Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Ruang VIP untuk Romy.


__ADS_3

Luna selesai memasak dan kembali ke kamarnya. Di dalam kamar terlihat Agus yang tertidur dengan dengkuran halus yang mengiringi.


" Tidak biasanya kamu tidur pagi pagi By." Luna berdecak heran lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Agus.


" Tak panas pun," Gumam Luna menirukan dua tokoh kembar botak.


Merasakan ada sentuhan Agus lalu membuka matanya.


" Sudah bangun? Ini di makan. Aku suapi ya?" Bujuk Luna yang kasihan melihat suaminya yang terlihat lemas tak bergairah.


Luna dengan telaten menyuapi Agus, awalnya terlihat tak nafsu makan, tetapi setelah satu suap dua suap, Agus menjadi semakin lahap dan kini dia nampak sangat bersemangat. Luna hanya mengernyitkan dahinya keheranan.


*


*


*


Di Resto.


Romy, sedari pagi sudah sangat bersemangat untuk menemui Luna di resto atau sekedar bertegur sapa untuk mengobati rindunya. Bersiul siul sepanjang jalan hatinya menggebu merasakan kebahagiaan. Sosok Luna yang semalam selalu hadir dalam bayangan. Romy sudah siap menyambutnya meski tak berjalan mulus dan penuh rintangan.


Romy menepikan mobilnya dan perlahan memasuki area parkir resto milik Luna. Siapa sangka jika kesialan lah yang akan menghampirinya. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Papanya tuan Dirga.


Romy menyapa dengan tulus memberikan senyuman dan satu tangan kanannya ingin meraih tangan Tuan Dirga lalu menciumnya layaknya anak yang berbakti. Tetapi,


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Romy. Hanya diam dan menerima perlakuan buruk dari Ayah kandungnya sendiri itulah yang selalu Romy lakukan. Apa salah romy? Mengapa Tuan Dirga sampai Setega itu? Bukan salah Romy bukan, tapi salah takdir.


Romy terfitnah sedari kecil. Dahulu Romy adalah dua bersaudara dengan Raima, saudara kembarnya. Memang sedari bayi fisik Romy jauh lebih kuat daripada Raima. Itulah yang membuat Ayahnya lebih perhatian kepada Raima dari pada Romy kecil. Hanya ibunya saja yang dengan tulus tanpa membedakan keduanya.


Sampai suatu insiden terjadi, saat itu Raima dan Romy masih bermain bersama. Mereka berusia 5 tahun kala itu. Raima yang ringkih memiliki banyak pantangan makanan. Berbeda dengan Romy yang bebas makan apapun. Suatu ketika, Romy yang sangat suka selai kacang dia membawa beberapa biskuit berisi selai kacang untuk menjadi camilan sambil mewarnai buku bergambar dongeng anak anak di taman belakang rumah.

__ADS_1


Romy sama sekali tidak sadar jika Raima yang duduk di belakangnya juga memakan biskuit kacang miliknya. Dan kejadian buruk itupun terjadi, Raima tidak tertolong karena banyaknya jumlah protein kacang yang masuk di tubuhnya.


Jika Romy tahu, sudah pasti dia akan melarangnya. Jika Romy tahu, Romy lebih memilih membuang biskuit itu. Dari kejadian itu, Tuan Dirga selalu menyalahkan Romy atas kematian Raima.


Romy dianggap tidak becus menjadi seorang Kakak, dia di kesampingkan dan di benci seumur hidupnya. Tetapi Romy tidak membenci ataupun menyimpan dendam pada Tuan Dirga, Romy melapangkan dada atas apa yang menimpanya. Hanya karena ibunyalah dia masih bersedia untuk bersinggungan langsung dengan Papanya.


Hanya ibunya orang menyanginya di keluarganya tidak ada yang lain.


Dari kisah pilu hidupnya, Romy bertekad menjadi polisi yang membela kebenaran. Karena dia tahu bagaimana rasanya mendapatkan tuduhan atas apa yang tidak di lakukannya sama sekali.


Dan lagi-lagi, pilihannya menjadi seorang polisi juga mendapatkan pertentangan dari Tuan Dirga. Meskipun membenci Romy, tuan Dirga ingat betul jika hanya Romy lah satu-satunya penerus keluarga Dirga.


" Jangan berpura-pura menjadi anak yang baik, jika kamu sendiri tidak mampu menuruti kemauan orang tua!" Pekik tuan Dirga sambil menunjuk wajah Romy yang memerah karena bekas tamparan Papanya sendiri.


Banyak orang yang berlalu lalang melihat kejadian itu. Romy sungguh di permalukan di depan umum. Sebelumnya tak pernah terjadi seperti ini. Mungkin ini luapan kekesalan tuan Dirga karena pembangkangan Romy yang masih terus berlanjut.


