Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Pesan antar


__ADS_3

Pagi ini begitu hening, rintik hujan turun membasahi bumi, membawa aroma khas yang menenangkan hati. Agus berdiri menghadap ke jendela besar yang tertuju ke cafe Luna. Bibirnya tengah menyesap kopi yang mengeluarkan aroma khasnya. Manik Agus terus saja menatap memandang arah cafe Luna.


Masih teringat jelas di pikirannya jika ternyata Luna adalah tetangga dalam apartemen yang sama dengannya dengan pacarnya yang lebih muda. Agus menyunggingkan senyuman kecil di bibirnya penuh arti.


Aku suka kopi buatannya, tapi aku tidak suka dengan gaya berpacaran mereka yang tinggal di dalam satu atap sebelum pernikahan terjadi. Apa aku salah? Jangan jangan mereka sudah menikah? Ah, untuk apa juga aku memikirkan urusan pribadinya. Urusanku hanya sebatas pesan antar kopi. Agus menggeleng dan menepis pikiran negatifnya sambil kembali melanjutkan aktifitasnya.


Ada kenyamanan dan kebahagiaan yang masih bisa dirasakannya hingga pagi ini. Bahkan pagi ini para karyawan heran dengan sikap Agus yang ramah, dia mau menyapa beberapa karyawannya. Tidak seperti biasanya, Agus terkenal sebagai atasan yang tegas, galak, dan dingin kepada karyawan. Tapi pagi ini? Karena mimpi indah itu nyatanya mampu mempengaruhi suasana hati CEO Agus Dermawan yang dingin.


"Lenna, tidak sia sia kita pagi ini sudah membawakannya kopi." Ucap Ira yang mulai mengajak Lenna bergosip di meja resepsionis.


"Iya, aku semalam di telpon sama Desta. Sumpah aku kesel banget Ra. Dia memohon dengan sangat untuk aku segera berlangganan kopi dengan cafe yang di depan sana. Lebih tepatnya langganan pesan antar setiap hari dengan bayaran perbulan." Lenna menjelaskan bagaimana usahanya pagi tadi.


Flashback on.


"Cepetan Van, kita harus segera sampai. Kakak sudah kedinginan." Keluh Luna yang tidak tahan dengan AC.


"Sabar kak, sebentar lagi. Kalau Acnya di matikan, nanti kaca mobilnya akan mengembun." Levan menolak secara halus kemauan Luna yang sebenarnya ingin mematikan AC mobil.


"Hacuh! Hacuh!" Luna bersin bersin karena Luna memiliki alergi dengan suhu rendah atau dingin.


Levan dengan perhatian mengambilkan tisu untuk menyeka hidung Luna yang mulai terasa gatal dan berair serta kemerahan.


Sampaikan mereka di cafe. Luna turun terlebih dahulu sebelum levan memarkirkan mobil. Luna berlari kecil sambil menutup kepalanya dengan Tote bag agar terhindar dari hujan yang masih dengan setianya turun dan bertahan lama.


"Mbak, mbak! permisi." Sapa lenna yang sudah sedari pagi tadi menunggu di teras depan Cafe.


"Hem, iya. ada apa ya? Mbak ini siapa?" Tanya Luna sembari memerhatikan wajah dan penampilan Lenna. Mata Luna tertuju pada tag name yang bertuliskan LENNA ARYANA.


"Maaf sebelumnya, saya mengganggu waktu anda. Perkenalkan saya Lenna. Saya karyawati di perusahaan ADR Corporation." Lenna menunjuk ke gedung tinggi yang berada di depan Cafe milik Luna.


"Ini tanda pengenal saya." Lenna memberikan ID Cardnya.

__ADS_1


Luna mengamati dengan seksama Id card yang dipegangnya setelah dirasa cukup, Luna lalu mengembalikannya sambil tersenyum ramah.


"Ini Mbak, Mari kita ngobrol di dalam dulu." Kata Luna mengajak Lenna masuk.


"Kok belum di buka dari tadi CANTIK?" Levan yang datang dan berjalan dengan santainya menghampiri Luna dan mengambil kunci dari tangan Luna sambil tersenyum manis.


Terkadang Levan memperlakukan Luna dengan sangat baik, sampai terkadang mampu membuat orang lain salah berasumsi. Kebanyakan dari mereka selalu mengira jika Levan adalah kekasih atau bahkan suami Luna.


"Van, ah. Malu ada orang." Luna mencubit perut Levan karena malu di hadapan Lenna.


"Kenapa malu sih? Udah biasa juga. Hai!" Jawab Levan sembari menyapa Lenna yang terkesan canggung berada di antara Levan dan Luna.


Sungguh pasangan yang serasi. Dimanakah ada lagi seperti dia ini, satu lagi. Batin Lenna yang diam diam mendamba Levan dalam sekali pertemuan.


