Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Muntah darah


__ADS_3

" Ma, kita ke dokter ya?" Heru membujuk istrinya untuk memeriksakan diri ke dokter.


" Tidak ah Pa. Kita di rumah saja. Mama malas harus di tes tes." elak Rima yang tidak mau pergi ke rumah sakit.


Sebenarnya bukan Maslah sakitnya, tetapi Rima tidak bisa bertemu dengan dokter yang di tuju bersamaan dengan suaminya. Akan terjadi Maslah besar jika hal itu terjadi.


Rima memiliki hubungan spesial dengan dokter yang di maksud Heru. Yaitu dokter keluarga mereka, dokter Adrian. Heru sudah sangat mempercayai Adrian. Tapi, Heru tidak pernah tau jika Rima dan Adrian memiliki hubungan jauh sebelum Rima dan Heru menikah. Sisil pun sebenarnya bukan anak kandung Heru. Rima benar benar hanya menguras harta benda keluarga Kuncoro Sadewa.


Beberapa hari ini Rima jatuh sakit dan semakin memburuk. Tetapi tiap kali Heru ingin memanggilkan dokter, Rima selalu menolak dengan alasan yang berubah ubah. Rima hanya menganggap sakitnya ini adalah sakit yang biasa dan akan sembuh sendiri.


Rima sedang berjalan menyusuri teras belakang rumah, di sana juga merupakan area yang terpasang kamera pengintai yang di pasang oleh Levan. Terlihat Rima berhenti sambil terbatuk batuk. Dari tangkapan gambar, telihat tisu yang putih itu sekarang ada bercak merah seperti noda darah.


Rima menyembunyikannya dan membuang tisu itu ke kotak sampah. Entah apa yang ada di kepalanya saat ini. Walau langkahnya mulai lemah dan lunglai tapi Rima tetap berupaya terlihat segar di hadapan suami. Antara tidak ingin membuat cemas suami, atau tidak ingin melewatkan suatu hal di rumah itu.


****


" Ma***s kamu Rima!" Seru levan dengan sangat bahagia.


Levan mulai menghitung dengan jarinya, semuanya terjadi lebih cepat dari hitungannya dan membuat levan sangat bahagia saat ini. Ada kepuasan tersendiri yang membuat levan tertawa lepas menikmati kesakitan Rima tanpa harus menyentuhnya.


Levan sangat girang melihat layar ponselnya yang menunjukkan gambar penderitaan Rima. Levan bahkan sampai bertepuk tangan dan menggelengkan kepalanya seolah bangga dengan apa yang di lakukannya.


" Siapa anak pintar di sini? Aku!" Seru levan memuji diri sendiri.


" Siapa yang akan menyingkirkan serangga-serangga busuk? Aku!" Levan bersorak Sorai menjawab pertanyaannya sendiri.


"Rosa!"Teriak Levan memanggil Rosa yang kebetulan lewat.


Bukannya mendekat, tetapi Rosa justru berlari kencang menghindari panggilan levan.


" Kenapa dia Aneh? Padahal biasanya selalu nempelin aku. Ah, mungkin dia sudah menemukan pasangan." Pikir levan positif.


"Kenapa dia memanggilku? bukankah jika aku mati sekalipun dia tidak akan perduli? Ah, sudahlah Rosa. Jangan besar kepala hanya karena dia menyebut namamu." Gumam Rosa memikirkan sesuatu yang baru saja terjadi.

__ADS_1


****


" Bagaimana keadaan anak kita?" Tanya seseorang dari ujung telepon seluler.


" Dia baik, akhir akhir ini dia sangat sibuk menjelang ujian." Jawab Rima dengan lesu.


" Apa kamu sakit sayang?" Tanya Adrian dengan cemas.


" Tidak, hanya sedikit lelah saja." Ucap Rima berbohong.


"Aku ingin sekali bertemu denganmu." ucap Adrian mengharapkan pertemuan.


"Dua hari lagi kan kita juga bertemu sayang. Kamu baik baik ya. Sebentar lagi tujuan kita akan terwujud." Ucap Rima dengan senyum liciknya.


" Iya sayang." Jawab Adrian yang kemudian mengakhiri panggilan.


Rima sangat gugup ketika ternyata Heru berada di belakangnya.