Evi yang melihat kejadian itu tepat di depan matanya dia sampai mengedipkan matanya berkali-kali untuk meyakinkan dirinya sendiri. Evi merasa kesal akan tindakan buruk orang tua yang berada di hadapan Romy itu.


Romy hanya diam menunduk dan juga tak membalas baik perkataan ataupun tindak kekerasan yang Papanya lakukan.


" Pa, jika papa membenciku dan sudah mencoret namaku dari daftar penerima hak waris dan keluarga lalu untuk apa semua itu?" Sahut Romy yang nampaknya mulai terbawa emosi.


Apa tadi Papa?


Oh ini masalah keluarga rupanya. Evi masih melihat keributan itu layaknya tontonan gratis.


" Jangan besar kepala, aku mau melakukan itu semata mata hanya menuruti kemauan Mamamu yang tidak lama lagi...." Ucap tuan Dirga terhenti,


" Tidak lama lagi apa? Mama meninggal? Aku sudah tahu Pa, aku sudah tahu. Mama menceritakannya padaku. Aku sudah berhutang Budi banyak kepadamu dan aku tidak mau berhutang lagi. Jadi cukuplah aku menjadi sasaran kebencianmu. Aku tidak kekurangan suatu apapun dalam hidupku, cukup hanya Mama yang menyayangiku." Kata Romy dengan matanya yang sudah berkaca-kaca Emosinya sudah menguasai jiwanya. Romy tak mampu lagi membendung semuanya sendiri.


Kamu itu penggila harta Pa.


Walaupun kamu kaya raya, nyatanya mamaku selalu menderita batin. Untuk pengobatan Mama saja kamu sering mengungkitnya. Apapun yang kamu berikan kepada kami selalu kamu ungkit di kemudian hari.

__ADS_1


Aku muak Pa. Hanya saja Mama terlalu mencintaimu, dia berfikir wanita mana yang akan sanggup bertahan dengan sikap burukmu yang seperti itu.


Yang Mama takutkan adalah tidak ada yang merawat mu jika dia mati. Untuk itu dia juga memaksaku untuk kembali di rumah itu. Dia ingin aku menjagamu di usia tuamu. Tapi dengan sikapmu yang seperti itu siapa yang tahan?


Aku juga ingin dihargai, dan aku pun punya harga diri! Geram Romy dalam hati lalu pergi meninggalkan Tuan Dirga tanpa menunggu balasan kata.


Di sebrang jalan Agus dan Romy juga menyaksikan perdebatan Ayah dan anak itu. Luna menitikan air mata saat sayup sayup telinganya mendengar perihal apa mereka berdebat.


Ternyata bukan hanya dia saja yang di abaikan oleh seorang Ayah. Romy pun memiliki nasib yang sama dengannya. Luna jadi memiliki simpatik tersendiri dengan Romy persamaan akan derita dan rasa sakit di kucilkan oleh ayah sendiri membuatnya ingin memberikan dukungan moril kepada Romy.


Romy meninggalkan Tuan Dirga dan masuk kedalam resto. Dengan pakaian dinasnya Romy yang terlihat gagah berani nyatanya tetap tunduk dan patuh menghormati orang tuanya. Emosinya tidak terpancing meskipun Papanya dengan sengaja menamparnya di depan umum dengan harapan Romy akan membalas dan membuatnya terbelit kasus.


*


*


*


" Selamat datang di resto kami, silahkan pilih menu yang anda sukai!" Sambut Evi kepada Romy saat memasuki to ruang resto.


" Ada ruangan yang sepi tidak ya Mbak?" Tanya Romy datar.


" Em, ada ruang VIP tapi itu di sudut cafe sebelah mas."


" Belum ada yang pakai kan?"


" Untuk hari ini kosong Mas Mas mau pakai?"


" Iya Mbak, Tapi untuk menu makan yang dari resto sini bisa kan?" Tanya Romy lagi yang sepertinya sudah malas untuk berjalan kesana kemari untuk memilih menu.


" Terkhusus tamu VIP bisa mas." Evi tersenyum ramah. Tentu saja bisa. Sebab, ruang VIP berada di tengah-tengah antara resto dan cafe jadi menu dari kedua tempat ini bisa di antarkan ke dalam ruang VIP yang lengkap dengan peralatan karaoke dan kedap suara juga full AC.


"Mari saya antar." Kata Evi dengan pelayanannya yang ramah.

__ADS_1


Evi berjalan di ikuti dengan Romy yang mengekori di belakangnya. Sebenarnya ruang VIP hanya bisa di tempati jika ada pemesanan. Tetapi karena hari ini belum ada yang pesan dan juga Evi memaklumi kesedihan Romy yang mungkin ingin menyendiri menenangkan pikiran. Jadilah Evi memberikan ruang VIP untuk Romy.


Cie Evi, ceritanya mencari kesempatan dalam kemepetan 🤭🤭. Pepet terus Vi, biar anget,😁.


__ADS_2