resto milik Luna hanyalah untuk mengisi energi dan rehat sesaat. Tetapi malah Evi memberitahukan kepada Luna jika sahabatnya datang, dan jadilah Luna yang mengadu dan menangis tersedu sejadi-jadinya.


" Rahasiakan ini dari Levan dan Caca. Aku tidak mau ada perkelahian, aku hanya ingin menyendiri untuk menenangkan diri." Ucap Luna berpesan dengan raut wajah yang penuh kecemasan.


" Iya, aku paham Na. Jangan khawatir." Jawab Veni dengan lembut.


"Aku pulang ya." kata Veni.


" Eum!" Luna mengangguk sambil menggaruk garuk lengannya yang tertutup baju lengan panjang.


Luna menghantarkan Veni ke depan resto hingga taxi pesanannya datang. Saat taxi Luna datang, beberapa saat kemudian datanglah Romy. Masih dengan seragam yang melekat, Romy yang bertugas patroli malam hari begitu senang melihat Luna yang berjalan memasuki resto.


" Lun!" Seru Romy memanggilnya.


" Em?" Luna menoleh mendengar suara yang samar di telinganya.


" Hai!" Romy berlari menghambur mendekati Luna.


" Ya?" Luna terdiam dan bertanya.

__ADS_1


" Minta nomor kamu." Kata Romy langsung pada tujuannya kala bertemu dengan Luna.


" Kan sudah ya kemarin. Apa kamu lupa untuk simpan?"


" Ah, kamu ini sepertinya jaringan mafia kelas berat. Aku sudah simpan dan hubungi nomormu tetapi tidak bisa. Apakah ada nomor yang salah?" Romy menyodorkan ponselnya untuk Luna memeriksanya.


" Hehehehe, bukan nomornya yang salah pak polisi. Tapi aku yang lupa belum menghidupkan kembali ponselku." Jawab Luna sambil nyengir kuda saat teringat jika ponselnya masih belum di hidupkan.


" Ada perlu apa? Cafe dan resto kami sudah tutup." Kata Luna dengan jujur.


" Oh, tidak. aku sedang tugas malam ini untuk berpatroli dan tidak sengaja melihat kamu makanya aku langsung tanyakan nomermu." Jawab Romy dengan jujur.


" Patroli apa ngapel kok sendirian." Ledek Luna kepda Romy dengan senyum kecilnya.


" Patroli. itu lihat mobilku. Temanku menungguku di sana. Sudah ya, aku permisi dulu. Bolehkan nanti malam aku telfon?" Tanya Romy dengan sungguh-sungguh.


" Iya, kalau aku tidak lupa untuk menghidupkan ponselku." Kata Luna dengan senyum manisnya.


Astaga, senyuman itu. Batin Romy sungguh mendamba Luna.


" Bye!" Keduanya saling melambai di ikuti Romy yang berlari kecil menuju ke mobil patrolinya.



Kira kira seperti ini lah tatapan matanya membuat merinding.


" Astaga!" Seru Luna terkejut setengah mati sampai memegang dadanya.


Lampu mang sudah di matikan. Jadi keadaan pencahayaan sangat minim dan menghasilkan suasana yang sedikit menyeramkan ditambah lagi dengan tatapan mata Agus yang tajam yang membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri ketakutan.


" Asik ya, baru sebentar pergi sudah punya gandengan baru." Ucap Agus sengaja merendahkan Luna karena kecemburuannya melihat Luna berbincang dengan Romy sampai tidak menyadari jika suaminya memasuki resto.


" Siapa? Gandengan?" Luna masih memperjelas maksud pertanyaan Romy.


" Polisi tadi, dia pacar kamu?" Desak Agus yang memaksakan opininya sendiri.

__ADS_1


" Hahahaha! Polisi tadi? dia polisi yang sedang berpatroli. Lagian kami hanya sebatas kenal saja."


" Enak sekali kata-katamu merendahkan aku. Memang aku wanita apa di matamu?" Terang Luna membela diri.


" Halah, pasti kalian punya hubungan kan? lihat itu lehermu merah merah seperti itu. Jangan berkilah." Kata Agus dengan entengnya.


