
Hai, ini karya kedua aku. Kalau ada waktu mampir ya. Kasih jempol untuk dukungan. Menulis itu tidak mudah kawan. Kami butuh inspirasi dan juga masukan.
Jangan lupa, dengan hanya sekedar menekan gambar jempol tidak akan mengurangi data atau kuota kalian kok.
Jujur, aku ingin ada komunikasi dengan semua pembacaku. Taukah kalian berkomunikasi dengan baik dapat menurunkan tingkat stress?
Ya, awalnya aku tidak percaya. Tapi sekarang aku mulai menerapkannya dan mencoba untuk berkomunikasi dengan baik dengan kalian. Yah, walaupun kita tidak pernah bertemu.
So, klik Like atau tinggalkan jejak di kolom komentar ya.
Happy reading!,,β€οΈπ
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
"Ada apa ini?" Tanya Luna yang heran melihat Desta sedang membujuk Evi.
"Nah, itu mbak Luna. Mas bilang sendiri sana." Kata Evi yang kemudian pergi menaruh nampan gelas kotor yang di bawanya dari tadi.
"Mbak luna!" Sapa Desta sambil nyengir.
"Ada apa ya Mas? Mas yang kemarin pesen banyak buat di Anyer di hotel kristal kan?" Tanya Luna memastikan.
Samar samar Luna masih mengingat Desta yang di malam sebelumnya memesan banyak kopi dan desert. Tepat di malam dimana Luna menangkap basah Deri dan Risna.
"Iya mbak. Mbak, kemarin kan saya sudah pesen banyak. Jadi boleh dong hari ini saya minta tolong." Ucap Desta seperti meminta pamrih atas pembelian yang telah dilakukan.
Luna tersenyum manis sambil mengangguk.
"Tentu pak, tapi bukan hal yang aneh aneh kan?" Kata Luna.
"Bukan mbak, bukan."
"Em, saya mau mbak buatkan kopi spesial seperti biasanya. 3 cup ya mbak. yang 2 dingin saja." Kata Desta dengan sedikit kelegaan.
"Banyak sekali Mas. Biasanya hanya satu pagi dan satu siang." Kata Luna yang ingat betul akan kebiasaan pelanggannya ini.
"Buat boss mbak. Boss saya ada lembur malam ini. Jadi saya siapkan stok saja, saya takutnya mbak nanti malam tidak ada." Terang Desta.
"Iya Mas, rencananya memang saya kesini cuma mau ambil barang yang tertinggal. Tapi karena Mas pelanggan setia saya, jadi ya tidak apalah kalau saya buatkan." Ucap Luna sambil tersenyum ramah.
Luna mulai meracik kopi, sedangkan Desta duduk manis menunggu kopi panas pesanannya siap.
"Mas, memangnya boss masnya galak banget ya?" Tanya Luna basa basi.
__ADS_1
"Wih, bukan lagi Mbak. Mulutnya tajem. Jarang komentar tapi sekali komentar. Jleb! tembus dari ubun ubun, ke jantung, paru paru sampai ke anus Mbak." Kata Desta mulai menceritakan sosok Bossnya.
"Hahaha Mas Mas. Masa iya?" Sahut Luna seraya tertawa.
"Pasti serem ya tampangnya?" Tebak Luna asal sambil terus meracik kopi spesial.
"Salah besar. Tampangnya Mbak. Cakepp bener. Sumpah!" Ujar Desta penuh penekanan.
"Kulitnya Mbak, putihnya udah kayak tepung kanji. Putih banget, Ampel kalau dia minum kopi nih, keliatan itu kopi turun ke kerongkongan."
"Wajahnya Mbak, Beuh! Manis banget kayak gula di campur madu di tambah sakarin." Celoteh Desta sambil mengangkat jempolnya.
"Hahaha, Masa iya minum doang Sampek keliatan ke tenggorokan. Tapi kalau cewek kok galak Mas?" Tanya Luna yang semakin seru berbincang.
"Siapa bilang cewek Mbak? Dia itu laki laki. Laki banget, sampai kalau udah pasang muka serius. Nyamuk nih, mau terbang di depan dia. Nunduk mbak, pasti. Takut sama dia, permisi dulu itu nyamuk."Kata Desta.
Sosok Desta adalah seorang bawahan atau asisten dari Agus Dermawan. Desta adalah asisten terlama yang pernah bekerja bersama Agus. Sebelumnya hanya mampu bertahan dalam hitungan bulan.
"Mas nih lucu. Kenapa ga ikut stand up comedy?" Tanya Luna sambil tertawa kecil.
"Yah Mbak, mana sempet saya ikut begituan. Kalau udah masuk jam kerja sama boss. Saya mau kentut aja, mikir mikir kentut saya buat keluar."
