Cinta Seindah Mimpi

Cinta Seindah Mimpi
Manis senyumnya


__ADS_3

"Mari saya antar." Kata Evi dengan pelayanannya yang ramah.


Evi berjalan di ikuti dengan Romy yang mengekori di belakangnya. Sebenarnya ruang VIP hanya bisa di tempati jika ada pemesanan. Tetapi karena hari ini belum ada yang pesan dan juga Evi memaklumi kesedihan Romy yang mungkin ingin menyendiri menenangkan pikiran. Jadilah Evi memberikan ruang VIP untuk Romy.


Luna yang sudah bersiap untuk bekerja kemudian bersiap untuk turun dari mobil Agus setelah sebelumnya dia melihat pertengkaran antara ayah dan anak di depan publik.


Agus melirik sekilas Luna yang terlihat sedang memikirkan sesuatu yang pelik.


" By!" Agus memanggil Luna sembari menyodorkan tangannya untuk di cium sang istri.


" Hemm." Jawab Luna tanpa menoleh dan malah sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.


" By, cium!" Ucap Agus mengulang keinginannya.


" Iya." Luna mencium pipi Agus. Tentu saja Agus menggeleng dan mendesah kecil. Kemana perginya konsentrasi Luna sepagi ini? Disuruh cium tangan malah cium pipi.


" By, cium!" Lagi Agus meminta masih dengan sabarnya.


" Oh, lagi?" Luna mendekat dan menangkup wajah Agus lalu menciumi rata setiap centi wajah Suaminya.


" By, aku minta kamu cium tangan sebelum berangkat. Kenapa kamu malah cium semua bagian mukaku sih? Kamu mikirin siapa?" Agus berdecak kesal dan turun dari mobil begitu saja. Ia sedikit jengkel saat melihat konsentrasi Luna terpecah setelah melihat pertengkaran Romy dan Ayahnya.


" Ih, ngambek lagi deh." Gumam Luna yang menyadari kebodohannya.


" Iya, sayang kuhh!" Seru Luna yang kemudian keluar dan tersenyum manis di hadapan Agus.


" Makanya kalau sama suami tu ga usah perhatiin laki-laki lain. Jadi begini kan? Suami ngomong apa jadi ga nyambung." Agus menggerutu dan sangat jelas di telinga Luna.


" Sini Salim dulu By." Kata Agus yang masih mencoba mengontrol kecemburuannya yang mulai membuat ubun ubunya berasap.


" Iya, sayang kuh. Uluh uluh, jangan marah." Luna merayu suaminya dengan senyum manis dan sikap manjanya yang kini sudah bergelayut di lengan Agus.


" Ayo, aku antarkan ke kantor. Aku tidak mau suamiku di lirik oleh wanita cantik di sana. Nanti berangkat jam berapa?" Tanya Luna yang sudah bersikap manis dan meluluhkan hati Agus Dermawan yang terbilang sedingin es serut.


" Jam dua siang aku berangkat. Kamu baik baik di rumah ya By." Ucap Agus yang sudah menggandeng tangan Luna dengan sayang sambil berjalan memasuki kantornya.


" Hem..." Luna mengangguk.


Setibanya di kantor.


Seluruh karyawan yang berpapasan dengan Agus Dermawan yang lebih tepatnya CEO mereka. Banyak dari mereka yang menebar senyum ramah dan mengucapkan salam selamat pagi. Bukan Agus Dermawan namanya kalau langsung tersenyum manis begitu saja. Agus hanya sedikit menunduk untuk merespon salam mereka.


Luna yang sudah tidak kaget lagi dengan sikap suaminya hanya bisa diam saja. Luna membalas dengan senyuman ramahnya kepada setiap mereka yang memberi salam.


Sampai di ruang kerja Agus Luna langsung duduk di sofa dan menyilang kan kakinya. Sedangkan Agus langsung mendekat ke meja kerjanya dan membuka beberapa dokumen yang sudah tertumpuk di atas meja kerjanya.


Tidak ada angin tidak ada hujan, Luna tiba-tiba menangis sedih dengan wajah yang tertunduk lesu. Agus yang mendengar isakan Luna langsung mendekati dengan banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya.


Tadi dia baik-baik saja. Sekarang tiba-tiba menangis? Ada apa?Agus mengernyitkan dahinya.


" By, sayang? kamu kenapa? Hei, cerita ada apa?" Agus mengusap punggung Luna dengan sayang.