Luna sudah habis kesabaran dan tersulut emosi. Seharusnya sedari awal dia yang marah dan mengobrak-abrik kantor Agus. Tetapi semua itu di urungkannya karena memang dia sadar posisi dan perjanjian mereka.


" Hubungan? hahahaha!" Luna kembali tertawa dengan nada menghina Agus.


" Bukannya kamu yang punya hubungan dengan wanita itu? jika di ingat lagi, pose kalian lebih dekat dan intim." Luna melipat tangannya ke dada dan berbicara setenang mungkin meskipun hatinya sudah kacau dan kakinya mulai lemas mengawali pertengkaran.


" Jelas, pose seperti itu tidak akan di lakukan oleh rekan kerja, teman, atau sahabat. Aku paham posisiku, aku tidak punya hak untuk marah denganmu. Dan wanita itu, mungkin dialah wanita yang selama ini kamu maksud." Luna mulai menitikan air mata perlahan.


" Aku tidak ingin berdebat, aku cukup sadar siapa aku. Kamu hanya perlu melunasi pembayaran kerjasama kita. Dan aku akan pergi tanpa membuat keributan atau mengganggu hidupmu lagi." Kata Luna dengan panjang lebar dan sesekali tangannya menggaruk lengan dan lehernya.


" Apa? maksud ucapanmu? Kita sudah menikah, dan kamu anggap pernikahan kita termasuk dalam kerja sama?" Kata Agus dengan mendekati Luna.


Luna mendangakdan melihat wajah Agus yang kini berdiri di hadapannya. Mata keduanya saling bertemu dan berbicara perlahan lewat tatapan.


" Pernikahan kita murni dan tidak tercantum dalam perjanjian kerjasama. Aku sudah melunasi pembayaran kerjasama kita. Dan kamu, kamu istriku yang sebenarnya. Tidak ada perjanjian, melainkan ikatan sakral." Kata Agus tegas.


" Tapi, kamu?" Luna merasa di permainkan dalam situasi ini. Bila memang Agus menanggap pernikahan adalah sesuatu yang sakral, bagaimana dia bisa melakukan itu di kantor dan di depan matanya?


"Ikatan sakral katamu?" Luna menatap Agus dengan memberikan smirknya.


" Ikatan macam apa? Kalau memang dengan ikatan itu kamu menganggap bahwa aku adalah istrimu. Maka kamu tidak akan melakukannya dengan wanita lain di hadapanku. Dan juga kamu menyuruh Desta untuk memanggilku supaya cepat-cepat datang ke kantormu untuk apa? Untuk menyaksikan pertunjukkan di waktu yang tepat?" Luna berbicara dengan nada yang sudah naik dua oktaf, tatapannya sungguh tajam menggambarkan kemarahan.


" Halah, ku sendiri apa? Berapa hari tidak pulang,alah leher di penuhi tanda merah seperti ini. Tanda kepemilikan siapa yang menempel di seluruh tubuhmu ini? huh!" Bentak Agus kuat.


" Hey dengar ya Tuan Agus Dermawan. Aku tidak melakukan apapun dan dengan siapapun. Aku masih mampu dan sangat mampu untuk menjaga harga diriku. Jika kedatanganmu kesini hanyalah untuk merendahkan ku. Silahkan kamu pergi dan carilah wanita yang setara denganmu." Ucap Luna penuh emosi sambil membuka pintu keluar.


Tangis Luna sungguh tak terbendung lagi. Bagaimana bisa Agus yang bersalah tetapi Agus pula yang menuduh Luna melakukan hubungan dengan laki-laki lain. Sungguh di luar pemikiran Luna.


Agus yang terbawa emosi kemudian menggebrak meja dan mengibaskan tangganya mengenai sebuah vas bunga. Pecahlah vas bunga dan berhamburan di lantai. Agus berjalan melewati Luna yang menangis dan menunduk tanpa menatap Agus. Saat itulah Agus matanya masih saja fokus pada tanda merah di leher Luna. Dan ada beberapa yang tertutup plester.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


Bagi likenya sih, biar lebih semangat lagi author nulisnya.


__ADS_2