"Keluar enggak ya, di tahan ga sehat. Di keluarin nanti di pecat." Ucap Desta mengibaratkan dirinya sebagai kentut yang berbicara.
"Ini Mas sudah jadi." Kata Luna sambil memberikan 3 gelas kopi.
Desta berbalik badan dan mulai berjalan keluar namun tertahan karena panggilan Luna.
"Mas, Mas tunggu. Ini free dari saya karena Mas sudah bikin saya ketawa hari ini."
"Ini untuk Mas." Luna memberikan sekotak cupcake.
"Dan ini untuk Bossnya Mas, biar adem biar ga marah marah terus." Luna memberikan satu kotak macaron dan secuil note kecil di dalam kotak macaron yang di tujukan untuk Agus.
"Makasih ya Mbak. Semoga enteng jodoh dan murah rejeki." Doa Desta sebagai ucapan terimakasih.
ππππππππππ
"Hai semuanya!" sapa Luna dengan riang kepada Veni dan Caca.
"Tuh, liatin. Tadi malem nangis sampai guling gulingan kayak anak TK. Sekarang udah ketawa ketawa aja." Gerutu Veni yang duduk di tepi pantai.
"Kayak ga tau dia aja Ven. Dia kan selalu mudah bersyukur. Padahal aku aja kalau jadi dia entah mau kayak gimana punya Mak tiri yang kayak iblis." kata Caca menyambung perkataan Veni.
__ADS_1
"Belum lagi percintaannya yang selalu gagal. Masih dia berbiru mimpi itu?" Tanya Caca pada Veni.
"Masihlah!" Ucap Veni singkat sambil kembali memakai kaca mata hitamnya dan kembali bersantai di tepi pantai.
"Hemmm!" Dengus Caca tanpa arti.
"Ih, kok aku di cuekin?" Keluh Luna yang baru bergabung.
"Enggak kok sayang akoh. Sini!" Ucap Veni sambil menepuk bangku di sebelahnya.
"Gitu dong!" Kata Luna sambil tersenyum manis.
"Bahagia banget kamu kayaknya. Kenapasih?" Tanya Caca yang heran dengan sikap Luna.
"Liat nih, tadi aku Nemu ini di batuan karang sana. Lucu kan?" Ucap Luna dengan menunjukkan apa yang di bawanya.
"Bawa aja. Bawa semua penduduk laut ini kerumah kita. Biar semua jadi bikini bottom. Ga sekalian kamu cari Squidward sama Spongebobnya?" Ledek Veni bercanda.
"Eh, iya kamu bener. Untung aja kamu ingetin. Nitip ya, aku mau cari Spongebob sama Squidward dulu." Kata Luna dengan riangnya.
"Tuh, liarkan. Nemu kepiting kecil gini aja girang banget. Apa bagusnya coba?" Ujar Caca sambil mengotak atik kepiting kecil itu.
"Aduh! Anjim! Di capit gue. Sial lu. Ngajak baku hantam sama gue? Ayok, mau dimana. huh? disini ayok apa di arena ayok!" Seru Caca yang berbicara dengan kepiting kecil yang telah menjapit jarinya.
"Kenapa gini amat nasib gue. Punya dua temen pada gila semua. Yang satu nyari Spongebob, yang satunya berantem sama tuan crab."
"Apa gue musti curhat sama plankton ya biar agak plong dikit gitu." Gumam Veni yang meratapi nasibnya sendiri.
Persahabatan mereka terjalin sedari lama dan sangat erat. Dari bangku SMP mereka selalu bersama. Sejauh apapun mereka pergi pasti akan kembali bersama. Veni yang bersikap normal seperti wanita pada umumnya. Caca yang bersikap layaknya penjaga dan Luna yang bersifat cengeng dan sensitif tapi ceria.
Mereka saling melengkapi satu sama lain dan selalu saling mendukung. Seperti saat ini ketika Luna patah hati Caca dan Veni selalu ada menemani.
Di kantor Agus.
"Desta sudah pulang. Cafe di depan kenapa sudah tutup?" Gumam Agus yang mengintip cafe dan resto milik Luna dari balik tirai.
Agus berjalan menuju pantry untuk membuat kopi sendiri. Matanya sibuk mencari cari makanan ringan dan kopi untuk teman lemburnya malam ini.
Matanya terhenti menjelajah dan fokus pada satu kotak kue yang terletak di atas lemari pendingin dengan secuil kertas berwarna pink yang menempel.
"Khusus untuk teman lembur pak boss!
Desta." Tulisan tangan Desta jelas tertempel disana.
__ADS_1