" Kamu jangan pergi, Kamu suruh Desta saja ya. By, aku kangen." Luna merengek seperti anak kecil yang tidak mau di tinggalkan oleh ibunya. Matanya sudah basah dan berair dengan bibir yang mencibir menahan tangis.


" Sayang, By. Kangen gimana? kan aku belum beragkat. Hei, masih jam 2 nanti. Sudah, jangan menangis, ini tender proyek yang besar By. Dan, aku sudah menunggu lama untuk ini. Banyak pesaing lain yang siap merebutnya. Kamu kenapa? Akhir akhir ini kamu aneh?" Ucap Agus yang menyelipkan anak rambut Luna di belakang telinganya. Tatapan Luna sungguh mengiba. Agus tak kuasa yang kemudian hanya bisa mendekap erat istrinya.

__ADS_1


" Aku ikut Ya?" Kata Luna kembali merengek.


"By, ini adalah proyek pembuatan jembatan dan bendungan besar di pelosok desa. Aku tidak mau kamu ikut. Disana susah sinyal, juga jauh dari pusat kota, tidak ada penginapan juga By."


" Hiks! hiks! hiks! Kamu jangan Deket cewek cewek ya. Jangan pakai parfum, telepon aku terus." Rengek Luna.


" Sayang di sana susah sinyal. Mungkin aku hanya bisa menelfon selama dua hari sekali." Agus kembali mengusap lembut rambut panjang hitam milik Luna.


" Hiks! hiks! hiks!" Luna membenamkan kepalanya dan memeluk erat Agus seolah mereka akan berpisah lama.


*


*


*


Pukul 13:00.


" Mbak Evi, coba di cek tamu VIP kita tadi. Kenapa dari tadi di tidak keluar?Apa ada sesuatu?" Kata Joko pelayan resto yang bertugas menjaga kebersihan.


" Iya, sampai lupa aku kalau disana ada orang." Evi menepuk jidatnya.


" Mejanya tadi sudah di bersihkan?" Tanya Evi yang melongok melihat kedalam ruangan VIP yang masih terlihat dari meja kasir dengan berbataskan kaca yang buram.


" Sudah Mbak, tapi ruangan VIP kita kan akan ada memakai jam 14:16 ini nanti. Dan saya akan membersihkannya."Kata Joko 6ang sudah membawa lap dan juga kain pel.


" Baik, biar saya lihat dulu." Evi berjalan memasuki ruang VIP.


Evi mengetuk kaca pintu ruang VIP tetapi tidak ada balasan. Berkali-kali Evi mencoba tetapi tetap saja tidak ada suara dari dalamnya.


" Dia demam." Gumam Evi setelah memeriksa keadaan Romy.


" Pak, pak polisi! Bangun."Evi mengguncang tubuh Romy perlahan.


Berkali-kali sampai Romy terbangun.


" Antarkan aku pulang tolong."Kata Romy meminta tolong dengan suaranya yang merintih tertahan.


" Pak, kita ke rumah sakit ya." Evi tanpa sadar masih memegang dan menggenggam tangan pri kekar itu.


" Tidak, antarkan aku pulang ya. Aku hanya butuh istirahat, obatku tertinggal di rumah." Ucap Romy menolak untuk di bawa ke rumah sakit.


" Baik, saya akan antarkan." Evi menyanggupi dan kemudian memapah Romy yang berjalan dengan tertatih keluar dari resto.


Evi meminta ijin darurat untuk membantu Romy. Dewi menggantikan Evi dan Evi segera mengantarkan Romy menuju ke rumah sewanya yang kecil.


Tidak banyak bicara Evi lalu membaringkan Romy di kamarnya. Romy Demam dan panas tubuhnya terbilang tinggi. Evi dengan sabar dan telaten mengompres kening Romy. Evi membuka kaus kaki dan juga melonggarkan ikat pinggang Romy juga membuka kancing baju dinas Romy yang pres body. Bukan untuk apa apa, hanya saja untuk memudahkan Romy dalam bernapas dan juga mengurangi suhu panas di tubuh Romy.


Evi tertidur menjaga Romy. Evi tertidur sambil bersandar di sofa dengan mulut yang menganga. Evi juga meras lelah yang amat sangat. Tubuhnya serasa remuk, ketika dia beberapa hari selalu lembur dan juga menggantikan temannya yang tidak masuk.


Evi tidak mudah berpangku tangan. Hatinya sungguh mulia dan mudah membantu orang lain. Tetapi karena kebaikan hatinya inilah, dia terkadang hanya di manfaatkan. Apalagi dengan mantan yang sangat melukai perasaannya yang kini sudah menjadi orang sukses.