" Oh, ini Pa. Ibu ibu arisan, biasa mengajak mama untuk ikut bakti sosial. Mereka ingin membuat taman bermain anak anak yatim. Ya, mewujudkan impian anak panti." Jawab Rima berbohong namun cukup masuk akal.


"Oh begitu rupanya. Baiklah, kalau begitu besok papa nitip saja ya." Ucap Heru yang terbiasa mempercayakan semuanya kepada Rima.


"Beres kalau soal itu Pa!" Jawab Rima dengan antusias karena akan menerima banyak uang cuma cuma dari suaminya.


Tidak sedikit yang Heru titipkan untuk santunan ke panti. Selalu saja menyentuh angka 30 juta setiap bulannya. Sedangkan untuk anak anaknya juga selalu di telan utuh oleh Rima. Bisa mengumpulkan ratusan juta di setiap bulannya, hal ini yang membuat Rima tidak bisa berhenti dari kejahatannya.


Dua hari berlalu dari hari itu. Rima menjadi semakin sering muntah darah, Levan berfikir keras bagaiman menghentikan reaksi Rima yang muntah darah. Karena hal itu akan memicu banyak pertanyaan jika Rima sampai meninggal dunia dengan keadaan muntah darah.


Levan yang biasanya datang sebulan sekali hari ini datang dengan tiba tiba. Tetapi sungguh Tuhan seperti telah memberikan jalan kepada Levan. Rima sedang pergi berfoya foya menikmati uang hasil penipuan yang dilakukan dengan membohongi suaminya.


Levan mengganti formula racun dan menjadikannya berhenti muntah darah. Hanya saja nanti kematian Rima akan lebih tragis dengan dugaan serangan jantung dan gangguan saraf. Levan menambahkan formula yang mampu membuat Rima akan lebih sering berhalusinasi dan memiliki kecendrungan bunuh diri.


Sudah seperti psikopat, keseharian Levan hanya tertuju untuk mengakhiri hidup ibu tirinya. Levan yang bertahun-tahun tertekan keadaan kini tumbuh menjadi pria yang sadis terhadap musuhnya dan membenci segala bentuk penindasan.

__ADS_1


Rekaman kamera sengaja levan matikan agar tidak tertangkap kamera saat dirinya mencampur formula kedalam bubuk teh milik Rima.


****


" Sayang, kita ke rumah sakit ya. Aku takut dengan keadaanmu sekarang. Kenapa kamu sampai bisa muntah darah seperti ini?" Ucap Adrian yang khawatir dengan keadaan Rima.


Kini keduanya saling berpelukan sambil menikmati indah pemandangan di room suite hotel bintang lima. Tangan Adrian perlahan membelai lembut rambut Rima. Rima pun bergelayut manja di dada bidang suami orang tersebut.


"Tidak, kalau aku ke rumah sakit akan banyak orang yang tahu. Terutama yang bekerja di rumah sakit Heru. Lalu, siapa yang akan memberikan racun itu setiap hari? Kamu tahu kan peluangnya untuk sembuh sangatlah tinggi. Hanya 3 sampai 5 hari tidak meminum racun itu, dia sudah bisa menggerakkan jari kakinya." Ucap Rima dengan rencana busuknya.


" Kamu benar, kita harus bekerja lebih cepat. Kamu segeralah rayu dia untuk menandatangani pelimpahan hak waris kepada Sisil." Ucap Adrian meracuni pikiran Rima.


" Tunggulah, aku masih menunggu saat yang tepat." Kata Rima sembari memikirkan suatu kejahatan.


" Sebentar lagi, kita an bisa menikmati semua hartanya." Rima dan Adrian tertawa bersama menikmati kejahatan mereka.


"Uhuk!"


"Uhuk!"


"Uhuk!"


Rima terbatuk batuk dengan darah yang merah segar keluar dari mulutnya. Adrian menyeka darah yang keluar dengan tisu lalu mencium wajah Rima.


" Kamu akan baik baik saja sayang." Ucap Adrian.


Rima mengangguk lemas menahan nyeri di dadanya setelah muntah darah.


" Aku menyayangimu." Ucap Adrian seolah memberi semangat kepada Rima untuk terus melakukan kejahatannya.


Akankah tujuan busuk Rima dan Adrian berhasil? Akankah keduanya menikmati hidup mewah tanpa jerih payah?


~ Bersambung ~

__ADS_1


__ADS_2