Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Bola liar


__ADS_3

"Sialan! Berita ini benar benar membuatku muak!" Oceh Rima yang tidak suka membaca koran pagi ini.


"Gadis yang Bodoh dan tidak berpendidikan itu tidak seharusnya bisa menjalin hubungan dengan Agus Dermawan Raharsya seorang CEO. Aku harus mengacaukan semuanya." Gumam Rima dengan semua kebusukannya.


Rima benar benar di buat kesal pagi ini dengan sebuah berita yang menjadi headline news. Berita itu memuat tentang kedekatan seorang CEO yang sangat terkenal, pasalnya selain CEO Agus juga banyak terjun kedalam periklanan dan dunia entertainment. Tetapi selain menjadi penyumbang dana dalam sebuah produksi film atau iklan, Agus juga senang muncul sebagai figuran. Rima sangat mengenal Agus sebab rumah sakit tempat dia bekerja dulu merupakan milik keluarga Agus, lebih tepatnya milik Ibu Elena ibu kandung dari Agus Dermawan Raharsya.


"Mama, koran pagi ini dimana Ma?" Tanya Heru sambil memutar roda kursi rodanya.


"Oh, Papa. Belum datang pa, mungkin salah lempar lagi. Tidak apalah, kita bisa baca berita politik lewat hp kan?" Ucap Rima dengan nada yang sangat lembut.


Jangan sampai si tua Bangka ini tahu tentang berita si anak sialan itu. Batin Rima yang sangat membenci Luna.


Rima kemudian mendorong kursi roda Heru dan berhenti di taman untuk menikmati secangkir teh di pagi hari. Rima terlihat sangat perhatian dan merawat suaminya dengan sepenuh hati.


" Ma, mama apa tidak bosan? setiap waktu hanya menikmati teh itu tanpa mencoba varian lain. Tidak ingin mencoba teh papa?" Kata Heru yang sebenarnya penasaran dengan teh milik istrinya yang selalu berwarna lebih terang dari miliknya.


"Ah enggak ah pa. Mama lebih suka teh kampung ini. Teh herbal itukan khusus buat papa. Biar cepat bisa berjalan lagi." Jawab Rima dengan senyum manisnya.


****


" Hahaha, iya nikmati saja terus teh mu itu. Aku hanya butuh waktu 4 bulan lagi. Kak Luna, bertahanlah. ini tidak akan lama." Ucap Levan dengan smirk smile yang melekat di sudut bibirnya.


Dari hasil tangkapan kameranya, Levan mengetahui jika selama ini Rima sering mencampurkan beberapa serbuk putih kedalam teh milik Ayahnya. Levan benar benar ingin menghilangkan kesengsaraan Luna dan ingin menyingkirkan Rima untuk selamanya. Levan kali ini benar benar sudah gelap mata. Itulah sebabnya Levan rutin pulang kerumah dalam satu bulan sekali. Saat ini racun yang setiap hati di konsumsi oleh Rima memang belum menunjukkan tanda-tanda apapun. Racun itu hanya akan menyerang jantung dan membuat Rima meninggal dunia secara mendadak dan terkesan seperti serangan jantung pada umumnya. Levan yang mengambil jurusan farmasi ternyata sengaja lebih dalam mempelajari tentang banyak jenis racun hanya untuk membalas dendamnya.


"Levan, tidak apa kamu melakukan sedikit dosa. Setidaknya kamu bisa menjauhkan orang yang kamu sayangi dari serigala pemangsa." Ucap Levan sambil bermonolog.


Levan kemudian menutup kepalanya dengan topi hitam dan berbaring tidur di bangku taman. Rosa berjinjit mendekati Levan dan tiba tiba membuka Yopi yang menutupi wajah Levan. Levan yang terkejut kemudian terbangun dengan seketika.


"Dasar ulat bulu! Awas, aku mau tidur." Ucap Levan dengan menyingkirkan tangan Rosa dari topinya dan kembali menutup wajahnya.


"Levan, jahat ih. Cantik gini di bilang ulat bulu. Eh, asal kamu tahu ya. Banyak yang mengejar si ulat bulu yang akan berubah menjadi kupu-kupu yang cantik ini." Ucap Rosa yang berbangga hati dan memuji diri sendiri.


Levan diam tidak menjawab dan sudah tertidur. Semalaman levan tidak tidur karena sibuk mengerjakan tugas dan juga memantau pergerakan ibu tirinya lewat kamera pengintai yang terhubung ke ponselnya. Rosa tiba tiba duduk di rerumputan tanpa menghiraukan kotor atau tidaknya dan kemudian memeluk erat lututnya sambil menangis.