"Em... Iya." Jawab Lenna dengan gugup dan membalas senyum Levan.


Duduklah mereka berdua Lenna dan Luna membicarakan kerja sama pesan antar kopi yang kemungkinan besar akan berlangsung cukup lama. Sementara itu, Levan dengan cekatan membantu Luna untuk membersihkan dan menata kursi dan meja di cafe.


"Bang Levan! Tolong bantu si Joko mengangkat kentang dan sayuran yang baru datang Bang. Evi masih sibuk." Seru Evi dari pintu seberang sambil menengadahkan tangannya yang kotor dan penuh busa sabun.


Oh, jadi Levan namanya. Nama yang keren. Puji Lenna dalam hati mengagumi sosok Levan.


"Mbak, mbak!" Luna memanggil Lenna untuk menyadarkan lenna dari khayalannya.


"Oh, iya mbak. Apa?" Lenna dengan gugup kembali mencoba untuk berkonsentrasi pada pembicaraannya dengan Luna.


Ih, apasih aku ini. Malu banget, mana di depan pacarnya lagi. Batin Lenna mengerutuki dirinya sendiri.


Hah, sudah biasa. Pasti kesemsem sama Levan dan mengira aku adalah pacarnya. Levan, Levan. Kapan kamu akan berhenti dengan trikmu yang kekanakan itu? Batin Luna sambil menggeleng melihat kelucuan ekspresi wajah Lenna yang gugup.


"Jadi, ini setiap hari. Dan untuk bulan ini, kemungkinan yang akan mengantarkan adalah dia." Ucap Luna sambil menunjuk Levan yang terlihat sangat tampan dengan apron dan kaus hitam yang sedang fokus bekerja.

__ADS_1


"Oh iya Mbak, tidak apa apa. Untuk pembayaran akan langsung saya bayarkan selama satu tahun ya. Ini perintah dari atasan saya. Boleh minta nomor rekening anda? dan juga nomor ponsel anda. Oh iya hampir lupa, ini juga surat kerja sama kita pesan antar kopi dan Snack." Kata Lenna menjelaskan sambil membabarkan.


"Silahkan Mbak pahami dulu isinya sebelum menandatangani." Lenna berpesan kepada Luna yang sudah siap mengangkat penanya.


Luna mencermati setiap poin yang tertera dengan cermat. Bola matanya bergulir ke kanan dan kiri berulang ulang hingga akhirnya dia paham dan mulai menandatangani surat perjanjian pesan antar itu.


Flashback off.


"Ga rugi tadi gue kesana pagi pagi. Ada cowok ganteng bangey dong disana." Ucap Lenna kegirangan.


"Tapi sayang, dia pacarnya Mbak Luna." Kata Lenna yang kecewa karena opininya sendiri.


Brak!


Agus menggebrak meja tempat Ira dan Lenna bergosip dari arah belakang. Keduanya terperanjat dan langsung lesu seketika ketika melihat wajah dingin atasannya yang menatap tajam keduanya.


"Berapa gaji kamu?" Tanya Agus sambil menunjuk Lenna tepat di depan hidung Lenna.


"Li... Lima juta empat ratus pak." Jawab Lena gugup dan menunduk.


" Kamu?" Agus menunjuk Ira juga tepat di depan hidungnya.


"Sa... saya.... em empat juta pak." Jawab Ira dengan takut.


"Taukan kalau saya tidak suka karyawan saya bergosip. Kalian sudah membuang waktu dan uang saya dengan bekerja tidak profesional, efisien dan maksimal. Untuk itu, gaji kalian saya potong empat ratus ribu bulan ini."


"Ini sebagai bentuk ganti rugi dan denda karena melanggar aturan perusahaan serta merugikan perusahaan." Ceramah Agus panjang lebar di hadapan karyawatinya.


Lenna terbelalak ketika mendengar gaji Ira tinggal empat juta saja. Mereka seharusnya menerima gaji bulanan yang sama, tetapi kenapa kali ini berbeda? Apakah Ira sudah membuat kesalahan yang cukup merugikan perusahaan? Lenna bertanya tanya dalam hatinya.


"Jangan kalian ulangi lagi. Bergosip lah di jam istirahat di luar kantor. Menegerti?" Seru Agus dengan nada datar tetapi mampu membuat yang mendengarnya ketakutan.

__ADS_1


"Iya pak" Jawab Lenna dan Ira secara bersamaan.


Berarti benar mereka adalah pasangan. Tetapi kenapa aku jadi suka memikirkan urusan mbak penjual kopi itu sih, heran. Kenapa aku kecewa mengetahui jika benar pria muda itu adalah pasangannya. Kenapa aku berharap jika mereka hanyalah kakak beradik? Ada apa denganku?" Pikir Agus yang kini berlalu pergi dari hadapan Ira dan Lenna.


__ADS_2