Evi terbangun dan memeriksa kening Romy. Panasnya belum juga turun. Evi baru teringat jika Romy berkata obatnya tertinggal di rumah. Evi segera mencari obat Romy. Di dapur, di kamar dan laci, semua tempat sudah di geledahnya hanya satu lemari baju yang terkunci rapat.


"Apa aku harus membangunkannya? Tapi aku juga harus segera pulang, jika dia tidak turun panasnya, bagaimana aku bisa pulang? aku tidak tega, dia hanya sendirian di sini tidak ada yang merawatnya. Aku harus bagaimana?" Evi bergumam dan menggigit bibir bawahnya gusar. Ia bimbang dan ragu untuk melakukan sesuatu.

__ADS_1


" Eung..!" Romy mulai menggeliat dan memijat pangkal hidungnya.


" Kepalaku sakit!" Keluh Romy yang masih tidak ingat jika sekarang ada Evi di kamarnya.


" Pak polisi, dimana obatmu?" Tanya Evi memberanikan diri sambil mendekat dan duduk di tepi ranjang.


" Kamu masih di sini? Pulanglah, aku bisa mengurus diriku sendiri."Romy tersenyum dengan senyum yang di paksakan.


" Aku tidak tega meninggalkan anda sendirian. Juga demam anda sangat tinggi, apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja? atau kita ke klinik?" Evi membujuk Romy.


" Tidak, tidak usah. Ambilkan aku air saja aku akan meminum obatku dan aku akan segera membaik." Tolak Romy yang bersikeras untuk tetap di rumah.


Evi mengambilkan segelas air dan Romy sudah memegang obat yang akan di minumnya. Evi hanya mengernyit heran. Darimana obat obat itu di ambilnya? sedangkan dari tadi dia terlihat tidak bergeser dari tempatnya.


Setelah meminum obatnya Romy lalu kembali melesapkan plastik yang berisi beberapa obat ke bawah bantalnya.


Pantas saja sedari tadi tidak ketemu. Batin Evi setelah melihat tempat persembunyian obat Romy.


" Pulanglah, Terimakasih sudah mengantarku." Ucap Romy yang kembali berbaring lemas sambil memijat pangakal hidungnya.


"Aku akan menunggu satu jam lagi, jika kamu sedikit membaik setelah meminum obatmu, maka aku akan pulang. Aku tidak mau menyesal seumur hidup karena mengabaikan orang yang butuh bantuan."


" Juga aku tidak mau merasa bersalah jika sesuatu terjadi kepadamu." Evi ngeyel dan kembali duduk di tepi ranjang Romy.


" Terserah kamu. Terimakasih." Ucap Romy memberikan senyum manisnya.


" Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Evi yang kembali mengompres kening Romy.


" Hem." Sahut Romy.


" Apa laki laki tadi Ayahmu? Kenapa dia memarahimu di temapat ramai?"


" Maaf tidak seharusnya aku banyak bertanya." Desis Evi yang sadar akan kelancangan mulutnya saat bertanya.


" Tidak apa apa. Boleh aku tahu namamu terlebih dahulu?" Romy lagi lagi tersenyum manis memamerkan lesung pipi yang memiliki banyak pelet pengikat kaum hawa.


" Aku Evi." Jawab Evi singkat sambil mengulurkan tangannya.


" Aku Romy." Balas Romy sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan Evi.


Deg!


Jantungku serasa akan meledak. Sedari tadi dia senyum terus, Astaga!!


Kalau dia tersenyum sekali lagi saja, aku rasa aku akan terkena diabetes. Batin Evi menahan kekagumannya.


" Iya dia adalah Ayahku." Jawab Romy yang kembali tersenyum getir. Meski getir tetap saja manis bak madu bagi Evi.


Mak!!!


Hatiku klepek klepek sama dia Mak!! Mak anakmu udah move on mak!! Evi membalas senyum Romy.


Romy menarik nafas sebelum memulai cerita panjangnya. Tanpa di sadarinya dia menjadi terbuka dan lebih dekat dengan Evi. Hubungan mereka menjadi akrab begitu saja.


Dalam Lika liku pahit hidupnya, dia masih bisa bercerita dengan iringan senyum manisnya. Aku salut padamu pria tangguh. Gumam Evi yang lebih mengagumi sosok Romy.

__ADS_1


__ADS_2