__ADS_1


"Levan, kamu benar-benar tidak memilki rasa terhadapku?"


"Em!" Jawab Levan.


"Sekalipun aku mati untukmu?" Tanya Rosa lagi.


" Em!" Jawab Levan cuek.


" Jangan tangisi aku, jika itu terjadi." Celoteh Rosa dengan perasaan sedih.


"Tidak akan!" Sahut Levan yang semakin acuh dan membuat Rosa menyerah.


"Levan, kamu serius?" Tanya Rosa yang merasa ragu.


" Seribu persen yakin." Jawab Levan yang semakin membuat air mata Rosa tak tertahankan.


" Baiklah, kalau begitu. Ijinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya di dalam hidupku. Meski rasa ini tidak terbalas, tapi setidaknya aku sudah berusaha." Ucap Rosa yang terdengar sangat putus asa.


"Peluklah aku asalkan kamu segera pergi menjauh dariku." Kata kata Levan berhasil membuat hati Rosa hancur seketika kali ini.


"Iya, aku janji. Setelah hari ini, aku akan benar-benar menjauhiku untuk selamanya." Ucap Rosa yang terdengar sangat sedih seperti perpisahan terakhir.


Levan sedikit menjauhkan Rosa dari dekapannya dan menatap wajah Rosa yang terlihat sembab dengan kesedihan yang nyata. Seperti ada desiran di saat menatap wajah Rosa, rasa iba di hati levan muncul tiba-tiba dan membuat tangan Levan membalas pelukan Rosa dan mengusap lembut punggung Rosa.


Rosa tersenyum manis dan kembali mempererat pelukannya. " Biarkan aku menikmati ini dua menit lagi, untuk bekalku terakhir kali.


******


"Sial! Melek ga sih orang tadi?" Keluh Luna sambil mencuci rambutnya yang kotor karena terkena air comberan.


"Nih, hairdryer." Kata Caca sambil menyodorkan sebuah hairdryer kepada Luna.


"Gue heran, kesannya itu mobil tadi kayaknya sengaja banget ya buat lewatin genangan air. Kayaknya sengaja gitu biar airnya kena ke muka elu." Celetuk Caca yang masih memikirkan kejadian sial yang menimpa Luna.

__ADS_1


"Pengen gue ajak berantem tuh orang tadi." Ketus Caca sambil mengepalkan tangannya.


"Udah ah, ga sengaja kali dia."Luna meredam amarah Caca.


"Tapi hari ini kenapa semuanya jadi aneh ya?" Ucap Luna sambil mengingat kejadian hari ini.


"Aneh kenapa?" Caca menarik kursi dan duduk mendekati Luna.


"Tadi, waktu jam makan siang. Para pelanggan gue yang kerja di kantor depan itu, pada sopan sopan banget dan ramah ke gue. Malah ada yang panggil gue Bu." Adu Luna dengan polosnya.


"Bu? Padahal biasanya Kak, atau ga Mbak kan ya?" Caca juga berfikir keras dan tidak sengaja memainkan ponselnya.


"Oh, pantes aja. Liat deh lu jadi viral." Ucap Caca dengan wajah kesal.


"Eh, kok gue masuk sini? Apaan lagi ini berita, ngarang aja."Ucap Luna yang terkesan masa bodo.


Caca menggeleng tidak habis pikir dengan sahabatnya yang begitu santai menghadapi berita yang tak jelas itu. Luna malah terkesan mengabaikan berita berita yang menjadi bola-bola liar itu. Caca menepuk pundak Luna hingga Luna terkejut dan hampir saja melompat kaget.


"Persiapkan mentalmu wahai anak muda!" Ucap Caca ngawur.


Luna mematikan hairdryer dan menatap Caca dengan heran. "Apa maksudnya?" Caca bertanya dengan mimik wajah yang terbilang bodoh.


"Lihat gosipnya? Kamu adalah calon menantu keluarga Raharsya. Lihat followers Agus di IG, Tweeter? Semuanya di atas 4 juta followers. Ya pastilah mereka pada kepoin elu. Ya yang ga suka, otomatis jadi hatters elu." Kata Caca yang kini terdengar seperti fakta menarik.


Luna seketika melongo dan duduk dengan wajah gusar, tatapannya kosong seolah tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi." Terus gue harus ngapain Ca?"


"Cari laki laki ini, suruh dia bertanggung jawab! Jelaskan semuanya ke publik." Terang Caca dengan lugas.


Luna menggeleng perlahan sambil menundukkan kepalanya.


" A.... aku..!" Luna mulai terbata bata mengutarakan isi pikirannya.


~ Bersambung ~

__ADS_1


__ADS_2